Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Wednesday, November 28, 2007

Pindah Ke Rumah Baru


Setelah sekian lama saya tumbuh dan besar di rumah ini. Saya memutuskan pindah ke rumah baru saya , diseberang jalan sana. Tidak ada yang patut disesali. Justru rasa syukur karena rumah ini telah memberi segalanya, menjadikan tempat persinggahan yang nyaman bagi siapa saja.
Selamat tinggal rumah lama.
Mari ! Menuju rumah baru

read more ...

Monday, November 26, 2007

DRUPADI



Di lokasi syuting, Ahmad Sukenti alias Kenti mengeluh betapa sulit hidupnya sekarang, setelah mempunyai istri dua. Selain dua dapur yang harus dibiayai, ada persoalan yangmembuatnya senewen, yakni keadilan. Bagaimana ia mengukur rasa keadilan yang sama di antara kedua istrinya. Tanpa ditanya, saya bisa membaca jalan pikirannya. Daripada melihat istri tuanya yang gemuk memakai daster, lusuh karena mengurus anak seharian. Lebih baik ia menghabiskan harinya di rumah istri mudanya yang muda dan mulus. Bagaimanapun barometer keadilannya selalu berat sebelah. Namun ada yang jauh menarik di surat kabar yang saya baca baru baru ini. Bahwa akhirnya Mahkamah Konstitusi ( MK ) menolak uji materil atas UU Perkawinan No1 tahun 1974. Dalam Undang Undang itu disebutkan , bahwa seorang lelaki ingin beristri lebih dari satu ia harus mengajukan permohonan dari pengadilan. Untuk mengajukan permohonan ke pengadilan ia harus mendapat persetujuan dari istri, memiliki jaminan memenuhi kebutuhan istri dan anaknya serta bersikap adil. Bagi sekelompok orang yang meminta uji materil perundang undangan tersebut , menilai peraturan itu mengurangi hak warga untuk berpoligami yang dianggap ibadah. Mengurangi hak prerogatif untuk berumah tangga serta hak asasi yang dijamin oleh UUD 1945. Namun pada akhirnya Mahkamah Konstitusi (MK) menolak uji materi tersebut. Suatu keputusan yang melegakan hati.

Syahdan Drupadi adalah istri dari seluruh lima orang Pandawa. Seorang wanita yang melakukan poliandri. Begitulah hikayat hindu asli Mahabarata. Namun karena pengaruh agama Islam, budaya kita tidak bisa mengadopsi cerita ini seutuhnya. Jadilah di tanah Jawa, Drupadi hanya menjadi istri Yudhistira sendiri. Tapi siapa yang tahu, kalau Drupadi turun dari swargaloka dan menghampiri Gedung Mahkamah Konstitusi yang megah dan baru itu. Berhari hari ia memperhatikan hakim hakim Konstitusi membolak balik lembaran perundang undangan, dan yang lebih penting diam diam ia menggugah hati nurani para hakim. Tentu saja Drupadi tidak ingin memamerkan betapa justru dirinya bisa menguasai lima orang suami sekaligus. Ia hanya tertawa melihat ada saja orang yang hendak melakukan uji materi terhadap UU Perkawinan No 1 tahun 1974, bahwa perundang undangan itu menghalangi hak berpoligami para suami.


Damayanti Buchori, Direktur Eksekutif Kehati, mencatat tiga hal atas kasus diatas.
Pertama, bagaimana bisa ditengah banyaknya persoalan kehidupan bangsa,kemiskinan, ketidakadilan. Lelaki justru memikirkan poligami, apakah tidak ada issue lain yang lebih berguna.
Kedua, masyarakat terlalu mudah membela poligami dengan alasan menghindari perzinahan. Tidakkah poligami dilihat melegalkan pengkhianatan ? Meniadakan fakta bahwa sebelumnya ada perselingkuhan. Ketika perselingkuhan dikukuhkan kedalam lembaga perkawinan melalui mekanisme poligami, maka perselingkuhan dianggap hilang, tetapi sebenarnya pengkhianatan tetap ada. Dan perempuan telah dididik menerima itu.
Ketiga, dalam Islam poligami memang diperbolehkan dengan syarat berlaku adil. Pertanyaan sederhana,apakah lelaki bisa bersikap adil dari setiap waktu dari detik ke detik ?Adil lahir bathin. Bila lelaki mengatakan ‘ ya ‘, alangkah sombongnya dia.

