Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Showing posts with label BERBANGSA. Show all posts
Showing posts with label BERBANGSA. Show all posts

Friday, August 17, 2007

DIRGAHAYU INDONESIAKU

Terima kasih Indonesiaku
bumi yang subur bertabur wangi pagi
tempatku bangun harapan setiap hari
bersama keluarga dan saudara sebangsa
Terima kasih Indonesiaku
negeri damai yang tentram sejahtera
tempatku bernafas, bicara dan bekerja
bersama keluarga dan saudara sebangsa
Terima kasihku Tuhan masih kau beri
Garudaku tempat berteduh
menempuh waktu untuk terus bersatu
Terima kasihku Tuhan
Masih Kau beri Merah Putihku
Rahmat anugrah mengejar hari
untuk trus melangkah maju
Merdeka
Merdeka
Merdeka
Merdeka
Tetap Merdeka !
Semoga Tuhan Maha Esa memberkahi doa syukur kita bersama




( atribut to Cipta Citra & Katena Films )

read more ...

Sunday, June 24, 2007

JANGAN SEKALI MENINGGALKAN SEJARAH




Banyak cerita cerita tentang Bung Karno dan salah satunya, yang diceritakan oleh orang tua saya.. Kisahnya ketika ibu saya sedang hamil muda, ia ngidam untuk bisa berdansa dengan Bung Karno. Tentu saja ayah saya pusing tujuh keliling bagaimana bisa memenuhi permintaan istrinya yang nyeleneh itu. Tapi memang seperti sudah digariskan, tiba tiba saja ada undangan dari Istana Bogor tempat beliau diasingkan menjelang kejatuhannya. Seperti biasa, selalu ada dansa tari lenso yang merupakan kegemaran beliau bersama tamu tamunya setelah makan malam. Ibu saya yang duduk manis dengan kebaya kuningnya mendadak dipanggil Presiden pertama Republik ini untuk menemani berdansa. Sambil berdansa, Bung Karno langsung tahu bahwa ibu saya sedang mengandung, walau perutnya belum membesar. Ia mengatakan kelak anak dalam kandungan akan lahir dengan dibungkus plasenta…” Jadi berilah nama Bima atau Brotoseno “ , karena dalam hikayat pewayangan Bima atau Brotoseno lahir dengan masih dibungkus kulit telur. Jadilah nama belakang saya Brotoseno. Sampai sekarang ibu saya selalu bangga memandangi fotonya berdansa dengan Bung Karno. Sementara saya tak pernah bosan memandangi foto Bung Karno sedang berpidato dengan dikelilingi pejuang pejuang revolusioner ,yang terpasang dengan frame besar di rumah saya. Begitu heroik, charming, dan mempesona.

Lepas dari segala kesalahannya, beliau adalah orang besar. Tidak ada yang bisa memungkiri bahwa dia yang memproklamirkan dan mempersatukan bangsa ini. Ali Sadikin pernah menceritakan dalam biku biografinya, ketika ia menjadi Menko Maritim. Bung karno pernah meminta bantuannya untuk kepentingan bisnis mertuanya yang berhubungan dengan pelabuhan laut. Setelah mempelajari peraturannya, Bang Ali menjelaskan bahwa ia tidak bisa membantu karena bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. Yang mengherankan demikian kata Bang Ali,..” beliau hanya berkata, Oh ya, ya sudah kalau begitu.” Ia sama sekali tidak dendam, bahkan kemudian hari mengangkat Ali Sadikin menjadi Gubernur Jakarta. Bang Ali tidak perlu menyetor puluhan milyar kepada partai politik atau siapa saja yang bisa menggalang suara untuknya.


Hiruk pikuk pemilihan Gubernur atau Presiden di Indonesia merupakan potret buram sejarah negeri ini yang penuh dengan konspirasi dan KKN. Arus dana Departemen Kelautan dan Perikanan, menyembur kemana mana, tidak saja menciprati tetapi justru membasahi mulai dari ulama, negarawan sampai calon presiden. Calon calon Gubernur rebutan menyetor uang kepada Partai Politik, dan bisa dipastikan semua uang uang itu bukan murni uang sang calon sendiri. Para cukong, penyandang dana dan donatur pasti mempunyai vested interest jika sang calon terpilih. Pertanyaan apakah sang calon demikian mudah membebaskan pamrih yang diminta jika ia terpilih kelak ? Liem Sioe Liong dan Bob Hassan sudah biasa membantu Pak Harto ketika ia masih menjabat Panglima di Jawa Tengah. Jadi sudah sewajarnya mereka besar dan menggurita begitu Pak Harto memegang kekuasaan di negeri ini. Sekali lagi sejarah mengajarkan banyak pemimpin di negeri ini yang jatuh karena kekuasaan dan uang, dan mereka akan terus mengulangi catatan buram sejarah ini. Apapun resikonya.


