Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Showing posts with label PERIKLANAN. Show all posts
Showing posts with label PERIKLANAN. Show all posts

Monday, June 11, 2007

TV RATING



Ada pemikiran menarik dari pakar komunikasi Effendi Gazalie minggu lalu dalam harian Kompas, yang menentang dominasi rating televisi terhadap kebijakan siaran televisi. Tentu saja kaitannya dengan pemilihan program acara. Bagaimana tidak, dengan isi acara televisi yang lebih banyak cinta cinta anak SMA, horror, hidayah yang tidak bermutu, hiburan talkshow yang lebih banyak komedinya membuat banyak orang bertanya tanya apakah benar ini yang menjadi bench mark tontonan bangsa ini ? Pemilihan rating ini yang dilakukan oleh lembaga riset bisnis juga , membuat televisi terjebak untuk membuat acara berdasarkan data yang dibuat lembaga riset tersebut, serta kaitannya dengan nilai rupiah iklan iklan yang menjadi pemasukan TV. Klopnya, pemilik TV di Indonesia merupakan pebisnis ala pedagang kelontong yang tidak berpikir tentang kontribusi penyiaran terhadap pendidikan atau budaya misalnya.

Permasalahannya apakah data tersebut cukup akurat dengan metode sampling untuk menentukan bentuk tontonan ini memang digemari orang, repotnya lagi tidak ada lembaga riset independen yang mengurusi hal seperti ini. Pemerintah juga tidak peduli, padahal di Amerika sejak tahun 60an sudah ada pengaturan mengenai urusan TV rating yang disahkan kongres, karena memang bisa mempengaruhi pola pikir suatu masyarakat. Ini bisa jadi mengerikan karena televisi sudah menjadi bagian pola hidup manusia. Bayangkan saja penonton kita mengalami cultural brain wash , karena dijejali bentuk bentuk tontonan kering, tidak inovatif dan melankolis. Ibu tiri yang kejamnya luar biasa,pembantu yang cantik jelita, bapak guru yang bercinta dengan muridnya sampai cerita agama yang lebih mengajarkan sosok Tuhan dengan pecut api di tangan kiriNya serta dan pintu neraka di tangan kananNya.


Jauh di pelosok pelosok negeri ini, masih banyak orang yang mungkin tidak peduli dengan tayangan TV ini. Atau juga karena metode sampling riset tidak menyentuh mereka, yang jumlahnya 80 % dari populasi negeri ini. Ketika saya melakukan seleksi dari masyarakat pinggiran di dari Pekalongan, Jogjakarta, Kediri, Tuban untuk dipilih menjadi bintang iklan bersama Mbah Marijan beberapa waktu yang lalu. Menakjubkan ada dari mereka yang tidak tahu siapa Ratu , bahkan juga tidak peduli ketika acara Infotainment sedang berlangsung. Bagi mereka tidak masuk akal membayangkan sebuah dunia yang begitu jauh, begitu absurd dan mungkin begitu palsu. Bambang Tri selingkuh dan kawin lagi dengan MayangSari so what bagi mereka. Sementara di kota besar kalau cerita Maia bahwa Ahmad Dani sedang selingkuh dengan salah satu vokalis group Dewa Dewi terekspose, bisa bisa akan mendongkrak nilai jual per spot sebuah iklan disana. Jadi siapa dapat dipercaya ? rating televisi, iklan yang bombastis atau Maia ?

read more ...

Sunday, May 06, 2007

APA ITU IKLAN BUATAN INDONESIA ?




Suatu hari di minggu minggu lalu saya mendapat panggilan di telpon genggam dari seorang staff ahli Menteri Komunikasi dan Informatika, yang disusul dengan permintaan bahwa Menteri Sofyan Djalil ingin bertemu dengan perwakilan pekerja film iklan, tentu saja dengan kapasitas saya sebagai Ketua Asosiasi Pekerja Film Iklan Indonesia. Dalam pertemuan yang sangat menyiksa terutama dalam kostum, karena saya harus mengganti busana jeans dan kaos t shirt sehari hari, jelas dipaparkan kebijakan Pemerintah dalam mengatur industri film iklan di Indonesia melalui mekanisme penyiaran di lembaga penyiaran. Beberapa hari kemudian kembali telpon genggam saya disibukan dengan panggilan dari teman biro iklan atau rumah produksi. Ada yang memaki maki, ada juga yang bersyukur, ada juga yang ketakukan sampai ada juga yang putus asa, Semuanya berhulu pada kebijakan Pemerintah, melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika, No 25 /5/2007 mengenai “ Penggunaan Sumber Daya Dalam Negeri Untuk Produk Iklan yang disiarkan melalui lembaga Penyiaran. Kesibukan industri film iklan menjadi senyap sesaat untuk saling mencari tahu apa dan bagaimana bentuk produk kebijakan Pemerintah tersebut. Bahkan, ada teman saya seorang sutradara asing yang tinggal dan hidup di Indonesia bertahun tahun, harus membatalkan meetingnya karena ia harus menemui saya dan mencari penjelasan lebih lanjut mengenai periuk nasinya di kemudian hari. Sementara bagi pekerja film iklan Indonesia, kebijakan ini bisa menyenangkan tetapi disisi lain sekaligus menakutkan sekaligus membunuh kalau memang kita tidak siap mengisinya.

Tiba tiba saja, saya merasa tidak begitu popular dengan adanya kebijakan ini, betapa tidak kini semua mata memandang seolah olah APFII bertanggung jawab atas keluarnya peraturan pemerintah itu. Mungkin ini memang masuk akal, karena sejak terbentuknya asosiasi pekerja fim iklan ini, issue issue mengenai tenaga kerja film asing memang menjadi remah remah tidak penting, namun disisi lain menjadi pelatuk kecemburuan sosial dalam memperebutkan kue produksi film iklan di Indonesia. Ini tidak main main, menurut data, bahwa kapitalisasi uang yang berputar tahun ini sekitar 40 trilyun, dengan asumsi 10 persen untuk biaya pembuatan film iklan, maka ada sebesar 4 trilyun setahun yang diperebutkan seluruh pelaku industri film iklan mulai dari rumah produksi, tenaga kerja baik crew maupun pemain , post production sampai audio house. Kalau mau jujur peraturan ini menjadi ‘ blessing in disguise ‘ karena semangat yang ada dalam kebijakan Pemerintah ini, bisa pararel dan sejalan dengan bagaimana memajukan sumber daya manusia Indonesia di bidang film nasional, dan film iklan pada khususnya.


Semangat menjadikan Indonesia menjadi tuan rumah di negerinya sendiri dalam industri film iklan,patut di acungi jempol, terlepas betapa mungkin kontroversialnya kebijakan ini. Bahwa kebijakan ini akan bersinggungan dengan sikap pandang biro iklan dan klien yang umumnya menolak itu adalah hal lain. Namun ada yang lebih menyesakan justru banyak orang di industri periklanan yang meremehkan kemampuan sumber daya manusia dalam negeri. Apa yang menjadi tolak ukurnya ? Ada yang bilang sutradara Indonesia tidak bisa berbahasa Inggris, lalu bagaimana dengan sutradara cina atau Thailand yang membawa penerjemah untuk menjelaskan treatmentnya. Ada juga yang bilang teknik presentasi sutradara Indonesia sangat primitif, tentu saja tidak sebanding dengan sutradara luar yang lengkap dengan references dan data. Tetapi bagaimana juga fair kalau sutradara local hanya diberi budget 200 juta dengan permintaan referensi ala film film Holywood. Ini memang menjadi tantangan kita semua untuk lebih bekerja keras membuktikan bahwa kita BISA. Ada filsuf mengatakan membangun Roma tidak dilakukan semalam, sehingga mungkin terasa klise kalau kita mengatakan bagaimana bisa kalau kesempatan itu tidak pernah ada. Lihat saja iklan iklan promo yang semestinya menjadi jatah sutradara local tapi justru diberikan kepada sutradara illegal dari manca negara. Tentu kita teringat pada jaman krisis moneter, tiba tiba kita dipaksa mengisi kekosongan pekerja film asing yang pulang ke negaranya. Lalu bermuncul munculan sutradara , DOP, art director, produser dalam negeri yang ternyata mampu menjawab tantangan semua itu. Sebagaimana yang dikatakan Menteri Sofyan Djalil dalam pertemuan dengan APFII minggu lalu, bahwa pada akhirnya Pemerintah harus memaksa pelaku industri periklanan untuk berperan serta menumbuhkan sumber daya dalam negeri.


