tag:blogger.com,1999:blog-350536522008-07-17T06:50:38.310+07:00Iman BrotosenoIman Brotosenohttp://www.blogger.com/profile/17940534752584252392noreply@blogger.comBlogger78125tag:blogger.com,1999:blog-35053652.post-44531800129284482402007-11-28T23:36:00.000+07:002007-11-28T23:46:49.546+07:00Pindah Ke Rumah Baru<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/R02bQN-t0FI/AAAAAAAAAak/q6jurRS-Zj0/s1600-h/Rumah+Lama.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/R02bQN-t0FI/AAAAAAAAAak/q6jurRS-Zj0/s320/Rumah+Lama.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137933452832526418" /></a><br />Setelah sekian lama saya tumbuh dan besar di rumah ini. Saya memutuskan pindah <a href=http://blog.imanbrotoseno.com> ke rumah baru saya </a>, diseberang jalan sana. Tidak ada yang patut disesali. Justru rasa syukur karena rumah ini telah memberi segalanya, menjadikan tempat persinggahan yang nyaman bagi siapa saja.<br />Selamat tinggal rumah lama.<br />Mari ! Menuju <a href=http://blog.imanbrotoseno.com> rumah baru </a>Iman Brotosenohttp://www.blogger.com/profile/17940534752584252392noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-35053652.post-85463588966287292812007-11-26T12:47:00.000+07:002007-11-26T13:05:47.630+07:00DRUPADI<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/R0pett-t0DI/AAAAAAAAAaU/Pg2OiAq8vAI/s1600-h/3+some.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/R0pett-t0DI/AAAAAAAAAaU/Pg2OiAq8vAI/s320/3+some.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137022464499241010" /></a><br /><br />Di lokasi syuting,<a href=http://imanbrotoseno.blogspot.com/2007/09/balada-tanah-priangan-dessy-ratnasari.html> Ahmad Sukenti alias Kenti </a> mengeluh betapa sulit hidupnya sekarang, setelah mempunyai istri dua. Selain dua dapur yang harus dibiayai, ada persoalan yangmembuatnya senewen, yakni keadilan. Bagaimana ia mengukur rasa keadilan yang sama di antara kedua istrinya. Tanpa ditanya, saya bisa membaca jalan pikirannya. Daripada melihat istri tuanya yang gemuk memakai daster, lusuh karena mengurus anak seharian. Lebih baik ia menghabiskan harinya di rumah istri mudanya yang muda dan mulus. Bagaimanapun barometer keadilannya selalu berat sebelah. Namun ada yang jauh menarik di surat kabar yang saya baca baru baru ini. Bahwa akhirnya Mahkamah Konstitusi ( MK ) menolak uji materil atas UU Perkawinan No1 tahun 1974. Dalam Undang Undang itu disebutkan , bahwa seorang lelaki ingin beristri lebih dari satu ia harus mengajukan permohonan dari pengadilan. Untuk mengajukan permohonan ke pengadilan ia harus mendapat persetujuan dari istri, memiliki jaminan memenuhi kebutuhan istri dan anaknya serta bersikap adil. Bagi sekelompok orang yang meminta uji materil perundang undangan tersebut , menilai peraturan itu mengurangi hak warga untuk berpoligami yang dianggap ibadah. Mengurangi hak prerogatif untuk berumah tangga serta hak asasi yang dijamin oleh UUD 1945. Namun pada akhirnya Mahkamah Konstitusi (MK) menolak uji materi tersebut. Suatu keputusan yang melegakan hati.<br /><span class="fullpost"><br />Syahdan Drupadi adalah istri dari seluruh lima orang Pandawa. Seorang wanita yang melakukan poliandri. Begitulah hikayat hindu asli Mahabarata. Namun karena pengaruh agama Islam, budaya kita tidak bisa mengadopsi cerita ini seutuhnya. Jadilah di tanah Jawa, Drupadi hanya menjadi istri Yudhistira sendiri. Tapi siapa yang tahu, kalau Drupadi turun dari swargaloka dan menghampiri Gedung Mahkamah Konstitusi yang megah dan baru itu. Berhari hari ia memperhatikan hakim hakim Konstitusi membolak balik lembaran perundang undangan, dan yang lebih penting diam diam ia menggugah hati nurani para hakim. Tentu saja Drupadi tidak ingin memamerkan betapa justru dirinya bisa menguasai lima orang suami sekaligus. Ia hanya tertawa melihat ada saja orang yang hendak melakukan uji materi terhadap UU Perkawinan No 1 tahun 1974, bahwa perundang undangan itu menghalangi hak berpoligami para suami.<br /> <br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/R0pe1d-t0EI/AAAAAAAAAac/mhYCx9qqOMU/s1600-h/Make+love.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/R0pe1d-t0EI/AAAAAAAAAac/mhYCx9qqOMU/s200/Make+love.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137022597643227202" /></a><br /><span style="font-style:italic;">Damayanti Buchori, Direktur Eksekutif Kehati</span>, mencatat tiga hal atas kasus diatas.<br />Pertama, bagaimana bisa ditengah banyaknya persoalan kehidupan bangsa,kemiskinan, ketidakadilan. Lelaki justru memikirkan poligami, apakah tidak ada issue lain yang lebih berguna.<br />Kedua, masyarakat terlalu mudah membela poligami dengan alasan menghindari perzinahan. Tidakkah poligami dilihat melegalkan pengkhianatan ? Meniadakan fakta bahwa sebelumnya ada perselingkuhan. Ketika perselingkuhan dikukuhkan kedalam lembaga perkawinan melalui mekanisme poligami, maka perselingkuhan dianggap hilang, tetapi sebenarnya pengkhianatan tetap ada. Dan perempuan telah dididik menerima itu.<br />Ketiga, dalam Islam poligami memang diperbolehkan dengan syarat berlaku adil. Pertanyaan sederhana,apakah lelaki bisa bersikap adil dari setiap waktu dari detik ke detik ?Adil lahir bathin. Bila lelaki mengatakan ‘ ya ‘, alangkah sombongnya dia.<br /><br />Tentu saja saya tidak hendak mempertentangkan antara hukum syariat dengan issue kesetaraan gender. Persoalan poligami justru semakin memperjelas egoisme laki laki dengan pembenaran dalil agama. Apapun alasannya, hak berpoligami memang dijamin dalam hukum positif negara ini. Disatu sisi laki laki juga mendorong terciptanya persamaan hak antara wanita dan laki laki, tapi di sisi lain ia juga terlalu sombong untuk membelenggu wanita dengan sebuah rantai kewajiban bernama poligami. Anda bisa melakukan semua itu asal mendapat ijin dari istri tua. Persoalannya apakah kriteria ijin itu berarti ikhlas ? Mengijinkan dan mengikhaskan adalah dua hal yang berbeda. Seharusnya justru kaum wanita meminta uji materil perubahan isi Undang Undang itu dengan tambahan persyaratan ‘ ikhlas ‘ dan ‘ tanpa paksaan ‘. Cinta memang tidak bisa memilih, karena bisa datang kapan saja, tetapi lelaki harus tetap memilih siapa yang akan memiliki cintanya. Jika lelaki terlalu takut untuk kehilangan semua wanita wanita yang dimiliki,ia juga harus berani melepaskan dan memilih satu saja. Tetapi lelaki memang pengecut untuk bisa memilih. Saya hanya berharap Drupadi mempunyai blog,dimana ia bisa menuliskan perspektifnya. Siapa tahu ?<br /></span>Iman Brotosenohttp://www.blogger.com/profile/17940534752584252392noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-35053652.post-12195783375392517282007-11-22T22:46:00.000+07:002007-11-27T11:20:00.823+07:00VIVINK<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/R0WpoN-t0BI/AAAAAAAAAaE/njXyL4kYdJ8/s1600-h/vivink.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/R0WpoN-t0BI/AAAAAAAAAaE/njXyL4kYdJ8/s200/vivink.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5135697458498490386" /></a><br /><br /><a href=http://vivink.blogspot.com> Vivink </a>. Begitu namanya. Saya juga tidak mengetahui namanya lengkapnya, kecuali <span style="font-style:italic;">Pinkina</span> nama yahoo messenger IDnya. Saya belum pernah bertemu, dan ia biasa mengunjungi blog saya sekaligus berbincang bincang di <span style="font-style:italic;">cetingan</span>.<span style="font-style:italic;"> boso jowo</span> terus. Kalau melihat profilenya - ibu muda berkerudung asli Bojonegero - yang baru menikah ini sepertinya manis dan ayu.<br />“ Mas, sampeyan kenal Hanung Bramantyo ? “<br />“ Mas, kalau kerja piye…? “<br />“ Lho orang film kok sepertinya foya foya terus "<br />" Orang film suka kawin cerai to mas "<br />Saya buru buru meralatnya.<br />" Iya tapi lebih banyak ulama yang poligami daripada orang film "<br />Banyak sekali pertanyaannya. Curious dan polos. Saya jelaskan kalau tidak semua orang film bejat, ada yang alim juga. Ada juga yang berasal dari keluarga soleh.<br />“ Ponakan Gus Dur, anaknya Gus Solahuddin Wahid juga sutradara film , sembahyang jengking terus, walau banyak Tank top dan G string berseliweran “. Demikian saya menambahkan.<br />“ Trus kalau sampeyan yang mana ? “<br />Ciloko. Ini YM atau interogasi polisi.<br />“ Wah, ben Gusti Allah yang menilai saja deh..” demikian saya ngelesnya.<br /><span class="fullpost"><br />Vivink memang selalu rajin menyapa saya di dunia maya. Baginya, komunitas film adalah sebuah jurang yang sangat jauh untuk dibayangkan. Sekaligus bertanya mengenai sebuah pemahaman tentang dunia yang sulit di mengerti. Sebuah dunia Film. Ini memang tidak mudah merubah stereotype komunitas yang biasa dilihat di Infotainment, majalah dan tabloid gossip. Tapi Vivink selalu meminta jawaban. Ia bisa ngambek kalau saya lama menjawabnya di YM.<br />“ Mas main ke BHI dong “<br />“ Mas no Hp mu piro ? “<br />Sampai sore kemarin saya menerima sms dari Vivink, meminta saya datang ke Bunderan Hotel Indonesia, tempat dia akan berkumpul dengan teman temannya. <a href=http://b-h-i.blogspot.com> Komunitas BHI </a> yang legendaris. Tentu saja saya janjikan setelah acara bersama <a href=http://suaraarimurti.wordpress.com> Ida Arimurti </a> di Delta FM selesai. Tetapi bukan Vivink kalau tidak posesive. Sehingga saya harus mematikan hp saya, takut frekwensi sms bisa mengganggu acara siaran.<br />“ Vink..Aku mau siaran dulu “. <br /><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/R0Wqit-t0CI/AAAAAAAAAaM/55GuXhz6uvo/s1600-h/petir+di+kota.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/R0Wqit-t0CI/AAAAAAAAAaM/55GuXhz6uvo/s200/petir+di+kota.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5135698463520837666" /></a><br />Akhirnya saya bertemu Vivink, di depan teras fountain air mancur Grand Hyatt Hotel, di pinggir jalan protokol. Sebuah tempat yang begitu familiar hampir sepuluh tahun yang lalu. Pada masa periode Mei – November 1998, ketika tempat ini bersama gerbang lobby hotel Mandarin, Indonesia dan Grand Hyatt menjadi titik titik pangkalan tukang ojek . Menjadi armada transportasi bagi jurnalis, kameramen dari seluruh penjuru dunia yang melaporkan kerusuhan dan pergolakan dasyat di negeri ini. Karena transportasi lumpuh, maka ojek digunakan untuk menembus gang gang pojokan kota menuju daerah konflik. Saya teringat begadang bersama rekan jurnalis dan kameramen TV dari Inggris, di tempat ini. Dan sekarang ditempat yang sama, saya duduk bersalaman dengan gadis mungil yang bola matanya melompat lompat meminta jawaban. Tentu saja, saya berterima kasih dengan Vivink, kalau bukan karena dia, tentu saya tidak sempat berkenalan dengan teman teman baru <a href=http://hadik.blogspot.com> Hadik </a>, <a href=http://e-ndiks.blogspot.com> Endik </a>, <a href=http://www.mrbambang.web.id> Bambang </a>,<a href=http://omith.blogspot.com> Mita </a>, <a href=http://pitopoenya.blogspot.com> Pitoh </a> disamping <a href=http://colonelseven.wordpress.com> Iqbal </a> dan <a href=http://bangsari.blogspot.com> Ipul </a> yang sudah saya kenal lebih dahulu. Pertemuan ini memang menyegarkan, dan saya menikmati teh manis, dan sate kikil pinggiran jalan. Melihat perjuangan sisi lain manusia manusia yang membangun kesempatan di kota besar ini. Dan saya percaya bahwa kita bisa eksis dan bernafas karena perjuangan hidup ini. Sesulit apapun. Juga jauh lebih penting, bahwa orang orang seperti Vivink bisa melihat bahwa manusia film seperti saya adalah biasa biasa saja, sama seperti manusia manusia yang dilihat di setiap tikungan kehidupannya. Tak perlu menduga duga mengenai akhlak ataupun sisi kehidupan yang berbeda.<br /><br />Sayang sekali Vivink harus pulang lebih cepat. Padahal saya tahu ia masih ingin menikmati di sini, sebagaimana saya ingin dia lebih lama di sini. Tapi sebagai istri yang sakinah, ia memang tak bisa membiarkan suaminya menunggu di rumah. Ia juga tak sempat bertemu dengan <a href=http://buanadara.wordpress.com> buanadara </a> – selebriti blogger baru – yang tiba tiba muncul menyusul kopdar ini. Namun Vivink, tetaplah Vivink. Sebelum pulang ia masih saja posessive.<br />“ Anakmu piro mas “<br />“ Mas, lahir tahun berapa “<br />“ Mas, lho itu HP mu yang lain ya,..piro nomere mas “<br />I love u Vivink.<br /></span>Iman Brotosenohttp://www.blogger.com/profile/17940534752584252392noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-35053652.post-39598888927017081952007-11-21T01:12:00.000+07:002007-11-27T11:21:24.711+07:00BLOG SAYA YANG SAYA CINTAI<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/R0Mlod-tz-I/AAAAAAAAAZs/2AEg9ldF81c/s1600-h/Gadis+Blog.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/R0Mlod-tz-I/AAAAAAAAAZs/2AEg9ldF81c/s200/Gadis+Blog.