Kekuasaan memang membutakan, sehingga banyak orang yang berambisi menggenggam ke arah sana. Sehingga Rieke Dyah Pitaloka a.k.a Oneng sudah mempersiapkan menuju kursi DPR dalam pemilu mendatang. Di sela sela istrirahat syuting, kadang saya menggugam dalam hati ketika ia berbincang bincang mengenai aspirasi politik..” this is not her, she always been Oneng to me “. Sementara juga Rano Karno melupakan proyek layar lebarnya yang pertama, karena harus sibuk sowan ke Gus Dur. Tapi mungkin juga manusia harus berubah, sehingga Adang Dorajatun rela meninggalkan karier bintang tiganya di Kepolisian demi ambisi yang lebih prestisius. Ada catatan menarik dari tulisan Soe Hok Gie, ketika ia menolak masuk ke dalam sistem kekuasaan. Lebih karena seidealis siapapun pasti akan tergilas bila masuk dalam roda kekuasaan yang korup. Sementara saya sibuk memikirkan tawaran Direktorat Film, Departemen Budaya dan Pariwisata seandainya tahun depan saya masuk ke dalam anggota Lembaga Sensor Film. Sebuah pekerjaan paruh waktu yang tidak juga mengganggu kesibukan saya. Namun stigma birokrasi dan orang pemerintah bisa membuat gerah, disamping menjadi tukang stempel dengan perputaran uang yang tidak sedikit. Padahal syuting dengan Oneng bisa lebih menarik daripada menjadi bagian dari birokrat. Apakah itu benar ? Jangan jangan saya hanya takut bahwa sejarah dan kesempatan tak akan terulang dua kali.

read more ...

Monday, October 30, 2006

BETAPA TIDAK MENARIKNYA BANGSA INI ( 2 )



Ada berita menarik, ketika Andy Xie, Kepala Ekonomi Morgan Stanley Asia dipaksa lengser dari jabatannya, ketika ia menulis kritikan dalam emailnya sehubungan dengan sidang tahunan IMF dan Bank Dunia yang diselenggarakan di Singapore baru baru ini. Ia mempertanyakan sikap para delegasi yang memuji muji Singapura sebagai contoh sukses globalisasi. Padahal kata Andy, “ keberhasilan Singapura sebagian besar karena menjadi tempat pencucian uang oleh pengusaha dan pejabat Indonesia yang korup…” Ini menguak tabir bahwa terdapat 55 ribu orang kaya di Singapura, yang ternyata sepertiganya adalah orang Indonesia !. Total kekayaan WNI disana sekitar 800 trilyun yang lebih besar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ( APBN ) yang cuma 650 trilyun. Berita lain, mengenai proses pengadilan di Amerika, yang telah sampai di Mahkamah Agung, bahwa Indonesia tetap harus membayar US $ 261 juta terhadap Karaha Bodas, dengan mengabaikan bukti bukti bahwa proses pembangunan tenaga listrik di Karaha Bodas yang sarat dengan KKN dan ketidakadilan. Untuk itu mereka telah menyandera dengan memblokir dana hasil penjualan minyak Indonesia yang ada di Bank bank Amerika. Terakhir berita, Presiden Eva Morales dari Bolivia berhasil menasionalisasi perusahaan perusahaan minyak asing di negaranya, tanpa adanya guncangan guncangan, sehingga bisa menambah pendapatan negaranya dari hasil minyak sebanyak 85 persen.

Dari berita pertama, jelas kenapa sampai hari ini Singapura tidak mau menandatangani perjanjian eksttradisi dengan Indonesia, karena bakalan kehilangan potensi capital yang luuar biasa besarnya. Sementara para warganya melakukan demo dengan membawa spanduk di depan KBRI, bertulisan “ SIGN NOW !!. Paksaan agar Indonesia menandatangani traktat perjanjian mengenai kebakaran hutan dan kabut asap, yang setiap tahun mengganggu kualitas hidup mereka. Kemudian dari berita kedua, tampak Indonesia tak mempunyai pilihan lain, kecuali tunduk pada tekanan Amerika. Padahal dimana mana asas hukum yang berlaku adalah di tempat dimana perkara itu terjadi, dan jelas pengadilan Indonesia telah memenangkan gugatan Pemerintah Indonesia. Tapi semua itu tak berarti ,toh mereka telah menyandera uang rakyat Indonesia yang disimpan di Bank Bank Amerika.