APFII yang tadinya dianggap sebagai organisasi anak bawang tiba tiba menjadi popular karena bisa dianggap menjadi salah satu elemen penentu sebuah iklan bisa tayang atau tidak. Lihat saja dalam lampiran Keputusan Menteri tersebut ada Surat pernyataan yang wajib dibuat oleh pihak atau biro iklan yang akan memasang iklannya di TV, dan APFII akan memberikan persetujuan dengan melihat komponen sumber daya manusia yang terlibat dalam pembuatan film iklan itu, sebelum bisa memberikan approval guna penayangan. Lebih jauh dari itu sesuai pasal 6 Bab VIII , seluruh pekerja film asing wajib mendaftar dan didata dalam Asosiasi ini untuk mendapatkan clearance bisa bekerja atau tidak di wilayah hukum Indonesia. Tentu saja ada Grace Period dimana nantinya seluruh sumber daya pembuatan film iklan di Indonesia bisa seluruhnya dikerjakan dalam negeri. Saya melihat persoalan asing atau dalam negeri ini memang menjadi mental sebagian manusia Indonesia. Mental merendahkan bangsa sendiri serta memuja muja bangsa asing. Apakah nasionalisme memang sudah tidak relevan lagi dengan semangat globalisasi , kapitalisme dan perdagangan bebas ? Padahal juga banyak yang belum tahu bahwa perdagangan bebas AFTA belum menyentuh industri jasa, termasuk jasa pembuatan film. Saya rasa ini semua berujung pada ketakutan pelaku industri periklanan bahwa pemilik produk akan meninggalkan negeri ini. Percayalah dengan jumlah penduduk nomor 4 di dunia, pemilik produk manapun akan dianggap bodoh dengan melupakan pemasaran produknya di negeri ini. Atau jangan jangan sinyalemen seorang sutradara Indonesia paling popular di sini benar,..ah,mereka mengutuk keputusan itu karena jatah perdiems jalan jalan keluar negeri akan berkurang..” Mudah mudahan saja ini tidak benar.. Ketika saya menulis artikel ini, saya teringat dengan Mahatma Gandhi dengan program Ahimsa atau nasionalisme Mahathir Mohammad. Setidaknya saat ini Pemerintah sudah memberikan keberpihakannya dengan bangsa Indonesia, untuk memenuhi komitmennya mensejahterakan rakyatnya, khususnya pekerja film iklan dalam negeri. Semoga saja.

read more ...

Saturday, March 31, 2007

LOGIKA KEJUJURAN DALAM AKTING DI FILM IKLAN



Seorang guru acting Sanford Meisner pernah mengatakan di depan murid muridnya, untuk mencoba sebuah karakter sekitar satu menit berdiri di pinggir jalan raya. Kemudian ia bertanya, “ Apa kalian mendengarkan karakter atau mendengarkan diri sendiri ? “. Ternyata dengar mendengarkan karakter akan menambah ‘ elemen of strain ‘ sementara dengan mendengarkan diri sendiri dengan menggunakan telinga kita sendiri – is relaxing, centering. Akan membuat aktor tidak berakting dengan huruf A besar. Berbeda dengan apa yang dipercaya pada umumnya bahwa sebuah acting adalah pura pura. Justru sebenarnya sebuah acting tidak boleh berpura pura dan harus jujur. Seorang aktor harus memulai dengan dirinya, mendengarkan dengan telinganya, melihat dengan matanya, menyentuh dengan kulitnya dan merasakan dengan perasaannya. Dengan mempelajari dari skrip ia membentuk sebuah pemahaman dari dalam dirinya sendiri. Lalu ia membentuk karakter dalam dirinya.

Kejujuran ini yang membuat diskusi penat dengan pemilik sebuah produk consumer goods untuk pembuatan film iklannya belum lama ini. Bagaimana bisa menyampaikan sebuah gagasan kepada calon pembeli dengan sebuah acting pemain yang jujur, walau kita tahu tidak ada yang jujur dalam sebuah bentuk apapun film itu. Tentunya kita tahu bahwa Tamara Blezinsky atau Dian Sastro tidak memakai sabun lux sehari hari. Tetapi bagaimana membuat orang percaya bahwa sabun itu bisa membuat orang cantik. Secantik bintang bintang film itu yang seolah olah memakai sabun itu setiap hari. Pola pikir masyarakat kita yang masih ‘ tradisional ‘ percaya pada sebuah persepsi itulah yang akan dimasuki,membuat mereka percaya pada pesan sebuah film iklan. Masyarakat kita yang percaya sabun yang bagus adalah yang memiliki busa melimpah, walau tidak ada hubungannya antara busa dan kandungan sabun itu sendiri. Sehingga sewaktu syuting kita tambahkan dengan busa busa. Siapa yang tahu olesan mentega di roti dalam iklan Blue Band, ternyata menggunakan margarin jenis tertentu yang ditambahkan elemen lain, sehingga terlihat ‘ smooth ‘ , mengkilap dan menggiurkan. Kenapa tidak mencoba membuat iklan shampoo dengan model rambut ikal dan keriting seperti orang Indonesia timur, karena memang aspirasi masyarakat kita tentang rambut yang bagus adalah rambut lurus dan panjang.


Akting dalam sebuah film, sangat simple, sebuah acting sangat beresiko karena dengan menjadi jujur,pemain harus menggunakan dirinya sendiri menjadikan personal work. Seorang aktor yang baik akan tahu ketika si sutradara memintanya untuk ‘ lebih ‘, lebih marah, lebih sedih, lebih mesum, lebih humor, apa saja yang berarti ia harus membuatnya berakting lebih simple, more elemental, dan berhenti berakting dengan huruf A besar. Dengan kata lain jika sutradara meminta ‘ do more ‘ , ia harus memberi ‘ do less ‘. Sebuah pengalaman hidup akan sangat membantu memasuki karakter akkting yang diinginkan. Bagaimana seseorang yang tidak pernah mengalami rasa jatuh cinta, bisa meyakinkan penonton dengan dialog ‘ I love you ‘ kepada lawan mainnya. Jadi kalau Desy Ratnasari memang tidak pernah memakai sebuah produk tersebut, bagaimana ia bisa menghayati perannya dengan jujur dalam film iklannya. Tapi ini memang pada akhirnya menjadi tidak penting, karena dalam logika film iklan yang durasinya sangat pendek, hanya bermain di ruang aspirasi dan apa yang masyarakat percayai. Yang paling penting adalah bagaimana pesan ini bisa sampai di benak pemirsa, yang ujung ujungnya ke angka volume penjualan produknya. Jujur saja, saya juga menikmati pekerjaan ini, apalagi malam malam di studio yang dingin mendengarkan celoteh dan curhat Desy Ratnasari. Tentu saja yang ini rahasia.

read more ...