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5134989377305169890" /></a><br /><br />Beberapa hari terakhir saya mendapat kiriman pesan melalui <span style="font-style:italic;">Yahoo Messenger</span>, baik orang yang saya kenal dan ada juga yang memang tidak mau memperkenalkan dirinya,..<br /><span style="font-style:italic;">” saya bukan siapa siapa, hanya pembaca setia blog mas Iman “. </span><br />Intinya, bahwa – ini yang tidak saya duga – mereka mempertanyakan mengapa saya merubah gaya menulis saya akhir akhir ini, dengan hanya menulis ‘ remahan ‘ ringan ringan. Dengan kata lain mereka protes karena tulisan saya yang cenderung ‘cair’. Terus terang ini juga mengagetkan saya, pertama , karena saya tidak menyangka bahwa di luar sana ada mereka mereka yang begitu memperhatikan rumah sederhana milik saya dan menjadikan isi tulisan saya sebagai tautan yang patut dibaca. Kedua, saya juga tidak berpretensi bahwa gaya tulisan ini memiliki benang merah emosi dengan orang orang yang tidak saya kenal di luar sana. Ini jelas menyejukan, memberikan pesan bahwa saya selayaknya merawat rumah ini sebaik baiknya, sepenuh hati. Ketiga, bagi saya menulis bukan ritual yang harus memiliki pola dan struktur yang sama. Menulis, bisa menjadi cair, sederhana, apa adanya dan di sisi lain bisa juga menjadi bentuk penyampaian sebuah gagasan apapun. Sehingga, sampai sekarangpun saya tidak tahu apakah tulisan tulisan ini memang sedemikian bisa dinilai dengan mudahnya.<br /><span class="fullpost"><br />Terus terang menulis adalah <span style="font-style:italic;">passion</span>. Tinggal seberapa jauh kita memelihara passion ini, terlebih dengan adanya loyalitas pembaca, membuat saya berpikir untuk tidak menganggap remeh hal ini.<span style="font-style:italic;"> “ Our blog is a brand eventually “</span> . Blog kita adalah sebuah produk atau merek. Salah satu unsur untuk memelihara sebuah brand dari philosophy pemasaran adalah menjaga loyalitas pembeli atau pemakai. Jangan salah, ini juga bisa menjadi resiprokal, ketika saya juga menjadi loyalis pada blog blog lain yang begitu menarik dan sekaligus memberikan pencerahan. Setidaknya ada hampir 200 nama dalam feed reader bloglines saya yang secara rutin patut dikunjungi. <br /><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/R0MlTd-tz9I/AAAAAAAAAZk/PB_0SqF2gL8/s1600-h/face+of+man.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/R0MlTd-tz9I/AAAAAAAAAZk/PB_0SqF2gL8/s200/face+of+man.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5134989016527917010" /></a><br />Keanekaragaman tulisan semestinya membuat pilihan yang menarik bagi blog, dan saya percaya bahwa mood, suasana kehidupan mempengaruhi apa yang akan saya tulis. Tentu saja, saya tidak begitu percaya diri untuk menampilkan semuanya. Diam diam saya juga mempunyai sebuah blog khusus puisi puisi saya yang selama ini tersembunyi. Sepi , sendirian di pojok sana, Kadang saya berpikir ingin menulis olahraga seperti <a href=http://sekadarblog.com> mas pencinta bola ini </a>, atau bahkan resep masakan, karena salah satu hobby saya memasak. Tanyakan pada <a href=http://theunspunblog.com> Om Ong </a> yang pernah mencicipi kepiting saus tiram dan udang saos padang racikan saya. Begitu banyak catatan ruang waktu, ruang kehidupan yang ingin saya tawarkan dalam dunia blog ini. Tentu saja saya berharap bisa memberikan sebuah rumah persinggahan yang membuat orang betah. Karena pada mereka di luar sana, baik yang saya kenal atau tidak, adalah tujuan sesungguhnya rumah ini dibuat. Menjadikan tempat berteduh yang rindang, serta memuaskan rasa dahaga dengan oase kehidupan. Karena hidup menjadi jauh lebih menarik jika kita bisa memberikan sedikit saja bagian kita kepada orang lain.<br /><br />Ketika saya memberi alasan kepada teman tersebut, “ ah itu khan hanya ngecek ngecek ombak, lihat respons jika saya menulis dengan gaya lain..”. Sesungguhnya saya berbohong, karena memang saat itu saya tak bisa menahan passion menulis hal hal ringan saja. Tentu saja saya bukan sekadar ngecek ngecek ombak juga, dengan menerima tawaran <a href= http://id.wikipedia.org/wiki/Ida_Arimurti> Ida Arimurti </a> untuk bincang bincang mengenai dunia blog, Rabu malam ini jam tujuh di Delta FM. Mewartakan blog yang saya cintai, sebagaimana saya mencintai teman teman blogsphere di luar sana.<br /></span>Iman Brotosenohttp://www.blogger.com/profile/17940534752584252392noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-35053652.post-63440100681163397582007-11-18T00:38:00.000+07:002007-11-27T11:22:05.880+07:00BEAUTIFUL HOTEL FOR BEAUTIFUL PEOPLE<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rz8nYd-tz7I/AAAAAAAAAZU/gwmthpBkKFs/s1600-h/ungaran+cantik.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rz8nYd-tz7I/AAAAAAAAAZU/gwmthpBkKFs/s320/ungaran+cantik.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5133865401543675826" /></a><br /><br /><br />Jangan dikira ini adalah judul lagu. Ini adalah moto atau slogan hotel, di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. <span style="font-style:italic;"> Beautiful Hotel For Beautiful People – Ada yang bisa kami Bantu ?</span> begitulah secara lengkap kita baca. Agak bingung, maksudnya apa. Mestinya konsultasi dulu dengan pakar branding seperti <a href=http://id.wikipedia.org/wiki/Hermawan_Kartajaya> Hermawan Kartajaya </a> atau ke <a href=http://pakde.com> Totot </a>. Yang jelas hotel ini tidak bisa dikatakan cantik. Lorong yang gelap remang remang, kasur yang apek, semua bantal di kamar saya berbordir huruf HUC - nggak jelas maknanya - lalu pegawai, roomboy yang loyo loyo dan penuh selidik. Suatu penggambaran yang kita lihat dalam film film sewaktu di tokoh utama terdampar di kota kecil. Tapi saya juga tidak peduli, yang jelas hotel pilihan dari location manager saya - Kenti - layak ditempati. Tentu sebagian pembaca sudah mengenal Kenti lewat <a href=http://imanbrotoseno.blogspot.com/2007/09/balada-tanah-priangan-dessy-ratnasari.html> postingan saya sebelumnya </a>.<br /><span class="fullpost"><br />But, the story continues, yang menjengkelkan waktu tidur saya selalu terganggu. Ada saja, dari orang yang mengedor gedor kamar. Sambil sempoyongan karena kaget dari tidur, saya membuka pintu.<br />“ Oh maaf pak saya kira kamar 304 “ . berdiri seorang bapak tak dikenal tanpa ekspresi.<br />Belum sempat mimpi, telepon jaman baheula yang masih memakai putaran jari jari berdering dering.<br />“ Bapak tadi pesan kopi susu ? “ tanya wanita diseberang sana.<br />Lalu terbangun lagi dengan suara gedebak gedebuk di atas plafon kamar mandi.<br />Cilaka, bagaimana saya bisa istirahat, padahal besok call time jam 6 pagi di lokasi.<br /><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rz8ni9-tz8I/AAAAAAAAAZc/Gh_NkO3cuRw/s1600-h/cewe+ngerokok.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rz8ni9-tz8I/AAAAAAAAAZc/Gh_NkO3cuRw/s200/cewe+ngerokok.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5133865581932302274" /></a><br />Tapi saya mencoba tidak menyesal. Bukankah ini pilihan saya sendiri, untuk lebih dekat ke lokasi syuting. Bisa menghemat waktu satu jam perjalanan, jika saya tidak bermalam di Semarang. Padahal ada pilihan tinggal di Santika atau Novotel yang jauh lebih beradab. Selalu ada hikmah dari sebuah kejadian terburuk sekalipun yang menimpa kita. Saya pernah mengalami hal yang jauh lebih buruk dari kamar hotel ini. Saya pernah tidur di gorong gorong parit kebun tembakau di Wonosobo sambil menunggu matahari terbit, atau berhari hari tidak mandi di atas rumah laut suku Bajau. Perjalanan di pelosok negeri ini selalu memberikan warna warna mengenai potret keanekaragaman dan cermin peradaban. Sebuah canda senyuman, dan juga tangisan. Sebuah Indonesiana yang membuat rindu.<br /> <br />Malam semakin dingin, dan perut keroncongan membuat saya turun ke lobby untuk meminta petugas hotel membelikan bebek goreng pinggiran jalan. Di gang koridor saya curiga karena melewati gadis gadis yang cekikan melihat saya. Bingung karena tadi siang sepertinya hotel ini sepi sepi saja. Saya menoleh ke belakang, satu satu masuk ke kamar crew saya. Hm..I got the picture, tapi masih penasaran. Setibanya di lobby saya lihat Kenti - cengar cengir seperti anaconda minta kawin - sedang duduk duduk dengan gadis menor lainnya. Seketika rasa penasaran saya terjawab.<br /><span style="font-style:italic;">Makdirodok</span>, kata orang Betawi,<span style="font-style:italic;"> gue </span>terjebak di hotel cabul ! Jadi inilah yang dimaksud beautiful hotel for beautiful people.<br />Apakah ini penyesalan juga atau justru hikmah ?<br /></span>Iman Brotosenohttp://www.blogger.com/profile/17940534752584252392noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-35053652.post-29936462740631590972007-11-15T13:54:00.000+07:002007-11-27T11:23:18.403+07:00SAYA KAPOK<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rzvuvt-tz6I/AAAAAAAAAZM/kpntFcneuio/s1600-h/saya+kapok.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rzvuvt-tz6I/AAAAAAAAAZM/kpntFcneuio/s320/saya+kapok.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5132958703882719138" /></a><br /><br /><br />Ketika memasuki pesawat Adam Air menuju Semarang, semua orang tersenyum simpul melihat kaos yang saya pakai ini. Termasuk ketua DPR - <span style="font-style:italic;">your excellency mr. Agung Laksono, welcome aboard, demikian si pramugari menyuarakan di intercom </span>- yang duduk di barisan depan. Kaos <span style="font-weight:bold;">“ Saya kapok melancong ke Malaysia “</span> dibeli <a href=http://indonesiabertindak.multiply.com> di sini </a>, dan bisa menjadi counterpart kampanye Visit Malaysia Year 2007, daripada resiko di jaring dan digebukin pasukan Rela Malaysia. Kapok, demikian diartikan suatu penyesalan yang teramat dalam, takut untuk mengulangi dan ada unsur traumatisnya. Persis waktu kecil di jewer simbah putri, karena nyemplung di bak mandi ndaleman cemoro jajar. Tentu saja tangisan saya adu kencang dengan kegeraman simbah, <span style="font-style:italic;">“ ben kapok kowe “</span>. Sambil ngenyot air mineral yang adem, satu satunya hidangan khas Adam Air, saya berpikir lelucon memble – <span style="font-style:italic;">Saya Kapok</span> - bisa juga dibuat kaos untuk berbagai issue di seputaran hidup kita. Saya Kapok Jatuh Cinta Lagi, Saya Kapok Makan Rezeki Anak Yatim. Saya Kapok Ngisap Shabu Shabu. Apakah ada yang anda pikirkan sama dengan saya sekarang ?Iman Brotosenohttp://www.blogger.com/profile/17940534752584252392noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-35053652.post-43452543171891043382007-11-14T08:57:00.000+07:002007-11-27T11:23:59.605+07:00SESAKRAL APA TULISAN BLOG<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RzpWx20gx6I/AAAAAAAAAY8/jDsn4rFKuq0/s1600-h/pecah+ndase.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RzpWx20gx6I/AAAAAAAAAY8/jDsn4rFKuq0/s200/pecah+ndase.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5132510139871446946" /></a><br /><br />Judul ini memang secara inspiratif saya comot dari sebuah komentarnya Triadi di postingan saya terakhir. Tentu saja tanpa ijin. Wong <a href=http://warungkopiku.blogspot.com> Triadi </a> saya asumsikan teman yang baik, <span style="font-style:italic;">legowo dan tepo seliro</span>. Sesakral apa sebenarnya tulisan blog. Lho ini tulisan kok seperti pohon randu di pojokan ujung komplek saya. Kadang kadang ada yang menaruh <span style="font-style:italic;">umbo rampe, sajen</span> atau anak anak kecil suka ketakutan kalau melewati sesudah magrib. Tulisan memang klenik ?, punya wibawa segala, Padahal saya cuek aja, pohon randu itu saya paku buat menjadi bentangan spanduk pengumuman sholat ied. <br /><span style="font-style:italic;">Sik sik mas</span>, ini balik ke topik kopas lagi ? Bukannya sudah ada perdamaian ?<br />Oh iya. Tapi saya boleh cerita sedikit masa lalu khan. Begini, sewaktu saya lulus kuliah dulu, ternyata tulisan di kata pengantar skripsi saya dipandang teman teman sangat bagus. Walhasil mereka juga minta dibuatin tulisan kata pengantar buat di skripsinya. Dapat ditebak, ada sekitar 15 – 20 skripsi yang memiliki gaya tulisan hampir sama pada kata pengantarnya. Tapi siapa yang mau peduli ide hak cipta hampir 20 tahun yang lalu itu ? tentu saja mereka semua mengklaim pada pacar, keluarga sebagai hasil tulisannya sendiri. Tapi saya masa bodoh, wong pohon randu tempat semayamnya <span style="font-style:italic;">genderuwo</span> saya paku, apalagi tulisan. Nggak ada sakralnya.<br /><span class="fullpost"><br /><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RzpW8G0gx7I/AAAAAAAAAZE/mW52l8pKHDM/s1600-h/press+conference.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RzpW8G0gx7I/AAAAAAAAAZE/mW52l8pKHDM/s200/press+conference.