Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Showing posts with label CINTA DAN PERKAWINAN. Show all posts
Showing posts with label CINTA DAN PERKAWINAN. Show all posts

Monday, November 26, 2007

DRUPADI



Di lokasi syuting, Ahmad Sukenti alias Kenti mengeluh betapa sulit hidupnya sekarang, setelah mempunyai istri dua. Selain dua dapur yang harus dibiayai, ada persoalan yangmembuatnya senewen, yakni keadilan. Bagaimana ia mengukur rasa keadilan yang sama di antara kedua istrinya. Tanpa ditanya, saya bisa membaca jalan pikirannya. Daripada melihat istri tuanya yang gemuk memakai daster, lusuh karena mengurus anak seharian. Lebih baik ia menghabiskan harinya di rumah istri mudanya yang muda dan mulus. Bagaimanapun barometer keadilannya selalu berat sebelah. Namun ada yang jauh menarik di surat kabar yang saya baca baru baru ini. Bahwa akhirnya Mahkamah Konstitusi ( MK ) menolak uji materil atas UU Perkawinan No1 tahun 1974. Dalam Undang Undang itu disebutkan , bahwa seorang lelaki ingin beristri lebih dari satu ia harus mengajukan permohonan dari pengadilan. Untuk mengajukan permohonan ke pengadilan ia harus mendapat persetujuan dari istri, memiliki jaminan memenuhi kebutuhan istri dan anaknya serta bersikap adil. Bagi sekelompok orang yang meminta uji materil perundang undangan tersebut , menilai peraturan itu mengurangi hak warga untuk berpoligami yang dianggap ibadah. Mengurangi hak prerogatif untuk berumah tangga serta hak asasi yang dijamin oleh UUD 1945. Namun pada akhirnya Mahkamah Konstitusi (MK) menolak uji materi tersebut. Suatu keputusan yang melegakan hati.

Syahdan Drupadi adalah istri dari seluruh lima orang Pandawa. Seorang wanita yang melakukan poliandri. Begitulah hikayat hindu asli Mahabarata. Namun karena pengaruh agama Islam, budaya kita tidak bisa mengadopsi cerita ini seutuhnya. Jadilah di tanah Jawa, Drupadi hanya menjadi istri Yudhistira sendiri. Tapi siapa yang tahu, kalau Drupadi turun dari swargaloka dan menghampiri Gedung Mahkamah Konstitusi yang megah dan baru itu. Berhari hari ia memperhatikan hakim hakim Konstitusi membolak balik lembaran perundang undangan, dan yang lebih penting diam diam ia menggugah hati nurani para hakim. Tentu saja Drupadi tidak ingin memamerkan betapa justru dirinya bisa menguasai lima orang suami sekaligus. Ia hanya tertawa melihat ada saja orang yang hendak melakukan uji materi terhadap UU Perkawinan No 1 tahun 1974, bahwa perundang undangan itu menghalangi hak berpoligami para suami.


Damayanti Buchori, Direktur Eksekutif Kehati, mencatat tiga hal atas kasus diatas.
Pertama, bagaimana bisa ditengah banyaknya persoalan kehidupan bangsa,kemiskinan, ketidakadilan. Lelaki justru memikirkan poligami, apakah tidak ada issue lain yang lebih berguna.
Kedua, masyarakat terlalu mudah membela poligami dengan alasan menghindari perzinahan. Tidakkah poligami dilihat melegalkan pengkhianatan ? Meniadakan fakta bahwa sebelumnya ada perselingkuhan. Ketika perselingkuhan dikukuhkan kedalam lembaga perkawinan melalui mekanisme poligami, maka perselingkuhan dianggap hilang, tetapi sebenarnya pengkhianatan tetap ada. Dan perempuan telah dididik menerima itu.
Ketiga, dalam Islam poligami memang diperbolehkan dengan syarat berlaku adil. Pertanyaan sederhana,apakah lelaki bisa bersikap adil dari setiap waktu dari detik ke detik ?Adil lahir bathin. Bila lelaki mengatakan ‘ ya ‘, alangkah sombongnya dia.

