Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Showing posts with label BLOGGERS. Show all posts
Showing posts with label BLOGGERS. Show all posts

Wednesday, November 28, 2007

Pindah Ke Rumah Baru


Setelah sekian lama saya tumbuh dan besar di rumah ini. Saya memutuskan pindah ke rumah baru saya , diseberang jalan sana. Tidak ada yang patut disesali. Justru rasa syukur karena rumah ini telah memberi segalanya, menjadikan tempat persinggahan yang nyaman bagi siapa saja.
Selamat tinggal rumah lama.
Mari ! Menuju rumah baru

read more ...

Thursday, November 22, 2007

VIVINK



Vivink . Begitu namanya. Saya juga tidak mengetahui namanya lengkapnya, kecuali Pinkina nama yahoo messenger IDnya. Saya belum pernah bertemu, dan ia biasa mengunjungi blog saya sekaligus berbincang bincang di cetingan. boso jowo terus. Kalau melihat profilenya - ibu muda berkerudung asli Bojonegero - yang baru menikah ini sepertinya manis dan ayu.
“ Mas, sampeyan kenal Hanung Bramantyo ? “
“ Mas, kalau kerja piye…? “
“ Lho orang film kok sepertinya foya foya terus "
" Orang film suka kawin cerai to mas "
Saya buru buru meralatnya.
" Iya tapi lebih banyak ulama yang poligami daripada orang film "
Banyak sekali pertanyaannya. Curious dan polos. Saya jelaskan kalau tidak semua orang film bejat, ada yang alim juga. Ada juga yang berasal dari keluarga soleh.
“ Ponakan Gus Dur, anaknya Gus Solahuddin Wahid juga sutradara film , sembahyang jengking terus, walau banyak Tank top dan G string berseliweran “. Demikian saya menambahkan.
“ Trus kalau sampeyan yang mana ? “
Ciloko. Ini YM atau interogasi polisi.
“ Wah, ben Gusti Allah yang menilai saja deh..” demikian saya ngelesnya.

Vivink memang selalu rajin menyapa saya di dunia maya. Baginya, komunitas film adalah sebuah jurang yang sangat jauh untuk dibayangkan. Sekaligus bertanya mengenai sebuah pemahaman tentang dunia yang sulit di mengerti. Sebuah dunia Film. Ini memang tidak mudah merubah stereotype komunitas yang biasa dilihat di Infotainment, majalah dan tabloid gossip. Tapi Vivink selalu meminta jawaban. Ia bisa ngambek kalau saya lama menjawabnya di YM.
“ Mas main ke BHI dong “
“ Mas no Hp mu piro ? “
Sampai sore kemarin saya menerima sms dari Vivink, meminta saya datang ke Bunderan Hotel Indonesia, tempat dia akan berkumpul dengan teman temannya. Komunitas BHI yang legendaris. Tentu saja saya janjikan setelah acara bersama Ida Arimurti di Delta FM selesai. Tetapi bukan Vivink kalau tidak posesive. Sehingga saya harus mematikan hp saya, takut frekwensi sms bisa mengganggu acara siaran.
“ Vink..Aku mau siaran dulu “.


Akhirnya saya bertemu Vivink, di depan teras fountain air mancur Grand Hyatt Hotel, di pinggir jalan protokol. Sebuah tempat yang begitu familiar hampir sepuluh tahun yang lalu. Pada masa periode Mei – November 1998, ketika tempat ini bersama gerbang lobby hotel Mandarin, Indonesia dan Grand Hyatt menjadi titik titik pangkalan tukang ojek . Menjadi armada transportasi bagi jurnalis, kameramen dari seluruh penjuru dunia yang melaporkan kerusuhan dan pergolakan dasyat di negeri ini. Karena transportasi lumpuh, maka ojek digunakan untuk menembus gang gang pojokan kota menuju daerah konflik. Saya teringat begadang bersama rekan jurnalis dan kameramen TV dari Inggris, di tempat ini. Dan sekarang ditempat yang sama, saya duduk bersalaman dengan gadis mungil yang bola matanya melompat lompat meminta jawaban. Tentu saja, saya berterima kasih dengan Vivink, kalau bukan karena dia, tentu saya tidak sempat berkenalan dengan teman teman baru Hadik , Endik , Bambang , Mita , Pitoh disamping Iqbal dan Ipul yang sudah saya kenal lebih dahulu. Pertemuan ini memang menyegarkan, dan saya menikmati teh manis, dan sate kikil pinggiran jalan. Melihat perjuangan sisi lain manusia manusia yang membangun kesempatan di kota besar ini. Dan saya percaya bahwa kita bisa eksis dan bernafas karena perjuangan hidup ini. Sesulit apapun. Juga jauh lebih penting, bahwa orang orang seperti Vivink bisa melihat bahwa manusia film seperti saya adalah biasa biasa saja, sama seperti manusia manusia yang dilihat di setiap tikungan kehidupannya. Tak perlu menduga duga mengenai akhlak ataupun sisi kehidupan yang berbeda.

Sayang sekali Vivink harus pulang lebih cepat. Padahal saya tahu ia masih ingin menikmati di sini, sebagaimana saya ingin dia lebih lama di sini. Tapi sebagai istri yang sakinah, ia memang tak bisa membiarkan suaminya menunggu di rumah. Ia juga tak sempat bertemu dengan buanadara – selebriti blogger baru – yang tiba tiba muncul menyusul kopdar ini. Namun Vivink, tetaplah Vivink. Sebelum pulang ia masih saja posessive.
“ Anakmu piro mas “
“ Mas, lahir tahun berapa “
“ Mas, lho itu HP mu yang lain ya,..piro nomere mas “
I love u Vivink.

read more ...

