Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Showing posts with label FILM. Show all posts
Showing posts with label FILM. Show all posts

Tuesday, September 18, 2007

BALADA TANAH PRIANGAN



Dessy Ratnasari mungkin tidak akan menduga nasibnya kelak kemudian hari jika saat itu tidak bertemu dengan seorang pekerja film dalam sebuah angkutan umum di kota Sukabumi, lebih dua puluh tahun yang lalu. Memang tidak ada yang bisa menebak nasib orang, namun semua bisa saja terjadi termasuk menjadi artis besar jika lingkungannya dekat dengan produksi produksi film. Itulah sebabnya dari dahulu banyak produksi film cerita selalu mengambil lokasi di sekitar Jawa Barat, untuk mendapatkan setting apa saja dari hutan, desa, sawah, gunung, laut sampai kota. Selain karena dekat dengan ibu kota, juga jika membutuhkan pemain tambahan, terutama ‘ extra talent ‘ yang cantik, bisa dengan mudah mendapatkan di lingkungan sekitarnya. Konon hanya gadis gadis tanah Minahasa Sulawesi Utara yang bisa menandingi kemolekan gadis gadis priangan. Seorang budayawan dan rohaniwan asal Belanda yang telah menjadi warga negara Indonesia, MAW Brouwer pernah menulis kutipan,.” Tuhan tersenyum ketika menciptakan tanah Priangan..”. Ini memang tidak salah, karena alam dan segala isi tanah sunda begitu mempesona dan sekaligus membentuk komposisi gambar yang indah dalam viewfinder kamera. Namun ini menjadi tidak sesederhana ini, ketika sebuah komunitas ( film ) ternyata membawa gegar budaya terhadap perilaku peradaban masyarakat sekitarnya. Terlepas baik atau buruknya nilai nilai peradaban itu.


Sampai suatu hari saya bertemu dengan Widia, gadis yang masih duduk di bangku SMA yang yang muncul di lokasi syuting film iklan minuman selama 3 hari di daerah Ciampea, Bogor. Ini mungkin yang disebut pemerataan, karena di daerah desa terpencil yang jalannya rusak, bisa ada gadis cantik yang wajahnya mirip Revalina S Temat tinggal disana. Tapi ini juga kemahiran location manager saya yang bernama Sukenti, biasa dipanggil Kenti dalam menemukan lokasi sungai berbatuan yang masih jernih sesuai dengan kebutuhan syuting saya. Kenti sudah lebih dari sepuluh tahun ikut dengan saya, sehingga ia sangat mengenal gaya shoot shoot saya, termasuk memahami bahwa saya sangat mengagumi kemolekan panorama alam dan juga manusianya. Sehingga dalam pencarian lokasinya ia bisa menemukan alam yang indah sekaligus sumber daya pemain yang melimpah didekatnya. Walhasil ada saja akal akalan crew saya untuk berusaha lewat atau mampir di rumah Widia, baik pura pura berteduh atau meminta segelas air, walaupun sebenarnya dalam produksi kami selalu ada persediaan konsumsi yang melimpah. Widia adalah anak bungsu yang tinggal bersama ibu, kakak kakaknya serta keponakan keponakannya . Ayahnya sudah lama meninggalkan rumahnya, entah kemana. Sehingga ibunya melihat film adalah satu satunya jalan keluar untuk kehidupan yang lebih baik, agar tidak terpuruk seperti kakak kakaknya yang sudah kawin dan menjanda pada usia muda.


Budaya televisi dan hiburan memang seperti lampu petromak yang dikelilingi laron laron yang datang berhamburan. Ada saja yang menemukan kehangatan , namun lebih banyak lagi yang mati karena terpanggang menabrak lampu panas tersebut. Menjadi Dessy Dessy baru adalah jalan pintas impian gadis gadis seperti Widia, sehingga ia berterus terang kepada saya..” mau menjadi artis “ ketika ditanya cita citanya. Kemana cita cita menjadi seorang dokter atau insinyur sebagaimana anak anak sebayanya tempo dulu ? Ini memang bukan perkara mudah, karena mentalitas ini berbanding terbalik dengan harapan hidup yang lebih baik dan gaya hidup konsumerisme yang merebak kemana mana. Ada yang menarik, dalam percakapan dengan Garin Nugroho, ketika bersama sama hendak memberikan workshop perfilman di Denpasar beberapa waktu yang lalu. Diceritakan ketika memproduksi sebuah film iklan layanan masyarakat di Manado, ia hampir tak menemukan gadis gadis lokal Minahasa yang selalu digembar gemborkan kecantikannya. Ternyata ada pameo disana yang mengatakan bahwa seluruh gadis gadis cantik Minahasa sudah pergi merantau ke Jakarta ! Widia memang tidak pernah melihat bahwa ada ribuan gadis gadis sepertinya yang melihat sisi pencerahan yang salah. Sejarah selalu mengajarkan bahwa kesuksesan karena dua hal yakni kerja keras dan satu hal lagi adalah factor keberuntungan. “ Luck “nya Dessy Ratnasari adalah hari itu ia memilih jam dan angkutan umum yang bersamaan yang ditumpangi seorang pencari bakat.


Cerita ini memang belum selesai disini sampai suatu hari istri Kenti datang sambil menangis ke saya. Karena sudah lama sekali menjadi bagian dari team saya, tentu saja keluarga saya sangat mengenal istri dan anak anak Kenti. Ternyata sudah hampir 3 minggu sejak syuting akhir bulan Agustus lalu di Ciampea, si Kenti tidak pernah pulang lagi ke rumahnya. Selidik punya selidik, ternyata ia telah menikah dengan janda kembang dari Ciampea alias kakak dari Widia. Sejarah memang kembali berulang ketika manusia dengan beragam kepentingannya untuk saling memanfaatkan. Tak ada yang tahu siapa yang menjadi korban. Mudah mudahan kelak Widia tidak menjadi laron yang mati terpanggang. Sia sia dan tak berdaya. Yang jelas setelah mendengar cerita ini, Mamanya Abel semakin was was kalau saya syuting di daerah Priangan lagi.

Sayup sayup saya mendengar sebuah lagu,..
“..Bimbi nama seorang gadis, sederhana tapi manis
pergi dari kampungnya tujuannya ke kota, ingin hidup coba coba… “

read more ...

Tuesday, February 20, 2007

STEMPEL CAP PERTEMANAN DI FILM




Ada percakapan menarik dalam salah satu film legendaris akhir tahun 80an yang berjudul “ When Harry meet Sally “. Dalam sebuah percakapannya dengan Sally, ia sempat mengatakan, “ Men and women can’t be friends because the sex part always gets in the way. No man can be friends with a woman that he finds attractive. He always wants to have sex with her “ Lalu Sally membantahnya, bagaimana kalau perempuan tidak mau berhubungan sex dengan pria itu. Balas Harry “.Doesn’t matter, just let it lie, because if the sex thing is already out there, so the friendship is ultimately doomed and that’s the end of the story “. Mungkin kalau disesuaikan dengan konteks budaya Indonesia, bisakah pria berteman dengan wanita tanpa ada hubungan cinta. Tentu saja banyak yang mengatakan tentu saja bisa, mengapa tidak ? Tetapi maksud disini apakah jika seorang pria mengganggap teman wanitanya menarik dan atraktif, secara fisik dan intelektual. Bisakah mereka tetap berteman tanpa pamrih ? apakah ia tetap ‘ let it lie ‘ berpura pura memelihara persahabatannya itu ? Apakah juga hubungan percintaan akan mengakhiri sebuah bentuk pertemanan.