Dari Bolivia, presiden yang asli suku Indian itu terbukti bisa melakukan sesuatu yang berkepentingan dengan pilihan perut rakyatnya tanpa harus takut pada tekanan asing. Ia bersama Hugo Chaves dari Venezuela, Ahmadijenad dari Iran dan Mahathir ( pada masanya ) dari Malaysia menjadi icon icon perjuangan negara negara yang menolak dominasi barat atas hajat hidup bangsanya. Mungkinkah Indonesia mengatakan TIDAK , mungkinkah Indonesia menyandera atau menahan perusahaan Singapore yang ada di sini ( banyak yang menguasai bidang telekomunikasi atau perbankan ), atau menasionalisasi Freeport atau Exxon ?. Pemikiran pemikiran liar ini terus berputar putar di benak saya, membayangkan sebuah Indonesia dengan huruf I besar, bukan huruf I kecil yang menjadi bangsa paria. Dan bangsa ini pernah tercatat mempunyai nama besar terutama dikalangan apa yang disebut Bung Karno, The New Emerging Forces, bangsa bangsa Asia, Afrika dan Amerika Latin. Setidaknya, tahun 1990 di London, dengan uangnya pas pasan buat jatah belajar, saya sangat berterima kasih karena mendapat discount 50 % ketika membeli jaket kulit di sebuah toko kecil di sudut kota. Seorang penjualnya, lelaki tua dari Pakistan, dengan bangganya menepuk nepuk pundak saya,..” ahhh, from Indonesia,..brother Soekarno ! “

read more ...

Thursday, October 26, 2006

BETAPA TIDAK MENARIKNYA BANGSA INI



Een natie left niet van brood allen ( suatu bangsa tidak hanya hidup dari roti ) - Soekarno

Hari hari lebaran membuat Jakarta dipenuhi oleh pengemis yang tumpah ruah di pinggir jalan raya. Keluarga ‘gerobak ‘ demikian saya melihatnya, karena sekeluarga, dari bayi sampai ibunya tidur di gerobak pemulung yang ditarik oleh seorang laki laki ( entah suaminya ) ke penjuru kota mengharap belas kasihan dari manusia manusia metropolitan yang mendadak menjadi dermawan. Tergambar kepalsuan dari kelap kelip lampu kota metropolitan, wajah wajah muram dan kesepian dari mereka yang menengadahkan tangan pada mobil mobil yang beringsut lambat dalam kemacetan. Sementara koran ditangan saya memberitakan orang orang di Kuala Lumpur, Singapore berdemo di depan kedutaan besar kita, memaki maki negeri kita karena kabut asap kebakaran hutan telah mengganggu kualitas hidup mereka yang ‘ gemah ripah loh jinawi ‘. Tiba tiba saya melihat bangsa yang terpuruk dan menuju ke jurang kehancuran. Tak ada lagi yang harus dibanggakan, kemakmuran juga bukan national pride. Sejak kecil kita dicekoki dengan pemahaman bahwa bangsa ini kaya raya dengan sumber alam yang melimpah, bahkan tongkat bisa tumbuh di tanah air bumi pertiwi ini. Lagu Koes Plus Kolam Susu yang menggambarkan betapa bahagianya tinggal di surga Indonesia, mungkin sudah harus berganti dengan kolam lumpur di tanah bencana Porong Sidoarjo.

Bung Karno pernah menulis dalam di tahun 1920an,bahwa begitu miskinnya bangsa Indonesia dan hanya sanggup hidup dengan uang sebenggol sehari, dan kini hampir seratus tahun kemudian, kiasan itu masih relevan dengan situasi saat ini. Bagi mereka 20 persen yang hidup makmur di kota tak pernah membayangkan betapa miskinnya 80 persen sisa lainnya yang mengais ngais dan mencoba bertahan di pelosok pelosok negeri ini. Ketika Orde lama tumbang, ia meninggalkan hutang luar negeri yang hanya 3 milyar dollar ( 2 milyar dollar untuk membuat angkatan bersenjata Indonesia disegani di Asia dan sisanya untuk pembangunan infrastruktur kebanggaan nasional seperti stadion utama senayan, waduk jatiluhur, Tugu Monas, Hotel Indonesia dll ). Sementara sampai sekarang hutang luar negeri sudah mencapai 700 milyar dollar , tanpa ada yang tahu buat apa uang sebanyak itu kecuali memuaskan segelintir manusia manusia serakah, yang mustahil akan mampu terbayar sampai beberapa generasi anak cucu kita.



Jaman Bung Karno mungkin setidaknya lebih baik, walau miskin tetapi kita mempunyai kebanggaan nasional yang kuat. Justru kita yang berani memaki maki Amerika dengan slogan ‘ Go to Hell with your aid ‘, atau ‘ gayang Malaysia ‘ yang membuat Tengku Abdul Rahman dan Lee Kuan Yew ketakutan setengah mati. Sementara sekarang SBY buru buru menelpon Singapura menunduk meminta maaf, begitu kedutaan besarnya di demo. Ini bukan masalah siapa yang salah, ini masalah harga diri bangsa. Ahmadijenad dari Iran tak pernah bergeser dari kebijakan nuklirnya, walau Amerika dan negara negara Eropa menudingnya sebagai salah satu poros setan. Sudah miskin, tidak punya harga diri. Sungguh betapa tidak menariknya bangsa Indonesia ini.

read more ...