Tentu saja saya tidak hendak mempertentangkan antara hukum syariat dengan issue kesetaraan gender. Persoalan poligami justru semakin memperjelas egoisme laki laki dengan pembenaran dalil agama. Apapun alasannya, hak berpoligami memang dijamin dalam hukum positif negara ini. Disatu sisi laki laki juga mendorong terciptanya persamaan hak antara wanita dan laki laki, tapi di sisi lain ia juga terlalu sombong untuk membelenggu wanita dengan sebuah rantai kewajiban bernama poligami. Anda bisa melakukan semua itu asal mendapat ijin dari istri tua. Persoalannya apakah kriteria ijin itu berarti ikhlas ? Mengijinkan dan mengikhaskan adalah dua hal yang berbeda. Seharusnya justru kaum wanita meminta uji materil perubahan isi Undang Undang itu dengan tambahan persyaratan ‘ ikhlas ‘ dan ‘ tanpa paksaan ‘. Cinta memang tidak bisa memilih, karena bisa datang kapan saja, tetapi lelaki harus tetap memilih siapa yang akan memiliki cintanya. Jika lelaki terlalu takut untuk kehilangan semua wanita wanita yang dimiliki,ia juga harus berani melepaskan dan memilih satu saja. Tetapi lelaki memang pengecut untuk bisa memilih. Saya hanya berharap Drupadi mempunyai blog,dimana ia bisa menuliskan perspektifnya. Siapa tahu ?

read more ...

Thursday, November 22, 2007

VIVINK



Vivink . Begitu namanya. Saya juga tidak mengetahui namanya lengkapnya, kecuali Pinkina nama yahoo messenger IDnya. Saya belum pernah bertemu, dan ia biasa mengunjungi blog saya sekaligus berbincang bincang di cetingan. boso jowo terus. Kalau melihat profilenya - ibu muda berkerudung asli Bojonegero - yang baru menikah ini sepertinya manis dan ayu.
“ Mas, sampeyan kenal Hanung Bramantyo ? “
“ Mas, kalau kerja piye…? “
“ Lho orang film kok sepertinya foya foya terus "
" Orang film suka kawin cerai to mas "
Saya buru buru meralatnya.
" Iya tapi lebih banyak ulama yang poligami daripada orang film "
Banyak sekali pertanyaannya. Curious dan polos. Saya jelaskan kalau tidak semua orang film bejat, ada yang alim juga. Ada juga yang berasal dari keluarga soleh.
“ Ponakan Gus Dur, anaknya Gus Solahuddin Wahid juga sutradara film , sembahyang jengking terus, walau banyak Tank top dan G string berseliweran “. Demikian saya menambahkan.
“ Trus kalau sampeyan yang mana ? “
Ciloko. Ini YM atau interogasi polisi.
“ Wah, ben Gusti Allah yang menilai saja deh..” demikian saya ngelesnya.

Vivink memang selalu rajin menyapa saya di dunia maya. Baginya, komunitas film adalah sebuah jurang yang sangat jauh untuk dibayangkan. Sekaligus bertanya mengenai sebuah pemahaman tentang dunia yang sulit di mengerti. Sebuah dunia Film. Ini memang tidak mudah merubah stereotype komunitas yang biasa dilihat di Infotainment, majalah dan tabloid gossip. Tapi Vivink selalu meminta jawaban. Ia bisa ngambek kalau saya lama menjawabnya di YM.
“ Mas main ke BHI dong “
“ Mas no Hp mu piro ? “
Sampai sore kemarin saya menerima sms dari Vivink, meminta saya datang ke Bunderan Hotel Indonesia, tempat dia akan berkumpul dengan teman temannya. Komunitas BHI yang legendaris. Tentu saja saya janjikan setelah acara bersama Ida Arimurti di Delta FM selesai. Tetapi bukan Vivink kalau tidak posesive. Sehingga saya harus mematikan hp saya, takut frekwensi sms bisa mengganggu acara siaran.
“ Vink..Aku mau siaran dulu “.