Wednesday, November 21, 2007

BLOG SAYA YANG SAYA CINTAI



Beberapa hari terakhir saya mendapat kiriman pesan melalui Yahoo Messenger, baik orang yang saya kenal dan ada juga yang memang tidak mau memperkenalkan dirinya,..
” saya bukan siapa siapa, hanya pembaca setia blog mas Iman “.
Intinya, bahwa – ini yang tidak saya duga – mereka mempertanyakan mengapa saya merubah gaya menulis saya akhir akhir ini, dengan hanya menulis ‘ remahan ‘ ringan ringan. Dengan kata lain mereka protes karena tulisan saya yang cenderung ‘cair’. Terus terang ini juga mengagetkan saya, pertama , karena saya tidak menyangka bahwa di luar sana ada mereka mereka yang begitu memperhatikan rumah sederhana milik saya dan menjadikan isi tulisan saya sebagai tautan yang patut dibaca. Kedua, saya juga tidak berpretensi bahwa gaya tulisan ini memiliki benang merah emosi dengan orang orang yang tidak saya kenal di luar sana. Ini jelas menyejukan, memberikan pesan bahwa saya selayaknya merawat rumah ini sebaik baiknya, sepenuh hati. Ketiga, bagi saya menulis bukan ritual yang harus memiliki pola dan struktur yang sama. Menulis, bisa menjadi cair, sederhana, apa adanya dan di sisi lain bisa juga menjadi bentuk penyampaian sebuah gagasan apapun. Sehingga, sampai sekarangpun saya tidak tahu apakah tulisan tulisan ini memang sedemikian bisa dinilai dengan mudahnya.

Terus terang menulis adalah passion. Tinggal seberapa jauh kita memelihara passion ini, terlebih dengan adanya loyalitas pembaca, membuat saya berpikir untuk tidak menganggap remeh hal ini. “ Our blog is a brand eventually “ . Blog kita adalah sebuah produk atau merek. Salah satu unsur untuk memelihara sebuah brand dari philosophy pemasaran adalah menjaga loyalitas pembeli atau pemakai. Jangan salah, ini juga bisa menjadi resiprokal, ketika saya juga menjadi loyalis pada blog blog lain yang begitu menarik dan sekaligus memberikan pencerahan. Setidaknya ada hampir 200 nama dalam feed reader bloglines saya yang secara rutin patut dikunjungi.


Keanekaragaman tulisan semestinya membuat pilihan yang menarik bagi blog, dan saya percaya bahwa mood, suasana kehidupan mempengaruhi apa yang akan saya tulis. Tentu saja, saya tidak begitu percaya diri untuk menampilkan semuanya. Diam diam saya juga mempunyai sebuah blog khusus puisi puisi saya yang selama ini tersembunyi. Sepi , sendirian di pojok sana, Kadang saya berpikir ingin menulis olahraga seperti mas pencinta bola ini , atau bahkan resep masakan, karena salah satu hobby saya memasak. Tanyakan pada Om Ong yang pernah mencicipi kepiting saus tiram dan udang saos padang racikan saya. Begitu banyak catatan ruang waktu, ruang kehidupan yang ingin saya tawarkan dalam dunia blog ini. Tentu saja saya berharap bisa memberikan sebuah rumah persinggahan yang membuat orang betah. Karena pada mereka di luar sana, baik yang saya kenal atau tidak, adalah tujuan sesungguhnya rumah ini dibuat. Menjadikan tempat berteduh yang rindang, serta memuaskan rasa dahaga dengan oase kehidupan. Karena hidup menjadi jauh lebih menarik jika kita bisa memberikan sedikit saja bagian kita kepada orang lain.

Ketika saya memberi alasan kepada teman tersebut, “ ah itu khan hanya ngecek ngecek ombak, lihat respons jika saya menulis dengan gaya lain..”. Sesungguhnya saya berbohong, karena memang saat itu saya tak bisa menahan passion menulis hal hal ringan saja. Tentu saja saya bukan sekadar ngecek ngecek ombak juga, dengan menerima tawaran Ida Arimurti untuk bincang bincang mengenai dunia blog, Rabu malam ini jam tujuh di Delta FM. Mewartakan blog yang saya cintai, sebagaimana saya mencintai teman teman blogsphere di luar sana.

read more ...

Wednesday, November 14, 2007

SESAKRAL APA TULISAN BLOG



Judul ini memang secara inspiratif saya comot dari sebuah komentarnya Triadi di postingan saya terakhir. Tentu saja tanpa ijin. Wong Triadi saya asumsikan teman yang baik, legowo dan tepo seliro. Sesakral apa sebenarnya tulisan blog. Lho ini tulisan kok seperti pohon randu di pojokan ujung komplek saya. Kadang kadang ada yang menaruh umbo rampe, sajen atau anak anak kecil suka ketakutan kalau melewati sesudah magrib. Tulisan memang klenik ?, punya wibawa segala, Padahal saya cuek aja, pohon randu itu saya paku buat menjadi bentangan spanduk pengumuman sholat ied.
Sik sik mas, ini balik ke topik kopas lagi ? Bukannya sudah ada perdamaian ?
Oh iya. Tapi saya boleh cerita sedikit masa lalu khan. Begini, sewaktu saya lulus kuliah dulu, ternyata tulisan di kata pengantar skripsi saya dipandang teman teman sangat bagus. Walhasil mereka juga minta dibuatin tulisan kata pengantar buat di skripsinya. Dapat ditebak, ada sekitar 15 – 20 skripsi yang memiliki gaya tulisan hampir sama pada kata pengantarnya. Tapi siapa yang mau peduli ide hak cipta hampir 20 tahun yang lalu itu ? tentu saja mereka semua mengklaim pada pacar, keluarga sebagai hasil tulisannya sendiri. Tapi saya masa bodoh, wong pohon randu tempat semayamnya genderuwo saya paku, apalagi tulisan. Nggak ada sakralnya.