Tentu saja saya tidak hendak mempertentangkan antara hukum syariat dengan issue kesetaraan gender. Persoalan poligami justru semakin memperjelas egoisme laki laki dengan pembenaran dalil agama. Apapun alasannya, hak berpoligami memang dijamin dalam hukum positif negara ini. Disatu sisi laki laki juga mendorong terciptanya persamaan hak antara wanita dan laki laki, tapi di sisi lain ia juga terlalu sombong untuk membelenggu wanita dengan sebuah rantai kewajiban bernama poligami. Anda bisa melakukan semua itu asal mendapat ijin dari istri tua. Persoalannya apakah kriteria ijin itu berarti ikhlas ? Mengijinkan dan mengikhaskan adalah dua hal yang berbeda. Seharusnya justru kaum wanita meminta uji materil perubahan isi Undang Undang itu dengan tambahan persyaratan ‘ ikhlas ‘ dan ‘ tanpa paksaan ‘. Cinta memang tidak bisa memilih, karena bisa datang kapan saja, tetapi lelaki harus tetap memilih siapa yang akan memiliki cintanya. Jika lelaki terlalu takut untuk kehilangan semua wanita wanita yang dimiliki,ia juga harus berani melepaskan dan memilih satu saja. Tetapi lelaki memang pengecut untuk bisa memilih. Saya hanya berharap Drupadi mempunyai blog,dimana ia bisa menuliskan perspektifnya. Siapa tahu ?

read more ...

Friday, August 10, 2007

SHINTA

Lelaki memang sering dibutakan oleh duniawi. Saat nafsu mengalahkan segala galanya dan sorak sorai manusia didepan kayu tumpukan kayu bakar yang menyala. Rama harus menjadikan istrinya Shinta menjadi bahan pertaruhan dengan ego. Laksamana sang adik tak bisa mencegah niat kakaknya, untuk melakukan uji coba yang akan dilakukan terhadap kakak iparnya. Hari itu Shinta akan dimasukan ke dalam nyala api untuk membuktikan ia masih ‘ bersih ‘ setelah sekian lama berada dalam sekapan Rahwana. Jika ia terbakar berarti ia telah ternoda dan sudah selayaknya mati menjadi abu bara api. Namun para Dewa tidak berdiam diri dan membuatnya selamat dari nyala api. Shinta selamat dan Ramapun bersuka cita menyambutnya. Pengorbanan dan sifat penyerahan diri Shinta telah menolongnya. Namun diam diam Shinta justru menangis, karena justru para Dewa lebih mempercayainya daripada lelaki yang menjadi suaminya. Hampa, direndahkan dan tak berdaya. “ ..menyedihkan cinta dan kepercayaannya hanya sebesar nyala api, sementara apa yang kumiliki melebihi dari magma gunung Mahameru..” demikian ia menangis di depan Wibasana.


Hikayat ini datang begitu saja sekelebat ketika saya bertemu Aji Massaid. Sosok yang bertanggung jawab terhadap anak anaknya namun tetap saja charm dan tebar pesona. Saya mengenalnya lebih dari sepuluh tahun yang lalu mungkin sekitar tahun 94 – 95, ketika masih meniti karir di sinetron dan menjadi model iklan sebuah merk pakaian. Ia hobby gonta ganti pacar, dan salah satu pacarnya waktu itu juga salah satu kolega saya di film kemudian hari. Sejak itu tidak pernah ketemu lagi dan saya hanya mendengar dan melihat di berita kalau ia akhirnya mengawini Reza seorang biduanita kondang. Sampai lakon panggung harus ditutup, ketika mereka berdua harus berpisah. Dalam syuting iklan minyak goreng beberapa waktu lalu, saya bertemu kembali dengan Aji. Tentu saja kini ia lebih sibuk, rajin sholat, dan lebih ‘jaim’ maklum jabatan anggota Dewan Perwakilan Rakyat membuatnya terlihat lebih dekat dengan elite politik di atas sana. Sementara saya tetap menjadi ‘ kuli ‘ film, bangun subuh dan pulang tetap subuh juga. Mempesona karena ia membawa anak anaknya, dan tetap menjadi ayah yang baik,bertanggung jawab dan mungkin sekaligus menjadi public relations yang baik bagi statusnya sekarang. Yang lebih mengejutkan karena selama 2 hari syuting itu, mantan istrinya juga datang, dan berusaha menjaga hubungan demi anak anaknya. Sesekali Reza bercerita pada Aji tentang kesibukannya, dan bahkan memberikan buku philosophy agama. Mengharukan, karena prahara perceraian justru membuatnya lebih dekat dan memahami jalan hidup masing masing.