Bagaimana kalau analogi tersebut diatas dibalik, dapatkah seorang pria dan wanita mendapat keuntungan baik itu cinta sesaat atau hubungan sex tanpa harus menjadi teman baik ? Bukankah ini yang selalu berada dalam benak orang orang mengenai kehidupan dunia film. Perselingkuhan dan hubungan bebas. Sehingga ada istilah cinta lokasi, maupun TTM .Memang tidak salah, selalu saja ada hubungan sesama seleb atau seleb dengan sutradara, bahkan sesama pekerja film tanpa harus ada kekuatiran bagaimana bersikap dan menjaga perasaan. Teman saya, seorang aktor kondang, bisa menjalin cinta lokasi sesaat dengan lawan mainnya di sebuah film. Tentu saja hubungan cinta disini bukan sekedar jalan jalan berdua ke Mall atau TTS ( tatap tatapan sayang ). Juga tidak harus terlalu obvious hubungannya agar tidak menjadi konsumsi infotainment. Ketika menghadiri preview sebuah film, bersama tamu undangan lain. Si artis itu datang dengan kekasih resmi, begitu juga si aktor. Tegur sapa sejenak, cium pipi kiri dan kanan lalu memperkenalkan masing masing pasangannya. Setelah itu berpisah karena masing masing menuju komunitas temannya sendiri. Tapi tidak juga selalu benar fenomena ini hanya terjadi di dunia film. Kalau urusan cinta lokasi, TTM atau TTS bisa terjadi di dimana saja, sekolah, arisan, club kebugaran, kantor sampai di pesantren.


Masalahnya memang tidak sesimpel ini, stigma yang diberikan kepada orang film membuat banyak gadis gadis atau orang tua mereka memahami bahwa hanya dengan gaya hidup bebas, bisa membuka pintu ketenaran di kemudian hari. Mereka bagai laron laron yang mengerubungi sebuah lampu, yang pada akhirnya akan membunuh mereka sendiri. Padahal ada sisi bakat dan nasib yang jauh lebih menentukan, untuk bisa masuk dan sukur sukur menjadi popular di sini. Sewaktu saya sedang syuting sebuah FTV, ada seorang ibu yang selalu berusaha bercakap cakap dengan saya saat break makan. Oh, rupanya ada anak gadisnya yang ternyata ikut menjadi pemeran figuran – extra talent, begitu kami menyebutnya.
“ Mas, saya ingin menitipkan anak saya.. biar diajak syuting terus…”
“ Oh ya bu, khan pasti sudah masuk database pemain kita,, jadi suatu saatpun kalau ada produksi tentu talent coordinator saya pasti akan memanggil “
Saya melihat ke anak gadis ibu tadi, masih muda dan sepertinya belum berusia 20 tahun. Cantik dan berani membalas menatap. Semprul ! masih kecil sudah berani.
Rupanya jawaban ini belum memuaskan si ibu, ketika syuting selesai . Si ibu kembali menghampiri dan berkata,
“ Mas kalau mau ngajak pergi malam ini nggak apa,..asal nanti diantar pulang, saya biar pulang sendiri saja..”

Si ibu dan anak tidak menyadari bahwa malam itu juga mereka baru saja membunuh semangat persahabatan yang mungkin saya tawarkan. Terus terang saya ingin menjadi teman yang baik dengan semua pemain pemain saya, lalu bagaimana saya tetap berteman jika terus dibayangi bayangi tawaran menggiurkan seperti itu.

read more ...

Monday, January 29, 2007

BLOOD DIAMOND



Komposisi adalah pengetahuan dasar bagi sebagai seorang sutradara. Dari situ ia melihat bagaimana sebuah sudut angle dibentuk. Bagaimana elemen elemen yang ada dalam frame tersebut merupakan komposisi antara berbagai objek yang seimbang, dan yang lebih penting memberi makna tentang gagasan yang hendak disampaikan, Sehingga tanpa sebuah dialog, sebuah komposisi gambar bisa menjelaskan seribu kata kata tentang suasana yang tercipta. Komposisi sepasang kekasih sedang berjalan sambil bergandengan tangan di sebuah padang rumput bisa menceritakan romantisme gambar itu. Wajah close up seorang anak yang menangis tak akan berarti apa apa, tetapi dengan sebuah komposisi angle yang lebih lebar yang menampilkan background rumah gubug dan tandus, akan membuat derita hidupnya sangat terasa. Tugas seorang sutradara adalah telling a story. Ia harus sensitive dan memiliki hubungan emosi dengan komposisi gambar yang diciptakan. Ia bisa tersenyum, tertawa bahkan menangis melihat pengadeganan yang dibuat. Tapi apakah dalam kehidupan sehari hari kita bisa membentuk sebuah komposisi hidup yang ideal ? yang dapat dengan mudah diatur sesuai selera kita ?


Apa yang kita lihat dalam komposisi sebuah realita kehidupan bisa merupakan bisa merupakan rangkaian cuplikan kepedihan, ketidakberdayaan dan air mata. Tanpa harus berpretensi film tetap harus menyuarakan apa yang dilihatnya, seburuk apapun. Dalam film ‘ Blood Diamond ‘ sebuah cermin budaya kekerasan dan kemiskinan di Afrika telah memberi kita pertanyaan mengenai komposisi hidup itu sendiri. Apakah hidup itu masih begitu layak dipertahankan jika nyawa manusia hanya bagian sebuah permainan yang diciptakan mereka yang berkuasa . Peran Leonardo Di Caprio ( selain dalam film The Departed ) telah membebaskan dirinya dari karakter cowok ganteng idola gadis gadis. Ia menjelma menjadi penyelundup berlian yang serakah, egois tetapi pada akhirnya bisa menampilkan sisi kemanusiaannya yang paling dalam menjelang kematiannya. Melihat tragedi dalam film itu serasa melihat cermin tragedi di negeri tercinta, Indonesia. Bahwa ketidakadilan, kemiskinan, bencana dan budaya kekerasan akan selalu ada dan merusak keseimbangan komposisi hidup ini. Memang tak salah kalau disebut negeri kita adalah tanah bencana, bukan arti harafiah bencana alam saja, tetapi bencana dalam semua aspek yang bisa diartikan.


Film itu juga menyadarkan kita akan bahwa exploatasi manusia oleh manusia juga bisa dengan mudah terjadi di negeri ini. Tidak usah jauh jauh, dalam pembuatan film dokumenter bersama NHK Jepang tentang kehidupan anak anak jermal sungguh merobek robek nilai kemanusiaan. Mereka anak anak yang mestinya masih SD atau SMP, tidak bersekolah dan ditaruh oleh majikannya di jermal gubug gubug keramba di tengah laut. Pekerjaannya hanya memanen ikan ikan teri yang dijaring dibawah jermalnya. Setiap dua minggu sekali sang majikan datang mengambil panenan, sambil mengedrop bahan makanan, beras, ikan asin, poster gadis telanjang serta majalah porno. Mereka berbulan bulan tidak pernah pulang ke darat, sehingga terjadi penyimpangan seksual. Berkat referensi pornografi dari sang majikan, praktek homoseksual dan budaya menyetubuhi ikan pari tercipta disana. Saat itu saya baru mengetahui kalau ikan pari ternyata memiliki semacam alat kelamin seperti wanita. Dengan hanya 150 ribu rupiah anak jermal rela mempertontonkan bagaimana ia menyetubuhi ikan pari yang tertangkap di jaringnya. Ikan pari berukuran besar yang masih hidup, direntangkan disebuah meja dan dipaku agar tidak bergerak. Proses pengambilan gambar itu menimbulkan kegelisahan yang luar biasa ketika rasa kemanusiaan hilang dan tak ada yang peduli. Kegelisahaan yang sama pula sewaktu melihat komposisi gambar ' Blood Diamond ' sewaktu si petualang Danny Archer berkata pada jurnalis Amerika, Maddy Bowen,..” Aku selalu berpikir apakah Tuhan pernah memaafkan manusia manusia seperti itu, tapi tiba tiba aku sadar bahwa sudah sejak lama Tuhan meninggalkan tanah ini..”
Memang tidak mudah mewujudkan sebuah komposisi gambar hidup yang ideal di negeri ini, dan saya masih perlu bersabar. Tak tahu sampai kapan.

read more ...