“ Nanti dulu, sampeyan bukannya pernah mengatakan kopas itu salah “
Benar, secara konsepsi memang sudah salah. Nggak kreatif amat sih. Mau kopas plek ketiplek semuanya, sepotong sepotong atau secara inspirasi. Ya nggak mutu.
“ Tunggu mas, ..jadi inget cetingan sama adinda Herman Saksono , katanya nggak apa tulisannya dikopas sepanjang bukan buat old media atau established journalism “
“ atau kutipan fanabis , silahkan ambil tulisannya karena ide tinggal metik di udara “
Ya itu poinnya, Rhenal Kasali bilang harus ada commercial value sesuatu barang bisa dinilai dan dipertahankan. Kalau buat pribadi pribadi aja sih feel free. Ustad Landy saja bilang, silahkan kopas tulisan saya, karena mereka tidak mungkin ngopas pikiran saya. Kalau cuma dikopas anak kecil yang baru ngeblog sebulan, nyantai jekk..Tapi kalau yang ngopas bloger tahunan, tak kamplengi ! gua gebukin tau rasa.
“ Lho mas kok gak konsisten nih “
Dasar pekok, ndesit kowe. Terserah saya dong. Kalau ada yang setuju kopas, setuju pakai syarat, atau tidak setuju ( tapi setuju pakai software bajakan, beli dvd bajakan, download mp3 ilegal ) ya monggo monggo saja. Should we proud living in democrazy right.

“ Mas mas, Kok tulisan di posting ini mirip mirip gaya tulisan ndorokakung , ini kopas secara inspirasi ya “
Sudah sana minggat ! urusan gaya tulisan kok diperhatikan. Saya mau mandi, keramas, dandan dulu. Nanti ada konperensi pers FPB front pembela buanadara di Setiabudi building.
????

read more ...

Sunday, November 11, 2007

AYO BUNUH SEMANGAT BLOGNYA !



Malam minggu kemarin. Waktu itu hujan deras seharian, alih alih nonton Liga Inggris, malah saya terlibat join conference sampai jam 3 pagi dengan Ndorokakung , Anto , Tika , Mas Mbilung , dan Herman Saksono . Dimulai menjelang maghrib dapet buzz dari Anto mengenai suatu topik yang sedang hangat hangatnya di dunia blogsphere. Copy Paste bin kopas. Ternyata selama saya menghilang seminggu di Papua, saya sempat kehilangan berita up to date ini. Saya sebutkan saja, Buanadara, model saya yang pertama kali mengenal dan belajar blog dari saya, ternyata melakukan copy paste dari blog lain tanpa seijin pemiliknya.
Walahh..apa yang kamu cari buanadara ?
Saya mencoba masuk ke blognya, ternyata sudah dihapus.
Walhasil saya hanya bisa pelan pelan menyusuri berbagai blog persinggahan yang mentautkan permasalahan ini, mencoba mengerti duduk persoalannya.
Masih terbayang ketika saya browsing kesana kemari, blogwalking di sela sela kesibukan syuting di studio. Sebuah mata, bulat besar meloncat loncat mencari tahu jawaban, apa yang saya kerjakan. Sebuah blog baru, dunia baru baginya, seorang gadis berusia 18 tahun yang sebelumnya begitu memuja muja friendster. Dalam 2 hari syuting itu, pelan pelan saya membawanya kesebuah lompatan besar dalam hidupnya. Sejak itu saya tak pernah bertemunya lagi. Sesekali saya melongok ke blognya. “ Sudah berani posting rupanya “.

“ Wah sadis, kejam komen komennya “
“ langsung dibantai dia “
“ hajar tanpa ampun “
Menyesal saya tidak sempat membaca komen dan tanggapan yang masuk ke blognya.
Saya bisa membayangkan betapa stressed outnya dia. Seperti anak kecil yang pertama kali ketahuan nyontek. Gemetar ketakutan dan menjauh. Menunduk pasrah.
Apakah ini perlu sejauh ini ? menakut nakuti anak kecil yang masih belum tahu apa apa mengenai dunia blog, apalagi masalah etika dan pencurian hak cipta. Perlukah kita memukuli, menampar anak kita sendiri yang ketahuan sedang ‘nyolong’ makanan di bulan puasa ? Jika kita kita sok munafik bicara hak cipta, saya berani bertaruh sebagian besar dari anda ( dan saya sendiri ) biasa membeli cd dan dvd bajakan, download lagu lagu, dan mencomot foto disana sini tanpa ijin. Kopi paste memang salah, apapun alasannya. Namun haruskah kita membunuh seseorang yang baru saja memasuki dunia blogsphere. Mungkin dia tak akan pernah memasuki dunia ini lagi.
She just eighteen, belum sebulan mengenal blog dan jumlah postingan mungkin dibawah 5 buah.Sebagaimana anak kecil, jika dia suka pada sebuah barang ( atau tulisan ) dia akan berusaha mendapatkannya. Dia berusaha menjadi apa yang dikaguminya, seperti gadis gadis ingin menjadi Britney Spears, meniru model rambut Demi Moore jaman dulu, ketika film ‘ Ghost ‘ meledak. Tanpa berpikir konsekuensi , cocok apa tidak, halal atau haram. Siapa sih diantara kita yang tidak pernah nyontek sewaktu sekolah ? Terus terang , saya yang membuatkan settingan disain, serta menyarankan memakai nama Buanadara. Sebuah kata kata yang mengingatkan pada sebuah film tiga dara tahun rekiplik. Sebuah dunia gadis gadis sebayanya.