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5132510315965106098" /></a><br />“ Nanti dulu, sampeyan bukannya pernah mengatakan kopas itu salah “<br />Benar, secara konsepsi memang sudah salah. Nggak kreatif amat sih. Mau kopas plek ketiplek semuanya, sepotong sepotong atau secara inspirasi. Ya nggak mutu.<br />“ Tunggu mas, ..jadi inget cetingan sama adinda <a href=http://hermansaksono.blogspot.com> Herman Saksono </a>, katanya nggak apa tulisannya dikopas sepanjang bukan buat old media atau established journalism “<br />“ atau kutipan <a href=http://fanabis.blogsome.com> fanabis </a>, silahkan ambil tulisannya karena ide tinggal metik di udara “<br />Ya itu poinnya,<span style="font-style:italic;"> Rhenal Kasali</span> bilang harus ada commercial value sesuatu barang bisa dinilai dan dipertahankan. Kalau buat pribadi pribadi aja sih feel free. <a href=http://harapandiri.blogspot.com> Ustad Landy </a> saja bilang, silahkan kopas tulisan saya, karena mereka tidak mungkin ngopas pikiran saya. Kalau cuma dikopas anak kecil yang baru ngeblog sebulan, nyantai jekk..Tapi kalau yang ngopas bloger tahunan,<span style="font-style:italic;"> tak kamplengi ! gua gebukin tau rasa</span>.<br />“ Lho mas kok gak konsisten nih “<br /><span style="font-style:italic;">Dasar pekok, ndesit kowe</span>. Terserah saya dong. Kalau ada yang setuju kopas, setuju pakai syarat, atau tidak setuju ( tapi setuju pakai software bajakan, beli dvd bajakan, download mp3 ilegal ) ya monggo monggo saja. Should we proud living in democrazy right. <br /><br />“ Mas mas, Kok tulisan di posting ini mirip mirip gaya tulisan <a href=http://ndorokakung.com> ndorokakung </a>, ini kopas secara inspirasi ya “<br />Sudah sana minggat ! urusan gaya tulisan kok diperhatikan. Saya mau mandi, keramas, dandan dulu. Nanti ada konperensi pers <span style="font-style:italic;">FPB front pembela buanadara</span> di Setiabudi building.<br />????<br /></span>Iman Brotosenohttp://www.blogger.com/profile/17940534752584252392noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-35053652.post-73064765242921236272007-11-11T17:49:00.000+07:002007-11-27T11:25:19.236+07:00AYO BUNUH SEMANGAT BLOGNYA !<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rzbe8m0gx3I/AAAAAAAAAYk/wGBFKkdFyXI/s1600-h/gadis+termenung.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rzbe8m0gx3I/AAAAAAAAAYk/wGBFKkdFyXI/s200/gadis+termenung.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131533958229575538" /></a><br /><br />Malam minggu kemarin. Waktu itu hujan deras seharian, alih alih nonton Liga Inggris, malah saya terlibat join conference sampai jam 3 pagi dengan <a href=http://ndorokakung.com> Ndorokakung </a>, <a href=http://antobilang.wordpress.com> Anto </a>, <a href=http://tikabanget.com> Tika </a>,<a href=http://ndobos.com> Mas Mbilung </a>, dan <a href=http://hermansaksono.blogspot.com> Herman Saksono </a>. Dimulai menjelang maghrib dapet buzz dari Anto mengenai suatu topik yang sedang hangat hangatnya di dunia blogsphere. <span style="font-style:italic;">Copy Paste bin kopas</span>. Ternyata selama saya menghilang seminggu di Papua, saya sempat kehilangan berita up to date ini. Saya sebutkan saja, <span style="font-style:italic;">Buanadara</span>, model saya yang pertama kali mengenal dan belajar blog dari saya, ternyata melakukan copy paste dari blog lain tanpa seijin pemiliknya.<br />Walahh..apa yang kamu cari buanadara ?<br />Saya mencoba masuk ke blognya, ternyata sudah dihapus.<br />Walhasil saya hanya bisa pelan pelan menyusuri berbagai blog persinggahan yang mentautkan permasalahan ini, mencoba mengerti duduk persoalannya.<br />Masih terbayang ketika saya browsing kesana kemari, blogwalking di sela sela kesibukan syuting di studio. Sebuah mata, bulat besar meloncat loncat mencari tahu jawaban, apa yang saya kerjakan. Sebuah blog baru, dunia baru baginya, seorang gadis berusia 18 tahun yang sebelumnya begitu memuja muja friendster. Dalam 2 hari syuting itu, pelan pelan saya membawanya kesebuah lompatan besar dalam hidupnya. Sejak itu saya tak pernah bertemunya lagi. Sesekali saya melongok ke blognya. “ Sudah berani posting rupanya “.<br /><span class="fullpost"><br />“ Wah sadis, kejam komen komennya “<br />“ langsung dibantai dia “<br />“ hajar tanpa ampun “<br />Menyesal saya tidak sempat membaca komen dan tanggapan yang masuk ke blognya.<br />Saya bisa membayangkan betapa <span style="font-style:italic;">stressed out</span>nya dia. Seperti anak kecil yang pertama kali ketahuan nyontek. Gemetar ketakutan dan menjauh. Menunduk pasrah. <br />Apakah ini perlu sejauh ini ? menakut nakuti anak kecil yang masih belum tahu apa apa mengenai dunia blog, apalagi masalah etika dan pencurian hak cipta. Perlukah kita memukuli, menampar anak kita sendiri yang ketahuan sedang ‘nyolong’ makanan di bulan puasa ? Jika kita kita sok munafik bicara hak cipta, saya berani bertaruh sebagian besar dari anda ( dan saya sendiri ) biasa membeli cd dan dvd bajakan, download lagu lagu, dan mencomot foto disana sini tanpa ijin. Kopi paste memang salah, apapun alasannya. Namun haruskah kita membunuh seseorang yang baru saja memasuki dunia blogsphere. Mungkin dia tak akan pernah memasuki dunia ini lagi. <br />She just eighteen, belum sebulan mengenal blog dan jumlah postingan mungkin dibawah 5 buah.Sebagaimana anak kecil, jika dia suka pada sebuah barang ( atau tulisan ) dia akan berusaha mendapatkannya. Dia berusaha menjadi apa yang dikaguminya, seperti gadis gadis ingin menjadi Britney Spears, meniru model rambut Demi Moore jaman dulu, ketika film ‘ Ghost ‘ meledak. Tanpa berpikir konsekuensi , cocok apa tidak, halal atau haram. Siapa sih diantara kita yang tidak pernah nyontek sewaktu sekolah ? Terus terang , saya yang membuatkan settingan disain, serta menyarankan memakai nama Buanadara. Sebuah kata kata yang mengingatkan pada sebuah film <span style="font-style:italic;">tiga dara </span>tahun rekiplik. Sebuah dunia gadis gadis sebayanya.<br /><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rzbijm0gx5I/AAAAAAAAAY0/HlHAzhgxdoU/s1600-h/mouse.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rzbijm0gx5I/AAAAAAAAAY0/HlHAzhgxdoU/s200/mouse.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131537926779357074" /></a><br />“ Blog kamu kenapa sudah nggak ada ? “<br />“ h4bis bet3 maz…koMennya akuw gAk tah4n “<br />“ Lho memang orang komen apa, paling paling pada flirting sama kamu “<br />“ NggAk pp..udah dunk , jgN ngUngkit blOg lage,..”<br />“ Ah jangan jangan disuruh pacar kamu nutup blog, soalnya dia cemburuan “<br />“ Khan akuw gAk punyA pacar maz…ugh “<br />( oh ya alhamdulilah )<br />Rupanya dia malas menceritakan hal sesungguhnya, tapi saya telpon lagi, jam jamnya Dieder Drogba sedang kena kartu kuning, di sela sela chatting conference yang makin lama bertambah ‘ngeres’.<br /><br />“ Saya tahu semuanya…” dia diam sambil bingung mau jawab apa.<br />“ kamu mau ngaku salah di depan teman teman ini..”<br />Lama menunggu.<br />“ iy4hhh,..akuw mau mazz, akuw nyesel niy “<br />“ kh4n akuw udah ngakU salah, tapi kOk merekA pada Siniz dan Sadiz sama akuw “<br />“ kamu berani saya ketemukan dengan yang punya blognya atau mereka mereka di luar sana “<br />( langsung saya email dewi dan nge-sms ndorokakung )<br />“ bErani maz, akuw mo minta ma4f “<br />“ oks hariXXX after office hour disini XXX jam XXX “<br />“ mazz akuw bol3h aj4k temenku, si …. yang presenter MTV ,.akuw takut ndriAn“<br />( oh boleh boleh sambil tersenyum mengembang )<br /><br />Kembali ke chatting. Makin malam ndoro kakung makin ‘ seru ‘ sementara tika mulai kebingungan diusir dari mbak mbak café yang mau tutup. Saya berpikir, siapakah yang lebih mulia dari mereka mereka yang berani mengakui kesalahannya ? Apakah buanadara akan bangkit kembali. Saya ragu. Kita telah membunuhnya.<br /></span>Iman Brotosenohttp://www.blogger.com/profile/17940534752584252392noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-35053652.post-38263213672044570932007-11-10T11:32:00.000+07:002007-11-27T11:25:51.195+07:00SIAPAKAH PAHLAWAN ITU<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RzU1rm0gx0I/AAAAAAAAAYM/b0VlJzzMD4I/s1600-h/diponegoro.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RzU1rm0gx0I/AAAAAAAAAYM/b0VlJzzMD4I/s320/diponegoro.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131066373729994562" /></a><br /><br />Ketika saya masih kecil, bayangan pahlawan bangsa itu adalah mereka yang bertempur melawan penjajahan Belanda. Dengan selempang peluru di badannya, bambu runcing atau menghunus pedang. Gagah berani, walau pada akhirnya kalah dan gugur. Tentu saja karena saya besar dalam masa pendidikan orde baru yang militeristik, membuat kesan sisi heroik pertempuran saja yang dikupas sebagai mitos kepahlawanan. Mungkin Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang memiliki banyak pahlawan. Selain pahlawan kemerdekaan, ada pahlawan nasional yang tidak melulu bertempur tapi dilihat dari perjuangan diplomasi, kontribusi pendidikan sampai kesetaraan gender. Ironis bahwa pahlawan menjadi bagian konstruksi sejarah menurut selera rezim penguasa negeri. Para jenderal jenderal yang apes karena dijemput tengah malam, untuk kemudian dibunuh PKI, mendadak sontak menjadi pahlawan revolusi. Padahal issue sosial saat itu, adalah jendral <span style="font-style:italic;">kabir</span> – kapitalis birokrat – yang hidup mewah sementara prajurit di pelosok harus antri beras. Bahkan ada salah seorang dari mereka baru pulang dari pesta, sebelum dijemput pasukan cakrabirawa. Bisakah sejarah menjadi jujur tanpa terjebak dalam pemikiran sempit mitos kepahlawan ?<br /><span class="fullpost"><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RzU1ZW0gxzI/AAAAAAAAAYE/bYiedGoy1C0/s1600-h/benteng.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RzU1ZW0gxzI/AAAAAAAAAYE/bYiedGoy1C0/s200/benteng.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131066060197381938" /></a><br />Umumnya orang mengetahui, pahlawan pers Indonesia adalah<span style="font-style:italic;"> Adinegoro</span>, padahal <span style="font-style:italic;"> Tirto Adhi Surjo</span>, jauh jauh sebelumnya sudah menerbitkan Koran Indonesia pertama. Hanya saja karena dia aktif di Sarekat Dagang Islam ‘ merah ‘ yang merupakan cikal bakal komunisme, sehingga namanya sengaja dihapus dari sejarah pers nasional. Beranikah kita menyebut pahlawan tanpa harus melihat ideologi dan sikap politik seseorang. Ribuan orang komunis mati dalam pembuangan oleh penjajah Belanda di digul, papua karena aktivitas politik yang menuntut kemerdekaan bangsanya. Kompas hari ini menyebutkan Presiden SBY menganugrahkan gelar pahlawan nasional kepada <span style="font-style:italic;">Adnan Kapau Gani</span>, padahal jaman orde baru, sosok yang dahulu dekat dengan Bung Karno ini, diasosiasikan sebagai orang yang korup dan dicurigai bersimpati pada komunis. Tokoh <span style="font-style:italic;">Tuanku Imam Bonjol</span> kini menjadi <a href=http://www.petitiononline.com/bonjol/petition.html> kontroversi </a> yang digugat kepahlawanannya, dicurigai justru dia dan pasukan paderinya yang melakukan pembantaian terhadap keluarga Kerajaan Paguruyung di Minangkabau dan jutaan etnis Batak , sewaktu melakukan invasi ke mandailing.<br /><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RzU2120gx2I/AAAAAAAAAYc/n-l3eE38Pak/s1600-h/bendera.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RzU2120gx2I/AAAAAAAAAYc/n-l3eE38Pak/s200/bendera.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131067649335281506" /></a><br />Pertanyaannya apakah masih relevan mitos pahlawan dengan kondisi bangsa ini yang semakin membutuhkan terapi untuk kesejahteraan rakyatnya. Bahwa mitos perjuangan masa kini berbeda dengan perjuangan masa lalu, ketika masih ada puluhan juta penduduk bangsa ini yang terpinggirkan dan berjuang untuk bertahan hidup. Lepas dari kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Dahulu semasa kecil saya bertetangga dengan keluarga Ayu Ashari. Waktu itu namanya masih Khadijah, sebelum diganti karena dianggap kurang menjual di dunia film. Hidup keluarganya benar benar susah, dan sebagian besar pencurian atau keonaran di lingkungan kami pasti ulah dari kakak atau adiknya, entah itu Salim, Abbas atau Irba. Namun perjalanan hidupnya memang seperti tergambar dalam cerita cerita film, bahwa kemudian hari dengan perjuangannya, Khadijah bisa menjadi bintang film. Ia membebaskan keluarganya dari kesusahan, menyekolahkan adik adiknya, dan yang paling penting membuka jalan bagi adik adiknya untuk memasuki dunia film.