Sunday, January 21, 2007


KERJA DI FILM DAN PILIHAN KARIR

Cerita sepuluh tahun lalu ketika saya pindah ke sebuah pemukiman , yang rata rata penghuninya bekerja di kantoran. Mereka berangkat pagi pagi dengan iring iringan mobil keluar gerbang kompleks, dan menjelang malam iring iringan mobil kembali memasuki rumah masing masing. Mirip adegan kehidupan sebuah pemukiman dalam film “ Edward Scissorhand “. Rutin dan monoton. Sementara mereka bertanya tanya tentang saya, apa pekerjaan orang baru ini. Rambut gondrong memakai anting ( waktu itu ), keluar dari rumah siang dan pulang pagi pagi subuh. Bisa juga lepas subuh sudah dijemput oleh sebuah mobil dan berhari hari tidak pernah pulang. Atau kadang tidak kemana mana, hanya kelihatan duduk duduk di teras sambil merokok. Kebetulan waktu itu salah satu video clip Kris Dayanti besutan saya mendapat award dari MTV South East Asia. Sehingga mereka melihat wawancara di TV dan segalanya, barulah ibu ibu komplek yang tadinya mengira saya bandar narkoba mulai tersenyum ramah jika lewat depan rumah. “ oh..orang film ‘ katanya.


Memang jaman dahulu kerja di film memang sering dianalogikan dengan kerja serabutan, sehingga orang tua kita cenderung menyuruh anaknya masuk sekolah kedokteran, ekonomi atau apa saja yang menjamin nanti bisa bekerja di kantoran. Tetapi dengan berubahnya jaman menjadi era globalisasi dan multimedia, dengan banyaknya stasiun TV, TV kabel juga maraknya dunia perfilman. Bidang film khususnya menawarkan berbagai pilihan profesi yang bisa ditekuni dan tentu saja dengan penghasilan yang lumayan. Rincian crew film mulai dari sutradara, produser, Director of Photography, Art Director, Casting Dircetor, Set Builder, Special Effect, Lightingman, Sound recordist, Musician, Editor sampai penata rias. Bahkan kalau di film iklan lebih spesifik lagi , ada food stylish yang mendressing makanan, ada hair stylish khusus untuk iklan shampoo, sampai story board artist yang menggambar visualisasi setiap rancangan adegan. Bagi yang expert dalam disain pakaian bisa menjadi wardrobe stylish, atau yang berkemampuan dalam komputer, grafis bisa menjadi digital effect artist untuk pekerjaan paska produksi. Kalau kita lihat credit tittle di layar lebar bisa sampai puluhan atau ratusan nama yang terlibat. Ini menunjukan banyaknya departemen dengan segala spesifikasi dan orang orang pendukungnya, termasuk para asistan sutadara, asistan produser, asistan kameramen dan sebagainya.


Institut Kesenian Jakarta yang jaman dulu identik dengan sekolah buangan, kini menjadi incaran anak anak yang baru lulus SMA. Demikian di tempat lain jurusan broadcats, sekolah desain serta komunitas film bertebaran di seluruh negeri. Ini menunjukan adanya pola pemikiran baru di generasi muda tentang pilihan karir masa depannya. Jangan dianggap remeh, ada seorang anak muda berusia masih berusia 26 tahun bekerja sebagai ‘ colourist ‘ sebagai tehnisi operator yang mentransfer film negative menjadi data digital atau pita video, bisa bergaji sama dengan seorang direktur bank. Penulis skenario layar lebar papan atas, rata rata dibanderol minimal 50 - 75 juta untuk per skenario. Untuk bidang teknis seperti Director of Photography, Camera operator, Gaffer, Art Director dll umumnya dibayar per hari syuting ( untuk film iklan ) atau kontrak per judul ( untuk layar lebar ). Honor Director of Photograpy atau kameramen untuk film iklan bisa 7 – 12 juta per hari. Untuk pekerja crew lainnya seperti lighting, loader, focus puller, dollyman, grip, unit dll berkisar 500 ribu – 2 juta juta perhari. Sementara seorang PU atau Pembantu umum yang biasa menyiapkan kopi, teh, makanan kecil minimal mengantongi Rp 250,000,- per hari. Lalu bagaimana dengan sutradara ? posisi ini biasanya diikat per project dan honornya relatif, dengan kisaran antara 10 juta sampai 200 juta. Bahkan saya yakin untuk iklan iklan rokok yang banyak memakai sutradara bule, total honornya bisa mencapai 300 – 500 juta. Juga sebagai gambaran untuk sutradara sinetron papan atas bisa berkisar 20 – 25 juta per episode. Sutradara memang hampir seperti pelukis, tidak ada patokan yang resmi. Bisa saja dia memberikan lukisannya dengan gratis, ada juga yang harga lukisannya sejuta bahkan sampai ratusan juta.


Enaknya juga, pekerjaan kita tidak pernah monoton, selalu bertemu orang yang berbeda beda, lokasi berbeda beda, serta ide yang berbeda pula. Bahkan kita bisa melihat suatu tempat yang mustahil kita datangi kalau bukan karena pekerjaan ini. Kita bisa syuting di pelosok papua, danau toba sampai disebuah gunung bersalju, di utara Vancouver – Canada. Mengenai busana kerja, orang film tidak direpotkan dengan baju rapi berdasi, blus, celana atau rok bahan. Cukup jeans, kaos T shirt dan sepatu kets. Kadang saya bekerja atau meeting dengan klien memakai celana pendek saja. Walau suatu waktu juga merepotkan kalau harus menghadiri acara resmi, karena tidak banyak pilihan pakaian resmi yang dimiliki. Dari tahun 1993 saya hanya memiliki 2 steel pakaian batik yang dipakai berganti ganti untuk undangan perkawinan, sunatan keponakan sampai audiensi dengan pejabat. Kembali ke ruang lingkup pekerjaan di film, dengan munculnya generasi baru, memiliki budaya yang lebih ‘ gaul’ , lebih akrab dengan teknologi bahkan memiliki background pendidikan yang kuat, akan menyuntikan darah segar perfilman nasional. Jelas berbeda dengan generasi film lama warisan film film jaman baheula yang lebih ke otodidak dan sangat ‘ gaptek ‘ internet dan komputer. Ada riset dari majalah Fortune di Amerika sana, justru sekolah sekolah bisnis mengalami penurunan peminat, berbanding terbalik dengan sekolah film yang mengalami peningkatan murid. Jadi wahai bapak bapak dan ibu ibu, sudah bukan saatnya lagi memasang wajah galak kepada calon menantu orang film. Mari !

read more ...