Perceraian memang menyakitkan, dan manusia sering dihadapkan atas pilihan sebuah perpisahan. Menjadi lebih baik dengan berpisah atau memberikan kesempatan kembali menata kebersamaan. Semua jelas tergambar dalam lakon film "Painted Veil " “ , yang mengambil setting cerita di Cina. Kisah Dr. Walter Fane yang diperankan Edward Norton memberi kesempatan kedua kepada Kitty Garstin ( Naomi Watts ) ketika ia mengetahui si istri berselingkuh dengan Charlie Townsend, seorang diplomat Inggris di sana. Pilihan yang ditawarkan adalah meminta Charlie menceraikan istrinya serta mengawini Kitty atau mengikuti perjalanan Walter Fane menuju pedalaman Cina untuk menjadi tenaga volunteer di suatu daerah yang tertimpa wabah kolera. Kitty memang mengikuti suaminya, setelah Charlie menolak meninggalkan istrinya. Mereka yang tadinya jarang berbicara sejak kejadian tersebut, akhirnya menemukan cinta mereka yang sempat hilang dalam situasi pengabdian terhadap anak anak yang terlantar, manusia yang terkena wabah dan hiruk pikuk penolakan terhadap bangsa asing di Cina saat itu. Bahkan ketika Kitty memberi tahu bahwa ia hamil, dan tak yakin siapa bapak dari anak di rahimnya. Walter Fane tetap memeluknya dan menerima penuh cinta,..” bukankah sekarang tidak penting ? “. Sampai akhirnya Walter Fane meninggal karena tertular kolera dari pasiennya. Kitty tetap menyimpan kenangan sosok tersebut, bahkan sampai beberapa tahun kemudian dengan menolak tawaran ' rendevouz' dari Charlie yang secara tak sengaja bertemu di jalan.


Namun Aji bukan Walter Fane atau bahkan Rama dalam integritas yang lebih jauh. Saat mengetahui sang istri berada di Singapore atau Bali bersama pria lain, tentu ia memiliki pertimbangan untuk langkah yang akan diambilnya. Seburuk apapun. Yang jelas ia masih flamboyant sampai sekarang, dalam sela sela kesibukan syuting, ia meminta saya terlibat dalam percakapan 3 G dengan pacar barunya, seorang bintang layar lebar yang sekaligus model iklan produk sabun. Sementara Reza dengan penyerahan diri yang tulus menyuapi makan anak anaknya di pojok sana. Saya memang tidak mengenal Reza dibanding Aji, namun ada hal yang saya rasakan bahwa manusia akan menemukan jalan melalui penyerahan diri dan kepasrahan. Lakon kehidupan mereka sudah seperti berita infotainment, apakah penting siapa yang salah ? Sama seperti lakon hikayat Ramayana versi negeri Srilangka, sosok Rahwana di gambarkan sebagai pahlawan yang bisa memikat Shinta. Disana ia tidak digambarkan menculik, tetapi justru Shinta yang dengan suka rela mengikuti Rahwana, karena tidak tahan melihat tingkah laku Rama yang otoriter dan play boy. Ketika dunia modern dipenuhi dengan pilihan perceraian sebagai bagian dari gaya hidup, mungkin Shinta harus turun kembali dari swargaloka memberikan pencerahan ini. Ikut Rahwana atau harus percaya dengan api ? Mudah mudahan kita bisa menemukan inti jawaban pertanyaan itu.

read more ...

Sunday, July 01, 2007

CINTA LOKASI



Selalu saja banyak orang yang bertanya tanya tentang isi dunia film, dan yang paling sering ditanyakan adalah hal remah remah sepele, misalnya mengenai cinta lokasi. Saya katakan hal sepele karena memang tidak begitu penting, dibanding pencapaian pekerja film dalam menghasilkan karya. Sementara mereka yang diluar tadi, melihat hal sepele itu sebagai magma informasi yang tak habis habisnya mengenai kisah cinta orang orang film. Keluarga bahkan dulu mertuapun sering bisik bisik separuh bertanya separuh menyindir dengan pergaulan orang film ini. Apakah saya juga terlibat dengan cinta lokasi? Seperti biasa saya hanya bisa senyum senyum tidak memberikan konklusi. Silahkan tebak sendiri.. Lalu kenapa cinta lokasi atau cinlok hanya identik dengan dunia film ?