<br /><br />Terlepas dari kontroversi apapun sosoknya, bagi saya Khadijah atau Ayu Ashari adalah pahlawan bagi keluarganya, yang berjuang keras untuk penghidupan yang lebih baik. Kita bisa menjadi pahlawan sendiri bagi orang terdekat kita, keluarga, atau bahkan orang lain dan lingkungan kita. Ketika saya berada di lokasi syuting, secara tidak sadar saya dianggap pahlawan bagi 50 sampai 100 orang pekerja lepas, yang menggantungkan hidupnya di film. Bagi anak anak dusun Bangsari, sesungguhnya pahlawan mereka adalah bloger bloger yang membantu biaya pendidikan sekolahnya , bukan Patimura atau Diponegoro. Bagi saya juga,<a href=http://indonesiabertindak.multiply.com/> Iwan Esjepe </a> adalah pahlawan yang memberikan kesadaran melalui situsnya bagaimana untuk lebih mencintai negerinya sendiri, Indonesia. Juga tak dilupakan guru guru kita. Ah, tiba tiba saja saya ingin besimpuh di pusara ayah saya, dia adalah pahlawan besar yang memberikan kesempatan luas untuk menjadi diri saya sekarang.<br />Selamat Hari Pahlawan !<br /></span>Iman Brotosenohttp://www.blogger.com/profile/17940534752584252392noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-35053652.post-19086177468004910772007-11-08T11:26:00.000+07:002007-11-27T11:26:55.934+07:00KITORANG INGIN MERDEKA ?<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RzKQzG0gxxI/AAAAAAAAAX0/7tf6EBnru0o/s1600-h/demo2.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RzKQzG0gxxI/AAAAAAAAAX0/7tf6EBnru0o/s200/demo2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5130322133207009042" /></a><br /><br />Ketika Bung Karno pertama kali berpidato di papua, setelah penyerahan dari Belanda ke UNTEA tahun 1962. Ia mencoba mengambil hati penduduk asli papua dengan membawa ajudannya, Kolonel Bambang Wijanarko yang beragama Katolik. Sambil menunjuk kepada sang ajudan yang berdiri tegak disisinya, Bung Karno mengatakan bahwa Indonesia tidak melulu beragama Islam, bahkan ada yang beragama Kristen dan menjadi perwira TNI. Selanjutnya, sejarah Papua adalah potret buram kekerasan Pemerintah pusat terhadap penduduknya. Pemerintahan orde baru selanjutnya tidak berusaha mengambil hati penduduk asli papua. Sebagian besar penduduk mengganggap Pepera ( Penentuan Pendapat Rakyat ) tahun 1969 hanya merupakan manipulasi pihak Indonesia. Amerika Serikat tentu saja menutup mata - karena sudah mencium aroma milyaran dollar dari perut pegunungan Jayawijaya - begitu UU Penanaman Modal Asing dikeluarkan tahun 1967. <br /><span class="fullpost"><br />Pemerintah pusat mulai mendatangkan transmigrasi dari Jawa, pedagang pedagang dari buton, tukang becak dari Indramayu sampai gadis prostitusi, sesuai dengan tuntutan kemajuan jaman. Waktu itu orang orang papua dipaksa untuk menanam padi bersaing dengan para transmigran, padahal sudah sejak jaman nenek moyang mereka memakan sagu. Akibatnya, karena tidak memiliki pemahaman bercocok tanam ala orang jawa, mereka selalu gagal panen. Masyarakat semakin bodoh, karena pendatang menguasai perekonomian, dan birokrasi, sehingga penduduk asli bertambah terpinggirkan. Kini Papua adalah salah satu daerah yang terinfeksi HIV tertinggi di Indonesia. Namun ketika semuanya terlambat, pemerintah pusat mulai berbaik hati dengan memberikan porsi putra daerah. Bahkan paket otonomi serta pembagian keuntungan dari penambangan dan hasil bumi yang semakin membesar ternyata tidak memuaskan mereka. Bagi mereka kekerasan aparat yang telah membunuh orang papua sebesar seratus ribu orang – data Amnesty Internasional – sejak tahun 1969, kemudian kecemburuan sosial terhadap pendatang, membawa impian impian sebuah negara merdeka yang berkuasa atas pengelolaan kekayaan alamnya. Jika sekarang diadakan referendum di Papua, hampir dipastikan mayoritas akan memilih berdiri sendiri. Mereka selalu menggugat terhadap sejarah resmi bahwa rakyat papua memilih masuk Indonesia. <br /><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RzKRP20gxyI/AAAAAAAAAX8/7oiY0Abjb9o/s1600-h/rain+forest2.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RzKRP20gxyI/AAAAAAAAAX8/7oiY0Abjb9o/s200/rain+forest2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5130322627128248098" /></a><br />Konon, mantan Presiden Soeharto pernah marah ketika Obahorok, salah satu kepala suku terkemuka dari lembah Baliem mengawini seorang peneliti bule asal Amerika. Semua orang tahu bahwa wanita itu hanya ingin mendapatkan bahan disertasinya mengenai budaya suku suku pedalaman di Papua. Kemudian Obahorok dihadapkan kepada Presiden Soeharto di Bina Graha. Berdua sambil menikmati cerutu kuba, Presiden Soeharto mengajari pentingnya perlindungan asset budaya, padahal sesungguhnya, penguasa orde baru sangat kuatir jika ‘ borok = borok ‘ pendudukan Indonesia di Papua akan terbongkar. Memang benar, setelah setahun mendapatkan data data yang dibutuhkan, wanita itu pergi meninggalkan kepala suku. Menarik bahwa, ditulis salah satu kebiasaan lokal yang disebut ‘ bungkus ‘. Sejenis ramuan lokal dari daun daunan yang membungkus alat kelamin pria selama beberapa hari sebelum akhirnya menjelma menjadi ‘monster ‘ yang besar. Permanen, tanpa pantangan makan pisang mas seperti brosur brosur Mak Erot di Jawa Barat. Penasaran, saya ingin melihat ‘ hasil karya ‘ seseorang crew kami asli papua. Astagafirullah, saya seperti melihat seorang kucing yang sedang tidur di bawah perutnya. Jangan jangan Obahorok sendiri bilang kepada Presiden Soeharto, bahwa justru wanita Amerika itu yang menjadi bahan penelitian atas ramuan tradisional papua !<br /><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RzKQdG0gxwI/AAAAAAAAAXs/vQAW2-FLWlc/s1600-h/anaK+PAPUA.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RzKQdG0gxwI/AAAAAAAAAXs/vQAW2-FLWlc/s200/anaK+PAPUA.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5130321755249886978" /></a><br />Memahami mereka, dan memberikan hak hak secara egaliter adalah kunci yang sebenar nya kita lupa. Bahkan kita selalu mengganggap mereka sebagai budaya jaman batu yang terbelakang, dengan jumlah suku sebesar 230 buah, sekaligus etnis dan bahasa yang berbeda. Kebetulan saja kita memperoleh kesempatan maju lebih dulu. Perbedaan pola pikir ini membuat mereka sendiri tidak mengganggap bagian dari bangsa Indonesia, tetapi sebagai sub bangsa Melanesia yang berbeda. Apa yang mereka lihat di TV sehari hari adalah wajah wajah melayu, oriental, indo yang jauh dari wajah keseharian mereka. Padahal mungkin tidak ada salahnya mencoba model rambut keriting seperti mereka untuk iklan shampoo. Ketika kami berpisah di bandara Domine Eduard Osok, Sorong sambil menunggu pesawat Merpati yang akan membawa ke tanah jawa. Tadeus, guide putra daerah asal kepulauan Raja Ampat berbisik,.” Bapa tidak menyesal, tidak mencoba ‘ bungkus ‘ ? . <br />Jadi merdeka memang tidak semudah itu, lebih mudah berjualan resep ‘ bungkus ‘ !<br />Apakah ada blogger asal Papua yang bisa memberikan pencerahan ini kepada saya ?<br /></span>Iman Brotosenohttp://www.blogger.com/profile/17940534752584252392noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-35053652.post-82165896011982035432007-10-31T17:08:00.000+07:002007-11-27T11:27:43.509+07:00SUARA BARU INDONESIA<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RyhXZgXcELI/AAAAAAAAAXk/IoIWVhvg2co/s1600-h/Papua1.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RyhXZgXcELI/AAAAAAAAAXk/IoIWVhvg2co/s200/Papua1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5127444271457898674" /></a><br /><br /><br />Sewaktu blog ini tiba tiba mendapat kehormatan masuk ke dalam nominasi 5 besar blog dalam <a href=http://www.bubu.com/pestablogger/blogContest.php> ‘ current issues ‘</a> di Pesta Blogger , sebelum akhirnya tereliminasi karena kalah bersaing dengan blog blog mumpuni seperti <a href=http://priyadi.net> Priyadi </a>, <a href=http://www.perspektif.net> Perspektif </a> dan <a href=http://ndorokakung.com> Ndoro Kakung </a>. Saya sempat mempunyai prasangka, “ Wah ini berkompetisi dengan orang dalam sendiri “. Karena nama nama diatas adalah panitia atau orang orang yang menyelenggarakan hajatan ini. Tentu saja saya berasumsi sebuah adagium yang berlaku di sebuah perlombaan. yakni karyawan, juri dan anggota keluarga di larang ikut serta. Namun akhirnya saya harus membuang syak wasangka ini. Karena pertama – walau masih bertanya tanya apakah di belahan dunia lain ada perlombaan blog seperti disini - namun dalam alam demokrasi semua mendapat hak yang sama. Kedua, ketika hendak mengisi votting, saya melihat salah satu nominator dalam kategori pendatang baru, berdiri di sebelah meja komputer sambil meminta saya memilih blognya. Cilakanya saya tak bisa menolak bola matanya yang kelap kelip memohon, mengingatkan anak saya kalau meminta buku komik di Gramedia. Saat itu saya yakin bahwa blog mempunyai sesuatu yang dapat dipersandingkan, sekaligus menjadi ruang pameran diri kita. Ia tidak seperti media mainstream lainnya yang kita kenal. <br /><span class="fullpost"><br />Blog adalah adalah rumah kita. Sebuah halaman remah remah keseharian, jendela gagasan, dan pintu informasi. Ini menjadi sangat personal dimana kita wajib merawatnya dengan passion dan mempercantik agar orang betah mampir ke rumah kita. Mungkin ini yang dinamakan Suara Baru Indonesia. Konsistensi Wimar, Integritas Priyadi atau keunikan Ndoro Kakung menjadikan saya sadar bahwa blog mereka adalah suara suara yang semestinya mendapat reward, agar supaya memacu blogger blogger lain bisa membuat suara yang jauh lebih hebat. Namun tragisnya bahwa suara suara baru itu hanya berkutat di lubang yang sama. Kita seolah menjadi katak yang merasa besar dalam lubangnya sendiri. Lihat saja, minimnya pemberitaan di media konvensional tentang Pesta Blogger, karena dianggap tidak ada added valuenya. Konon suara blog bisa merubah dunia, tetapi bagaimana menyampaikan ke luar sana ? Masa kita hanya berteriak teriak dalam dunia sendiri, di dalam komunitas melek internet yang hanya 9 % dari jumlah populasi. Dari jumlah itu hanya sekitar 100.000 – 130.000 orang memiliki blog. Idealnya siapapun yang melihat blog kita, akan melihat rumah Indonesia kita, yang begitu rumit permasalahannya. Begitu kaya negeri ini dan sekaligus begitu berat bebannya.<br /><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RyhVjAXcEKI/AAAAAAAAAXc/Rr89YpDQs_w/s1600-h/Papua2.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RyhVjAXcEKI/AAAAAAAAAXc/Rr89YpDQs_w/s320/Papua2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5127442235643400354" /></a><br />Juga sama rumitnya bagaimana kita berargumentasi dengan orang Papua, sewaktu anjing atau babinya mati tertabrak mobil yang kita kendarai. Pasalnya, mereka akan menghitung kerugian dengan menghitung jumlah putting susunya. Jika harga seekor babi ditakar Rp 200,000,- dan babi mati itu mempunyai putting susu 6, tinggal dikalikan saja. Walhasil kita membayar Rp 1,200,000,-. Alasannya bahwa dari satu susu bisa menghidupi satu babi lagi. Sehingga seorang tetua di sana pernah – entah serius, entah becanda - mengatakan pada saya,<br />“ Lebih baik bapa menabrak perempuan saja, sebab susunya hanya dua…”<br />Inilah salah satu sisi Indonesia yang kita lupakan, atau kita tak pernah peduli.<br />Besok subuh saya harus sudah berada di airport untuk penerbangan ke tanah Papua. Ini adalah kesaksian kesekian kalinya atas tanah yang rakyatnya miskin dan terbelakang karena eksploatasi habis habisan korporasi multinasional maupun keserakahan bangsa sendiri. Saya tidak yakin ada sinyal internet dari Indosat IM2 di pedalaman papua sana. Jadilah selama seminggu ini pastinya menghilang dari peredaran. Namun siapa tahu keterasingan ini akan membuat saya lebih peka.. Siapa tahu juga dalam perjalanan ini saya bisa mendengar ‘ suara baru ‘ yang begitu sulit menyadarkan kita. Suara dari mereka yang tertinggal di halaman belakang rumah kita . Rumah Indonesia kita sendiri. <br /></span>Iman Brotosenohttp://www.blogger.com/profile/17940534752584252392noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-35053652.post-6270052490207242292007-10-28T10:40:00.000+07:002007-11-27T11:28:29.680+07:00TERNYATA MEMANG HANYA PESTA<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RyQIxQXcEHI/AAAAAAAAAXE/kuG9zyk_Y4I/s1600-h/indonesias-pesta-blogger-2007.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RyQIxQXcEHI/AAAAAAAAAXE/kuG9zyk_Y4I/s320/indonesias-pesta-blogger-2007.