BEAUTIFUL HOTEL FOR BEAUTIFUL PEOPLE

Jangan dikira ini adalah judul lagu. Ini adalah moto atau slogan hotel, di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Beautiful Hotel For Beautiful People – Ada yang bisa kami Bantu ? begitulah secara lengkap kita baca. Agak bingung, maksudnya apa. Mestinya konsultasi dulu dengan pakar branding seperti Hermawan Kartajaya atau ke Totot . Yang jelas hotel ini tidak bisa dikatakan cantik. Lorong yang gelap remang remang, kasur yang apek, semua bantal di kamar saya berbordir huruf HUC - nggak jelas maknanya - lalu pegawai, roomboy yang loyo loyo dan penuh selidik. Suatu penggambaran yang kita lihat dalam film film sewaktu di tokoh utama terdampar di kota kecil. Tapi saya juga tidak peduli, yang jelas hotel pilihan dari location manager saya - Kenti - layak ditempati. Tentu sebagian pembaca sudah mengenal Kenti lewat postingan saya sebelumnya .
But, the story continues, yang menjengkelkan waktu tidur saya selalu terganggu. Ada saja, dari orang yang mengedor gedor kamar. Sambil sempoyongan karena kaget dari tidur, saya membuka pintu.
“ Oh maaf pak saya kira kamar 304 “ . berdiri seorang bapak tak dikenal tanpa ekspresi.
Belum sempat mimpi, telepon jaman baheula yang masih memakai putaran jari jari berdering dering.
“ Bapak tadi pesan kopi susu ? “ tanya wanita diseberang sana.
Lalu terbangun lagi dengan suara gedebak gedebuk di atas plafon kamar mandi.
Cilaka, bagaimana saya bisa istirahat, padahal besok call time jam 6 pagi di lokasi.
Tapi saya mencoba tidak menyesal. Bukankah ini pilihan saya sendiri, untuk lebih dekat ke lokasi syuting. Bisa menghemat waktu satu jam perjalanan, jika saya tidak bermalam di Semarang. Padahal ada pilihan tinggal di Santika atau Novotel yang jauh lebih beradab. Selalu ada hikmah dari sebuah kejadian terburuk sekalipun yang menimpa kita. Saya pernah mengalami hal yang jauh lebih buruk dari kamar hotel ini. Saya pernah tidur di gorong gorong parit kebun tembakau di Wonosobo sambil menunggu matahari terbit, atau berhari hari tidak mandi di atas rumah laut suku Bajau. Perjalanan di pelosok negeri ini selalu memberikan warna warna mengenai potret keanekaragaman dan cermin peradaban. Sebuah canda senyuman, dan juga tangisan. Sebuah Indonesiana yang membuat rindu.
Malam semakin dingin, dan perut keroncongan membuat saya turun ke lobby untuk meminta petugas hotel membelikan bebek goreng pinggiran jalan. Di gang koridor saya curiga karena melewati gadis gadis yang cekikan melihat saya. Bingung karena tadi siang sepertinya hotel ini sepi sepi saja. Saya menoleh ke belakang, satu satu masuk ke kamar crew saya. Hm..I got the picture, tapi masih penasaran. Setibanya di lobby saya lihat Kenti - cengar cengir seperti anaconda minta kawin - sedang duduk duduk dengan gadis menor lainnya. Seketika rasa penasaran saya terjawab.
Makdirodok, kata orang Betawi, gue terjebak di hotel cabul ! Jadi inilah yang dimaksud beautiful hotel for beautiful people.
Apakah ini penyesalan juga atau justru hikmah ?