Saturday, January 13, 2007

KEMANA HILANGNYA HUMANISME KITA ?




Syahdan pada awal tahun 1930an, seorang wanita asal Amerika menemukan sebuah poster mengenai film dokumenter mengenai Bali di Holywood Boulevard. Setelah ia melihat film itu, sekonyong konyong ia merasa telah menemukan dunia yang selama ini dicari cari, sebuah dunia baru yang menggetarkan jiwanya. Ia menjual seluruh hartanya dan rela menempuh perjalanan ribuan mil dengan kapal, menuju Batavia. Ia meneruskan dengan mengendarai mobil seorang diri menyusuri jalan di pulau Jawa yang gelap dan rawan dengan ‘begal’ atau perampokan. Beruntung ia bertemu dengan Pito, seorang anak kecil yang menjadi penunjuk jalannya menuju pulau dewata, Bali. Agaknya jalan kehidupannya sudah ditentukan oleh dewa dewa Bali ketika bahan bakar mobilnya habis, dan berhenti di sebuah pura kerajaan di sana. Ktut Tantri, demikian gadis itu mengubah namanya setelah ia diangkat menjadi salah puteri raja tersebut. Selanjutnya , sejarah mencatat Ktut Tantri banyak terlibat dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam revolusi kemerdekaan. Di udara ia dikenal sebagai ‘ Surabaya Sue ‘ yang menyiarkan diplomasi perjuangan Indonesia ke seluruh dunia melalui radio milik Bung Tomo. Bahkan ia juga menembus blokade laut Belanda menuju Singapura untuk membawa barang barang selundupan untuk dijual di sana guna membiayai revolusi kemerdekaan sebuah negara yang begitu dicintai.


Dari cerita diatas, kita melihat betapa aspek kemanusian telah menembus lintas agama, budaya dan bangsa tanpa harus adanya prasangka. Seperti dokter dokter Kuba yang mengabdikan di Jogja dengan mendirikan rumah sakit darurat dengan biaya seluruhnya dari Pemerintah Cuba. Mereka datang ribuan mil menuju negara yang tak pernah dikunjungi sebelumnya, memberikan pelayanan kesehatan gratis. Menyedihkan, mereka hanya diberi ijin oleh Pemerintah kita selama 3 bulan dari rencana 6 bulan, karena ‘ konon ‘ banyak desakan dari rumah sakit dan dokter dokter Indonesia yang tiba tiba billing pemasukannya menurun drastis karena banyak masyarakat Jogja dan Jawa Tengah lebih suka datang ke rumah sakit darurat milik dokter Cuba. Seperti cerita seorang penduduk di perbatasan Klaten – Jogja, yang tak bisa membayangkan bagaimana bisa mengumpulkan uang 7 juta buat operasi hernianya. Namun dokter dokter ‘ sosialis ‘ ini mengoperasi penyakinya tanpa memungut biaya sepeserpun. Film dalam hal ini bisa menjadi aspek penyampaian sebuah gagasan mengenai humanisme, mulai persahabatan, keadilan bahkan sampai kesetaraan gender misalnya. Namun apakah ini bisa diterjemahkan bahwa film seperti ini bisa laku, kalau masyarakat kita katanya lebih suka pada film film remaja cinta anak sekolah dan horror ? Budaya televisi dan film secara tidak langsung mencekoki pola pikir masyarakat sehingga budaya kekerasan, individualistis, dan mimpi mimpi kota besar telah menghilangkan sisi humanisme manusia Indonesia.


Tapi siapakah yang harus disalahkan ? pasar , produsen atau Pemerintah. Seperti diketahui peran pemerintah saat ini terhadap pengembangan film nasional adalah hampir tidak ada. Tak jelas kemana larinya dana pajak tontonan, pajak impor ( yang mestinya dikembalikan sebagai subsidi perkembangan film nasional ). Belum lagi setiap komponen dalam produksi film masih tetap dipajaki. Sewa alat dipajaki,bahan baku dipajaki, prosesing laboratorium dipajaki, dan komponen komponen lainnya, padahal film itu belum jadi. Padahal idealnya film dikenakan pajak setelah menjadi barang jadi. Dengan besarnya komponen biaya yang dikeluarkan, pasti produser lebih baik membuat film yang pasti laku saja. Jadi mungkin tak salah kalau mereka enggan berspekulasi terhadap hasil produknya terutama membuat film film humanisme, kalau ujung ujungnya hanya melihat untung rugi sebuah tontonan. Semuanya tambah menjadi tak menarik melihat kekisruhan orang orang film saat ini ketika sisi humanisme mereka hilang oleh polemik, tidak mau mengalah, penjiplakan karya cipta dan kebencian. Generasi tua, Masyarakat Perfilman Indonesia ( yang rame rame mengembalikan piala citra ), Pemerintah ( Juri, BP2N , LSF ), kelompok film India kini berada dalam titik nadir perjalanan film nasional. Ada pernyataan menggugah dari Sophan Sophian yang saya dengar di sebuah TV, katanya mengapa sekarang seolah olah kemenangan film di festival menjadi berhala baru, sehingga harus dikejar sampai ke ujung dunia. Bagi saya sungguh menyayangkan jika Riri Reza atau Hanung Bramantyo lebih sibuk memikirkan gerakan perlawanan secara terstruktur terhadap ‘ the old establishment generation ‘ daripada bagaimana membuat film film selanjutnya.



Festival sebuah film bukan merupakan puncak pencapaian. Biarlah masyarakat yang menilai film ini baik atau buruk, jujur atau menjiplak . Kita seharusnya jangan membiarkan sisi humanisme sebagai pencipta seni tergerus dengan emosi. Kalau ini dibiarkan berlarut larut akan mempengaruhi daya cipta kita. Tumpul, kering dan menjadi tidak peduli. Sehingga kita akan menjadi apatis seperti yang dialami Ktut Tantri, ketika paradise itu telah berubah menjadi ladang pembantaian, kakak ‘ angkatnya ‘ di puri kerajaan yang dibunuh bangsanya sendiri, tentara tentara yang mencuri uang hasil penjualan gula republik, sampai konspirasi untuk menjual bangsanya. Hampir saja dia tidak percaya lagi dengan sisi humanisme seorang manusia, sampai ketika ia tiba kembali di pelabuhan Boston, setelah hampir 20 tahun meninggalkan Amerika. Dalam malam Natal yang dingin dan sepi itu, ia hampir menangis karena tidak memiliki uang sepeserpun untuk kembali ke rumah orangtuanya. Dan tiba tiba saja ada seorang pemuda Indonesia keturunan tionghoa yang hendak belajar di Amerika, datang memberikan uang secukupnya. Dan ternyata humanisme itu masih ada. Mudah mudahan kitapun masih percaya. Semoga saja !

read more ...