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126231918154354802" /></a><br /><br /><br />Apa yang saya kuatirkan, ternyata benar. Pesta Blogger kemarin memang hanya sebuah ‘ pesta ‘ , kumpul kumpul dan kopi darat secara massal. Plus dengan embel embel dibuka seorang Menteri yang dengan gempita mencanangkan 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional. Mau berharap lebih ? seperti deklarasi blogger Indonesia , nanti dulu. Dalam forum talk show, ketika ditanya strategi tujuan oleh seorang peserta, Chairman Pesta Blogger sendiri tidak mempunyai bayangan arah tujuan Blogger Indonesia. Bahkan moderator Wimar Witoelar sendiri tak bisa merumuskan dari seluruh peserta tentang definisi Suara Baru Indonesia, jawaban yang ada lebih ke tataran utopia. Jadi Memang tidak usah berpikir keras, bahwa Blogger Indonesia akan memberikan kontribusi pada bangsanya. Sabar, belakangan saja. Jika mengutip komentar <a href=http://smritacharita.blogspot.com/> Maya </a>, “ <span style="font-style:italic;">..setelah begitu seringnya melihat sesuatu yang cikal bakalnya bagus tergerus menjadi sekadar pop icon, saya takut Pesta Blog akan tertitik beratkan pada ‘ pesta ‘ dan ‘ pergaulan ‘</span>. Jadilah memang kita bersilahturahmi, makan makan dan berkenalan dengan teman teman baru. Tidak ada yang salah , bahkan menyenangkan memang bertemu dengan mereka yang selama ini kita kenal lewat blognya, <a href=http://tikabanget.blogspot.com/> Tika </a>, <a href=http://ndobos.com/> Mas Mbilung </a>,<a href=http://venus-to-mars.com/> Rina mpok Venus </a>,<a href=http://colonelseven.wordpress.com/> Iqbal dan komunitas BHI </a>,<a href=http://totoks.blogspot.com/> Totok </a>, <a href=http://rizka.wordpress.com/> Rizka </a>, juga tentu saja Enda sang empunya hajatan, yang mengguncang keras tangan saya, “ Oh yang ini namanya pak Iman “ serta lain lain yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Yang lebih mengharukan, saya tidak menyadari bahwa begitu banyak orang yang mengenal diri saya melalui blog abal abal saya. Ini bukan main main, selalu ada yang menegur atau mengajak photo bareng ketika melihat name tag tergantung di dada saya.<br /><span class="fullpost"><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RyQQmAXcEII/AAAAAAAAAXM/UKxruFWE244/s1600-h/bloger+cilik.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RyQQmAXcEII/AAAAAAAAAXM/UKxruFWE244/s320/bloger+cilik.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126240520973848706" /></a><br />Banyak harapan teman teman bahwa ajang ini akan menjadi momentum kebangkitan blogger. Jika melihat sponsor yang ada tadinya saya berharap Nokia meluncurkan sebuah platform baru buat kemudahan bloging lewat handphone, atau Microsoft menyatakan bahwa seri tertentu Windowsnya akan dibagikan gratis ke seluruh rakyat Indonesia. Dan yang lebih menggelikan adalah justru Menteri Infokom menantang para blogger untuk menciptakan lagu kebangsaan blogger. Lagu ini harus tercipta tahun 2008 dan ada hadiahnya ! apakah ini ada hubungannya dengan kesukaan Presiden RI yang pandai menciptakan lagu lagu. Mestinya dia menantang blogger Indonesia untuk membuat web hosting asli Indonesia, atau mengajak bekerja sama para pakar IT , blogger untuk menciptakan teknologi tepat guna internet murah. Ketika bubaran acara, <a href=http://www.pakde.com/> Pakde </a>disebelah saya nyeletuk, <span style="font-style:italic;">“ Beginilah kalau Menterinya nggak tahu blog, paling baru tadi pagi dia nanya ke anaknya . “</span> <br /><br />Terus terang, saya jadi pesimis dengan masa depan komunitas blogger Indonesia dalam pengertian memberikan sumbangsih terhadap bangsanya, jika masih asyik saja terhadap dirinya sendiri. Justru penggalangan dana dari <a href=http://bangsari.blogspot.com/2007/10/bloggers-for-bangsari-dukung-mereka.html> komunitas blogger </a> untuk anak anak yang tak mampu bersekolah di dusun bangsari, Jawa Tengah lebih terasa bermakna. Jelas dan kongkrit. Namun secara keseluruhan saya angkat topi buat panitia yang telah bekerja keras mewujudkan acara ini. Hal hal kecil seperti kurang terkoordinasinya acara break out seassion, seperti<a href=http://ndorokakung.com> Ndoro Kakung </a>dan <a href=http://ndobos.com/> Ndobos </a> yang harus teriak teriak agar tidak kalah dengan suara speaker di lantai bawah. <a href=http://deadtimethemovie.blogspot.com/>Joko Anwar </a> yang bengong karena tidak ada peminat yang datang ke acaranya, sehingga saya harus menemani ngobrol ngobrol mengenai dunia film. Semua itu tetap menunjukan Pesta Blogger sukses sebagai acara berskala nasional. Ketika duet MC berteriak..” Sampai jumpa di Pesta Blogger 2008 ! “ . Jangan jangan nanti kita disambut oleh Mars Blogger , karena bloger sudah menjadi bagian birokrat, seperti ABRI atau artis artis SAFARI jaman 80an.<br /><span style="font-style:italic;">“..Angkatan muda blogger Republik Indonesia, <br /> siap sedia, mempertahankan, menyelamatkan,<br /> Negara Republik Indonesia…” <br /></span></span>Iman Brotosenohttp://www.blogger.com/profile/17940534752584252392noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-35053652.post-2686799493193224892007-10-24T17:51:00.000+07:002007-11-27T11:30:14.257+07:00CERITA BLOGGER<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rx8oJVb3zLI/AAAAAAAAAWk/pbTuWCR2BYI/s1600-h/Bunderan+HI.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rx8oJVb3zLI/AAAAAAAAAWk/pbTuWCR2BYI/s320/Bunderan+HI.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5124859041808895154" /></a><br /><span style="font-weight:bold;"><br /><br />Hujan rintik rintik masih membasahi jalanan di luar pagi ini, dan auditorium gedung<span style="font-style:italic;">MegaFlash</span> masih terasa lengang. Jam masih menunjukan jam 9 pagi, namun suasana sebuah hajatan besar sudah tergambar di area itu. Bangku dan meja meja tersusun rapi, beberapa petugas sedang mengecek sound sistem dan screen projection, serta beberapa karangan bunga berjejer rapi di teras. <span style="font-style:italic;">“ Congratulations Blogger Gathering 2007 “</span>. Seseorang gadis dari event organizer sibuk memberi perintah dan sesekali berbicara di telepon genggamnya. Memastikan semua berfungsi dan correct.<br />Nding, lelaki separuh baya, seorang petugas cleaning service gedung itu perlahan menggeser ember yang berisi cairan pembersih lantai gedung mewah itu. Ia sudah selesai mengepel lantai agar mengkilap untuk menyambut tamu tamu. Sesekali ia melirik ke spanduk dan poster di dinding. Pikirannya berpikir keras, apa gerangan mahluk Blogger itu. Belum selesai ia menebak nebak, bahunya di tepuk dengan keras. Seorang lelaki muda parlente sambil membawa tas laptop menyapanya.<br />“ Wah kepagian saya, benar acaranya disini pak ? “<br />“ hm..iya cuma saya nggak tahu mulai jam berapa ..”<br />“ memang mas juga tamu undangan ? “ selidik Nding.<br />“ Lha iya, saya jauh jauh datang untuk mensukseskan acara ini, pertama kali blogger Indonesia berkumpul untuk menyuarakan sebuah iklim ngeblog yang positif “<br /><span class="fullpost"><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rx8pA1b3zMI/AAAAAAAAAWs/h6yJt-_pLUI/s1600-h/rakyat+miskin.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rx8pA1b3zMI/AAAAAAAAAWs/h6yJt-_pLUI/s320/rakyat+miskin.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5124859995291634882" /></a><br />Nding bertambah pusing tidak mengerti arah pembicaraan.<br />“ blog saya <span style="font-style:italic;">jari-jariampuh dot com</span>, adalah salahsatu barometer blog nasional “ Si mas ini melanjutkan dengan percaya diri.<br />“ Blogger itu apa sih mas “ tanya Nding hati hati.<br />“ Wah bapak ketinggalan jaman nih, internet..internet, alternative media masa kini“<br />“ kornet,..apa net ? “ Nding semakin tidak mengerti.<br />Tiba tiba si mas, berbisik sambil menunjuk ke seseorang.<br />“ Wah itu<span style="font-style:italic;"> Dinda Napitupulu</span>, blogger kondang yang tinggal di Vietnam..”<br />“ Maaf pak, permisi dulu....saya harus menyapanya “<br />Rupanya<span style="font-style:italic;"> Dinda</span> sedang asyik berbicara dengan <span style="font-style:italic;">Fatah Soleh</span> seorang blogger yang cuti dari sekolahnya di University of Rawalpiddi, Pakistan untuk ikut menyelenggarakan acara ini. Setelah memperkenalkan dirinya si Mas ikut terlibat dalam pembicaraan mereka. Si Mas menjadi tambah bangga, hidungnya kembang kempis menyadari bahwa eksistensinya cukup diakui di kalangan blogger. Belum ada semenit, seorang lelaki berkaca mata datang bergabung.<br />“ Mas Wibisono khan, alias <span style="font-style:italic;">kanjeng simbah</span> di dunia blog ..” si Mas menyapa keras.<br />Mas Wibisono mendadak rikuh karena tangannya disalami keras keras. Tapi ia buru buru permisi karena hendak ke balik panggung untuk menyiapkan talk show seassion bersama seorang bloger lainnya, <span style="font-style:italic;">mas balung pemilik ngegaspol dot com</span>.<br /><br />Audoturium bertambah ramai dan dipenuhi orang orang. Salam salaman memperkenalkan diri, dan secara resmi acara dibuka. Si Mas semakin semangat berkenalan dan terus berbicara tentang blog. Ketika melihat <span style="font-style:italic;">Om Cetiau</span>, seorang blogger kawakan. Si Mas langsung menghampiri dengan seketika.<br />“ Wah <span style="font-style:italic;">Om Cetiau</span>.. apa kabar..kok nggak pernah ngebales comment saya sih, padahal saya aktif lho ngisi coment postingannya Om “<br /><span style="font-style:italic;">Om Cetiau</span> yang asli Singkawang menjadi gelagapan disergah pertanyaan ini, dan batal menyeruput kopi susu yang disediakan panitia. <br />“ Betul betul saya nggak menyangka begitu hebat pertumbuhan blog di Indonesia “. <br /><span style="font-style:italic;">Om Cetiau </span>dengan alasan kesopanan pura pura ikut menemani si Mas, bersama sama memperhatikan acara di panggung.<br />Si Mas manggut manggut dengan serius ketika<span style="font-style:italic;"> Priyono</span> blogger terkemuka lainnya berbicara di atas panggung, bahwa menurut Majalah <span style="font-style:italic;">Bussines Week </span>memasukan Jakarta, Beijing, Mumbay dan Singapore sebagai 4 kota besar di Asia dalam “ blog belt “ dengan lalu lintas postingan dan komentar terbesar di antara 30 kota di dunia.<br /><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rx8kZ1b3zKI/AAAAAAAAAWc/5blO5aUxyco/s1600-h/rakyat+miskin2.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rx8kZ1b3zKI/AAAAAAAAAWc/5blO5aUxyco/s320/rakyat+miskin2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5124854927230225570" /></a><br />Hari bertambah siang, Nding sesekali membantu membereskan piring piring kotor sambil sesekali melihat diskusi tanya jawab di panggung sana. Ia semakin tidak mengerti ketika <span style="font-style:italic;">Adi Patra</span>, seorang mantan wartawan tabloid <span style="font-style:italic;">Masa </span>berbicara tentang era informasi media cyber. Nding sama sekali berada diluar jangkauan pemikiran tentang hak hak bloger, tentang bagaimana bloger menyampaikan gagasan terhadap umat manusia, hak asasi, lingkungan hidup, tentang multi level marketing dan bisnis online. Nding juga semakin sulit memahami bahwa kenapa tamu tamu ini bisa terlibat begitu antusias dan bersemangat memilih blogger selebritis.<br />“ Saya pikir selebritis cuma di infotainment aja mas “ Nding berbisik kepada si Mas yang kebetulan didekatnya.<br />“ Lho tentu saja ada Pak “<br />“ makanya buat blog aja pak, gampang tinggal ke warnet kalau nggak punya komputer “<br />“ ini era informasi “<br />“ ini juga sebagai kontribusi blogger terhadap peradaban bangsa kita “<br />Si Mas nyerocos terus sambil mengunyah paha ayam kedua yang telah dicomotnya.<br />Nding hanya bisa melihatnya dengan iri, tiba tiba saja ia teringat kedua anak anaknya yang begitu gembira dibawakan ayam bakar pinggiran jalan. Bagi Nding, lebih penting bagaimana ia bisa menyekolahkan anaknya, membayar kontrakan rumahnya, dan bisa hidup tenang tanpa harus kuatir akan terkena PHK. <br /><br />Dalam bis yang membawanya ke rumah petaknya di pinggiran kota, Nding menghela nafas betapa semakin sulitnya kehidupan ini. Perlahan, ia melirik sub headline koran yang sedang dibaca seorang penumpang mahasiswa ‘ Kemiskinan semakin bertambah, 35 juta orang pada tahun 2005 dan tahun 2007 meningkat menjadi 39 juta orang ‘. <br />Jalanan bertambah macet. Nding semakin erat erat menggenggam bungkusan ayam bakar untuk anak anaknya.<br /><span style="font-style:italic;"><br />Catatan Penulis : Semoga Blogger Indonesia tidak menjadi menara gading yang terasing ditengah bangsanya sendiri. Semoga Pesta Blogger, Muktamar Blogger atau bentuk apapun di berbagai penjuru negeri menjadi momentum suara Blogger. Maju, Blogger Indonesia</span><br /></span>Iman Brotosenohttp://www.blogger.com/profile/17940534752584252392noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-35053652.post-80835556444846435762007-10-19T10:38:00.000+07:002007-11-27T11:30:44.645+07:00MALAYSIA<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RxhhPVb3zHI/AAAAAAAAAWE/7mi9nizI_h4/s1600-h/rasa+sayang2.