Akhirnya saya bertemu Vivink, di depan teras fountain air mancur Grand Hyatt Hotel, di pinggir jalan protokol. Sebuah tempat yang begitu familiar hampir sepuluh tahun yang lalu. Pada masa periode Mei – November 1998, ketika tempat ini bersama gerbang lobby hotel Mandarin, Indonesia dan Grand Hyatt menjadi titik titik pangkalan tukang ojek . Menjadi armada transportasi bagi jurnalis, kameramen dari seluruh penjuru dunia yang melaporkan kerusuhan dan pergolakan dasyat di negeri ini. Karena transportasi lumpuh, maka ojek digunakan untuk menembus gang gang pojokan kota menuju daerah konflik. Saya teringat begadang bersama rekan jurnalis dan kameramen TV dari Inggris, di tempat ini. Dan sekarang ditempat yang sama, saya duduk bersalaman dengan gadis mungil yang bola matanya melompat lompat meminta jawaban. Tentu saja, saya berterima kasih dengan Vivink, kalau bukan karena dia, tentu saya tidak sempat berkenalan dengan teman teman baru Hadik , Endik , Bambang , Mita , Pitoh disamping Iqbal dan Ipul yang sudah saya kenal lebih dahulu. Pertemuan ini memang menyegarkan, dan saya menikmati teh manis, dan sate kikil pinggiran jalan. Melihat perjuangan sisi lain manusia manusia yang membangun kesempatan di kota besar ini. Dan saya percaya bahwa kita bisa eksis dan bernafas karena perjuangan hidup ini. Sesulit apapun. Juga jauh lebih penting, bahwa orang orang seperti Vivink bisa melihat bahwa manusia film seperti saya adalah biasa biasa saja, sama seperti manusia manusia yang dilihat di setiap tikungan kehidupannya. Tak perlu menduga duga mengenai akhlak ataupun sisi kehidupan yang berbeda.

Sayang sekali Vivink harus pulang lebih cepat. Padahal saya tahu ia masih ingin menikmati di sini, sebagaimana saya ingin dia lebih lama di sini. Tapi sebagai istri yang sakinah, ia memang tak bisa membiarkan suaminya menunggu di rumah. Ia juga tak sempat bertemu dengan buanadara – selebriti blogger baru – yang tiba tiba muncul menyusul kopdar ini. Namun Vivink, tetaplah Vivink. Sebelum pulang ia masih saja posessive.
“ Anakmu piro mas “
“ Mas, lahir tahun berapa “
“ Mas, lho itu HP mu yang lain ya,..piro nomere mas “
I love u Vivink.

read more ...

Wednesday, November 21, 2007

BLOG SAYA YANG SAYA CINTAI



Beberapa hari terakhir saya mendapat kiriman pesan melalui Yahoo Messenger, baik orang yang saya kenal dan ada juga yang memang tidak mau memperkenalkan dirinya,..
” saya bukan siapa siapa, hanya pembaca setia blog mas Iman “.
Intinya, bahwa – ini yang tidak saya duga – mereka mempertanyakan mengapa saya merubah gaya menulis saya akhir akhir ini, dengan hanya menulis ‘ remahan ‘ ringan ringan. Dengan kata lain mereka protes karena tulisan saya yang cenderung ‘cair’. Terus terang ini juga mengagetkan saya, pertama , karena saya tidak menyangka bahwa di luar sana ada mereka mereka yang begitu memperhatikan rumah sederhana milik saya dan menjadikan isi tulisan saya sebagai tautan yang patut dibaca. Kedua, saya juga tidak berpretensi bahwa gaya tulisan ini memiliki benang merah emosi dengan orang orang yang tidak saya kenal di luar sana. Ini jelas menyejukan, memberikan pesan bahwa saya selayaknya merawat rumah ini sebaik baiknya, sepenuh hati. Ketiga, bagi saya menulis bukan ritual yang harus memiliki pola dan struktur yang sama. Menulis, bisa menjadi cair, sederhana, apa adanya dan di sisi lain bisa juga menjadi bentuk penyampaian sebuah gagasan apapun. Sehingga, sampai sekarangpun saya tidak tahu apakah tulisan tulisan ini memang sedemikian bisa dinilai dengan mudahnya.