Monday, November 13, 2006

KORUPSI DI DUNIA FILM IKLAN


( Hubungan PH dan Biro Iklan )

Minggu lalu seharian bersama Arswendo Atmowiloto menjadi juri buat Iklan iklan layanan masyarakat yang diselenggarakan KPK ( Komisi Pemberantasan Korupsi ). Benar benar miris setelah berbicara dengan teman teman di KPK mengenai tingkat korupsi di Indonesia. Betapa menyedihkan kalau bangsa ini termasuk dalam sepuluh besar bangsa yang tingkat korupsinya terbesar di dunia, bersama Myanmar serta negara negara Afrika seperti Nigeria, Burgundi. Ada yang bilang, ah itu khan biasanya terjadi di departemen , proyek proyek pemerintah atau Bapenas. Jangan salah, justru di kalangan dunia advertising, korupsi ini terjadi dengan bentuk bentuk kolusi antara PH dan biro iklan. Saya berani bertaruh setidaknya lebih dari separuh dari PH PH yang ada di Jakarta melakukan praktek praktek KKN termasuk didalamnya uang sogokan dan under table money demi untuk mendapatkan job. Hal ini memang issue yang sensitive dan sudah sekian lama dibiarkan menjadi pola pola kerja sama yang lama kelamaan akan menghancurkan industri ini sendiri. Pada awalnya saya menduga, bahwa praktek ini dimulai dengan kesalahkaprahan PH PH ketika menempatkan dirinya sebagai supplier dan bukan sebagai partner dalam produksi..

Dimulai dari keinginan PH untuk membina hubungan yang langgeng dengan suatu biro iklan atau orang orang kunci di dalamnya, baik dalam bentuk services makan, entertainment atau uang perdiems sewaktu melakukan post di luar negeri. Saya pribadi melihat ini masih dalam bentuk koridor yang wajar wajar saja, toh memang hal hal ini bisa dilakukan sepanjang dengan kemampuan PH dan tidak ada paksaan. Saya atau teman teman produser dari PH sering clubbing bersama teman teman biro iklan, dan kami menikmati saat saat ini bersama sebagai bagian dari sosialisasi pertemanan, Sebagai sutradara juga kadang saya di jamu makan ke luar oleh post production sebagai bagian dari proses pemasaran mereka. Bahkan pernah dibayari dan ditanggung akomodasi bersama para sutradara lain untuk menghadiri Pameran Broadcast Asia di Singapore. Yang penting saya tidak pernah meminta uang atau bagian dari quotation PH jika saya membawa pekerjaan post ke tempat mereka. Buat di kalangan PH ini diawali dengan service PH yang berlebihan dan terkesan royal. Seorang creative director bule dalam sebuah post di Singapore pernah mengeluh kenapa kamarnya hanya standar sementara produsernya bisa menempati junior suite. Ini membuka peluang peluang yang diawali mungkin dengan pembayaran tagihan telpon, kiriman parcel ( ..eh parcelnya di kirim ke rumah aja ya, jangan ke kantor.,padahal parcelnya buat seluruh team di kantor ), lalu akhirnya yang paling parah berapa persentase yang bisa diberikan pada oknum oknum tersebut.



Inilah yang membuat rusak, kalau sudah ada deal deal sejumlah uang , atau komisi dari nilai quotation sebuah PH kepada agency. Nggak fair ! ini khan pekerjaan seluruh lini departemen dari traffic, client service, producer sampai creative. Lebih baik ngetreat party bareng dengan seluruh team di biro iklan. Ini akhirnya jadi serba salah, kalau tidak ada uang under table ke seorang oknum , job bisa bisa melayang. Mau dibiarkan, rasa rasa hati ini tidak rela, walaupun ini sebenarnya urusan produser, tetapi sebagai sutradara akan lebih bermanfaat jika uang tadi dialokasikan pada tambahan equipment, shooting days sehingga film iklan yang dibuat bisa lebih maksimal. Praktek ini sudah berlangsung lama dan tentu saja tidak ada yang mau melaporkan pada pimpinan biro iklan yang bersangkutan. Ya karena sudah dianggap biasa atau karena takut kehilangan job lagi. Pernah suatu malam saya mendapati seorang produser dari sebuah biro iklan yang pimpinannya adalah teman saya, sedang mengambil sebuah handphone PDA seri terbaru di kantor PH tempat saya bekerja. Goblognya si producer gaptek itu bukannya langsung pulang, tapi malah meminta producer saya mengajari cara pengoperasiannya. Si produser PH hanya cengar cengir kepada saya, ..” biasa man “. Lalu saya pernah ditelpon oleh seorang creative director dari biro iklan nasional, yang menanyakan apakah PH tempat saya pernah memberi uang kepada si produser biro iklan , tentu saja saya bilang tidak ( apakah ini bentuk kesetiaan ? ) walau saya tahu si produser itu gemar meminta bagian dengan alasan tactical fund untuk seluruh team. Akhirnya ada juga PH lain yang berani membuka suara sehingga si produser itu dipecat. Tidak hanya produser, ada juga Account Director yang meminta bagian 5 % dari total nilai job, dengan meminta jangan ditransfer ( mungkin ia takut bukti transfer bisa sebagai barang bukti ). Lalu bagaimana dengan orang kreatifnya, sami mawon. Ada teman kreatif yang meminta bagian dengan memintanya mentransfer ke rekening kakaknya ( mungkin dia tak mempunyai rekening tabungan sendiri ). Saya pernah ditelpon oleh seorang Creative Director, yang mengatakan bahwa akan ada job buat saya . Tentu saja saya berterima kasih. Tak lama kemudian datang sms dari dia,..” minta paket berapa saja buat gue..” tentu saja saya bingung, lho kok bukan produser yang mengurusi hal hal begituan. Mungkin dia malu berbicara dengan produser PH dan merasa lebih dekat dengan saya. Sampai sekarang saya masih menyimpan bukti transfer via ATM BCA itu, tentu bukan untuk dipublikasi, hanya disimpan buat collector items saja. Yang lebih parah kalau praktek ini dilakukan bersama sama secara team . Tidak percaya, ada creative director dan account manager ( atau account director ? ) yang sama sama mengambil uang jatah ke kantor PH. Kontan, masing masing 10 juta, mengantri di bagian keuangan, bersama sama supllier lainnya. Yang paling menyebalkan jika jatah bagian untuk oknum biro iklan itu hampir sama atau bahkan lebih tinggi dari production fee atau keuntungan si PH.

Memang tidak semua orang di biro iklan seperti ini, saya banyak mempunyai teman teman teman di kreatif, produser, dan client service yang memiliki integritas tinggi, jujur dan production result oriented. Namun gejala ini setidaknya menjadi pemikiran saya, betapa korupsi sudah berakar urat di segala system pekerjaan di Indonesia. Walau saya merasa seperti Don Qixot, saya juga bukan sok menjadi pahlawan dengan mengangkat topik ini, pasti ada yang terusik dan mungkin marah marah dalam hati. Bahkan kapok memberi saya job. Saya memang sudah mempertimbangkan semuanya, dan akhirnya dapat memahami apa yang pernah dialami Soe Hoe Gie, ketika ia merasa sendiri dan terasing dengan keterusterangannya.

read more ...