Monday, January 01, 2007


MELIHAT KEABSAHAN FESTIVAL FILM INDONESIA

Bahtiar Siagian, salah satu bapak perfilman Indonesia, disamping Usmar Ismail, pasti tak akan habis habisnya menyesali di alam kubur, karena seluruh jejak jejak karyanya sudah dimusnahkan oleh Pemerintah orde baru. Sungguh menyedihkan, bahwa kita tidak lagi memiliki dokumentasi perfilman era orde lama, terutama sutradara sutradara yang dicap penganut paham komunis seperti Bahtiar Siagian. Itulah sebabnya film tak pernah lepas dari kepentingan berbagai pihak, terutama pihak yang berkuasa ( baca : pemerintah ). Sampai ketika orde baru rontok, masih ada pertanyaan apakah Pemerintah masih berkepentingan untuk mengatur perfilman ini. Termasuk penyelenggaraan Festival Film Indonesia yang telah digelar sejak tahun 1973. Khrisna Sen dalam bukunya “ Indonesia Cinema - Framing new order “, mengatakan FFI adalah bagian dari proses pengawasan dan pengarahan film nasional selain badan badan film yang dibentuknya. Sampai akhirnya Jum’at kemarin, saya mendapat sms dari Joko Anwar untuk datang ke pertemuan pekerja film untuk berkumpul di bilangan kemang. Topik utama dalam pertemuan ini adalah membahas langkah langkah yang perlu disuarakan mengenai penyelenggaraan Festival Film Indonesia, yang baru baru ini menimbulkan sejumlah kontroversi.

Pemilihan Film “ Ekskul “ sebagai film terbaik disamping sutradaranya, Nayato Fio Nuola sebagi sutradara terbaik, menjadi salah satu pemicu kontroversi mengenai standarisasi dan penilaian sebuah Festival Film Indonesia . Banyak kekecewaan disuarakan mengapa filmnya Nia, ‘ Berbagi Suami’ atau filmnya John De Rantau’ Denias ‘ atau film film yang dianggap bermutu bisa kalah dengan film berkualitas seperti ‘ Eskul ‘. Saya sendiri akhirnya tidak menghadiri undangan itu, namun dari teman teman yang hadir saya mendapat kesan pertemuan itu selain menyiapkan rancangan petisi keprihatinan pekerja film, juga secara tidak langsung menjadi pengadilan terhadap karya Nayato. Memang sutradara ini cukup unik, dia kerap berganti ganti nama dalam menggarap film filmnya, seperti memakai nama Koya Pagayo dalam filmnya ‘ Panggil namaku 3 X’ dan ‘ 12.00 am ‘, lalu ada Chiska Doppert dalam film ‘ Missing ‘, memakai nama Pinkan Utari dalam film ‘ Gotcha ‘. Dia hanya memakai nama aslinya Nayato Fio Nuola dalam film ‘ Soul ‘ dan ‘ Ekskul ‘ sekarang. Apakah ini karena dia tidak PeDe sehingga memakai nama palsu, saya juga tidak tahu. Mau bertanya secara langsung juga tidak bisa karena saya sudah tidak memiliki nomor telponnya. Terakhir bertemu dengan dia mungkin sekitar 6 - 7 tahun lalu ketika ia masih menjadi sutradara iklan.




Terlepas dari kualitas filmnya yang dianggap biasa biasa saja, saya mengharapkan bahwa ini bukan kampanye secara sistematis terhadap jenis film lain, seperti ketika golongan realisme sosialis menggayang film film manikebu ‘ dari seni untuk seni ‘ jaman orde lama.. Saya lebih melihat bagaimana sistem dan prosedur penjurian ini dilakukan. Pola yang ada sekarang dimana dewan juri yang dipilih sangat rentan terhadap penyelewangan dan bentuk intervensi dari pihak luar, bukan saja Pemerintah tapi mungkin para pebisnis yang sangat berkepentingan terhadap industri ini. Saya sama sekali tidak meragukan integritas anggota dewan juri Rima Melati, Noorca M Massardi, Chaerul Umam, Eddy D Iskandar, Embi C Noer, Remy Silado dan WS Rendra dalam kompetensi bidangnya masing masing. Namun apakah mereka memiliki ‘ mata ‘ yang cukup up to date untuk mengikuti trend pergaulan , budaya, teknologi, serta memiliki pemahaman mengenai bagaimana menilai film yang baik dan buruk. Lihat saja, ada beberapa musik dalam film “ Ekskul ‘ yang jelas jelas menjiplak plak ketiplek soundtrack film Gladiator karya Hans Zimmerman. Ini memang kebodohan dewan juri mengapa sampai kecolongan ? atau memang tidak ada yang tahu siapa music composer kondang itu ? terutama Embi C Noer sebagai wakil dari musisi ( terakhir ia membuat musik filmnya ‘ Pengkhianatan G 30 S PKI ‘). Mudah mudahan Yato, demikian nama panggilannya kelak mau menjelaskan pertanggungjawaban etika penciptaan karya film. Kalau melihat contoh bagaimana Academy Oscar Award dilakukan, yang mana penjurian dilakukan oleh Academy of Motion Picture Art & Science sebuah lembaga non profit yang sangat independen dan memiliki integritas tinggi. Lembaga ini memiliki anggota sekitar 6500 orang yang mewakili 14 cabang interest – actor, animator and short film makers, art director and costume designers, cinematographers, composer and song writers, documentary film makers, directors,executive, producers, film editors, public relations specialist, sound technicians, visual effects expert and writer. Untuk tahap pertama, anggota harus memilih calon yang bidangnya sama, seperti misalnya sutradara yang anggota AMPAS hanya memilih sutradara. Kemudian setelah masuk nominasi baru seluruh 6500 anggota memilih calon calon pilihannya. Seluruh proses ini diawasi dan dilaksanakan melalui PriceWaterhouse & Cooper sebuah lembaga audit independen, dan sampai amplop itu dibuka di depan panggung, hanya dua orang partner PriceWaterhouse & Cooper yang tahu siapa pemenangnya.


Anggap saja dewan juri FFI telah melakukan tugas dengan sebaik baik dengan segala pertimbangan dan standarisasi yang dipakai. Bagaimana jika betul film film tipe horror, remaja, cinta anak sekolah ternyata memang menjadi potret film nasional kita ? Jumlah penonton kita justru menunjukan banyaknya angka penggemar jenis film film tersebut. Apakah kita harus malu dan tetap bersikeras bahwa potret film Indonesia yang sesungguhnya yang berkelas film film festival luar negeri dan penuh philosphy. Lihat India saja tidak pernah merasa rendah diri dengan gaya film menari, dan menyanyi diantara tiang tiang dan tetap memproduksi jumlah film yang terbanyak di dunia. Akhirnya ini memang potret masyarakat kita yang sakit, lebih percaya pada dukun dan tahayul sehingga suka film horror. Masyarakat yang terbiasa dengan poligami, tentang mimpi mimpi kota besar, sehingga film cinta memble lebih digemari, daripada film yang berseting di hutan Papua. Namun bagaimanapun juga kita mesti setuju bahwa film harus memberi kesaksian atas cermin peradaban suatu budaya, sekalipun betapa buruknya peradaban itu. WS Rendra tentu masih ingat sajaknya berjudul Kesaksian ( Aku mendengar suara, jerit hewan terluka/ Ada orang memanah rembulan / ada anak burung terjatuh dari sarangnya/ orang orang harus dibangunkan / kesaksian harus diberikan / Agar kehidupan bisa terjaga ).

Selamat Tahun baru 2007 !

read more ...