“ Blog kamu kenapa sudah nggak ada ? “
“ h4bis bet3 maz…koMennya akuw gAk tah4n “
“ Lho memang orang komen apa, paling paling pada flirting sama kamu “
“ NggAk pp..udah dunk , jgN ngUngkit blOg lage,..”
“ Ah jangan jangan disuruh pacar kamu nutup blog, soalnya dia cemburuan “
“ Khan akuw gAk punyA pacar maz…ugh “
( oh ya alhamdulilah )
Rupanya dia malas menceritakan hal sesungguhnya, tapi saya telpon lagi, jam jamnya Dieder Drogba sedang kena kartu kuning, di sela sela chatting conference yang makin lama bertambah ‘ngeres’.

“ Saya tahu semuanya…” dia diam sambil bingung mau jawab apa.
“ kamu mau ngaku salah di depan teman teman ini..”
Lama menunggu.
“ iy4hhh,..akuw mau mazz, akuw nyesel niy “
“ kh4n akuw udah ngakU salah, tapi kOk merekA pada Siniz dan Sadiz sama akuw “
“ kamu berani saya ketemukan dengan yang punya blognya atau mereka mereka di luar sana “
( langsung saya email dewi dan nge-sms ndorokakung )
“ bErani maz, akuw mo minta ma4f “
“ oks hariXXX after office hour disini XXX jam XXX “
“ mazz akuw bol3h aj4k temenku, si …. yang presenter MTV ,.akuw takut ndriAn“
( oh boleh boleh sambil tersenyum mengembang )

Kembali ke chatting. Makin malam ndoro kakung makin ‘ seru ‘ sementara tika mulai kebingungan diusir dari mbak mbak café yang mau tutup. Saya berpikir, siapakah yang lebih mulia dari mereka mereka yang berani mengakui kesalahannya ? Apakah buanadara akan bangkit kembali. Saya ragu. Kita telah membunuhnya.

read more ...

Wednesday, October 31, 2007

SUARA BARU INDONESIA




Sewaktu blog ini tiba tiba mendapat kehormatan masuk ke dalam nominasi 5 besar blog dalam ‘ current issues ‘ di Pesta Blogger , sebelum akhirnya tereliminasi karena kalah bersaing dengan blog blog mumpuni seperti Priyadi , Perspektif dan Ndoro Kakung . Saya sempat mempunyai prasangka, “ Wah ini berkompetisi dengan orang dalam sendiri “. Karena nama nama diatas adalah panitia atau orang orang yang menyelenggarakan hajatan ini. Tentu saja saya berasumsi sebuah adagium yang berlaku di sebuah perlombaan. yakni karyawan, juri dan anggota keluarga di larang ikut serta. Namun akhirnya saya harus membuang syak wasangka ini. Karena pertama – walau masih bertanya tanya apakah di belahan dunia lain ada perlombaan blog seperti disini - namun dalam alam demokrasi semua mendapat hak yang sama. Kedua, ketika hendak mengisi votting, saya melihat salah satu nominator dalam kategori pendatang baru, berdiri di sebelah meja komputer sambil meminta saya memilih blognya. Cilakanya saya tak bisa menolak bola matanya yang kelap kelip memohon, mengingatkan anak saya kalau meminta buku komik di Gramedia. Saat itu saya yakin bahwa blog mempunyai sesuatu yang dapat dipersandingkan, sekaligus menjadi ruang pameran diri kita. Ia tidak seperti media mainstream lainnya yang kita kenal.

Blog adalah adalah rumah kita. Sebuah halaman remah remah keseharian, jendela gagasan, dan pintu informasi. Ini menjadi sangat personal dimana kita wajib merawatnya dengan passion dan mempercantik agar orang betah mampir ke rumah kita. Mungkin ini yang dinamakan Suara Baru Indonesia. Konsistensi Wimar, Integritas Priyadi atau keunikan Ndoro Kakung menjadikan saya sadar bahwa blog mereka adalah suara suara yang semestinya mendapat reward, agar supaya memacu blogger blogger lain bisa membuat suara yang jauh lebih hebat. Namun tragisnya bahwa suara suara baru itu hanya berkutat di lubang yang sama. Kita seolah menjadi katak yang merasa besar dalam lubangnya sendiri. Lihat saja, minimnya pemberitaan di media konvensional tentang Pesta Blogger, karena dianggap tidak ada added valuenya. Konon suara blog bisa merubah dunia, tetapi bagaimana menyampaikan ke luar sana ? Masa kita hanya berteriak teriak dalam dunia sendiri, di dalam komunitas melek internet yang hanya 9 % dari jumlah populasi. Dari jumlah itu hanya sekitar 100.000 – 130.000 orang memiliki blog. Idealnya siapapun yang melihat blog kita, akan melihat rumah Indonesia kita, yang begitu rumit permasalahannya. Begitu kaya negeri ini dan sekaligus begitu berat bebannya.