Terus terang menulis adalah passion. Tinggal seberapa jauh kita memelihara passion ini, terlebih dengan adanya loyalitas pembaca, membuat saya berpikir untuk tidak menganggap remeh hal ini. “ Our blog is a brand eventually “ . Blog kita adalah sebuah produk atau merek. Salah satu unsur untuk memelihara sebuah brand dari philosophy pemasaran adalah menjaga loyalitas pembeli atau pemakai. Jangan salah, ini juga bisa menjadi resiprokal, ketika saya juga menjadi loyalis pada blog blog lain yang begitu menarik dan sekaligus memberikan pencerahan. Setidaknya ada hampir 200 nama dalam feed reader bloglines saya yang secara rutin patut dikunjungi.


Keanekaragaman tulisan semestinya membuat pilihan yang menarik bagi blog, dan saya percaya bahwa mood, suasana kehidupan mempengaruhi apa yang akan saya tulis. Tentu saja, saya tidak begitu percaya diri untuk menampilkan semuanya. Diam diam saya juga mempunyai sebuah blog khusus puisi puisi saya yang selama ini tersembunyi. Sepi , sendirian di pojok sana, Kadang saya berpikir ingin menulis olahraga seperti mas pencinta bola ini , atau bahkan resep masakan, karena salah satu hobby saya memasak. Tanyakan pada Om Ong yang pernah mencicipi kepiting saus tiram dan udang saos padang racikan saya. Begitu banyak catatan ruang waktu, ruang kehidupan yang ingin saya tawarkan dalam dunia blog ini. Tentu saja saya berharap bisa memberikan sebuah rumah persinggahan yang membuat orang betah. Karena pada mereka di luar sana, baik yang saya kenal atau tidak, adalah tujuan sesungguhnya rumah ini dibuat. Menjadikan tempat berteduh yang rindang, serta memuaskan rasa dahaga dengan oase kehidupan. Karena hidup menjadi jauh lebih menarik jika kita bisa memberikan sedikit saja bagian kita kepada orang lain.

Ketika saya memberi alasan kepada teman tersebut, “ ah itu khan hanya ngecek ngecek ombak, lihat respons jika saya menulis dengan gaya lain..”. Sesungguhnya saya berbohong, karena memang saat itu saya tak bisa menahan passion menulis hal hal ringan saja. Tentu saja saya bukan sekadar ngecek ngecek ombak juga, dengan menerima tawaran Ida Arimurti untuk bincang bincang mengenai dunia blog, Rabu malam ini jam tujuh di Delta FM. Mewartakan blog yang saya cintai, sebagaimana saya mencintai teman teman blogsphere di luar sana.

read more ...

Sunday, November 18, 2007

BEAUTIFUL HOTEL FOR BEAUTIFUL PEOPLE




Jangan dikira ini adalah judul lagu. Ini adalah moto atau slogan hotel, di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Beautiful Hotel For Beautiful People – Ada yang bisa kami Bantu ? begitulah secara lengkap kita baca. Agak bingung, maksudnya apa. Mestinya konsultasi dulu dengan pakar branding seperti Hermawan Kartajaya atau ke Totot . Yang jelas hotel ini tidak bisa dikatakan cantik. Lorong yang gelap remang remang, kasur yang apek, semua bantal di kamar saya berbordir huruf HUC - nggak jelas maknanya - lalu pegawai, roomboy yang loyo loyo dan penuh selidik. Suatu penggambaran yang kita lihat dalam film film sewaktu di tokoh utama terdampar di kota kecil. Tapi saya juga tidak peduli, yang jelas hotel pilihan dari location manager saya - Kenti - layak ditempati. Tentu sebagian pembaca sudah mengenal Kenti lewat postingan saya sebelumnya .

But, the story continues, yang menjengkelkan waktu tidur saya selalu terganggu. Ada saja, dari orang yang mengedor gedor kamar. Sambil sempoyongan karena kaget dari tidur, saya membuka pintu.
“ Oh maaf pak saya kira kamar 304 “ . berdiri seorang bapak tak dikenal tanpa ekspresi.
Belum sempat mimpi, telepon jaman baheula yang masih memakai putaran jari jari berdering dering.
“ Bapak tadi pesan kopi susu ? “ tanya wanita diseberang sana.
Lalu terbangun lagi dengan suara gedebak gedebuk di atas plafon kamar mandi.
Cilaka, bagaimana saya bisa istirahat, padahal besok call time jam 6 pagi di lokasi.