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RxhhPVb3zHI/AAAAAAAAAWE/7mi9nizI_h4/s320/rasa+sayang2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5122951492213918834" /></a><br /><br /><br />Beruntung saya menemukan sebuah kaset <span style="font-style:italic;">jadul</span> yang berisi Pidato Bung Karno pada peringatan Maulud Nabi tahun 1964 di mesjid Istana. Dengan bersusah payah membersihkan jamur di pitanya, akhirnya bisa saya pindahkan ke audio file di hard disk saya. Walau acara keagamaan, tapi Bung Karno masih sempat sempatnya menyelipkan pidato politiknya yang berapi api. Saat itu Bung Karno menyampaikan kemarahan yang luar biasa dalam acara Maulid saat itu, setelah dilaporkan para demonstran di Kuala Lumpur merobek bendera merah putih dan menginjak injak lambang Burung Garuda. Sampai saat ini, beberapa kali Indonesia yang mengklaim sebagai saudara tua harus mengalah kepada adik kecilnya di utara. Sebenarnya sejarah hubungan <span style="font-style:italic;">love and hate</span> kedua negara sudah dimulai lebih dari empat puluh tahun yang lalu.<br /><span style="font-style:italic;"><br />Ketika menerima kemerdekaan dari Inggris pada tanggal 31 Agustus 1957, negeri itu bahkan tidak mempunyai lagu kebangsaan. Dengan gagah berani dan percaya dirinya, mereka mencomot lagu keroncong Indonesia yang berjudul “ Stamboel Terang Boelan “, sebagai lagu kebangsaan dan mengganti liriknya. Presiden Soekarno dengan kesantunan seorang pemimpin besar negara tetangga, segera mengumumkan lagu idola buaya keroncong itu tidak boleh lagi dinyanyikan sembarangan di seantero Nusantara ( Tempo Edisi 15-21 Oktober 2007 ).</span><br /><br /><span class="fullpost"><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RxhiMlb3zII/AAAAAAAAAWM/YYmJWPbQ3So/s1600-h/tentara+inggris.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RxhiMlb3zII/AAAAAAAAAWM/YYmJWPbQ3So/s320/tentara+inggris.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5122952544480906370" /></a><br />Sebagai pemimpin besar, jangankan sebuah lagu. Pesawat MIG saja dipinjamkan ke Pakistan, atau mengirim senjata satu kapal selam penuh ke Aljasair, untuk membantu kemerdekaan negara negara Asia Afrika. Sejak awal sesuai semangat politik Bung Karno, ia selalu mendukung dekolonisasi negara yang hendak merdeka, sehingga ia tidak menentang gagasan Malaysia. Bahkan dalam Manila Accord antara <a href= http://en.wikipedia.org/wiki/Tunku_Abdul_Rahman> Tungku Abdul Rahman</a> dari Malaysia, <a href= http://en.wikipedia.org/wiki/Diosdado_Macapagal> Presiden Macapagal</a> dari Philipina dan Bung Karno, disepakati bahwa status daerah Kalimantan Utara akan dibicarakan lebih lanjut melalui referendum rakyatnya. Namun secara fait accompli pada tanggal 29 Agustus 1964 Tungku Abdul Rahman dan Inggris mengumumkan penggabungan Kalimantan Utara sebagai bagian dari federasi Malaysia . Bung Karno tentu saja marah, dan sejarah selanjutnya mencatat Sejarah mencatat <a href=http://id.wikipedia.org/wiki/Konfrontasi_Indonesia-Malaysia> politik konfrontasi terhadap Malaysia</a> telah menimbulkan korban jiwa yang tak sedikit. Ribuan sukarelawan disusupkan lewat laut dan udara melalui Johor, Singapura, Sabah dan Sarawak. Pasukan Marinir, maupun reguler bertempur di hutan hutan Kalimantan dengan pasukan gurkha dan tentara Inggris, sebagai perang yang tak pernah diumumkan antara Inggris dan Indonesia. Perang selama 3 tahun yang karena sifat kerahasiaan dan tidak hadirnya wartawan dalam pertempuran, menyebabkan tidak banyak orang luar memahami, betapa dahsyat pertempuran yang terjadi. ( Thomas Geraghty, Who dares wins, the story SAS 1950 -1980 )<br /><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rxg2qVb3zGI/AAAAAAAAAV8/d0uDaKAPTmA/s1600-h/Rumahku.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rxg2qVb3zGI/AAAAAAAAAV8/d0uDaKAPTmA/s320/Rumahku.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5122904677070392418" /></a><br />Setelah orde lama tumbang, kedua negara itu memulai hubungan baru. Awal 70-an Indonesia mengirim dosen, guru untuk membangun infrastruktur pendidikan di Malaysia yang saat itu baru memiliki satu universitas. Karya sastrawan Indonesia menjadi buku bacaan wajib di sekolah sana. UU Penanaman Modal Asing tahun 1967 menjadi blue print pembangunan investasi mereka juga. Mereka belajar industri perminyakan melalui Pertamina, Undang Undang Migas menjadi model yang ditiru plek ketiplek oleh Petronas. Mereka juga mengirim orang untuk belajar kedokteran, teknik di UI, ITB, UGM, Unpad, Airlangga, bahkan juga mengirim ke sekolah film di IKJ, serta menjiplak UU Perfilman Nasional kita. Coba lihat sekarang, gantian mahasiswa kita yang belajar di perguruan tinggi Malaysia. Pertamina sudah ngos ngosan mengejar Petronas menjadi pemain kelas dunia. Mereka juga memasuki perbankan dan industri telekomunikasi kita. Di dunia film, banyak orang film Malaysia yang mencari nafkah di Indonesia dan kita sekarang yang belajar film dengan mereka. Sekarang si saudara muda sudah menuai hasilnya, membuat mereka maju sebagai bangsa yang mandiri sehingga melahirkan perubahan pola pikir. Generasi baru Malaysia sekarang hanya melihat Indonesia sebagi pengekspor pembantu, buruh, TKI serta biang kerok kebakaran hutan saja. Ini membuat secara mental mereka lebih superior dan menjadi dengan gampangnya menyepelekan hubungan ras serumpun antar bangsa ini. Terus terang rasa kebangsaan saya terusik dengan masalah masalah ini. Mulai pencaplokan pulau Sipadan – Ligitan, kasus Ambalat, TKI yang dianiaya dan <a href=http://teguhtimur.wordpress.com/2007/10/10/ya-ganyang-malaysia-ya-ganyang-indonesia/ /> diperkosa </a> wasit karate kita yang di gebukin, istri diplomat yang ditahan , batik yang dipatenkan oleh mereka, sampai terakhir pemakaian lagu <a href=http://www.rasasayang.com.my/index.cfm#/> Rasa Sayange </a> hanya menjadi excuse dari sebuah bangsa yang merasa besar dengan huruf b kecil. Aroma emosi terlihat pada komentar masyarakat Malaysia pada sebuah postingan <a href=http://rockybru.blogspot.com/2007/10/rasa-not-so-sayang.html> seorang blogger kondang di Kuala lumpur </a>. Ada yang bilang Indonesia tak tahu terima kasih sudah dibantu sewaktu bencana tsunami, ada yang bilang silahkan ambil lagu itu lagi asal 2 juta TKI di Malaysia disuruh pulang lagi. Lihat juga <a href=http://theunspunblog.com/2007/10/02/rasa-not-so-sayang> komentar komentar dua bangsa ini </a>, sehingga pemakaian alasan sebagai saudara serumpunpun sudah tidak tepat lagi. Rumpun yang mana ? Masing masing kita adalah entity yang berbeda, dengan budaya yang berbeda pula, hanya sebagian kecil persamaan budaya melayu di Sumatera atau dayak di Kalimantan.<br /><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RxhlEVb3zJI/AAAAAAAAAWU/j3iX5KLOnR4/s1600-h/soekarno.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RxhlEVb3zJI/AAAAAAAAAWU/j3iX5KLOnR4/s200/soekarno.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5122955701281868946" /></a><br />Saya bertaruh pihak Malaysia tidak akan serta merta mencopot lagu itu, walaupun perusahaan rekaman <a href=http://id.wikipedia.org/wiki/Lokananta> Lokananta</a>, di Solo sudah mengeluarkan bukti bahwa mereka pernah merekam lagu Rasa Sajange tahun 1962 sebagai bagian dari souvenir selama Asian Games 1962 di Jakarta. Ini masalah pride dan kebanggaan yang harus dipertahankan oleh mereka juga. Mana mungkin mereka mau mengakui lagu itu milik bangsa lain. Tentu saja haram bagi bangsa yang merasa superior. Tinggal kepada kita sendiri, bisakah kita merefleksikan diri sebagai bangsa yang besar dengan huruf B besar ? Perang secara fisik sudah memang sudah bukan jamannya , tetapi bukankah ada cara lain. Bisakah dunia blogger menjadi pemicu semangat kebangsaan kita ? mestinya bisa karena sudah ada momentum komunitas blogger Indonesia untuk melahirkan issue issue ini. Jika komunitas blogger di luar sana bisa melahirkan <a href=http://www.blogactionday.org/> Blog Action Day </a> mengenai issue lingkungan hidup, mengapa kita tidak memulai untuk issue kebangsaan kita sendiri. Ini juga bisa merupakan proses pembelajaran dari kasus ini untuk mulai mendata kekayaan budaya sendiri. Tetapi diam diam saya juga mengimpikan pemimpin kita memiliki sepersepuluh saja semangat dan amarah yang dimiliki Bung Karno. <br />Sambil membalas email untuk konfirmasi kehadiran ke <a href=http://enda.goblogmedia.com/> chairman Pesta Blogger </a>, bulu kuduk saya merinding mendengar suara Bung Karno,..”<span style="font-style:italic;"> dilaporkan oleh radio Kuala Lumpur, woh Republik Indonesia,,.. Presiden Soekarno sudah tak di dengar lagi,..apa benar demikian saudara saudara ? Saya baru pulang dari Africa,..saya bisa berkata kepada saudara saudara,..belum pernah ! nama Republik Indonesia begitu tinggi seperti mercu suar bagi negara negara new emerging forces. Indonesia memberikan konsepsi, Panca Sila, berdikari…Justru di Afrika ide berdikari, woodohh dikagumi saudara saudara..Perkataan presiden Soekarno bahwa the crowning of independence is not membership of united nations, but the ability to stand on our own feet, mereka rakyat Africa dan orang mesir berkata..its rang through Africa..artinya menggelegar seperti beledek mangampar ampar..!, saya tantang Kuala Lumpur, mana suaramu !..Kalau boleh saya katakan Malaysia adalah negara tanpa konsepsi ! dalam hal pertahanan berulang kali , Hei Inggris tolonglah kami, Hei Australi tolonglah kami, Hei New Zealand kalau kau betul betul anggota Commonwealth, tolonglah kepada kami..tolong, tolong, mana berdikarinya saudara saudara ? sama sekali tidak !</span><br /></span>Iman Brotosenohttp://www.blogger.com/profile/17940534752584252392noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-35053652.post-85044227092894590132007-10-15T21:48:00.000+07:002007-11-27T11:31:19.840+07:00OUR TROPICAL RAINFOREST<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RxN-WVb3zDI/AAAAAAAAAVY/oSVL6I5Yf_8/s1600-h/rain+forest1.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RxN-WVb3zDI/AAAAAAAAAVY/oSVL6I5Yf_8/s200/rain+forest1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5121576123426655282" /></a><br /><br />These are more than 17,500 islands in Indonesia, strechted out along the equator like green, ruby and bronze beads of an exquisite necklace. These islands are endowed with vast biological diversity, and approximately one third of the huge number of spieces found on them are endemic. Indonesia stil has one of the largets remaining tropical rainforest in the world, many of which are managed as conservation area. Unfotunately these gifts from nature have been greatly damaged by three decades of exploitation.Indonesia's forests are being degraded and destroyed by logging, mining operations and large-scale agricultural plantations, and from time to time the regime of government always blame the indigenous and local people for shifting agriculture and cutting for fuelwood. I don’t believe that colonization, and subsistence activities cause a major problem of this issue. Their culture is to maintain close links between nature and life as they believe nature will protect them.<br /><span class="fullpost"><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RxN-pVb3zEI/AAAAAAAAAVg/3Lx84n_mXgk/s1600-h/tebang+hutan.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RxN-pVb3zEI/AAAAAAAAAVg/3Lx84n_mXgk/s200/tebang+hutan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5121576449844169794" /></a><br />Logging for tropical timbers and pulpwood is the best-known cause of forest loss and degradation in the country. Indonesia is the world's largest exporter of tropical timber, generating upwards of US$5 billion annually, and more than 48 million hectares (55 percent of the country's remaining forests) are concessioned for logging. Logging in Indonesia has opened some of the most remote, forbidding places on earth to development. But do you know that 75 % of logging in Indonesia is illegal. Despite an official ban on the export of raw logs from Indonesia, timber is regularly smuggled to Malaysia, Singapore, and other Asian countries. This crime to our forest cause terrible damage, according to World bank data in 2002, every 12 seconds we lost 5000 meter square of tropical rain forest. Indonesia has a biggest contributor in the world as a forest destroyer by erasing 2 percent of its tropical rainforest. Between 1990 and 2005 the country lost more than 28 million hectares of forest, including 21.7 hectares of virgin forest. Its loss of biologically rich primary forest was second only to Brazil during that period, and since the close of the 1990s, deforestation rates of primary forest cover have climbed 26 percent. Today Indonesia's forests are some of the most threatened on the planet. Rainforest cover has steadily declined since the 1960s when 82 percent of the country was covered with forest, to 68 percent in 1982, to 53 percent in 1995, and 49 percent today. Much of this remaining cover consists of logged-over and degraded forest.