Friday, October 20, 2006

SAMPAI DIMANA BATAS KOMPROMI SUTRADARA IKLAN




Saya pernah sekali waktu lepas dari kesibukan film iklan, dan mengambil pekerjaan Film Televisi, semacam sinetron beberapa tahun yang lalu. Karena ada sponsor dari sebuah produk, maka mereka meminta salah seorang creative dari biro iklan untuk ikut datang di hari syuting, walau si pekerja creative itu sendiri juga bingung, apa yang akan dikerjakan selama proses syuting. Bagaimana tidak, scenario yang membuat si Joko anwar yang saat itu belum jadi sutradara film kondang. Sampai akhirnya suatu saat ia berkata, “ Mas bisa nggak kalau anglenya dari sisi sini “. Saya bisa membayangkan kalau seorang Garin Nugroho atau Rudi Soejarwo diberi pengarahan di tengah tengah syutingnya. Bencana ! Hanya karena saya terbiasa bekerja di film iklan, maka saya hanya tersenyum padanya dan berbicara lebih lanjut untuk berusaha menangkap esensi apa yang dia pikirkan. Memang dalam film iklan sosok sutradara bukanlah menjadi peran utama sebagaimana yang sutradara film layar lebar atau musik video sekalipun. Disini seorang sutradara iklan harus menjadi bagian dari team kreatif dari sebuah campaign produk yang dikerjakan. Karena konsep berasal dari creative biro iklan, maka sah sah saja mereka berkepentingan untuk melihat konsepnya terdelivery dengan baik, sesuai strategi komunikasi yang sudah dirancang bersama klien mereka.

Ini susahnya bagi sutradara yang terbiasa di layar lebar, atau sinetron. Bisakah mereka menyingkirkan ego mereka dan membuang jauh jauh idealisme sebagai “ sutradara “. Maruli Ara sendiri sebagai sutradara sinetron jaminan mutu yang selalu tinggi ratingnya, mengatakan pada saya kalau ia tidak mau untuk berkompromi terhadap hal hal seperti ini. Namun banyak teman dari biro iklan sendiri yang pada akhirnya kebablasan dalam menempatkan posisinya dalam sebuah produksi syuting, seolah olah maha tahu mengenai prinsip prinsip dasar sinematografi. Scott Whybin dari Whybin TBWA & partner Melbourne mempunyai kiat sendiri mengenai wewenang sutradara, “ I’ve got this theory about directors. The more I put the trust in them, the harder they work for me. I don’t believe the creative team who sit behind the directors and look through the lens. You don’t need the cast of thousands at the shoot. Its waste of time, except maybe in the case of dialogue spot where there intonation the writer need to hear. The critical part of hiring director, building up the trust, and pre producing so he’s got the clear mind “.



Lebih lanjut Neil French, dedengkot creative Ogilvy & Mather melanjutkan, “ .. to be fair most directors have an exact feeling of what they want to shoot before they get there and a good director will have a shooting board including all the cutaways. They’re prepare for it. But what they’’re not prepared for is some spotty youth comimg up to them, halfway through the shoot, and saying, oh can we try it this way ? or somebody from the agency or client saying , oh can we covered it from this angle, just in case ? And I’ll say …No you cant try it like that. Im sorry little spotty youth, but the angle we are going to use is this one. Why would I want to do thirty five takes wrong when I could do thirty takes of which one is right ? option should be decided in pre production. Even the producers I admire have said to me on the shoot, Neil…you’d better shoot a cutways. And I know why they’re saying it, because if something goes wrong you’ve got a safety net. BUT I CAN WORK WITHOUT A SAFETY NET.

Akhirnya saya berpikir, kompromi memang mutlak diperlukan,karena pekerjaan film iklan adalah pekerjaan teamwork, bukan semata mata sutradara sendiri. Tetapi mestinya masing masing pihak mempunyai batasan batasan. Sutradara juga jangan terlalu merubah konsep yang sudah dipersiapkan sekian lama oleh biro iklan, dan mestinya menambah suatu nilai pada iklan ini dan pihak kreatif juga jangan terlalu mendikte atau memaksa suatu ide yang mungkin menurut pertimbangan sutradara agak sulit secara teknis, budgeting maupun logistik. Yang paling penting jangan takut membuat suatu keputusan sebuah shoot atau adegan, sepanjang itu secara visual memiliki nilai art dan yang paling penting adalah relevan dengan konsep strategi komunikasi klien. Memang sebuah komposisi gambar film sangat subjektif dari mana kita melihatnya. Seni tak mutlak bulat bulat kok.

read more ...

Monday, October 16, 2006


BAGAIMANA MENILAI SUTRADARA ITU BAIK ATAU BURUK

Seorang pemerhati film pernah berkata, kenapa film film iklan yang dibuat Riri Reza pada beberapa tahun yang lalu, kok biasa biasa saja ( mungkin dia mau mengatakan buruk tetapi merasa tidak pas ungkapannya ). Sementara karya layar lebarnya sangat luar biasa dan menjadi salah satu pencapaian film film terbaik dalam sejarah perfilman nasional. Di kisah lain,ketika menghadiri Pinasthika Award di Jogja, seorang Creative Director mengeluarkan uneg unegnya kepada saya disela sela makan malam menyambut para tamu, bahwa dia tidak akan memakai si sutradara anu karena dia tidak menunjukan perform yang diharapkan sewaktu membuat sebuah iklannya. “ kayaknya si anu dan PH anu nggak bakalan dipakai lagi di tempat gue..”. Padahal setahu saya si sutradara anu tersebut yang berkebangsaan asing, mempunyai karya yang bagus bagus. Bahkan salah satunya menjadi salah satu kategori terbaik dalam Festival Film Iklan Fines beberapa bulan yang lalu. Lalu ia terus bercerita bahwa lighting mood yang dihasilkan oleh sutradara itu tidak sesuai dengan harapan si creative. Karena ini iklannya bercerita sebuah konser, si sutradara hanya memakai available light dari tata cahaya panggung, disamping jumlah talent penontonnya yang terlalu sedikit. Saya hanya berpikir , Mungkin saja si sutradara sudah meminta equipment tertentu atau tambahan crowd, hanya dari pihak PH tidak mengabulkan. Jadi siapa salah ? tetap saja si sutradara, karena baik atau buruk, predikat itu akan lari ke sutradara pada akhirnya.

Ini agak kompleks permasalahannya dan kita melihat dari sisi mana ? tentu masing masing pihak akan mempunyai pembenaran yang akan sangat subyektif pada akhirnya. Mungkin bisa juga sejak awal sudah tidak ada hubungan chemistry antara sutradara dan kreatif, bisa juga sejak awal konsepnya sudah ‘basi’ sehingga mau diulik bagaimanapun juga tetap saja menjadi sebuah iklan yang biasa, atau lebih jauh lagi si sutradara merasa menjadi sasaran tembak karena tidak ada support dari production house, yang ujung ujungnya ia tidak mempunyai passion untuk mengerjakan iklan itu. Jadi tidak bisa dilihat secara kasus per kasus.Ada teman yang sampai sekarang tidak bisa bekerja dengan salah satu biro iklan besar di Jakarta, karena pada awal karirnya 7 tahun yang lalu dianggap membuat kesalahan pada sebuah iklan, padahal kita tahu saat ini ia adalah salah satu sutradara papan atas untuk iklan. Bagaimana dengan saya sendiri ? mungkin ada biro iklan yang menganggap saya sutradara jelek, nggak focus, malas dsb tetapi ada juga biro iklan yang sudah ‘ kasmaran ‘ pada saya dan mempercayai memegang sebuah produk selama 3 tahun !



Saya jadi teringat seorang creative director sebuah biro iklan multinasional, waktu itu saya diminta mengerjakan sebuah iklan produk elektronik yang selama ini belum pernah membuat iklan di Indonesia, karena banyak mengambil iklan adaptasi dari luar negeri. Tentu saja saya agak sedikit stressed out karena tentu semua mata dari biro iklan dan klien akan melihat ke film iklan ini. Ternyata selama syuting, si creative director itu sama sekali tidak pernah berkomentar atas shoot shoot saya, bahkan seperti ia tidak perduli. Ketika syuting selesai, ia hanya meminta memutar seluruh rekaman take take yang sudah diambil, setelah itu ia berkata “ Okay ..bagus “. Saya menanyakan kenapa selama syuting ia sama sekali diam. Ia hanya tertawa dan mengatakan bahwa ia hanya melihat secara keseluruhan, obyektif iklan ini, Lebih lanjut dia mengatakan dia tidak peduli apakah saya mau mengambil low angle, atau apapun shoot yang saya rancang, asalkan secara keseluruhan iklan ini sesuai konsep strategi komunikasi yang ia buat. Saya menyimpulkan ia berpikir secara macro, bukan melulu detail detail setiap shoot. Tapi ada juga creative yang selama syuting selalu duduk di sebelah saya, memberi petunjuk setiap shoot, sampai ikut melihat framing melalui view finder camera.