Tapi saya mencoba tidak menyesal. Bukankah ini pilihan saya sendiri, untuk lebih dekat ke lokasi syuting. Bisa menghemat waktu satu jam perjalanan, jika saya tidak bermalam di Semarang. Padahal ada pilihan tinggal di Santika atau Novotel yang jauh lebih beradab. Selalu ada hikmah dari sebuah kejadian terburuk sekalipun yang menimpa kita. Saya pernah mengalami hal yang jauh lebih buruk dari kamar hotel ini. Saya pernah tidur di gorong gorong parit kebun tembakau di Wonosobo sambil menunggu matahari terbit, atau berhari hari tidak mandi di atas rumah laut suku Bajau. Perjalanan di pelosok negeri ini selalu memberikan warna warna mengenai potret keanekaragaman dan cermin peradaban. Sebuah canda senyuman, dan juga tangisan. Sebuah Indonesiana yang membuat rindu.

Malam semakin dingin, dan perut keroncongan membuat saya turun ke lobby untuk meminta petugas hotel membelikan bebek goreng pinggiran jalan. Di gang koridor saya curiga karena melewati gadis gadis yang cekikan melihat saya. Bingung karena tadi siang sepertinya hotel ini sepi sepi saja. Saya menoleh ke belakang, satu satu masuk ke kamar crew saya. Hm..I got the picture, tapi masih penasaran. Setibanya di lobby saya lihat Kenti - cengar cengir seperti anaconda minta kawin - sedang duduk duduk dengan gadis menor lainnya. Seketika rasa penasaran saya terjawab.
Makdirodok, kata orang Betawi, gue terjebak di hotel cabul ! Jadi inilah yang dimaksud beautiful hotel for beautiful people.
Apakah ini penyesalan juga atau justru hikmah ?

read more ...

Thursday, November 15, 2007

SAYA KAPOK




Ketika memasuki pesawat Adam Air menuju Semarang, semua orang tersenyum simpul melihat kaos yang saya pakai ini. Termasuk ketua DPR - your excellency mr. Agung Laksono, welcome aboard, demikian si pramugari menyuarakan di intercom - yang duduk di barisan depan. Kaos “ Saya kapok melancong ke Malaysia “ dibeli di sini , dan bisa menjadi counterpart kampanye Visit Malaysia Year 2007, daripada resiko di jaring dan digebukin pasukan Rela Malaysia. Kapok, demikian diartikan suatu penyesalan yang teramat dalam, takut untuk mengulangi dan ada unsur traumatisnya. Persis waktu kecil di jewer simbah putri, karena nyemplung di bak mandi ndaleman cemoro jajar. Tentu saja tangisan saya adu kencang dengan kegeraman simbah, “ ben kapok kowe “. Sambil ngenyot air mineral yang adem, satu satunya hidangan khas Adam Air, saya berpikir lelucon memble – Saya Kapok - bisa juga dibuat kaos untuk berbagai issue di seputaran hidup kita. Saya Kapok Jatuh Cinta Lagi, Saya Kapok Makan Rezeki Anak Yatim. Saya Kapok Ngisap Shabu Shabu. Apakah ada yang anda pikirkan sama dengan saya sekarang ?

read more ...

Wednesday, November 14, 2007

SESAKRAL APA TULISAN BLOG



Judul ini memang secara inspiratif saya comot dari sebuah komentarnya Triadi di postingan saya terakhir. Tentu saja tanpa ijin. Wong Triadi saya asumsikan teman yang baik, legowo dan tepo seliro. Sesakral apa sebenarnya tulisan blog. Lho ini tulisan kok seperti pohon randu di pojokan ujung komplek saya. Kadang kadang ada yang menaruh umbo rampe, sajen atau anak anak kecil suka ketakutan kalau melewati sesudah magrib. Tulisan memang klenik ?, punya wibawa segala, Padahal saya cuek aja, pohon randu itu saya paku buat menjadi bentangan spanduk pengumuman sholat ied.
Sik sik mas, ini balik ke topik kopas lagi ? Bukannya sudah ada perdamaian ?
Oh iya. Tapi saya boleh cerita sedikit masa lalu khan. Begini, sewaktu saya lulus kuliah dulu, ternyata tulisan di kata pengantar skripsi saya dipandang teman teman sangat bagus. Walhasil mereka juga minta dibuatin tulisan kata pengantar buat di skripsinya. Dapat ditebak, ada sekitar 15 – 20 skripsi yang memiliki gaya tulisan hampir sama pada kata pengantarnya. Tapi siapa yang mau peduli ide hak cipta hampir 20 tahun yang lalu itu ? tentu saja mereka semua mengklaim pada pacar, keluarga sebagai hasil tulisannya sendiri. Tapi saya masa bodoh, wong pohon randu tempat semayamnya genderuwo saya paku, apalagi tulisan. Nggak ada sakralnya.