Mungkin juga, karena proses produksi film itu memakan waktu yang cukup lama, seperti layar lebar atau sinetron, membuat pertemuan para pemain atau pekerjanya semakin intens. Pagi pagi sudah di lokasi syuting dan malam baru selesai, sementara benih benih asmara sudah dimulai dengan TTS ‘ tatap tatapan sayang ‘ dan kalau meminjam pepatah jawa ‘ witing tresno jalarani seko kulino ‘ yang artinya cinta dimulai karena biasa. Sehingga dahulupun sutradara Wim Umboh juga tak akan mengira kalau ‘ biasa bekerja bareng ‘ , ‘ biasa makan bareng ‘ antara Widyawati dan Sophan Sophian di produksi film Cinta Remaja akan membuahkan sebuah kisah lainnya. Namun juga tidak dapat dianggap enteng kalau awalan TTS di sebuah lokasi syuting kerap mengundang intrik seperti perselingkuhan. Seorang sahabat saya juru kamera ( director of photography ) merasa duduk dalam posisi serba salah, karena secara tidak sengaja memergoki pacar si sutradara kondang sedang ‘ bergumul ‘ dengan pemain bintangnya di sebuah pojok rumah lokasi syuting. Pun sewaktu saya mengerjakan serial FTV, ketika hari hari terasa begitu lama, saya melihat betapa rapuhnya manusia dengan godaan godaan cinta lokasi. Pemain pemain baru yang berharap besar dengan impian popularitas dengan cepat belajar dari seniornya dalam urusan ini.



Tapi memang tidak mudah mengungkap percintaan baik itu TTM, perselingkuhan atau cinta serius dalam dunia orang film. Ada rasa solidaritas yang tidak membawa urusan internal ini menjadi konsumsi dunia luar. Paling paling hanya sedikit yang bocor ke area publik untuk menjadi konsumsi infotainment. Dahulu pernah seorang bintang film terkenal yang tertangkap karena di laci mobilnya tersimpan narkoba., padahal sosoknya sangat lembut dan jauh dari hal hal seperti itu. Walhasil tak ada yang tahu, bahwa barang itu milik kekasihnya, sutradara yang sedang menggarap serial sinetron bersama bintang besar itu. Namun bukan berarti semua orang film bejad dan tidak bermoral. Lebih banyak mereka bertemu dalam cinta lokasi, kini bahagia ‘ happily ever after ‘ dalam perkawinannya atau hubungan pasangannya . Cinta lokasi sampai perselingkuhan bukan hanya monopoli orang film. Bisa saja terjadi dalam segala hal aspek kehidupan apapun itu bentuk dan resikonya. Sebenarnya ini tidak ada urusan dengan dunia film. Cinta adalah cinta, dan itu bisa saja muncul secara tiba tiba di lokasi jalanan, rumah sakit atau dimana saja.

Bagaimanapun kita harus setuju dengan yang menganggap bahwa cinta membawa semangat hidup. Dari sebuah lokasi syuting pun cinta bisa dianggap pedang bermata dua sekaligus, yang memberikan jawaban atas kegelisahan dan sekaligus memporak porandakan sebuah tatanan kehidupan sosial. Tidak ada yang salah dengan film. Juga tidak ada yang salah dengan cinta. Hanya manusia yang salah, karena menyederhanakan permasalahan atas nama cinta lokasi. Selain itu, biarlah cinta lokasi menjadi rahasia saya sendiri.

read more ...

Thursday, February 15, 2007

SEBUAH PERTEMUAN



Dalam lalu lalang manusia manusia sibuk di Plaza Indonesia di malam ini, tiba tiba seorang wanita menegur saya dengan ramah. Sosok yang begitu dekat sekitar duapuluh tahun yang lalu. yang pernah mengisi indahnya rentang waktu di kampus rawamangun dan depok. Seorang yang pernah saya cintai dalam kehidupan remaja saya. Dia yang namanya masih tertulis dalam kata sambutan skripsi saya, yang setia menemani saya mengetik tugas akhir kuliah di malam malam minggunya. Masih wanita sama yang waktu itu begitu mengagumi saya, yang tertunduk malu ketika ayahnya menangkap basah kami sedang berciuman di teras belakang rumahnya. Wanita itulah yang saat ini berdiri tepat dihadapan saya. Tersenyum dan bola matanya melompat lompat mencari jawaban.

