Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Showing posts with label ISLAM. Show all posts
Showing posts with label ISLAM. Show all posts

Wednesday, October 10, 2007

HITUNG HITUNGAN DENGAN TUHAN



“ Orang orang Barat sudah pergi ke bulan, tapi kita masih bertengkar mengenai mengintip bulan “ – KH Hasyim Muzadi

Bulan puasa hampir selesai tetapi masih saja orang ribut ribut bertengkar tentang kesepakatan 1 syawal 1428 Hijriah. Sementara di pojok negeri para pembela syariat , sibuk melakukan razia orang orang berpuasa dan penggerebakan warung dan restaurant yang buka di siang hari. Puasa juga membuat seolah kita memiliki privilege untuk dihormati dan lebih penting lagi menentukan ‘hitam putihnya’ sebuah konsep kehidupan dalam masyarakat yang pluralistik. Karena puasa ribuan orang pegawai pijat bersih, spa dan refleksi ,harus kehilangan uang tambahan berlebaran karena tempat kerjanya kena imbas harus tutup. Karena puasa juga orang orang kecil pemilik warung makan dan jamu hanya bisa menangis melihat usahanya diobrak abrik laskar . Bisakah bulan puasa berjalan tanpa mengganggu hajat hidup orang banyak ? Padahal kalau keimanan saya berpuasa terganggu, itu karena diri saya sendiri yang gemblung, bukan karena orang orang yang asyik mengunyah makanan di pinggir jalan. Akhirnya dengan puasa kita menjadi polisi fiqih yang bertindak atas nama Tuhan, padahal mungkin Tuhan sendiri tidak pernah repot repot memikirkan ini. Karena Allah bukanlah tipe oppressed yang perlu dibela.


Bulan puasa beberapa tahun yang lalu saya sempat bertemu dengan Pak Yoesoef, seorang editor dan penerbit buku dari Hasta Mitra, sebuah lembaga yang pertama tama menerbitkan buku buku Pramudya Ananta Toer. Ia juga ikut mendekam di pulau Buru bersama tahanan politik lainnya. Waktu itu saya setengah menyindir setengah bertanya mengapa dia tidak berpuasa hari itu.
Ia hanya tersemyum dan menjawab, “ Nak, janganlah kau mengajarkan aku hakekat puasa, jika kau bangga dengan ritual selama 30 hari dalam setahun sekali..Saya telah berpuasa setiap hari selama 15 tahun, dalam ketakutan karena nyawa kami yang bisa setiap saat diambil tentara, ketika kami harus memakan apa saja, tikus, belalang untuk memperpanjang hidup..”
Ternyata saya baru tahu karena Pak Yoeseof sudah tua,maka banyak penyakit yang menggerogoti sehingga tidak bisa berpuasa. Kalau Pak Yoesoef tidak puasa, kita tidak berhak memarahi atau membencinya dengan landasan kita sedang membela hukum Allah. Pak Yoesoef sudah cukup tua untuk mengkalkulasikan pertimbangan hitungan hitungan pribadinya dengan Allah dan Allah sendiri sudah menyediakan lembaga peradilan atas dosa pahala manusia, sehingga tidak perlu diambil oleh peradilan budaya keagamaan manusia atau organisasi bentukan manusia.


Budayawan Emha Ainun Najib menjabarkan ilustrasi menarik mengenai pembagian kesadaran rohani yakni ana insan, ana abdulah dan khalifatullah . Saya mungkin masih ana insan atau ‘ aku manusia ‘ yang terlalu disibukan dengan eksistensi sebagai seseorang. Sehingga dengan mudah membatalkan puasa dengan segelas es teh manis,saat matahari terik teriknya di lokasi syuting gunung kapur Cibinong. Hanya dengan alasan kepala kleyengan. Sementara ada juga orang orang dalam tahap ana’abdullah atau ‘aku hamba Allah’. Sehingga hanya kepatuhan kepada Allah yang dibela. Dua kesadaran ini membuat Islam hanya terbelenggu oleh tata krama, sembayang sunnah, serta yang dibicarakan masalah halal haram. Tetapi diam diam Pak Yoesof juga menyumbangkan sebagian besar pendapatannya dari penerbitan buku buku Pram untuk anak yatim, fakir miskin. Berarti ia manjadi khalifatullah, bersikap demokratis terhadap seluruh anggota alam, seluruh hamba Allah dan segenap isi bumi. Orang orang beriman kini makin diuji apakah mereka lebih memilih ‘pahala pribadi’atau ‘ menyumbangkan diri ‘ bagi proses proses sosial, demokrasi, keadilan dan hak asasi manusia. Kalau sewaktu berangkat ke Mesjid untuk salat jum’at tiba tiba anda melihat orang tertabrak mobil – padahal suara ikamah sudah terdengar di corong mesjid – apa yang anda lakukan ? Jika Pak Yoesoef tahu bahwa seluruh pemasukan dari penerbitannya tidak seluruhnya merupakan hak miliknya, sehingga sebagian diserahkan kepada kaum miskin yang menghakinya. Pasti bukan jaminan kemiskinan akan lenyap dari muka bumi. Tetapi ia telah menjalankan kerangka duniawi-ukhrawi hitung hitungan dengan Allah.
Ia telah lebih dari tingkatan insan dan abdullah,ia Khalifatullah.
Mudah mudahan juga Kyai Hasyim dan Kyai Din tak perlu buang buang energi bertarung siapa yang benar, toh menurut Al Qur'an patuhi ulil amri yakni Pemerintah. Menurut para ahli fiqih, keputusan waliyyul amri, atau hakim syari'i atau sulthan atau pemerintah bisa menyelesaikan permasalahan.
Selamat Idul Fitri, Minal aidin wal faidzin.

read more ...