Tapi ada petunjuk menarik dari Hal Riney, dari Publicis & Hall Riney Advertising San Fransisco. Ia justru menyalahkan creative yang banyak bergantung dan menyerahkan seluruhnya kepada sutradara. “ When I go into production. I know every nuance and frame of the film I expect to end up with. Anything to director contributes in addition is a bonus. But I will never turn over the responsibility for my work to a director. He has no responsibility, in fact because when the’s shooting’s over, he’s outta there, and Im left here with the result.” Sementara sutradara papan atas, Ipang Wahid dalam pelatihan sutradara iklan muda di Gedung Film kemarin mengatakan, bahwa justru ia banyak dipercaya oleh beberapa creative director, istilahnya “ terserah deh ini mau diapain pang..” Beruntung Ipang sudah memiliki chemistry relationship yang enak dengan para creative director, dan ini tentu tidak dibangun dalam sekali dua kali membuat iklan bersamanya. Sementara saya, begitu sudah tidak ada hubungan chemistry, rasa rasanya hilang sudah passion mengerjakan iklannya. Udah nggak mood. Paling paling saya dianggap sutradara buruk, Tapi sepertinya tidak perlu kuatir. “ Life is too short to worry “.

read more ...

Sunday, October 08, 2006

KENAPA SUTRADARA IKLAN DIBAYAR MAHAL



Banyak orang bilang, kenapa seorang sutradara iklan dibayar sangat mahal hanya untuk mengerjakan film dengan durasi pendek, 60 detik atau 30 detik. Bahkan ada yang hanya 5 detik ! Sebenarnya agak susah dijawab secara matematis, karena tidak ada yang standar baku mengenai nilai sebuah profesi sutradara iklan. Seorang sutradara pemula, mungkin menerina 10 – 15 juta per hari, harga ini berjenjang sampai ke sutradara level atas, yang bisa menerima 40 – 60 juta per hari. Dan kalau syutingnya total 5 hari ya tinggal 40 - 60 jt x 5 saja. Semua itu dihitung termasuk persiapan pre production dan editing di post production, yang mungkin bisa memakan waktu berminggu minggu misalnya. Jadi dengan segala macam tetek bengek mulai dari recce, talent scouting, set construction, sampai post production, dengan mengatur schedule loncat sana loncat sini, seorang sutradara iklan paling banter hanya bisa mengambil pekerjaan 2 atau maksimal 3 job sebulan. Syukur syukur per job untuk 2 – 3 hari syuting, karena job sehari syuting dan job 3 hari syuting, sama saja proses persiapannya dan paska produksinya. Secara teknis tidak ada perbedaan dengan sutradara film layar lebar atau video klip misalnya, ia juga harus membentuk sebuah rangkaian gambar yang secara visual bernilai seni dan ada unsur hiburannya. Tapi kenapa bisa mahal ?

Pertama, sutradara iklan harus mempunyai pemahaman tentang dunia advertising, bagaimana mengkomunikasikan konsep biro iklan agar dapat diterima oleh target market produk itu. Bagaimana membuat film yang sejalan dengan strategi komunikasi yang telah dirancang biro iklan atau klien. Karena durasinya yang pendek, maka tiap frame harus mempunyai arti yang kuat.

Kedua, sutradara iklan harus bisa menjelaskan ide idenya secara komprehensif di depan biro iklan atau klien. Jelas disini membutuhkan teknik skill of presentation. Kemampuan bahasa asing akan menjadi nilai tambah, mengingat banyak klien orang asing atau menjadi bagian dari multinasional company.



Ketiga, film iklan adalah salah satu bagian dari mata rantai pemasaran suatu produk. Dan ini sangat penting untuk bisa mendongkrak angka penjualan, sehingga klien yang mungkin sudah menghabiskan biaya promosi puluhan atau ratusan milyar setahun tidak akan ragu ragu membayar mahal seorang sutradara untuk mencapai tujuannya.

Keempat, sutradara iklan sering disebut sutradara pelacur karena harus berkompromi mengenai nilai nilai visual dengan pihak biro iklan dan klien. Banyak sutradara layar lebar ternama tidak mau memasuki dunia ini, karena takut mengorbankan idealismenya. Kompromi ini costs a lot !

Kelima, supply sutradara iklan sangat sedikit di Indonesia. Harga harga diatas adalah untuk sutradara local Indonesia, bukan sutradara asing yang banyak berseliweran di Jakarta, ada yang feenya 10,000 US per hari. Kalau dilihat mungkin jumlah sutradara lokal yang cukup established mungkin sekitar 15 orang, walau ada beberapa muka baru yang mulai bermunculan. Jadi sebagai ‘ the happy selected few people " bisa saja menerapkan hukum ekonomi.

Namun pada akhirnya, uang bukan segala galanya, kadang ada hal yang menjadi konsiderans seorang sutradara. Saya pernah menerima honor hanya 1/3 dari normal fee,karena memang kliennya tidak punya uang dan konsepnya sangat menarik buat show reel saya sendiri. Lalu buat iklan iklan Public Service Announcement ( PSA ), kita juga dibayar dengan harga discount atau bahkan tidak sama sekali.

read more ...

Saturday, October 07, 2006

MBAH MARIJAN JUGA MANUSIA




Ngger Asih anakku,
Aku masih lelah setelah syuting kemarin, lha iyo...rupanya sebuah produsen minuman serbuk energi mencium suatu potensi yang lain, menjadikan diriku bintang iklan untuk digabungkan bersama icon lainnya, petinju juara dunia Chris John. Rupa rupanya pemilik perusahaan Sido Muncul yang memproduksi Kuku Bima Energi melihat suatu peluang untuk mendongkrak volume penjualannya. Ia bisa dikatakan secara tidak langsung mengambil langkah pertama dari konsep advertising yang diajarkan Neil French, yakni Get Noticed. Dan ini nyata nyata berhasil, untuk attrack attention. Bagaimana tidak, ketokohan diriku dalam iklan ini membuat efek baru dalam sejarah iklan minuman energi. Orang menjadi memperhatikan iklan ini, karena selama ini minuman energi selalu diasosiasikan dengan lelaki macho, jagoan gagah perkasa dan kalau bisa aspirasional wajahnya.

Ini menunjukan pernyataan positioning yang berani. Karena positioning merupakan alasan keberadaan sebuah produk. Kalau sesuatu produk tidak memiliki ciri ciri pembeda dengan produk lain maka tak selayaknya ada di pasar. Sementara menurut pakar pemasaran Phillip Kotler, positioning merupakan tindakan untuk merancang apa yang ditawarkan perusahaan berikut citra yang mereka harapkan, sehingga pasar dapat memahami. Wong aku, tua renta yang berjalan saja susah, wajah ndeso dengan profesinya berbau klenik sebagai juru kunci Gunung Merapi. Disini kejelian perusahaan jamu nasional ini, aku diposisikan sebagai lelaki pemberani, ya lelaki yang tidak mau turun dari gunung Merapi, walaupun dengan ancaman bisa meletus setiap saat !