Juga sama rumitnya bagaimana kita berargumentasi dengan orang Papua, sewaktu anjing atau babinya mati tertabrak mobil yang kita kendarai. Pasalnya, mereka akan menghitung kerugian dengan menghitung jumlah putting susunya. Jika harga seekor babi ditakar Rp 200,000,- dan babi mati itu mempunyai putting susu 6, tinggal dikalikan saja. Walhasil kita membayar Rp 1,200,000,-. Alasannya bahwa dari satu susu bisa menghidupi satu babi lagi. Sehingga seorang tetua di sana pernah – entah serius, entah becanda - mengatakan pada saya,
“ Lebih baik bapa menabrak perempuan saja, sebab susunya hanya dua…”
Inilah salah satu sisi Indonesia yang kita lupakan, atau kita tak pernah peduli.
Besok subuh saya harus sudah berada di airport untuk penerbangan ke tanah Papua. Ini adalah kesaksian kesekian kalinya atas tanah yang rakyatnya miskin dan terbelakang karena eksploatasi habis habisan korporasi multinasional maupun keserakahan bangsa sendiri. Saya tidak yakin ada sinyal internet dari Indosat IM2 di pedalaman papua sana. Jadilah selama seminggu ini pastinya menghilang dari peredaran. Namun siapa tahu keterasingan ini akan membuat saya lebih peka.. Siapa tahu juga dalam perjalanan ini saya bisa mendengar ‘ suara baru ‘ yang begitu sulit menyadarkan kita. Suara dari mereka yang tertinggal di halaman belakang rumah kita . Rumah Indonesia kita sendiri.

read more ...

Sunday, October 28, 2007

TERNYATA MEMANG HANYA PESTA




Apa yang saya kuatirkan, ternyata benar. Pesta Blogger kemarin memang hanya sebuah ‘ pesta ‘ , kumpul kumpul dan kopi darat secara massal. Plus dengan embel embel dibuka seorang Menteri yang dengan gempita mencanangkan 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional. Mau berharap lebih ? seperti deklarasi blogger Indonesia , nanti dulu. Dalam forum talk show, ketika ditanya strategi tujuan oleh seorang peserta, Chairman Pesta Blogger sendiri tidak mempunyai bayangan arah tujuan Blogger Indonesia. Bahkan moderator Wimar Witoelar sendiri tak bisa merumuskan dari seluruh peserta tentang definisi Suara Baru Indonesia, jawaban yang ada lebih ke tataran utopia. Jadi Memang tidak usah berpikir keras, bahwa Blogger Indonesia akan memberikan kontribusi pada bangsanya. Sabar, belakangan saja. Jika mengutip komentar Maya , “ ..setelah begitu seringnya melihat sesuatu yang cikal bakalnya bagus tergerus menjadi sekadar pop icon, saya takut Pesta Blog akan tertitik beratkan pada ‘ pesta ‘ dan ‘ pergaulan ‘. Jadilah memang kita bersilahturahmi, makan makan dan berkenalan dengan teman teman baru. Tidak ada yang salah , bahkan menyenangkan memang bertemu dengan mereka yang selama ini kita kenal lewat blognya, Tika , Mas Mbilung , Rina mpok Venus , Iqbal dan komunitas BHI , Totok , Rizka , juga tentu saja Enda sang empunya hajatan, yang mengguncang keras tangan saya, “ Oh yang ini namanya pak Iman “ serta lain lain yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Yang lebih mengharukan, saya tidak menyadari bahwa begitu banyak orang yang mengenal diri saya melalui blog abal abal saya. Ini bukan main main, selalu ada yang menegur atau mengajak photo bareng ketika melihat name tag tergantung di dada saya.


Banyak harapan teman teman bahwa ajang ini akan menjadi momentum kebangkitan blogger. Jika melihat sponsor yang ada tadinya saya berharap Nokia meluncurkan sebuah platform baru buat kemudahan bloging lewat handphone, atau Microsoft menyatakan bahwa seri tertentu Windowsnya akan dibagikan gratis ke seluruh rakyat Indonesia. Dan yang lebih menggelikan adalah justru Menteri Infokom menantang para blogger untuk menciptakan lagu kebangsaan blogger. Lagu ini harus tercipta tahun 2008 dan ada hadiahnya ! apakah ini ada hubungannya dengan kesukaan Presiden RI yang pandai menciptakan lagu lagu. Mestinya dia menantang blogger Indonesia untuk membuat web hosting asli Indonesia, atau mengajak bekerja sama para pakar IT , blogger untuk menciptakan teknologi tepat guna internet murah. Ketika bubaran acara, Pakde disebelah saya nyeletuk, “ Beginilah kalau Menterinya nggak tahu blog, paling baru tadi pagi dia nanya ke anaknya . “

Terus terang, saya jadi pesimis dengan masa depan komunitas blogger Indonesia dalam pengertian memberikan sumbangsih terhadap bangsanya, jika masih asyik saja terhadap dirinya sendiri. Justru penggalangan dana dari komunitas blogger untuk anak anak yang tak mampu bersekolah di dusun bangsari, Jawa Tengah lebih terasa bermakna. Jelas dan kongkrit. Namun secara keseluruhan saya angkat topi buat panitia yang telah bekerja keras mewujudkan acara ini. Hal hal kecil seperti kurang terkoordinasinya acara break out seassion, seperti Ndoro Kakung dan Ndobos yang harus teriak teriak agar tidak kalah dengan suara speaker di lantai bawah. Joko Anwar yang bengong karena tidak ada peminat yang datang ke acaranya, sehingga saya harus menemani ngobrol ngobrol mengenai dunia film. Semua itu tetap menunjukan Pesta Blogger sukses sebagai acara berskala nasional. Ketika duet MC berteriak..” Sampai jumpa di Pesta Blogger 2008 ! “ . Jangan jangan nanti kita disambut oleh Mars Blogger , karena bloger sudah menjadi bagian birokrat, seperti ABRI atau artis artis SAFARI jaman 80an.
“..Angkatan muda blogger Republik Indonesia,
siap sedia, mempertahankan, menyelamatkan,
Negara Republik Indonesia…”

read more ...