Saturday, September 30, 2006

FILM & ISLAM



Hari ini saya malas berbicara tentang film atau bahkan underwater fotography yang menjadi passion saya. Mungkin saja nuansa bulan Ramadhan membuat saya secara tiba tiba ingin membahas mengenai Islam. Ya, agama yang saya junjung tinggi tetapi juga menyisakan banyak pertanyaan mengenai hakekat Islam itu sendiri, terutama dalam segi peradaban manusia modern.
Dalam buku ‘ Pergolakan Pemikiran Islam ‘ – Catatan Harian Ahmad Wahib’, seorang pemikir Islam yang mati muda karena kecelakaan pada tahun 1973. Ia menulis,
“ Apakah nilai nilai budaya modern itu mendapat support dari ajaran Islam ? atau bahkan merupakan nilai nilai Islam itu sendiri ? tetapi apakah budaya yang dianggap modern itu sudah siap ? Kemanakah kira kira kemungkinan perubahannya ? Pemahamanku sampai kini tentang pada ajaran Islam menunjukan bahwa budaya budaya modern tidak senafas dengan Islam. Karena Islam itu tidak mensupport apalagi dikatakan merupakan nilai nilai Islam itu sendiri. Kelihatannya dalam ajaran Islam ada unsure penyerahan, unsure puas terhadap Kurnia Allah, unsure nrimo, qisnaah, waro yang karena itu tidak sesuai dengan nilai nilai budaya modern. Tapi mudah mudahan kesimpulan saya salah, karena saya belum terjun pada fondamen yang lebih mendasar dari ajaran ajaran Islam…”
Memang pada masanya, Ahmad Wahib bersama pemikir islam modern lainnya seperti Nurcholis Madjid dianggap kelewatan cara berpikirnya, bahkan ada yang mengganggapnya murtad dan bidah. Beruntung FPI belum lahir pada zaman itu sehingga kantor penerbit LPES tidak diobrak abrik oleh massanya yang beringas.
Walaupun demikian catatan harian yang ditulis hampir 36 tahun yang lalu, masih saja relevan untuk di bicarakan sampai hari ini. Apalagi hiruk pikuk pro kontra RUU Pornografi / Pornoaksi belum saja usai. Mungkin saja Ahmad Wahib tak akan pernah menduga bahwa, musik Islam yang dahulu identik dengan irama gambus padang pasir, sekarang bisa saja metamorfosa dalam bentuk aliran rock ala grup musik GIGI atau pop kreatif dengan orchestra seperti OPICK.



Saya selalu bertanya tanya bagaimana Islam bisa menerima budaya pop art, fashion, trend serta pergaulan modern ( bukan pergaulan bebas ) orang orang film. Wah ternyata mau tidak mau saya harus balik ke film lagi !. Saya juga berpikir apakah saya nanti benar benar bisa dituntut ke pengadilan, karena membuat iklan minuman energi Kuku Bima, dengan Miss Energy yang memakai kostum ketat dan sexy. Atau bagaimana saya merefleksikan sebuah kehidupan anak muda saat ini dalam film layar lebar saya ( someday ), tanpa harus memperlihatkan tank top, celana jeans yang robek di pantat, atau gaun backless. Disini saya tidak bicara berciuman apalagi adegan sex. Mungkin hanya pegangan tangan yang lazim dilakukan anak muda jaman sekarang.



Jika mengutip salah satu tulisan Gunawan Mohammad, …” Ada lagi ketentuan: "Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik bagian tubuh tertentu yang sensual dari orang dewasa".
Jika ini diterima, saya pastikan kesenian Indonesia akan macet. Para pelukis akan waswas, sastra Indonesia akan kehilangan puisi macam Chairil, Rendra, dan Sutardji serta novel macam Belenggu atau Saman. Koreografi Gusmiati Suid atau Maruti akan terbungkam, dan film kita, yang pernah melahirkan karya Teguh Karya, Arifin C. Noer, Garin Nugroho, sampai dengan Riri Riza dan Rudi Sujarwo akan menciut ketakutan. Juga dunia periklanan, dunia busana, dan media.
Walhasil, silakan memilih: Indonesia yang kita kenal, republik dengan keragaman tak terduga-duga, atau sebuah negeri baru, hasil "RUU Porno", yang mirip gurun pasir: kering dan monoton, kering dari kreativitas. “

Akhirnya semua pertanyaan yang menggelisahkan saya, tak akan begitu saja mendapat jawaban. Jika selama ini dikatakan sumber Islam adalah Qur’an, Sunnah dan Akal ( ijtihad ), mungkinkah akal manusia bisa mendeskripsikan budaya modern sehingga bisa beriringan dengan prinsip prinsip Islam ? Tentu saja pensiun dari dunia film bukan merupakan jawaban yang memuaskan. Tentu saja tidak.

read more ...