Thursday, December 14, 2006

JAKARTA UNDER COVER



Memenuhi undangan premier filmnya Lance, “ Jakarta Under Cover “ yang diambil dari insight bukunya Moamar Emka, saya rasa anda anda peminat dunia gemerlap malam harus siap siap kecewa. Karena anda tidak akan menemui detail detail apa yang ditulis Emka dalam bukunya, seperti prostitusi, mandi kucing, pesta orgy, streaptease atau gadis gadis penghibur dari Usbekistan. Ya percuma juga karena bagaimana cara menvisualkan, yang ujung ujungnya pasti akan dibabat Lembaga Sensor. Lihat saja semalam saya dipaksa menikmati gambar gambar blur / out focus untuk adegan gadis gadis meliuk liku erotis. Terbukti betapa noraknya jalan pikiran Lembaga Sensor Film ini yang menganalogikan dengan asumsi sempit bukan melihat content jalan ceritanya. Mungkin ini juga apa yang dibayangkan oleh pembuat film ini, mensiasati bagaimana film ini bisa tayang, termasuk memakai judul yang sama dari buku laris tersebut. Karena kalau mau jujur sama sekali tidak ada hubungannya antara Jakarta Under Cover bukunya Emka dengan JUC filmnya Lance. Ini bisa dikatakan bagian dari strategi pemasaran, coba memakai judul lain, “ Gadis Malam “ atau “ Malam tak berujung “ misalnya, bisa bisa gemuruh film ini tidak akan seheboh dibanding memakai judul JUC.


Jadi apa yang dibayangkan sisi gelap Jakarta dalam dunia malamnya itu hanya dilihat dari opening title, dengan cuplikan cameo cameo selebritis seperti Fauzi Badilaa, Mario Lawalata sampai sutradara Hanung Bramantyo diantara para penari streapper. Kemudian awal cerita di sebuah club hiburan ketika Haryo ( Lukman Sardi ) bersama 2 orang kawannya sedang menikmati malam panjangnya di club yang ceritanya dimiliki Christian Sugiono. Salah satu penari streaptease , Viki ( Luna Maya ) terpaksa bekerja disana untuk membiayai hidup bersama Ara adiknya yang masih kecil ,seorang penderita autis. Selama bekerja ia selalu membawa adiknya yang disembunyikan di lemari di sebuah ruang meeting manajemen klub itu. Cerita dimulai ketika Viki menolak digerayangi Haryo sehingga lelaki yang putra pejabat di negeri ini marah marah tidak keruan. Si pemilik club mencoba meredakan amarah pelanggan nomor satunya dengan memanggil mereka ke ruang meeting dimana telah disiapkan seorang penari lainnya. Problem dimulai ketika Haryo yang kesetanan menyetubuhi si penari itu hingga mati tercekik. Ara yang berada di dalam lemari bolong bolong adalah saksi mata perbuatan mereka. Dari situ cerita mengalir menjadi suspense perburuan malam sampai pagi dari tiga sekawan terhadap Viki dan Ara,


Disini saya tidak mengomentari logika sebuah film, walaupun ada pertanyaan kenapa Viki dan adiknya terus berlarian dan bersembunyi sepanjang malam di tempat yang mudah dipergoki gerombolan pemuda itu. Sebagaimana tidak perlu mengomentari film film Holywood sana, begitu mudahnya pintu didobrak, atau mobil yang terbalik selalu otomatis meledak terbakar. Karena film selain untuk menyampaikan gagasan juga sebagai media hiburan, jadi yang penting penonton terhibur dan get carried away dengan jalan cerita. Joko Anwar sekali lagi membuktikan sebagai penulis scenario yang cerdas, dan ditambah pendekatan pengambilan gambar dan editing dari Lance, membuat film ini hidup dan terasa suspensenya. Kerja penyutradaraan Lance, mencapai lompatan jauh dibanding film pertamanya ‘ Cinta Silver ‘ .Bagaimanapun juga permainan Luna Maya dan Lukman Sardi sangat luar biasa. Lihat saja ketakutan dan kegelisahan Viki sangat terasa dekat, kemudian kebejatan Haryo yang terekspos dengan sempurna. Hanya peran pemilik klub malam oleh Christian Sugiono terasa tidak pas dengan karakternya yang lembut, dan manis manis Indo. Yang jelas ia belum bisa membebaskan karakter dari remaja idola dalam sebagian besar film dan sinetronnya, menjadi sebuah sosok kejam dan kasar dalam dunia industri hiburan malam.



Sekali lagi karena saya bukan kritikus film,maka saya hanya melihat dari segi teknisnya saja. Satu hal mengganggu yakni lighting dan setting lokasi film ini. Rasa rasanya lighting Yadi Sugandhi sangat datar terutama di area dance floor, dan sebagian scene scene malam. Saya membayangkan suasana lighting dramatis dengan lampu sorot yang menembus asap asap rokok yang pekat. Sementara lighting di area diskotiknya sampai di kamar kos Viki sangat flat dan biasa saja, sehingga saya langsung tahu bahwa adegan itu dibuat disebuah set studio, bukan di real location. Padahal umumnya di sebuah club malam, lighting cenderung gelap terutama di bagian pengunjung dan gradasi terang di area penari penarinya. Sangat disayangkan jiwa Chinatown ( daerah kota ) sebagai pusat industri esek esek tidak terekspos dengan pas. Sama sekali tidak ada establishing situasi atau backdrop gang gang kumuh dengan keramaian pengunjung, pedagang asongan, tukang parkir, billboard neon sign yang berkelap kelip, dan gadis gadis belia lalu lalang di jalanan. Ada satu referensi mengenai nyawa dunia malam dan china town yang tata pencahayaannya sangat luar biasa, yakni film “ Replacement Killer “ Antoni Fuqua ( dibintangi Chou Yun Fat dan Mira Sovirno ) ,lalu untuk adegan kejar kejaran malamnya bisa melihat referensi dalam film “ Missipi Burning “ nya Alan Parker, yang mendapat Oscar Award awal 90 an untuk sinematographynya


Namun bagaimanapun juga Lance telah membuat langkah besar yang mana justru saya belum memulainya juga. Ini sebuah pencapaian dan pembelajaraan yang berharga dalam karier sebagai sutradara. Semakin lama saya menonton membuat semakin ingin cepat pulang menyelesaikan kerja skrip yang tertunda tunda terus. Bagaimanapun juga sisi potret kehidupan malam di Jakarta adalah realita sebuah industri yang berkaitan dengan hajat hidup dan hajat syahwat orang banyak. Seorang relasi bisnis dari luar negeri pernah geleng geleng kepala melihat fenomena industri esek esek di sebuah negeri yang penduduknya beragama Islam terbesar di dunia. Saya bilang, itulah Indonesia, teroris dan prostitusi bisa akur sejalan. Ketika saya keluar dari gedung bioskop, pundak saya di colek oleh salah satu pemeran dalam film ini. Ia hanya cengar cengir seperti kucing angora minta kawin. Dan saya teringat masa silam, menjadi saksi mata bersamanya dan teman lain menyusuri malam di pojok pecinan kota ini. Apakah ini berarti ada sisi sisi manusia yang membutuhkan ' cover ' nya ? apalagi disaat ketika banyak orang dan ulama mengatakan lebih baik berpoligami daripada zinah. So what next ?

read more ...

Saturday, December 09, 2006

NASIONALISME PERFILMAN




Bulan Desember ini memang sepertinya jadi hajatan orang orang film. Dari hiruk pikuk Jiffest sampai menjelang Festival Film Indonesia yang konon akan dibuka oleh Presiden SBY sendiri. Seorang teman yang suka nonton film sudah kasak kusuk untuk mencari tiket undangan buat pembukaan Jiffest. Mungkin menurutnya ada gengsi tersendiri bisa berada dalam antrian penonton yang merupakan undangan saja, untuk menonton filmnya Alejandro Gonzales Innaritu, “ Babel “ sebagai film pembukaan Jakarta Internasional Film Festival 2006 di Djakarta Theater. Sementara kolega saya, produser senior yang sudah banyak makan asam garang di film layar lebar maupun iklan, sudah sejak sore buru buru meninggalkan kantor. “…ntar mau ke undangan Jiffest “. Perasaan saya sih dia ke Salon dahulu, bersolek agar malam ini terlihat pantas bersama insan insan perfilman nasional. Dari cerita di atas menunjukan dunia film selalu menjadi magnet yang tidak ada habis habisnya bagi siapa saja yang memujanya, entah itu teman saya yang hanya suka menonton atau partner saya yang memang hidup matinya bekerja di dunia film.