“ Kamu baik baik saja ? “ pertanyaannya singkat dan bermakna luas. Membuat keramaian di sekitar kami menjadi senyap. Sunyi dan menjadi sendu. Dia tidak bertanya, ‘bagaimana anakmu’, dan juga dia tidak menanyakan ‘ bagaimana kehidupan perkawinanmu’. Saya rasa dia tak ingin memasuki ruang pribadi yang sudah terkubur dalam masa silamnya. Seperti saya yang tak perlu menanyakan mengapa ia belum menikah sampai sekarang. Bagaimanapun juga ia terlihat bahagia dengan jalan hidup yang dipilihnya.
“ I’ve heard you have a big name in your industry “
“ No, I just feel nobody until I have my own feature film “. Basa basi sebentar yang mencairkan kekakuan suasana. Tak lama kami sudah tertawa tawa, menemukan remah remah topik yang bisa menjembatani pertemuan singkat ini.
Ini bukan sekadar kisah tonil di panggung sandiwara Romeo dan Juliet yang harus diratapi dengan airmata. Juga bukan hikayat babad Majapahit, ketika Gayatri harus memilih Raden Wijaya daripada seorang ksatria balatentara yang mencintainya. Sebuah pilihan yang harus diambil, karena menurut ramalan para empu dan brahmana, dari rahimnya kelak Raden Wijaya akan menurunkan raja raja yang membawa kebesaran dinasti kerajaan. Pertemuan selama 5 menit ini membawa jauh ke sebuah pemikiran tentang takdir dan garis hidup. Bahwa hidup harus terus berjalan, apapun konsekuensinya itu. Siapa yang bisa memecahkan rahasia kehidupan ?, hingga sebuah percintaanpun tidak harus diakhiri dengan perkawinan, kadang ada tujuan yang lebih mulia dari itu.


Ketika kami berpisah kembali, saya sama sekali tidak mencoba menolehnya kembali, demikian pula dia. Di perjalanan pulang dalam kelap kelip lampu jalanan dan kemacetan yang merayap, saya teringat baris puisi yang saya tulis,


Beranikah kau menganggap
bahwa hidup ini seperti buah dadu
yang diambil dari kotaknya
Tanpa pernah tahu nilai yang diperoleh
Kecuali keyakinan untuk nilai kemenangan

Jika kau merasa bahwa takdir
diucapkan oleh Tuhan hanya sekali
Pernahkah kau merasa dengan
melihat bola matanya,
walau hanya sekilas
kau tahu bahwa dia adalah
pasangan jiwamu ?

Selamat hari Kasih Sayang !

read more ...

Saturday, December 02, 2006

ANTARA KEPASRAHAN , JATUH CINTA DAN POLIGAMI




Ceuceu, seorang ibu tetangga yang tadinya gemar mengirim brosur dan kaset kaset ceramah AA Gym pada saya tiba tiba jadi sewot tidak keruan. Setelah saya tanya dengan suaminya, ternyata ia kesal karena da’i junjungannya tiba tiba menikah lagi. Rupa rupanya ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa pada akhirnya ulama kondang itu harus mengambil istri baru. Padahal saya ingat sejak dahulu ia kerap mengajak saya ke ceramah ceramah dan pengajiannya si Aa ( mungkin ia khawatir dengan predikat orang film yang katanya sekuler sehingga butuh pencerahan dari segi agama ). Yang jelas saya tidak akan membahas masalah poligami dari segi agama, karena memang pengetahuan saya tidak kompeten tentang hal itu. Setahu saya dahulu Nabi mengawini janda miskin yang suaminya meninggal karena perang, sementara fenomena di Indonesia, para golongan priyayi ( celeb, ulama, politikus, pejabat dsb ) justru mengawini gadis gadis mulus binti perawan. Waduh !!