Wednesday, October 24, 2007

CERITA BLOGGER




Hujan rintik rintik masih membasahi jalanan di luar pagi ini, dan auditorium gedungMegaFlash masih terasa lengang. Jam masih menunjukan jam 9 pagi, namun suasana sebuah hajatan besar sudah tergambar di area itu. Bangku dan meja meja tersusun rapi, beberapa petugas sedang mengecek sound sistem dan screen projection, serta beberapa karangan bunga berjejer rapi di teras. “ Congratulations Blogger Gathering 2007 “. Seseorang gadis dari event organizer sibuk memberi perintah dan sesekali berbicara di telepon genggamnya. Memastikan semua berfungsi dan correct.
Nding, lelaki separuh baya, seorang petugas cleaning service gedung itu perlahan menggeser ember yang berisi cairan pembersih lantai gedung mewah itu. Ia sudah selesai mengepel lantai agar mengkilap untuk menyambut tamu tamu. Sesekali ia melirik ke spanduk dan poster di dinding. Pikirannya berpikir keras, apa gerangan mahluk Blogger itu. Belum selesai ia menebak nebak, bahunya di tepuk dengan keras. Seorang lelaki muda parlente sambil membawa tas laptop menyapanya.
“ Wah kepagian saya, benar acaranya disini pak ? “
“ hm..iya cuma saya nggak tahu mulai jam berapa ..”
“ memang mas juga tamu undangan ? “ selidik Nding.
“ Lha iya, saya jauh jauh datang untuk mensukseskan acara ini, pertama kali blogger Indonesia berkumpul untuk menyuarakan sebuah iklim ngeblog yang positif “


Nding bertambah pusing tidak mengerti arah pembicaraan.
“ blog saya jari-jariampuh dot com, adalah salahsatu barometer blog nasional “ Si mas ini melanjutkan dengan percaya diri.
“ Blogger itu apa sih mas “ tanya Nding hati hati.
“ Wah bapak ketinggalan jaman nih, internet..internet, alternative media masa kini“
“ kornet,..apa net ? “ Nding semakin tidak mengerti.
Tiba tiba si mas, berbisik sambil menunjuk ke seseorang.
“ Wah itu Dinda Napitupulu, blogger kondang yang tinggal di Vietnam..”
“ Maaf pak, permisi dulu....saya harus menyapanya “
Rupanya Dinda sedang asyik berbicara dengan Fatah Soleh seorang blogger yang cuti dari sekolahnya di University of Rawalpiddi, Pakistan untuk ikut menyelenggarakan acara ini. Setelah memperkenalkan dirinya si Mas ikut terlibat dalam pembicaraan mereka. Si Mas menjadi tambah bangga, hidungnya kembang kempis menyadari bahwa eksistensinya cukup diakui di kalangan blogger. Belum ada semenit, seorang lelaki berkaca mata datang bergabung.
“ Mas Wibisono khan, alias kanjeng simbah di dunia blog ..” si Mas menyapa keras.
Mas Wibisono mendadak rikuh karena tangannya disalami keras keras. Tapi ia buru buru permisi karena hendak ke balik panggung untuk menyiapkan talk show seassion bersama seorang bloger lainnya, mas balung pemilik ngegaspol dot com.

Audoturium bertambah ramai dan dipenuhi orang orang. Salam salaman memperkenalkan diri, dan secara resmi acara dibuka. Si Mas semakin semangat berkenalan dan terus berbicara tentang blog. Ketika melihat Om Cetiau, seorang blogger kawakan. Si Mas langsung menghampiri dengan seketika.
“ Wah Om Cetiau.. apa kabar..kok nggak pernah ngebales comment saya sih, padahal saya aktif lho ngisi coment postingannya Om “
Om Cetiau yang asli Singkawang menjadi gelagapan disergah pertanyaan ini, dan batal menyeruput kopi susu yang disediakan panitia.
“ Betul betul saya nggak menyangka begitu hebat pertumbuhan blog di Indonesia “.
Om Cetiau dengan alasan kesopanan pura pura ikut menemani si Mas, bersama sama memperhatikan acara di panggung.
Si Mas manggut manggut dengan serius ketika Priyono blogger terkemuka lainnya berbicara di atas panggung, bahwa menurut Majalah Bussines Week memasukan Jakarta, Beijing, Mumbay dan Singapore sebagai 4 kota besar di Asia dalam “ blog belt “ dengan lalu lintas postingan dan komentar terbesar di antara 30 kota di dunia.


Hari bertambah siang, Nding sesekali membantu membereskan piring piring kotor sambil sesekali melihat diskusi tanya jawab di panggung sana. Ia semakin tidak mengerti ketika Adi Patra, seorang mantan wartawan tabloid Masa berbicara tentang era informasi media cyber. Nding sama sekali berada diluar jangkauan pemikiran tentang hak hak bloger, tentang bagaimana bloger menyampaikan gagasan terhadap umat manusia, hak asasi, lingkungan hidup, tentang multi level marketing dan bisnis online. Nding juga semakin sulit memahami bahwa kenapa tamu tamu ini bisa terlibat begitu antusias dan bersemangat memilih blogger selebritis.
“ Saya pikir selebritis cuma di infotainment aja mas “ Nding berbisik kepada si Mas yang kebetulan didekatnya.
“ Lho tentu saja ada Pak “
“ makanya buat blog aja pak, gampang tinggal ke warnet kalau nggak punya komputer “
“ ini era informasi “
“ ini juga sebagai kontribusi blogger terhadap peradaban bangsa kita “
Si Mas nyerocos terus sambil mengunyah paha ayam kedua yang telah dicomotnya.
Nding hanya bisa melihatnya dengan iri, tiba tiba saja ia teringat kedua anak anaknya yang begitu gembira dibawakan ayam bakar pinggiran jalan. Bagi Nding, lebih penting bagaimana ia bisa menyekolahkan anaknya, membayar kontrakan rumahnya, dan bisa hidup tenang tanpa harus kuatir akan terkena PHK.