Film sudah menjadi globalisasi industri hiburan di seluruh dunia. Khusus di Indonesia sejak film bioskop pertama “ Loetoeng Kasaroeng “ dibuat tahun 1938, mungkin tak ada yang mengira bahwa perkembangannya demikian pesat. Definisi film sudah tidak hanya layar lebar saja, sudah melebar ke video klip, iklan, televisi dan dokumenter. Mungkin nantinya merambah ke multimedia internet juga. Pembuat film sudah melewati lintas batas Negara. Film film Holywood bisa dengan mudahnya masuk sampai ke pelosok pelosok negeri. Dibidang pertelevisian , banyak pekerja film dari India, Malaysia dan Hongkong lalu lalang disini. Apa lagi bidang film iklan, banyak sutradara, produser dan juru kamera dari Australia, Singapore, Malaysia, Thailand, Hongkong, Cina sampai Eropa yang mencari nafkah di sini. Namun tidak ada yang tahu bahwa rambu koridor kegiatan perfilman Indonesia sebenarnya sangat nasionalistik. Lihat saja UU No 8 Tahun 1992 mengenai Perfilman Nasional dan PP tahun 6 tahun 1994 tentang penyelenggaraan usaha perfilman Disana jelas jelas tertulis industri film nasional tertutup bagi orang asing atau badan hukum asing. Para pembuat undang undang dan peraturan ini menganggap film sebagai budaya bukan industri. Karena sebagai budaya maka sudah sewajibnya di lindungi dari pengaruh asing. Masuk akal, karena film bisa secara tidak langsung mempengaruhi sikap perilaku masyarakat atau bisa sebagai alat ‘ brain wash ‘ propaganda sebuah gagasan. Lihat saja model rambut Demi Moore dalam film “ Ghost “ diikuti oleh para gadis gadis seluruh dunia pada era awal 90an. Atau mendadak sontak banyak remaja ikut ikutan suka puisi gara gara tokoh Rangga yang doyan puisi dalam film “ Ada Apa dengan Cinta “. Ini pula yang menyebabkan tiba tiba saja banyak artis artis Indonesia menjadi caleg, walau otaknya kosong tapi popularitasnya bisa mendulang suara suara para pemujanya.


Lalu apa yang sebenarnya salah dengan memproteksi seperti ini ? Dengan globalisasi dunia saat ini serta era perdagangan bebas 2010, kita sudah tidak bisa membendung arus globalisasi industri film. Ironisnya Malaysia justru menjipak UU perfilman kita dan mengimplikasikan dalam kebijakan “ Made in Malaysia “, atau popular dengan MIM. Suatu kebijakan untuk melindungi industri film nasionalnya dan menumbuhkan pekerja pekerja film bumiputera, untuk suatu saat nanti bisa bersaing sewaktu arus kran perdagangan bebas dibuka. Bedanya dengan kita, yang tak peduli dengan penerapan sebuah undang undang. Malaysia justru sangat ketat dan benar benar diawasi, sehingga film iklan Marlboro yang mendunia dengan koboi koboinya tidak bisa tayang di televisi Malaysia. Alhasil pihak produsen rokokpun harus membuat film iklan di Malaysia dengan konten dan isinya yang mencerminkan budaya Malaysia. Memang salah satu isi dari program MIM adalah film iklan yang bisa tayang di Malaysia harus dikerjakan di Malaysia, dengan tenaga warganegara Malaysia pula. Khusus untuk film iklan di Indonesia memang paling banyak menyerap expat expat yang umumnya illegal. Rasa kebangsaan kita bisa terusik melihat tidak hanya porsi sutradara, juru kamera dan produser yang banyak diduduki pekerja film asing, tapi untuk posisi seperti art director, penata busana sampai make up artis. Demikian pula kasus beberapa sutradara asal India yang tidak bisa berbahasa Indonesia tetapi mengerjakan sinetron sinetron di Indonesia.

Sudah sepatutnya pemerintah memperhatikan masalah ini, bukan hanya terpesona dengan glamournya festival festival film. Perdagangan bebas AFTA sebentar lagi akan dibuka, dan pekerja film Indonesia akan tergilas dengan sendirinya, kalau sejak dini tidak dilindungi. Jangan jangan nanti sequelnya “ Ada apa dengan Cinta Jilid 2 “ akan dibesut oleh Ang Lee, who knows ? Lagi pula siapa yang peduli, toh orang lebih suka melihat prestisenya daripada urusan urusan teknis belakang layar ini. Sampai sore itu teman sayapun masih tetap menelpon kalau ada kelebihan undangan Jiffest.

read more ...

Friday, November 17, 2006

FILM & HAMBATAN BIROKRASI




Film James Bond terbaru “ Casino Royale “ baru saja beredar , dengan pendekatan yang berbeda dengan film film bond sebelumnya. Karakter Daniel Craig si pemeran baru 007, berwajah keras, berdarah dingin dan gemar berkelahi ala Jet Li. Lain dengan Pierce Brosnan yang flamboyant dan cenderung ‘ bermain ‘ halus, dan banyak mengandalkan teknologi pemberian M. Mungkin film James Bond, adalah salah satu jenis film yang pasti laku dan ditonton. Orang menonton karena ‘ heritage ‘ warisan nama 007 yang sudah melegenda dari jaman dahulu. Ceritanya ya begitu begitu saja, tapi yang lebih penting siapa pemerannya, siapa gadis bondnya, siapa tokoh penjahatnya dan satu hal, di negara mana film ini dibuat. Karena salah satu daya tarik film ini adalah lokasi lokasi di belahan dunia yang menjadi backdrop lokasi.

Saya jadi teringat kira kira tahun 1996, waktu itu saya sering berhubungan dengan Nigel Goldsack, seorang produser film asal London yang sering melakukan shooting dokumenter dan corporate di Indonesia. Kebetulan ia sangat terkesan dengan alam geografi negeri ini, sehingga ia merekomendasikan kepada EON Productions, perusahaan yang memproduksi film film Bond, untuk memakai Indonesia sebagai salah satu tempat lokasi buat pembuatan film James Bond , kalau tidak salah “ Tomorrow Never Dies “. Akhir kata ia dan Michael Wilson, si executive produser datang ke Indonesia, dan meminta saya dan Lance ( sekarang sutradara film layar lebar ) untuk menemani melakukan ‘ recce’ atau location scout berminggu minggu di seluruh penjuru Indonesia. Dari Krakatau, Jawa, Bali sampai Toraja semua area dijelajahi dan sudah diplot untuk sesuai dengan skenarionya. Misalnya kapal perang Kerajaan Inggris akan bersandar di selat sunda dengan background Gunung Krakatau, lalu situasi sarang penjahat si raja Media di bawah Pura Besakih ,Candi candi sekitar Jawa Tengah atau gunung gunung di Tanah Toraja. Wisma BNI akan dijadikan head office imperium bisnis si penjahat. Bahkan adegan James Bond meluncur dengan sebuah banner raksasa dirancang dari puncak gedung ini. Kejar kejaran ( Bond dengan mobil BMW ) akan dilakukan di daerah pecinan kota tua Glodok dan sekitarnya. Pertemuan dengan Mabes TNI dilakukan untuk menjajaki peminjaman ( baca : menyewa ) salah satu kapal fregatnya atau pesawat tempur HS Hawk untuk di cat ulang menjadi warna identitas Kerajaan Inggris. Juga bertemu para pejabat, terutama Gubernur dan Departemen Pariwisata untuk mendapat dukungan pembuatan film di Indonesia.