“ Nanti dulu, sampeyan bukannya pernah mengatakan kopas itu salah “
Benar, secara konsepsi memang sudah salah. Nggak kreatif amat sih. Mau kopas plek ketiplek semuanya, sepotong sepotong atau secara inspirasi. Ya nggak mutu.
“ Tunggu mas, ..jadi inget cetingan sama adinda Herman Saksono , katanya nggak apa tulisannya dikopas sepanjang bukan buat old media atau established journalism “
“ atau kutipan fanabis , silahkan ambil tulisannya karena ide tinggal metik di udara “
Ya itu poinnya, Rhenal Kasali bilang harus ada commercial value sesuatu barang bisa dinilai dan dipertahankan. Kalau buat pribadi pribadi aja sih feel free. Ustad Landy saja bilang, silahkan kopas tulisan saya, karena mereka tidak mungkin ngopas pikiran saya. Kalau cuma dikopas anak kecil yang baru ngeblog sebulan, nyantai jekk..Tapi kalau yang ngopas bloger tahunan, tak kamplengi ! gua gebukin tau rasa.
“ Lho mas kok gak konsisten nih “
Dasar pekok, ndesit kowe. Terserah saya dong. Kalau ada yang setuju kopas, setuju pakai syarat, atau tidak setuju ( tapi setuju pakai software bajakan, beli dvd bajakan, download mp3 ilegal ) ya monggo monggo saja. Should we proud living in democrazy right.

“ Mas mas, Kok tulisan di posting ini mirip mirip gaya tulisan ndorokakung , ini kopas secara inspirasi ya “
Sudah sana minggat ! urusan gaya tulisan kok diperhatikan. Saya mau mandi, keramas, dandan dulu. Nanti ada konperensi pers FPB front pembela buanadara di Setiabudi building.
????

read more ...

Sunday, November 11, 2007

AYO BUNUH SEMANGAT BLOGNYA !



Malam minggu kemarin. Waktu itu hujan deras seharian, alih alih nonton Liga Inggris, malah saya terlibat join conference sampai jam 3 pagi dengan Ndorokakung , Anto , Tika , Mas Mbilung , dan Herman Saksono . Dimulai menjelang maghrib dapet buzz dari Anto mengenai suatu topik yang sedang hangat hangatnya di dunia blogsphere. Copy Paste bin kopas. Ternyata selama saya menghilang seminggu di Papua, saya sempat kehilangan berita up to date ini. Saya sebutkan saja, Buanadara, model saya yang pertama kali mengenal dan belajar blog dari saya, ternyata melakukan copy paste dari blog lain tanpa seijin pemiliknya.
Walahh..apa yang kamu cari buanadara ?
Saya mencoba masuk ke blognya, ternyata sudah dihapus.
Walhasil saya hanya bisa pelan pelan menyusuri berbagai blog persinggahan yang mentautkan permasalahan ini, mencoba mengerti duduk persoalannya.
Masih terbayang ketika saya browsing kesana kemari, blogwalking di sela sela kesibukan syuting di studio. Sebuah mata, bulat besar meloncat loncat mencari tahu jawaban, apa yang saya kerjakan. Sebuah blog baru, dunia baru baginya, seorang gadis berusia 18 tahun yang sebelumnya begitu memuja muja friendster. Dalam 2 hari syuting itu, pelan pelan saya membawanya kesebuah lompatan besar dalam hidupnya. Sejak itu saya tak pernah bertemunya lagi. Sesekali saya melongok ke blognya. “ Sudah berani posting rupanya “.