Dalam bis yang membawanya ke rumah petaknya di pinggiran kota, Nding menghela nafas betapa semakin sulitnya kehidupan ini. Perlahan, ia melirik sub headline koran yang sedang dibaca seorang penumpang mahasiswa ‘ Kemiskinan semakin bertambah, 35 juta orang pada tahun 2005 dan tahun 2007 meningkat menjadi 39 juta orang ‘.
Jalanan bertambah macet. Nding semakin erat erat menggenggam bungkusan ayam bakar untuk anak anaknya.

Catatan Penulis : Semoga Blogger Indonesia tidak menjadi menara gading yang terasing ditengah bangsanya sendiri. Semoga Pesta Blogger, Muktamar Blogger atau bentuk apapun di berbagai penjuru negeri menjadi momentum suara Blogger. Maju, Blogger Indonesia

read more ...

Saturday, October 06, 2007

MIMPI BLOGGER




Akhirnya pesta itu pindah tempat juga. Beberapa hari setelah postingan saya sebelumnya, saya ditelpon seorang, teman lama, yang juga kebetulan menjadi salah satu “ the founding fathers pesta Blogger 2007 “. Ia mengatakan saran dari saya menjadi bahan pertimbangan untuk akhirnya memindahkan acara ini. Tentu saja saya merasa tidak enak, apalah artinya saya seorang blogger bau kencur bisa bisanya merubah acara yang tentunya sudah dipersiapkan matang matang. Tapi ada hal yang lebih penting,bahwa panitia juga mendengarkan aspirasi ‘ grass root ‘ yang menyayangkan moment penting kebangkitan blogger Indonesia harus disuarakan dari sebuah tempat minum minum. Dalam korespondensi dengan Ketua Panitia, saya sempat menyinggung penting memunculkan issue issue yang penting dan hak hak apa yang menjadi kesetaraan media blogging ini. Entah kebetulan apa tidak, hati saya tersenyum gembira,melihat milis resmi pesta blogger mengangkat ancaman issue somasi, yang menimpa salah satu rekan kita.

Lebih jauh lagi, apapun bentuk acara ini, memang harus didukung sepanjang nantinya bisa memberikan nilai tambah pada sebuah alternative media gagasan baru. Ini tidak mudah, membangun kebiasaan baru di negeri yang minat bacanya sangat rendah. Saya katakan Media ini memang tidak melulu bicara tentang teknologi atau alternatif media cyber , tetapi apa yang bisa ditawarkan dan disumbangkan kepada bangsa yang notabene angka melek internetnya masih sangat rendah. Tradisi bangsa kita adalah budaya literal dan lisan. Budaya pantun, bertutur, nembang sampai gossip semuanya lahir karena pola hidup masyarakat kita yang terbiasa mendengar atau melihat bukan membaca. Ini juga tidak ada hubungan dengan tingkat kemakmuran hidup. Banyak orang orang mapan di Indonesia yang justru bodoh karena malas membaca.


Internet adalah masa depan. Kita memang ketinggalan dengan bangsa bangsa lain, tetapi as we race for the future, media blogging semestinya menjadi salah satu elemen mencerdaskan bangsa. Jika tidak kita akan tergilas dan tetap bodoh. Ini bukan hanya mimpi saya tetapi mimpi bangsa kita sendiri. Mudah mudahan saja saya bisa menjadi saksi mata kebangkitan suara blogger Indonesia, itu kalau saya mendapat undangan dari panitia. Jika tidak, setidaknya saya menyambangi Muktamar Blogger di meja sebelah, atau mudah mudahan saya bisa bertemu dengan bloger bloger dalam perjamuan rakyat yang membahana. Sebuah mimpi yang terus menggoda, terus memanggil. Ya, Jamboree Blogger !

read more ...

Saturday, September 29, 2007

MIMPI BLOGGER



Menurut rujukan ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, Pesta adalah sebuah acara sosial yang dimaksudkan terutama sebagai perayaan dan rekreasi. "Pesta" dapat bersifat keagamaan atau berkaitan dengan musim, atau, pada tingkat yang lebih terbatas, berkaitan dengan acara-acara pribadi dan keluarga untuk memperingati atau merayakan suatu peristiwa khusus dalam kehidupan yang bersangkutan. Pesta merupakan kesempatan untuk berbagai interaksi sosial, tergantung pada pesertanya dan pemahaman mereka tentang perilaku yang dianggap layak untuk acara tersebut. Akibatnya, pesta cenderung memperkuat standar budaya dan/atau kontra-budaya. Lebih jauh ‘ pesta ‘ sering diartikan sebagai kegiatan hura hura yang berlebihan, sehingga kadang ditambahi kata ‘ pora ‘, menjadi pesta pora. Ini sedikit banyak berhubungan dengan “ Pesta Blogger 2007 “ yang akan di adakan di Jakarta tanggal 27 Oktober 2007 mendatang. Konon ‘ the happy selected few blogger ‘ akan berkumpul dan mendeklarasikan suara blogger Indonesia. Tema Pesta Blogger 2007 tahun ini adalah “Suara Baru Indonesia”—di mana ‘pesta’ ini juga akan menjadi wadah pertemuan dan diskusi bagi para blogger untuk bersama-sama menciptakan iklim nge-blog yang positif di Indonesia; sehingga blog dapat menjadi media ekspresi baru yang mampu menyuarakan pikiran, pendapat, dan perasaan para blogger Indonesia.