Bagaimana dengan Chris John yang berlari lari dengan stamina tinggi menuju puncak gunung berapi ? Ia juga lelaki pemberani karena memilih berlatih tinju di tempat yang sangat berbahaya. Lalu apa hubungan keduanya ? jelas tidak ada. Jadi kalau ada yang bilang bahwa iklan ini tidak masuk akal, logika nggak nyambung. Memang benar, tapi siapa peduli. Dunia advertising tidak memerlukan jawaban itu le... Jim Riswold, executive creative director Wieden & Kennedy menerangkan dengan gamblang “ We live in illogical world ! when you can make an emotional connection with somebody, its far stronger bond than you can get by creating a logical bond with somebody. I don’t know who gets married for logical reasons. “

Jelas mendaftarkan iklan ini ke Citra Pariwara hanya membuang buang uang pendaftaran saja. Sudah pasti kalah. Tetapi bagi seorang Irwan Hidayat, pemilik imperium industri jamu Sido Muncul, mendongkrak penjualan hingga 80 % setelah iklan ini ditayangkan di televisi adalah jauh lebih penting. Klien happy dan biro iklan pun juga happy karena terus dipercaya memegang produk ini. Bagaimana dengan sutradaranya ? tentu saja happy karena aku denger dia di -calling lagi untuk membuat seri berikutnya dari iklan Kuku Bima Energi.



Tadinya aku tidak mau karena rasanya bagaimana kalau dalam situasi bencana ini kok terkesan aku mengambil kesempatan. Tapi setelah kupikir pikir , dari honor seratus lima puluh juta itu bisa aku akan bagikan rata seratus juta buat masyarakat di sini, disamping juga sebagai tambahan pembangunan mesjid di seberang rumah kita. Ya setidaknya, ini bisa membawa manfaat yang besar bagi masyarakat sekitarnya. Yo wis berita dari aku, bagaimana dengan pekerjaanmu di kampus ? ati ati, mugi mugi Gusti Allah maringi urip sing gak rekoso. Pangestu seko bapakmu.
Pokoke Roso !

Marijan

read more ...

Wednesday, October 04, 2006

ANTARA EKSPETASI DAN REALITA



Neil French, worldwide creative director dari Ogilvy & Mather pernah menerangkan apa yang disebut 3 langkah ke surga ( Three Steps to Heaven )….” I always say that advertising is a bit like trying to get laid in singles’s bar. You wake up one evening after your little nap for the day, and you need to gou out. First you’ve got to be noticed. Secondly, you’ve got to get their interest. And thirdly, you might get laid. So get noticed, get their interest, Get laid. Now you can’t get to number two without getting past number one, and you certainly can’t get to number three without getting past number two…”
Saya melihat getting noticed adalah elemen utama, begitu anda melalui langkah ini, dengan mudahnya anda akan mendapatkan getting interested, bahkan getting laid. Neill French lebih lanjut mengkhawatirkan bahwa mencoba membuat getting noticed akan berakibat banyaknya kepentingan yang harus diakomodasi,..” ..as they usuallya are, with far too many bits and pieces thet they want to put in.

Getting noticed adalah prioritas utama dalam membuat iklan Televisi Telkomsel Corporate dengan durasi 60 seconds. Ini yang mau diambil oleh teman teman creative muda dari Biro Iklan yang menghire saya. Namun memang tidak semudah itu dalam perjalanannya, Art director menjadi tidak begitu percaya diri, dengan begitu banyaknya references yang terus bertambah dari hari ke hari mulai dari looks, cutting, colors, typography, effects sampai technique yang mau di capai. Sementara copy writer yang mungkin merasa cukup mempunyai wawasan tentang dunia film karena sering menonton bioskop, banyak berbicara tentang soul of the filming, characters serta menginginkan jalan cerita yang story telling tetapi tidak ingin adanya ‘ cut ‘ antara transisi scene. Padahal antara ‘ storty telling ad ‘ dengan ‘ no cut ala gaya motion control approach ‘adalah suatu yang berbeda. Story telling membutuhkan cutaways untuk menambal emosi cerita atau karakter, sementara dalam gaya transisi tanpa cut lebih masuk ke ranah teknik sinematografi yang tentu saja intensitas karakter dan emosi menjadi tidak dalam. But you cant have it all !.

Semua persis yang dirasakan Neill French dalam pengalamannya,..” They also sent me example of everyone else’ s ads in the market, as well as their own reel, and that was very drepressing. All their ads, with which they’re extremely pleased, look absolutely identical to everyone else’s. And the reason they’re so pleased with them is because they’ve got everything in them that they think ought to be in them. They’ve completely forgotten that the consumers is going to ignore them, or be confused…”. Pada tahun 1996, sewaktu masih menjadi produser di Katena Films, saya pernah bekerja membuat iklan permen Coffe Club, dengan salah satu pimpinan biro iklan ini yang sekarang tidak mengurusi kreatif lagi. Tentu saja pengalaman yang berbeda, karena belum jamannya internet, DVD dan masih sedikit sumber referensi , membuat pekerja kreative menitikberatkan konsep cerita, dan tentu saja bisa menjadi lebih focus karena tidak bias dengan hal hal lain. Ini tentu tidak bisa disalahkan karena dengan perkembangan jaman sekarang, para manusia creative agency bisa mengakses dengan mudahnya referensi iklan, film, fashion, gaya hidup, yang disatu pihak bisa memberikan pencerahan tetapi disisi lain membuat bingung sendiri, yang ujung ujungnya menjadi nggak PeDe, pendekatan mana yang mau diambil dalam sebuah iklan. Pengaruh ini pula membuat ekspetasi iklan yang akan digarapnya menjadi meluas melewati batas budgeting yang di alokasikan klien. Cilakanya, produser agency juga tidak mempunyai gambaran mengenai proses produksi film serta pemahaman budgeting produksi yang ideal.



Tidak saja itu, koordinasi yang berantakan dalam pemilihan lokasi, membuat saat eksekusi terutama di airport membuat mimpi buruk bagi saya. Bahkan ( mungkin karena masalah budgeting juga ) scene di gunung semula direncanakan hanya menggunakan format 16 mm, sementara scene lainnya tetap memakai format 35mm, komposisi against blue screen dengan background pegunungan dari stock footage. Terus terang pikiran saja menjadi blur nggak keruan memikirkan bagaimana menyatukan semua itu. Akhirnya dengan perdebatan dan perjuangan keras, saya bisa memaksakan untuk mengembalikan ke format 35 mm dan syuting di lokasi asli di puncak gunung Tangkuban Perahu. Walau dengan konsekuensi saya menanggung bahan baku film dari kocek sendiri. Ditambah sewaktu syuting di gunung, tidak seorangpun wakil dari production house entah producer atau unit manager yang datang menemani.



Sementara si produser pelaksana, mempunyai problem dalam mengawasi jalannya produksi, kadang kadang ia terlihat menyendiri dan berbicara berbisik bisik di telpon. Sepertinya ia mempunyai masalah personal yang cukup berat sehingga tidak bisa berkonsentrasi penuh. Secara tidak sengaja saya melihat foto bayi di screen saver handphone, dan sambil tertawa ia menjelaskan bahwa ini bayinya. Saya tidak mau berpikir aneh aneh walau saya tahu dia tidak bersuami, toh jaman ini dengan alasan kepraktisan, sudah banyak wanita karier yang memilih menjadi single parent. Namun pada akhirnya, film iklan ini juga selesai juga, dan saya merasa puas dengan hasilnya. Saya sendiri tidak berani menduga duga apakah agency ini merasa iklan ini cukup terdelivery dengan baik atau malahan buruk. Tapi justru sejak itu saya banyak mendapat telpon dari teman creative dari biro iklan lain yang mengatakan bahwa iklan tersebut sangat baik eksekusi maupun konsepnya. Cocok menggambarkan jiwa pioneer dan pencapaian teknologi tinggi perusahaan sekaliber Telkomsel. Yang jelas, saya banyak mendapat order pembuatan iklan lagi.