Film “ Berbagi Suaminya “ Nia Dinata benar benar melukiskan potret manusia Indonesia mengenai urusan syahwat ini. Saya memakai istilah ini, karena banyak dalil dalil agama yang dipakai untuk pembenaran mengambil istri muda, yang sebenarnya ujung ujungnya ke urusan syahwat. Masih ingat beberapa tahun silam, seorang ulama NU yang memiliki pondok pesantren besar di kawasan Kebon Jeruk, mengawini janda almarhum Amir Biki ( tokoh peristiwa Tanjung Priuk ) hanya semalam di sebuah hotel lalu paginya diceraikan lagi. Sebenarnya ini tidak ada urusannya dengan masalah agama ( baca : Islam ), kalau dilihat sejarah bangsa ini, memang kerap lelaki Indonesia yang dekat dengan kekuasaan dan ketenaran doyan perempuan. Lihat saja sejarah raja raja Jawa, selirmya bisa sampai puluhan orang. Kolam Taman Sari di Yogjakarta, dahulu juga dibangun Sultan Jogja untuk leyeh leyeh sambil memandangi selir selirnya yang sedang berendam. Bahkan dalam catatan Thomas Bent, seorang utusan kerajaan Inggris tahun 1602 yang datang mengunjungi Kerajaan Aceh. Si penguasa Sultan Iskandar Muda mengajukan permintaan ‘ nyeleneh ‘, yakni meminta dikirim 2 ( dua ) wanita kulit putih asli dari Inggris yang nanti akan dikawini. Untung saja pengiriman tenaga kerja wanita Inggris ini tidak jadi, bisa dibayangkan pejuang pejuang GAM nantinya Indo Indo. Belum lagi kalau kekerasan dipakai untuk memaksa wanita yang ingin dikawini. Puteri Prabu Siliwangi , dibunuh beserta rombongannya di gresik ketika ia menolak dijadikan selir oleh Brawijaya penguasa Majapahit. Lalu Sunan Amangkurat dari dinasti Mataram bisa membunuh si bawahannya, hanya untuk mengambil istri si bawahan untuk dijadikan selir.




Saya tidak bisa membayangkan jalan pikiran si istri tua. Kenapa dia tidak memilih bercerai dan memelihara anaknya, daripada mengorbankan perasaannya, tetapi mungkin juga ada pertimbangan lain yang jauh lebih penting. Disatu sisi ada ketidakberdayaan dari wanita Indonesia untuk dipaksa menerima hal ini, seperti RA Kartini menerima lamaran Bupati Joyo Adhiningrat, sehingga Pramudya Ananta Toer harus menggambarkan kegeramannya dalam Roman “ Gadis Pantai “ …” Mengerikan bapak,..mengerikan kehidupan priyayi ini..Ah tidak, aku tidak suka pada priyayi. Gedung gedungnya yang berdinding batu itu neraka. Neraka tanpa perasaan..”demikian si mas nganten melihat si tuan mas Bendoro yang gemar kawin. Sementara di sisi lain, ada keterpesonaan wanita pada sosok sosok tertentu seorang laki laki sehingga rela jika dimadu. Sebagaimana keterpesonaan Utari, Inggit, Fatmawati, Hartini, Haryati, Ratna Sari Dewi, Yurike Sanger pada Bung Karno. Lalu penyair WS Rendra yang pernah serumah rukun dengan 2 istrinya ( waktu itu ) Sunarti dan Sitoresmi. Angel Lelga dengan Haji Rhoma Irama, si pengusaha restaurant Wong Solo , bahkan sampai istri istrinya si supir produksi film dalam ceritanya Nia Dinata. Kesimpulannya apakah keterpesonaan, dan kepasrahan diri ini suatu kebodohan ? Yang jelas si ceuceu tetangga saya menjadi bertambah bingung karena puteri sulungnya yang baru lulus SMA memaksa untuk masuk ke sekolah film di IKJ ( “..mau jadi kayak om Iman, katanya …” ). Padahal bayangan si ceuceu, orang film doyan kawin cerai, sementara ulama panutannya baru saja mengambil istri muda. Saya hanya berharap mudah mudahan ceuceu masih mau mengirimkan saya kaset kaset ceramah agama lagi. Isinya memang menyejukkan, sungguh !.

read more ...