Yang menyedihkan, bahwa aparat dan pihak berwenang ( baca : Pemerintah ) sama sekali tidak tertarik atau memberikan dukungan yang nyata, malah terkesan ogah ogahan dan tak peduli. Mereka sama sekali tidak membayangkan impact yang di dapat Indonesia, jika produksi di lakukan di Indonesia, terutama dari segi promosi pariwisata, disamping pemasukan devisa sebesar 70 juta US ( sebagaimana yang dikatakan Michael Wilson waktu itu ) untuk biaya produksi, pembuatan infrastruktur set konstruksi, akomodasi, pekerja film / crew di Indonesia, perijinan dsb. Bahkan saya selalu mengingat apa yang diucapkan Dirjen Pariwisata waktu itu,Bp Mapasameng sewaktu menerima kita, “ I don’t like James Bond movies…ceritanya tidak masuk akal bla bla bla.. “. Tentu saja saya tercengang dan tidak percaya ucapan itu bisa keluar dari mulut seorang pejabat teras yang seharusnya berbasa basi, serta menjanjikan kemudahan prosedur perijinan di sini. Walhasil EON Productions akhirnya memilih Thailand sebagai lokasi produksi mereka, dan hilang sudah kesempatan nama saya berada dalam credit title produksi film James Bond. Jadi memang film dan birokrasi agak susah untuk bisa seiring sejalan di negeri ini.

read more ...

Wednesday, November 01, 2006

KUNTILANAK



Habis nonton filmnya Rizal Mantovani, “ Kuntilanak “, seru juga dan sangat entertaint banget. Kok menghibur ? lihat yang datang, banyak anak anak kecil bersama orang tuanya dan tentu saja remaja ABG. Berarti tidak ada seram seramnya, dan memang saya tidak merasa ketakutan. Saya lebih takut mungkin nonton yang versinya Suzanna jaman dahulu, seperti ‘ Beranak Dalam Kubur “, “ Sundel Bolong “, atau jamannya Farida Pasha dan Muni Cader. Lebih terasa dekatnya dengan alam budaya Indonesia. Tentu saja saya tidak mengomentari atau memberi analisa tentang film itu,pertama sebagai teman dan sesama sutradara, tidak elok kalau saling mengkritik. Biarlah para kritikus film yang memberi kritik kritik terhadap karya karya sutradara. Kedua memang pendekatan yang dipilih Rizal benar benar pas dengan target audiensnya, generasi budaya hip hop MTV anak jaman sekarang. Dan itu tidak sia sia , hampir seluruh kursi bioskop dipenuhi penonton,jadi secara komersial film itu laku. Ia membuat pakem berbeda dengan stereotip film film horror Indonesia yang mana kuntilanak selalu digambarkan dengan wajah pucat penuh bedak perempuan berambut hitam panjang, dengan baju putih long dress serta punggung bolong yang berisi ulat ulat belatung dan darah. Gambaran kuntilanak di film ini dibuat seperti film Hollywood , ala ‘ Fear dot com “, setannya seperti orang tua keriput,berkuku panjang, rambut putih, berkaki kuda dan tidak jelas memakai baju atau tidak karena terus bergerak cepat dengan efek efek speed ramping maupun efek stop motion.

Selain itu namanya Pak Haji atau ulama yang biasanya muncul di adegan penutup sebagai alat pamungkas dengan ayat ayat sucinya sudah tidak ditampilkan ( hare gene Pak haji masih mengusir setan ? – demikian logika berpikir fans fansnya Julia Estelle ). Jadi sampai cerita berakhir, si Kuntilanaknya tetap hidup ‘ happily ever after ‘. Satu hal pasti si Rizal sudah melakukan survey terlebih dahulu mengenai sosok kuntilanak yang akan digambarkan. Basi kalau masih menggambarkan kuntilanak tradisional berkostum long dress putih yang jalannya melayang . Tapi itu khan versi filmnya Rizal, sementara saya punya versi sendiri.



Begini ceritanya, Pasti semua tahu rumah tua bekas peninggalan administratur Belanda di tengah tengah Kebon Raya Cibodas. Suatu saat kami syuting iklan minuman ‘ Caprison ‘ di area cibodas, sehingga demi efisiensi kami dan sebagian crew tinggal menginap di rumah itu. Benar benar rumah kosong yang jendelanyapun tidak ada gordennya,jadi bisa melihat ke halaman luar secara langsung. Malam itu sehabis usai syuting, si loader camera melaporkan seperti ada yang memanggil manggil namanya ketika ia mandi di kamar mandi belakang. Tak lama kemudian kami yang berkumpul di lantai dua, sambil bercengkerama tiba tiba mendengar suara seperti kepakan sayap . ‘ pak pak pak ‘ di kejauhan. Lalu berganti seperti ci cit anak ayam. Tentu saja kami berpikir paling paling burung hantu, karena banyak pohon pohon tinggi mengelilingi rumah itu. Tiba tiba angin seperti berhenti, sekonyong konyong sekilas kami melihat di luar jendela , seorang perempuan bermuka pucat, berambut panjang dan berjubah putih berjalan melewati jendela menuju ke arah sisi rumah. Tadinya kami berpikir,pasti ibu pembantu di rumah itu, tetapi setelah itu mendadak kami sadar, bukankah kita semua berada di lantai dua. Lalu bagaimana si ibu itu bisa berjalan ? melayangkah …? Tentu saja tanpa pikir panjang, kami langsung kabur berbondong bondong ke lantai dasar. Yang saya ingat malam itu terasa sangat panjang untuk menunggu pagi. Astagafirullah .

read more ...

Monday, October 23, 2006

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1427 H




Saya ingin menyampaikan perasaan saya terdalam,bahwa banyak kesalahan, emosi dan kezoliman yang telah saya lakukan. Sesungguhnya saya ingin mengetuk pintu maaf di hati teman teman, saya ingin merendahkan diri atas perbuatan yang telah saya lakukan. Ini bukan masalah ritual tahunan, tapi benar saya ingin menuntaskan kewajiban moral saya dalam fitrahnya sebagai manusia, sebagaimana kita sudah menuntaskan kewajiban kita di bulan Ramadhan, setelah sebulan penuh perpuasa menahan godaan untuk janji yang Allah sampaikan. Ya, janji atas pahala dan kurniaNya. Ini bukan omong kosong, dan saya percaya janji itu.
Berbeda dengan manusia, bagaimanapun juga janji janji Allah akan selalu ditepati, “ Wanuriidu an-namunna ‘alal-ladzlinas-tudl’fuu fil-ardli wanaj’aluhum a-immatan wanaj’aluhumul-waaritsuun “ Allah telah berjanji dan ia Maha Menepati Janji,maka mengapa kita menunda nunda untuk segera mengerjakan kehidupan yang bisa mendekatkan kita kepada kebenaran janji itu.
Mohon Maaf lahir bathin..

read more ...

Saturday, October 21, 2006

KUTANG