<br /><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RxOASFb3zFI/AAAAAAAAAVo/Vmv9g3Lvwas/s1600-h/paru+paru+dunia.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RxOASFb3zFI/AAAAAAAAAVo/Vmv9g3Lvwas/s200/paru+paru+dunia.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5121578249435466834" /></a><br />The effects from forest loss have been widespread, off course it will affect the global climate as tropical rainforest is actually a world’ s lung. Forest management in Indonesia has long been plagued by corruption. Underpaid government officials combined with the prevalence of disreputable businessmen and shifty politicians, mean logging bans go unenforced, trafficking in endangered species is overlooked, environmental regulations are ignored, parks are used as timber farms, and fines and prison sentences never come to pass. Even the campaigns was launched to raise the awareness, I strongly feel this more to <a href=http://video.google.com/videoplay?docid=-8233458089970162191> lips service</a> of our government as I believe in <a href=http://video.google.com/videoplay?docid=3087862384157203798> NATO ( Not action talk only )</a> policy. We Indonesia's forests face a discouragingly grim future. And as I write this issues for more than 5 minutes, we loss again 125,000 meter square of our tropical rainforest. So how do you help our mother nature ?<br /></span>Iman Brotosenohttp://www.blogger.com/profile/17940534752584252392noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-35053652.post-90594441729612610492007-10-10T13:49:00.000+07:002007-11-27T11:32:18.580+07:00HITUNG HITUNGAN DENGAN TUHAN<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rwx5x1b3y6I/AAAAAAAAAUQ/I3IxYPVFnvM/s1600-h/gazing+to+the+sunset.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rwx5x1b3y6I/AAAAAAAAAUQ/I3IxYPVFnvM/s200/gazing+to+the+sunset.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5119600773477944226" /></a><br /><br /><span style="font-style:italic;">“ Orang orang Barat sudah pergi ke bulan, tapi kita masih bertengkar mengenai mengintip bulan “ – KH Hasyim Muzadi</span><br /><br />Bulan puasa hampir selesai tetapi masih saja orang ribut ribut bertengkar tentang kesepakatan 1 syawal 1428 Hijriah. Sementara di pojok negeri <a href=http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_aksi_Front_Pembela_Islam/> para pembela syariat </a>, sibuk melakukan razia orang orang berpuasa dan penggerebakan warung dan restaurant yang buka di siang hari. Puasa juga membuat seolah kita memiliki privilege untuk dihormati dan lebih penting lagi menentukan ‘hitam putihnya’ sebuah konsep kehidupan dalam masyarakat yang pluralistik. Karena puasa ribuan orang pegawai pijat bersih, spa dan refleksi ,harus kehilangan uang tambahan berlebaran karena tempat kerjanya kena imbas harus tutup. Karena puasa juga orang orang kecil pemilik warung makan dan jamu hanya bisa menangis melihat usahanya diobrak abrik laskar . Bisakah bulan puasa berjalan tanpa mengganggu hajat hidup orang banyak ? Padahal kalau keimanan saya berpuasa terganggu, itu karena diri saya sendiri yang <span style="font-style:italic;">gemblung</span>, bukan karena orang orang yang asyik mengunyah makanan di pinggir jalan. Akhirnya dengan puasa kita menjadi polisi fiqih yang bertindak atas nama Tuhan, padahal mungkin Tuhan sendiri tidak pernah repot repot memikirkan ini. Karena Allah bukanlah tipe <span style="font-style:italic;">oppressed</span> yang perlu dibela.<br /><span class="fullpost"><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rwx7dFb3y9I/AAAAAAAAAUo/l1Y6EhlefVY/s1600-h/kakek+nulis.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rwx7dFb3y9I/AAAAAAAAAUo/l1Y6EhlefVY/s200/kakek+nulis.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5119602616018914258" /></a><br />Bulan puasa beberapa tahun yang lalu saya sempat bertemu dengan Pak Yoesoef, seorang editor dan penerbit buku dari Hasta Mitra, sebuah lembaga yang pertama tama menerbitkan buku buku Pramudya Ananta Toer. Ia juga ikut mendekam di pulau Buru bersama tahanan politik lainnya. Waktu itu saya setengah menyindir setengah bertanya mengapa dia tidak berpuasa hari itu.<br />Ia hanya tersemyum dan menjawab, “ Nak, janganlah kau mengajarkan aku hakekat puasa, jika kau bangga dengan ritual selama 30 hari dalam setahun sekali..Saya telah berpuasa setiap hari selama 15 tahun, dalam ketakutan karena nyawa kami yang bisa setiap saat diambil tentara, ketika kami harus memakan apa saja, tikus, belalang untuk memperpanjang hidup..”<br />Ternyata saya baru tahu karena Pak Yoeseof sudah tua,maka banyak penyakit yang menggerogoti sehingga tidak bisa berpuasa. Kalau Pak Yoesoef tidak puasa, kita tidak berhak memarahi atau membencinya dengan landasan kita sedang membela hukum Allah. Pak Yoesoef sudah cukup tua untuk mengkalkulasikan pertimbangan hitungan hitungan pribadinya dengan Allah dan Allah sendiri sudah menyediakan lembaga peradilan atas dosa pahala manusia, sehingga tidak perlu diambil oleh peradilan budaya keagamaan manusia atau organisasi bentukan manusia.<br /><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rwx6EVb3y8I/AAAAAAAAAUg/BtYS5Gw9F74/s1600-h/anak+di+mesjid.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rwx6EVb3y8I/AAAAAAAAAUg/BtYS5Gw9F74/s200/anak+di+mesjid.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5119601091305524162" /></a><br />Budayawan Emha Ainun Najib menjabarkan ilustrasi menarik mengenai pembagian kesadaran rohani yakni <span style="font-style:italic;">ana insan, ana abdulah dan khalifatullah</span> . Saya mungkin masih ana insan atau ‘ aku manusia ‘ yang terlalu disibukan dengan eksistensi sebagai seseorang. Sehingga dengan mudah membatalkan puasa dengan segelas es teh manis,saat matahari terik teriknya di lokasi syuting gunung kapur Cibinong. Hanya dengan alasan kepala kleyengan. Sementara ada juga orang orang dalam tahap ana’abdullah atau ‘aku hamba Allah’. Sehingga hanya kepatuhan kepada Allah yang dibela. Dua kesadaran ini membuat Islam hanya terbelenggu oleh tata krama, sembayang sunnah, serta yang dibicarakan masalah halal haram. Tetapi diam diam Pak Yoesof juga menyumbangkan sebagian besar pendapatannya dari penerbitan buku buku Pram untuk anak yatim, fakir miskin. Berarti ia manjadi khalifatullah, bersikap demokratis terhadap seluruh anggota alam, seluruh hamba Allah dan segenap isi bumi. Orang orang beriman kini makin diuji apakah mereka lebih memilih ‘pahala pribadi’atau ‘ menyumbangkan diri ‘ bagi proses proses sosial, demokrasi, keadilan dan hak asasi manusia. Kalau sewaktu berangkat ke Mesjid untuk salat jum’at tiba tiba anda melihat orang tertabrak mobil – padahal suara<span style="font-style:italic;"> ikamah</span> sudah terdengar di corong mesjid – apa yang anda lakukan ? Jika Pak Yoesoef tahu bahwa seluruh pemasukan dari penerbitannya tidak seluruhnya merupakan hak miliknya, sehingga sebagian diserahkan kepada kaum miskin yang menghakinya. Pasti bukan jaminan kemiskinan akan lenyap dari muka bumi. Tetapi ia telah menjalankan kerangka <span style="font-style:italic;">duniawi-ukhrawi</span> hitung hitungan dengan Allah.<br />Ia telah lebih dari tingkatan insan dan abdullah,ia Khalifatullah.<br />Mudah mudahan juga Kyai Hasyim dan Kyai Din tak perlu buang buang energi bertarung siapa yang benar, toh menurut Al Qur'an patuhi<span style="font-style:italic;"> ulil amri</span> yakni Pemerintah. Menurut para ahli fiqih, keputusan <span style="font-style:italic;">waliyyul amri</span>, atau hakim syari'i atau <span style="font-style:italic;">sulthan</span> atau pemerintah bisa menyelesaikan permasalahan.<br />Selamat Idul Fitri, Minal aidin wal faidzin.<br /></span>Iman Brotosenohttp://www.blogger.com/profile/17940534752584252392noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-35053652.post-73663631574870747372007-10-06T20:23:00.000+07:002007-11-27T11:33:15.967+07:00MIMPI BLOGGER<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RweM3Vb3y3I/AAAAAAAAAT0/absc-VHnNdQ/s1600-h/Pesta+Blogger1.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RweM3Vb3y3I/AAAAAAAAAT0/absc-VHnNdQ/s320/Pesta+Blogger1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5118214383804599154" /></a><br /><br /><br />Akhirnya pesta itu pindah tempat juga. Beberapa hari setelah postingan saya sebelumnya, saya ditelpon seorang, <a href=http://theunspunblog.com/> teman lama</a>, yang juga kebetulan menjadi salah satu “ the founding fathers pesta Blogger 2007 “. Ia mengatakan saran dari saya menjadi bahan pertimbangan untuk akhirnya memindahkan acara ini. Tentu saja saya merasa tidak enak, apalah artinya saya seorang blogger bau kencur bisa bisanya merubah acara yang tentunya sudah dipersiapkan matang matang. Tapi ada hal yang lebih penting,bahwa panitia juga mendengarkan aspirasi ‘ grass root ‘ yang menyayangkan moment penting kebangkitan blogger Indonesia harus disuarakan dari sebuah tempat minum minum. Dalam korespondensi dengan <a href=http:// enda.goblogmedia.com/> Ketua Panitia</a>, saya sempat menyinggung penting memunculkan issue issue yang penting dan hak hak apa yang menjadi kesetaraan media blogging ini. Entah kebetulan apa tidak, hati saya tersenyum gembira,melihat milis resmi pesta blogger mengangkat <a href=http://pestablogger.com/page/3/> ancaman issue somasi</a>, yang menimpa salah satu rekan kita. <br /><span class="fullpost"><br />Lebih jauh lagi, apapun bentuk acara ini, memang harus didukung sepanjang nantinya bisa memberikan nilai tambah pada sebuah alternative media gagasan baru. Ini tidak mudah, membangun kebiasaan baru di negeri yang minat bacanya sangat rendah. Saya katakan Media ini memang tidak melulu bicara tentang teknologi atau alternatif media cyber , tetapi apa yang bisa ditawarkan dan disumbangkan kepada bangsa yang notabene angka melek internetnya masih sangat rendah. Tradisi bangsa kita adalah budaya literal dan lisan. Budaya pantun, bertutur, nembang sampai gossip semuanya lahir karena pola hidup masyarakat kita yang terbiasa mendengar atau melihat bukan membaca. Ini juga tidak ada hubungan dengan tingkat kemakmuran hidup. Banyak orang orang mapan di Indonesia yang justru bodoh karena malas membaca. <br /><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RweNAFb3y4I/AAAAAAAAAT8/Hf_RPwlCbBM/s1600-h/pesta+blogger2.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/RweNAFb3y4I/AAAAAAAAAT8/Hf_RPwlCbBM/s320/pesta+blogger2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5118214534128454530" /></a><br />Internet adalah masa depan. Kita memang ketinggalan dengan bangsa bangsa lain, tetapi as we race for the future, media blogging semestinya menjadi salah satu elemen mencerdaskan bangsa. Jika tidak kita akan tergilas dan tetap bodoh. Ini bukan hanya mimpi saya tetapi mimpi bangsa kita sendiri. Mudah mudahan saja saya bisa menjadi saksi mata kebangkitan suara blogger Indonesia, itu kalau saya mendapat undangan dari panitia. Jika tidak, setidaknya saya menyambangi <a href=http:// colonelseven.wordpress.com/2007/09/24/muktamar-blogger-1428h/> Muktamar Blogger</a> di meja sebelah, atau mudah mudahan saya bisa bertemu dengan bloger bloger dalam perjamuan rakyat yang membahana. Sebuah mimpi yang terus menggoda, terus memanggil. Ya, Jamboree Blogger !<br /></span>Iman Brotosenohttp://www.blogger.com/profile/17940534752584252392noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-35053652.post-77863053105650364982007-09-29T03:01:00.000+07:002007-11-27T11:34:22.990+07:00MIMPI BLOGGER<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rv1eDFb3yxI/AAAAAAAAAS8/5fhgjWwwfqg/s1600-h/Jambore+3A.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rv1eDFb3yxI/AAAAAAAAAS8/5fhgjWwwfqg/s320/Jambore+3A.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5115348158854449938" /></a><br /><br />Menurut rujukan ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, Pesta adalah sebuah acara sosial yang dimaksudkan terutama sebagai perayaan dan rekreasi. "Pesta" dapat bersifat keagamaan atau berkaitan dengan musim, atau, pada tingkat yang lebih terbatas, berkaitan dengan acara-acara pribadi dan keluarga untuk memperingati atau merayakan suatu peristiwa khusus dalam kehidupan yang bersangkutan. Pesta merupakan kesempatan untuk berbagai interaksi sosial, tergantung pada pesertanya dan pemahaman mereka tentang perilaku yang dianggap layak untuk acara tersebut. Akibatnya, pesta cenderung memperkuat standar budaya dan/atau kontra-budaya. Lebih jauh ‘ pesta ‘ sering diartikan sebagai kegiatan hura hura yang berlebihan, sehingga kadang ditambahi kata ‘ pora ‘, menjadi pesta pora. Ini sedikit banyak berhubungan dengan “ Pesta Blogger 2007 “ yang akan di adakan di Jakarta tanggal 27 Oktober 2007 mendatang. Konon ‘ the happy selected few blogger ‘ akan berkumpul dan mendeklarasikan suara blogger Indonesia. Tema Pesta Blogger 2007 tahun ini adalah “Suara Baru Indonesia”—di mana ‘pesta’ ini juga akan menjadi wadah pertemuan dan diskusi bagi para blogger untuk bersama-sama menciptakan iklim nge-blog yang positif di Indonesia; sehingga blog dapat menjadi media ekspresi baru yang mampu menyuarakan pikiran, pendapat, dan perasaan para blogger Indonesia.