Suatu hari ketika saya sedang memilah milah story board yang akan saya kerjakan, tiba tiba mata tertumbu pada sebuah berita infotainment di TV. Ternyata si produser pelaksana saya sedang menggelar konperensi pers, mengatakan bahwa ia sudah mempunyai anak dan menuntut pengakuan penuh dari bapaknya, seorang sutradara film layar lebar ternama yang banyak mendapat penghargaan di festival festival film.
Oalah Gusti !!!

read more ...

Thursday, September 28, 2006

PINASTHIKA AWARD = TETAP SEMANGAT



Menjadi ketua APFII memang direpotkan dengan undangan undangan sana sini yang benar benar menyita waktu saya. Bagaimana tidak, berarti saya harus mulai membiasakan diri dengan mengatur waktu disela sela jadwal produksi dan kehidupan sosial lainnya. Tetapi ada hal hal yang ternyata bisa memberikan pencerahan kalau kita melihat cerita saya dibawah ini. Pertama, suatu kali saya diminta datang oleh suatu Yayasan Mitra Netra, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak untuk kemajuan komunitas masyarakat tuna netra. Mereka meminta saya memberikan sebuah ‘ workshop ‘ setengah hari mengenai proses produksi pembuatan sebuah film. Ternyata mereka ingin membuat sebuah video profile yang diproduksi secara swadaya sendiri mengenai Yayasan Mitra Netra, guna kepentingan para donatur donatur mereka. Yang membuat saya takjub,karena saya berbicara didepan pengurus Yayasan yang hampir semuanya penyandang tuna netra. Tetapi ada yang lebih dari itu, bahwa mereka secara bergotong royong akan membuat scenario dan salah seorang dari mereka akan menyutradarai sendiri ! Mungkin hanya kameramen dan editor yang akan dilakukan oleh manusia sehat.

Cerita berikutnya adalah ketika saya diminta menjadi pembicara dan memberikan saran saran terhadap para sutradara muda dalam ajang Pinasthika Award di Jogja. Bayangan saya mengenai sutradara Jakarta yang penuh dengan gaya serta pernak pernik gadget mulai Mac Powerbook, Ipod dan berbagai ‘ tool of presentation ‘ mendadak sirna. Saya melihat sosok sederhana, pemalu, dan agak sedikit tidak pede ketika harus mempresentasikan hasil karyanya. Namun saya menemukan wajah wajah yang jujur, berdedikasi terhadap pekerjaannya serta daya kreatif yang luar biasa. Tanpa harus memperbandingkan kualitas serta medium format yang dipakainya, saya melihat karya mereka yang sangat kuat dan simple.



Dari dua cerita diatas ada yang bisa diambil sebagai pencerahan bagi kehidupan produksi film iklan saat ini, yakni bagaimana memelihara semangat menghasilkan sebuah karya yang baik, baik secara kreatif dan secara komunikasi pemasaran produk atau pesan yang ingin dijual. Kedua kasus diatas bisa menggambarkan bahwa passion dan komitmen dari seluruh elemen pekerja filmnya akan menghasilkan karya yang apik. Ada yang bilang film iklan itu elitis, karenanya selalu didukung oleh infrastruktur dana dan peralatan yang up to date. Sehingga kadang kita terjebak oleh paradigma bahwa sebuah film iklan berarti harus mahal ( termasuk harus melibatkan padat karya tenaga kerja ). Begitu ruang gerak kita dibatasi oleh budgeting yang pas pasan, otak dan daya nalar kita mendadak menjadi buntu. Seorang sutradara bisa kehilangan moodnya ketika diminta mengerjakan sebuah board yang disyuting dengan video., atau seorang kameramen bisa ngambek tidak karuan begitu tahu jumlah lightingman dikurangi. Padahal anak anak Jogja ini,bisa menghasilkan sebuah shoot yang dramatis hanya berbekal sebuah lampu sorot yang biasa digunakan di taman taman, lalu sutradara tuna netra ini bisa membayangkan sebuah adegan dengan rinci hanya dengan menceritakan point point tujuan shootnya.

Lebih dari itu semangat ‘ team work ‘ jelas tergambar dari dua cerita diatas. Ketika diminta menceritakan proses produksinya, si anak anak Jogja ini bisa merangkap setiap lini departemen yang dibutuhkan, tentu saja ini karena budgeting yang terbatas, atau mensiasati sebuah shoot yang sederhana dan simple karena keterbatasan shooting equipment. Memang pada akhirnya kita bisa berkata, bahwa semua itu tergantung dari bagaimana agency board itu tergambar . Kalau klien akan memahami konsekuensi biaya sebuah story board, Client will pay at cost anyway dengan kata lain. Sehingga ujung ujung nya membuat kita malas dalam mencapai puncak kreativitas, lalu semangat dan passion akan selalu dihargai dengan nilai uang.

Sudah saatnya kita membuang jauh jauh stigma yang selalu kita ucapkan ke klien, you pay nuts you get monkey. Saya hanya berharap kelak suatu saat ketika anak anak Jogja itu hijrah ke Jakarta, mereka masih membawa semangat itu. Mudah mudahan

read more ...

KEBANGGAAN PROFESI




Hani Saputra, teman saya yang sudah lama sekali tak pernah bertemu karena kini sibuk dengan layar lebarnya, seperti ‘ Virgin ‘ dan ‘ Heart ‘, konon dianggap sebagai sutradara kejam di kalangan pekerja film. Saya juga tidak begitu paham mengapa ia mendapat stigma kejam, mungkin karena ia begitu perfeksionis dalam melihat shoot shootnya. Lalu apa hubungannya dengan isi tulisan ini ? Begini ceritanya, beberapa tahun yang lalu saya mendapat tawaran mengerjakan sebuah sinetron FTV yang tentu saja sangat menarik, karena isi ceritanya juga bisa mengurangi kejenuhan mengerjakan iklan iklan melulu. Kemudian saya meminta kepada produser agar setidaknya dapat membawa beberapa crew inti saya yang biasa bekerja sama di iklan, seperti DOP dan art director, sisanya saya tidak berkeberatan dengan kombinasi crew yang biasa di sinetron.

Permasalahannya tidak berhenti disini saja, lama kelamaan dalam proses shooting saya melihat ketimpangan yang sangat jauh dari crew iklan dan crew sinetron. Dari segi kecepatan pergerakan / speed, sampai dari pemahaman estetika gambar, dan yang paling menyebalkan adalah disiplin waktu. Kadang seorang VTR recorder bisa datang jam 10 pagi sementara call time tetap jam 6 pagi, atau seorang 1st assistant director bisa baru datang setelah makan siang, dengan alasan terlalu capai. Rupa rupanya mereka tidak terbiasa dengan cara kerja saya yang sangat cepat, detail dan disiplin dengan breakdown shoot. Mereka merasa sangat tertekan dan mengalami pressure yang sangat tinggi, misalnya untuk pindah dari lokasi satu ke lokasi lain. Walhasil semakin lama mereka semakin kedodoran dan ketinggalan speed. Tak lama kemudian, saya mendengar gossip di kalangan pekerja sinetron,..” Ada seorang sutradara baru sinetron, dia lebih kejam dari Hani Saputra ! “



Dari cerita diatas, tentu saja saya memiliki pembelaan, karena apa yang saya lakukan merupakan refleksi yang biasa dikerjakan dalam sebuah produksi film iklan. Kita terbiasa dengan dead line waktu, pressure yang tinggi, serta kesempurnaan visual sebuah produk jualan dari klien. Crew iklan sudah jamak dengan wrap tengah malam dan sudah berada di lokasi pada jam 6 pagi esok harinya. Tentu saja seorang sutaradara iklan tidak akan menerima begitu saja barang barang props milik pemilik rumah seperti perabotan meja kursi tanpa memperhatikan dengan estetika gambar. Tak heran sinetron sinetron yang ada dari satu seri ke seri lainnya, selalu menampilkan kesan rumah yang sama, dengan perabotan yang sama pula, walaupun itu scene mengenai perkantoran tetapi suasana ambience yang ditangkap tetap saja sebuah rumah.