Apakah kita harus membandingkan semangat kebangkitan blogger ini, katakanlah dengan semangat Sumpah pemuda tahun 1928 atau dalam skala lebih kecil, sebuah deklarasi yang dapat menyuarakan kesetaraan blog sebagai media gagasan baru atau jurnalistik independen ? Media ini memang tidak melulu bicara tentang teknologi atau alternatif media cyber , tetapi apa yang bisa ditawarkan dan disumbangkan kepada bangsa yang notabene angka melek internetnya masih sangat rendah. Tentu saja tanpa meremehkan mereka yang sudah sedemikian bekerja keras mewujudkan pertemuan akbar ini, saya memiliki impian perhelatan yang jauh melewati batas batas pemikiran itu sendiri.

Pertama, mengganti kalimat Pesta Blogger 2007 dengan Jamboree Nasional Blogger 2007. Ini memang masalah selera, tapi rasa rasanya istilah ‘ pesta ‘ tidak cocok dengan situasi negeri yang penuh dengan kemiskinan dan bencana alam dimana mana. Lalu tentu saja saya tidak memilih sebuah klub elite sebagai tempat perhelatan, tetapi memilih Istora Senayan atau bahkan Gelora Bung Karno. Ini juga selain karena romantisme simbol bangsa yang besar, juga karena bisa menampung ribuan blogger yang datang tanpa harus membayar.


Kedua, saya mengontak Menteri BUMN Sofyan Djalil yang saat beliau menjadi Menkominfo, pernah membantu saya membidani kelahiran peraturan menteri mengenai proteksi tenaga kerja film nasional. Saya berharap kali ini ia bisa meminta perusahaan perusahaan negara menyumbangkan sedikit keuntungan mereka bagi pembiayaan perhelatan nasional ini. Sehingga ribuan blogger dari seluruh Indonesia bisa ditampung di Asrama Haji, Hotel Atlit dan balai balai pendidikan milik BUMN. Disamping itu, saya meminta klien klien yang pernah bekerja dengan saya untuk juga berpartisipasi menyumbang acara ini, tentu saja klien klien yang saya tahu memiliki semangat kebangsaan yang tinggi. Saya mendatangi teman teman di Hotline Advertising yang pernah bersama sama dahulu membuat kampanye pemilu untuk SBY – Kalla,untuk mensosialisasikan gerakan nasional ini. Tentu saja saya akan menggandeng teman, Helmi Yahya yang dengan event organizernya sukses menyelenggarakan PON di Sumatera Selatan tahun lalu. Tentunya kita tidak boleh setengah setengah dalam menyelenggarakan hajatan nasional sepenting ini. Tak lupa saya membuatkan gratis film iklan layanan masyarakat untuk acara ini dan melakukan pendekatan dengan Asosiasi Televisi Indonesia untuk membantu pemasangan spot spot iklan secara gratis pula, tanpa harus pada acara acara ‘ prime time ‘.

Ketiga, saya juga mempertajam isi acara, tidak sekadar diskusi blogging secara ‘ an sich ‘ atau pemilihan blogger selebritis. Tetapi juga bagaimana acara ini bisa menghasilkan pemikiran atau sebuah gerakan aksi bagi negara dan masyarakat, misalnya apa yang bisa dilakukan oleh komunitas ini terhadap bencana gempa di Sumatera baru baru ini. Lihat saja apa dilakukan para volunter IT ketika membangun infrastruktur jaringan internet dan komunikasi yang rusak akibat bencana tsunami di Aceh. Bahkan kalau perlu saya akan mengadakan Jamboree Blogger ini bulan Desember 2007, dimana saat itu Indonesia menjadi tuan rumah dari puncak acara ‘ Global Warming ‘ yang akan dihadiri seluruh pimpinan dan kepala negara di dunia. Ini penting untuk mengaitkan kontribusi media blogging terhadap issue issue sosial di sekitar kita. Saya juga menganjurkan melakukan road show ke seluruh negeri, untuk mengadakan workshop serta pemahaman mengenai dunia blog dan teknologi internet terhadap pelajar dan mahasiswa.
Keempat, dan yang paling penting adalah bagaimana media blog bisa duduk sejajar sebagai penyampaian gagasan yang kebebasan berekspresinya harus dihormati dan dilindungi sebagaimana media jurnalistik lainnya. Sehingga dalam acara ini juga mengundang ahli hukum, kepolisian, pakar jurnalistik atau dewan pers. Ini memang tidak mudah karena masalah cyber crime sendiri masih menjadi merupakan wilayah abu abu dalam delik kejahatan di negara ini.


Tiba tiba saja mimpi ini menjadi buyar, karena mbok Jumiasih mengetuk pintu kamar saya untuk membangunkan saat sahur. Gelagapan, dan sambil terkantuk kantuk saya melihat di televisi yang masih menyala, banyolan Komeng, Adul dan Olga memberikan kuis ramadhan yang isinya sama sekali tidak ada hubungan dengan bulan suci ini. Ini memang bukan masalah kebangsaan semata, tapi Jika kita tidak bisa merumuskan hal ini, apa yang saya kuatirkan bahwa ‘ pesta ‘ di Hard Rock Café hanya seperti acara acara TV menjelang sahur, berbumbu Ramadhan namun terasa kering. Lalu apa bedanya dengan pesta pesta seremonial seperti Indonesia Idol, atau pesta penggemar musik Queen yang kadang kala juga diadakan di Hard Rock Café. Pada akhirnya blogging harus bisa memberikan kontribusi pada bangsa dan rakyatnya, sedikit apapun. Jika tidak ia akan menjadi menara gading di tengah masyarakatnya sendiri. Walhasil silahkan memilih, dunia besar interaktif blogging dengan aneka ragam gagasan, yang dihargai serta menjadi sumber pencerahan bagi peradaban sekitarnya, atau sebuah dunia kecil mirip gurun pasir, terasing, kering dan monoton. Ah, saya tak bisa berandai andai lagi, jangan jangan Komeng nanti yang akan menjadi MC di perhelatan ini. Semoga saja tidak.

read more ...