<br /><span class="fullpost"><br />Apakah kita harus membandingkan semangat kebangkitan blogger ini, katakanlah dengan semangat Sumpah pemuda tahun 1928 atau dalam skala lebih kecil, sebuah deklarasi yang dapat menyuarakan kesetaraan blog sebagai media gagasan baru atau jurnalistik independen ? Media ini memang tidak melulu bicara tentang teknologi atau alternatif media cyber , tetapi apa yang bisa ditawarkan dan disumbangkan kepada bangsa yang notabene angka melek internetnya masih sangat rendah. Tentu saja tanpa meremehkan mereka yang sudah sedemikian bekerja keras mewujudkan pertemuan akbar ini, saya memiliki impian perhelatan yang jauh melewati batas batas pemikiran itu sendiri.<br /> <br />Pertama, mengganti kalimat Pesta Blogger 2007 dengan Jamboree Nasional Blogger 2007. Ini memang masalah selera, tapi rasa rasanya istilah ‘ pesta ‘ tidak cocok dengan situasi negeri yang penuh dengan kemiskinan dan bencana alam dimana mana. Lalu tentu saja saya tidak memilih sebuah klub elite sebagai tempat perhelatan, tetapi memilih Istora Senayan atau bahkan Gelora Bung Karno. Ini juga selain karena romantisme simbol bangsa yang besar, juga karena bisa menampung ribuan blogger yang datang tanpa harus membayar. <br /><br /> <a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rv3G81b3yzI/AAAAAAAAATM/NHArdsjXkv4/s1600-h/Jambore+2A.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rv3G81b3yzI/AAAAAAAAATM/NHArdsjXkv4/s320/Jambore+2A.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5115463500201184050" /></a><br />Kedua, saya mengontak Menteri BUMN Sofyan Djalil yang saat beliau menjadi Menkominfo, pernah membantu saya membidani kelahiran peraturan menteri mengenai proteksi tenaga kerja film nasional. Saya berharap kali ini ia bisa meminta perusahaan perusahaan negara menyumbangkan sedikit keuntungan mereka bagi pembiayaan perhelatan nasional ini. Sehingga ribuan blogger dari seluruh Indonesia bisa ditampung di Asrama Haji, Hotel Atlit dan balai balai pendidikan milik BUMN. Disamping itu, saya meminta klien klien yang pernah bekerja dengan saya untuk juga berpartisipasi menyumbang acara ini, tentu saja klien klien yang saya tahu memiliki semangat kebangsaan yang tinggi. Saya mendatangi teman teman di Hotline Advertising yang pernah bersama sama dahulu membuat kampanye pemilu untuk SBY – Kalla,untuk mensosialisasikan gerakan nasional ini. Tentu saja saya akan menggandeng teman, Helmi Yahya yang dengan event organizernya sukses menyelenggarakan PON di Sumatera Selatan tahun lalu. Tentunya kita tidak boleh setengah setengah dalam menyelenggarakan hajatan nasional sepenting ini. Tak lupa saya membuatkan gratis film iklan layanan masyarakat untuk acara ini dan melakukan pendekatan dengan Asosiasi Televisi Indonesia untuk membantu pemasangan spot spot iklan secara gratis pula, tanpa harus pada acara acara ‘ prime time ‘. <br /><br />Ketiga, saya juga mempertajam isi acara, tidak sekadar diskusi blogging secara ‘ an sich ‘ atau pemilihan blogger selebritis. Tetapi juga bagaimana acara ini bisa menghasilkan pemikiran atau sebuah gerakan aksi bagi negara dan masyarakat, misalnya apa yang bisa dilakukan oleh komunitas ini terhadap bencana gempa di Sumatera baru baru ini. Lihat saja apa dilakukan para volunter IT ketika membangun infrastruktur jaringan internet dan komunikasi yang rusak akibat bencana tsunami di Aceh. Bahkan kalau perlu saya akan mengadakan Jamboree Blogger ini bulan Desember 2007, dimana saat itu Indonesia menjadi tuan rumah dari puncak acara ‘ Global Warming ‘ yang akan dihadiri seluruh pimpinan dan kepala negara di dunia. Ini penting untuk mengaitkan kontribusi media blogging terhadap issue issue sosial di sekitar kita. Saya juga menganjurkan melakukan road show ke seluruh negeri, untuk mengadakan workshop serta pemahaman mengenai dunia blog dan teknologi internet terhadap pelajar dan mahasiswa. <br />Keempat, dan yang paling penting adalah bagaimana media blog bisa duduk sejajar sebagai penyampaian gagasan yang kebebasan berekspresinya harus dihormati dan dilindungi sebagaimana media jurnalistik lainnya. Sehingga dalam acara ini juga mengundang ahli hukum, kepolisian, pakar jurnalistik atau dewan pers. Ini memang tidak mudah karena masalah cyber crime sendiri masih menjadi merupakan wilayah abu abu dalam delik kejahatan di negara ini. <br /><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rv1eQlb3yyI/AAAAAAAAATE/VW4_vlqTYmg/s1600-h/Jambore1.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Rv1eQlb3yyI/AAAAAAAAATE/VW4_vlqTYmg/s200/Jambore1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5115348390782683938" /></a><br />Tiba tiba saja mimpi ini menjadi buyar, karena mbok Jumiasih mengetuk pintu kamar saya untuk membangunkan saat sahur. Gelagapan, dan sambil terkantuk kantuk saya melihat di televisi yang masih menyala, banyolan Komeng, Adul dan Olga memberikan kuis ramadhan yang isinya sama sekali tidak ada hubungan dengan bulan suci ini. Ini memang bukan masalah kebangsaan semata, tapi Jika kita tidak bisa merumuskan hal ini, apa yang saya kuatirkan bahwa ‘ pesta ‘ di Hard Rock Café hanya seperti acara acara TV menjelang sahur, berbumbu Ramadhan namun terasa kering. Lalu apa bedanya dengan pesta pesta seremonial seperti Indonesia Idol, atau pesta penggemar musik Queen yang kadang kala juga diadakan di Hard Rock Café. Pada akhirnya blogging harus bisa memberikan kontribusi pada bangsa dan rakyatnya, sedikit apapun. Jika tidak ia akan menjadi menara gading di tengah masyarakatnya sendiri. Walhasil silahkan memilih, dunia besar interaktif blogging dengan aneka ragam gagasan, yang dihargai serta menjadi sumber pencerahan bagi peradaban sekitarnya, atau sebuah dunia kecil mirip gurun pasir, terasing, kering dan monoton. Ah, saya tak bisa berandai andai lagi, jangan jangan Komeng nanti yang akan menjadi MC di perhelatan ini. Semoga saja tidak.<br /></span>Iman Brotosenohttp://www.blogger.com/profile/17940534752584252392noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-35053652.post-61110630870663598642007-09-18T14:50:00.000+07:002007-11-27T11:35:48.082+07:00BALADA TANAH PRIANGAN<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Ru-EajMMvEI/AAAAAAAAAOk/T-TPgbPDews/s1600-h/DESSY.JPG"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Ru-EajMMvEI/AAAAAAAAAOk/T-TPgbPDews/s320/DESSY.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5111449693746674754" /></a><br /><br />Dessy Ratnasari mungkin tidak akan menduga nasibnya kelak kemudian hari jika saat itu tidak bertemu dengan seorang pekerja film dalam sebuah angkutan umum di kota Sukabumi, lebih dua puluh tahun yang lalu. Memang tidak ada yang bisa menebak nasib orang, namun semua bisa saja terjadi termasuk menjadi artis besar jika lingkungannya dekat dengan produksi produksi film. Itulah sebabnya dari dahulu banyak produksi film cerita selalu mengambil lokasi di sekitar Jawa Barat, untuk mendapatkan setting apa saja dari hutan, desa, sawah, gunung, laut sampai kota. Selain karena dekat dengan ibu kota, juga jika membutuhkan pemain tambahan, terutama ‘ extra talent ‘ yang cantik, bisa dengan mudah mendapatkan di lingkungan sekitarnya. Konon hanya gadis gadis tanah Minahasa Sulawesi Utara yang bisa menandingi kemolekan gadis gadis priangan. Seorang budayawan dan rohaniwan asal Belanda yang telah menjadi warga negara Indonesia, MAW Brouwer pernah menulis kutipan,.” Tuhan tersenyum ketika menciptakan tanah Priangan..”. Ini memang tidak salah, karena alam dan segala isi tanah sunda begitu mempesona dan sekaligus membentuk komposisi gambar yang indah dalam viewfinder kamera. Namun ini menjadi tidak sesederhana ini, ketika sebuah komunitas ( film ) ternyata membawa gegar budaya terhadap perilaku peradaban masyarakat sekitarnya. Terlepas baik atau buruknya nilai nilai peradaban itu.<br /><span class="fullpost"><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Ru-EBDMMvCI/AAAAAAAAAOU/U5LB3YnOjNw/s1600-h/cewe+di+danau.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Ru-EBDMMvCI/AAAAAAAAAOU/U5LB3YnOjNw/s200/cewe+di+danau.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5111449255660010530" /></a><br />Sampai suatu hari saya bertemu dengan Widia, gadis yang masih duduk di bangku SMA yang yang muncul di lokasi syuting film iklan minuman selama 3 hari di daerah Ciampea, Bogor. Ini mungkin yang disebut pemerataan, karena di daerah desa terpencil yang jalannya rusak, bisa ada gadis cantik yang wajahnya mirip Revalina S Temat tinggal disana. Tapi ini juga kemahiran location manager saya yang bernama Sukenti, biasa dipanggil Kenti dalam menemukan lokasi sungai berbatuan yang masih jernih sesuai dengan kebutuhan syuting saya. Kenti sudah lebih dari sepuluh tahun ikut dengan saya, sehingga ia sangat mengenal gaya shoot shoot saya, termasuk memahami bahwa saya sangat mengagumi kemolekan panorama alam dan juga manusianya. Sehingga dalam pencarian lokasinya ia bisa menemukan alam yang indah sekaligus sumber daya pemain yang melimpah didekatnya. Walhasil ada saja akal akalan crew saya untuk berusaha lewat atau mampir di rumah Widia, baik pura pura berteduh atau meminta segelas air, walaupun sebenarnya dalam produksi kami selalu ada persediaan konsumsi yang melimpah. Widia adalah anak bungsu yang tinggal bersama ibu, kakak kakaknya serta keponakan keponakannya . Ayahnya sudah lama meninggalkan rumahnya, entah kemana. Sehingga ibunya melihat film adalah satu satunya jalan keluar untuk kehidupan yang lebih baik, agar tidak terpuruk seperti kakak kakaknya yang sudah kawin dan menjanda pada usia muda.<br /><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Ru-E_zMMvFI/AAAAAAAAAOs/QN15J_qU2_0/s1600-h/Perut+Gadis.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Ru-E_zMMvFI/AAAAAAAAAOs/QN15J_qU2_0/s200/Perut+Gadis.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5111450333696801874" /></a><br />Budaya televisi dan hiburan memang seperti lampu petromak yang dikelilingi laron laron yang datang berhamburan. Ada saja yang menemukan kehangatan , namun lebih banyak lagi yang mati karena terpanggang menabrak lampu panas tersebut. Menjadi Dessy Dessy baru adalah jalan pintas impian gadis gadis seperti Widia, sehingga ia berterus terang kepada saya..” mau menjadi artis “ ketika ditanya cita citanya. Kemana cita cita menjadi seorang dokter atau insinyur sebagaimana anak anak sebayanya tempo dulu ? Ini memang bukan perkara mudah, karena mentalitas ini berbanding terbalik dengan harapan hidup yang lebih baik dan gaya hidup konsumerisme yang merebak kemana mana. Ada yang menarik, dalam percakapan dengan Garin Nugroho, ketika bersama sama hendak memberikan workshop perfilman di Denpasar beberapa waktu yang lalu. Diceritakan ketika memproduksi sebuah film iklan layanan masyarakat di Manado, ia hampir tak menemukan gadis gadis lokal Minahasa yang selalu digembar gemborkan kecantikannya. Ternyata ada pameo disana yang mengatakan bahwa seluruh gadis gadis cantik Minahasa sudah pergi merantau ke Jakarta ! Widia memang tidak pernah melihat bahwa ada ribuan gadis gadis sepertinya yang melihat sisi pencerahan yang salah. Sejarah selalu mengajarkan bahwa kesuksesan karena dua hal yakni kerja keras dan satu hal lagi adalah factor keberuntungan. “ Luck “nya Dessy Ratnasari adalah hari itu ia memilih jam dan angkutan umum yang bersamaan yang ditumpangi seorang pencari bakat. <br /><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Ru-EPTMMvDI/AAAAAAAAAOc/clKOPYFji3g/s1600-h/sungai+mengallir.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_NAgMZXtfcHk/Ru-EPTMMvDI/AAAAAAAAAOc/clKOPYFji3g/s200/sungai+mengallir.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5111449500473146418" /></a><br />Cerita ini memang belum selesai disini sampai suatu hari istri Kenti datang sambil menangis ke saya. Karena sudah lama sekali menjadi bagian dari team saya, tentu saja keluarga saya sangat mengenal istri dan anak anak Kenti. Ternyata sudah hampir 3 minggu sejak syuting akhir bulan Agustus lalu di Ciampea, si Kenti tidak pernah pulang lagi ke rumahnya. Selidik punya selidik, ternyata ia telah menikah dengan janda kembang dari Ciampea alias kakak dari Widia. Seja