Lalu apakah itu salah ? tentu saja tidak, kita harus memiliki kebanggaan atas profesi pekerja film iklan yang mana mempunyai standard tinggi dalam pelaksanaan sebuah produksi. Manajemen produksi iklan disatu sisi telah melahirkan kualitas pekerja yang tangguh dan mumpuni. Tak heran jika dahulu sewaktu masih di bekerja di iklan, produser Mira Lesmana juga mengajak teman teman sekolahnya di IKJ seperti Garin Nugroho, Riri Riza, Enison Sinaro dan lain lain untuk belajar mengenai Manajemen produksi dan pemahaman teknologi film di Katena Films. Tak heran , walau jenis pekerjaan film iklan tidak terlalu prestige dibanding film layar lebar atau music clip sekalipun, namun pekerja iklan diakui memiliki standar kualitas yang tinggi. Ini tercermin dari upah kerja yang relatif lebih tinggi diantara pekerja film lainnya. Namun masih banyak dari kita semua yang tidak menghargai kebanggaan profesi yang kita miliki ini, dan merusaknya dengan budaya aji mumpung, tidak disiplin dan korupsi. Saya merasa trenyuh melihat crew yang baru selesai syuting jam 4 pagi, tetapi masih saja mengambil pekerjaan lain yang call timenya jam 6 pagi. Bagaimana ia bisa bekerja dengan segar dan maksimal jika ia sendiri tidak beristirahat tidur yang cukup ? art director yang jarang datang menghadiri pre production, hanya mengirim assistant atau prop masternya mengantar disain gambarnya. Lalu crew datang ke lokasi syuting dengan mengenakan sandal jepit , padahal potensi kecelakaan karena peralatan berat bisa saja terjadi. Juga sutradara atau DOP yang makan minum sambil merokok disekitar area kamera. Bisa dibayangkan jika abu rokok masuk ke dalam gate magazine, tentu akan merugikan sebuah proses produksi secara keseluruhan.

Industri film iklan modern di Indonesi sudah berjalan selama lebih dari 15 tahun, dan muka muka baru mulai bermunculan. Janganlah proses regenerasi ini dirusak dengan memberi contoh racun kepada mereka mereka yang ingin bereksistensi di dunia film iklan. Kebanggaan profesi wajib kita jaga dengan sebaik baiknya dan yang lebih penting adalah bahwa ketrampilan teknis yang tinggi jika tidak dibarengi dengan akhlak dan karakter kepribadian dalam bekerja sama saja akan menjadi bumerang di kemudian hari.

read more ...

Wednesday, September 27, 2006

TETAP SEMANGAT + IPANG WAHID



Saya mengenal sahabat yang satu ini pada tahun 1993 ketika saya masuk bekerja di Katena Films. Salah seorang crew Katena berbisik kepada saya,.” Dia keponakannya Gus Dur “. Hanya saja bayangan wajah pesantren sangat jauh dari penampilannya, celana kargo selutut dan sepatu ala Doc Martin. Hal yang tak mungkin lagi dilakukan sekarang, dahulu kadang dia juga ikut ‘ dancing ‘ di lantai disko untuk acara ‘wrap party ‘ seusai shooting yang pada jaman itu kerap dilakukan. Ya, Ipang adalah asisten sutradara kesayangan Gary Hayes , Phil Warhurst dan Bob Chappel, para dewa dewa sutradara iklan dari Katena films. Jaman itu saja saya sudah terkagum kagum melihat bagaimana rincinya ia membuat breakdown shooting yang sangat details. Tidak hanya membagi breakdown shooting sesuai frame, tetapi juga hal hal yang perlu disiapkan demi kelancaran produksi, seperti apa yang harus team art lakukan sebelum memasuki lokasi, barang barang props yang harus dibawa, pergerakan mobil produksi dsb. Membaca booklet breakdown shooting yang disiapkan dari laptop Acer miliknya terasa bermanfaat karena sudah merupakan lintas pemikiran sutradara, produser, art director dan location manager sekaligus. Sejak dulu ia sudah mengemukakan keinginannya menjadi sutradara, dan saya yang waktu itu menjadi produser pernah sekali mencoba menjualnya untuk iklan minuman energi, Lippovitan kalau tidak salah. Hanya saja gagal menembusnya, karena memang pada masa sebelum krisis moneter, sangat kecil kemungkinannya menjual sutradara local untuk iklan iklan thematic.

Setelah itu ia menghilang, dan menjadi freelancer di beberapa tempat sampai akhirnya saya dengar ia bergabung dengan Square Box, sebuah PH lain di bilangan daerah kota. Sampai suatu saat di akhir periode 1996 , ia datang mampir ke kantor kami dan menunjukan iklannya yang pertama, Metro department store. Saya melihat wajahnya yang berbinar binar, penuh semangat bahwa ia bisa mengerjakan iklan televisi pada akhirnya. Dan saya tak perlu menceritakan padanya, bahwa saya dan kolega produser saya lainnya, Salmiah Sani, hampir melabrak pada seorang art director ‘ bule ‘ yang dengan sinis dan sangat personal mencerca iklan itu. Saya sempat berkata pada Gary Hayes, “ Well, G ..the time for indonesian director its about to begin “. Beruntung Ipang memiliki produser seperti Stella dan Joe Seouw yang penuh dedikasi dan tak kenal lelah menjualnya kepada klien kliennya. Bahkan sejak iklannya Bank Danamon, Ipang telah menunjukan talentanya yang luar biasa sebagai sutradara iklan story telling yang mumpuni di Indonesia.

Cerita sepuluh tahun yang lalu itu, seolah tergambar sama dengan situasi saat ini, dimana pasar iklan yang marak di Indonesia, dipenuhi oleh sutradara sutradara asing baik yang resmi atau gelap bercampur dengan sutradara sutradara muda anak negeri yang menunggu kesempatan bereksistensi. Melihat mereka, serasa melihat calon Ipang Ipang baru yang akan meramaikan dunia film iklan kita. Hanya saja kesempatan itu terlihat sangat berat untuk bisa dicapainya. Sungguh ironis, para produser produser kita sangat kurang gigih memperjuangkan, memberi kesempatan anak anak muda yang penuh harapan ini. Kalau dilihat pertumbuhan jumlah sutradara local Indonesia dari tahun 1998 sampai sekarang, mungkin hanya sekitar 15 orang, padahal jumlah PH yang tercatat di data base kami sebanyak 108 perusahaan. Hanya ada segelintir PH yang mempunyai dedikasi untuk menciptakan sumber daya manusia baru, sementara PH PH lainnya hanya menunggu untuk mencaplok hasil ciptaan PH tersebut. Para produser kurang berani merekrut muka muka baru dari video klip atau yang baru lulus sekolah film untuk ditempa menjadi sutradara iklan. Fenomena ini tidak bisa disalahkan, karena banyak produser produser pemilik PH disini lebih sebagai ‘ tool of businessman ‘ bukan produser film seutuhnya. Banyak yang tidak memiliki background produksi, tapi hanya melihat peluang bisnis yang menjanjikan di industri iklan. Mereka hanya melihat dari kaca mata untung rugi, sehingga