“ Wah sadis, kejam komen komennya “
“ langsung dibantai dia “
“ hajar tanpa ampun “
Menyesal saya tidak sempat membaca komen dan tanggapan yang masuk ke blognya.
Saya bisa membayangkan betapa stressed outnya dia. Seperti anak kecil yang pertama kali ketahuan nyontek. Gemetar ketakutan dan menjauh. Menunduk pasrah.
Apakah ini perlu sejauh ini ? menakut nakuti anak kecil yang masih belum tahu apa apa mengenai dunia blog, apalagi masalah etika dan pencurian hak cipta. Perlukah kita memukuli, menampar anak kita sendiri yang ketahuan sedang ‘nyolong’ makanan di bulan puasa ? Jika kita kita sok munafik bicara hak cipta, saya berani bertaruh sebagian besar dari anda ( dan saya sendiri ) biasa membeli cd dan dvd bajakan, download lagu lagu, dan mencomot foto disana sini tanpa ijin. Kopi paste memang salah, apapun alasannya. Namun haruskah kita membunuh seseorang yang baru saja memasuki dunia blogsphere. Mungkin dia tak akan pernah memasuki dunia ini lagi.
She just eighteen, belum sebulan mengenal blog dan jumlah postingan mungkin dibawah 5 buah.Sebagaimana anak kecil, jika dia suka pada sebuah barang ( atau tulisan ) dia akan berusaha mendapatkannya. Dia berusaha menjadi apa yang dikaguminya, seperti gadis gadis ingin menjadi Britney Spears, meniru model rambut Demi Moore jaman dulu, ketika film ‘ Ghost ‘ meledak. Tanpa berpikir konsekuensi , cocok apa tidak, halal atau haram. Siapa sih diantara kita yang tidak pernah nyontek sewaktu sekolah ? Terus terang , saya yang membuatkan settingan disain, serta menyarankan memakai nama Buanadara. Sebuah kata kata yang mengingatkan pada sebuah film tiga dara tahun rekiplik. Sebuah dunia gadis gadis sebayanya.


“ Blog kamu kenapa sudah nggak ada ? “
“ h4bis bet3 maz…koMennya akuw gAk tah4n “
“ Lho memang orang komen apa, paling paling pada flirting sama kamu “
“ NggAk pp..udah dunk , jgN ngUngkit blOg lage,..”
“ Ah jangan jangan disuruh pacar kamu nutup blog, soalnya dia cemburuan “
“ Khan akuw gAk punyA pacar maz…ugh “
( oh ya alhamdulilah )
Rupanya dia malas menceritakan hal sesungguhnya, tapi saya telpon lagi, jam jamnya Dieder Drogba sedang kena kartu kuning, di sela sela chatting conference yang makin lama bertambah ‘ngeres’.

“ Saya tahu semuanya…” dia diam sambil bingung mau jawab apa.
“ kamu mau ngaku salah di depan teman teman ini..”
Lama menunggu.
“ iy4hhh,..akuw mau mazz, akuw nyesel niy “
“ kh4n akuw udah ngakU salah, tapi kOk merekA pada Siniz dan Sadiz sama akuw “
“ kamu berani saya ketemukan dengan yang punya blognya atau mereka mereka di luar sana “
( langsung saya email dewi dan nge-sms ndorokakung )
“ bErani maz, akuw mo minta ma4f “
“ oks hariXXX after office hour disini XXX jam XXX “
“ mazz akuw bol3h aj4k temenku, si …. yang presenter MTV ,.akuw takut ndriAn“
( oh boleh boleh sambil tersenyum mengembang )

Kembali ke chatting. Makin malam ndoro kakung makin ‘ seru ‘ sementara tika mulai kebingungan diusir dari mbak mbak cafĂ© yang mau tutup. Saya berpikir, siapakah yang lebih mulia dari mereka mereka yang berani mengakui kesalahannya ? Apakah buanadara akan bangkit kembali. Saya ragu. Kita telah membunuhnya.

read more ...

Saturday, November 10, 2007

SIAPAKAH PAHLAWAN ITU



Ketika saya masih kecil, bayangan pahlawan bangsa itu adalah mereka yang bertempur melawan penjajahan Belanda. Dengan selempang peluru di badannya, bambu runcing atau menghunus pedang. Gagah berani, walau pada akhirnya kalah dan gugur. Tentu saja karena saya besar dalam masa pendidikan orde baru yang militeristik, membuat kesan sisi heroik pertempuran saja yang dikupas sebagai mitos kepahlawanan. Mungkin Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang memiliki banyak pahlawan. Selain pahlawan kemerdekaan, ada pahlawan nasional yang tidak melulu bertempur tapi dilihat dari perjuangan diplomasi, kontribusi pendidikan sampai kesetaraan gender. Ironis bahwa pahlawan menjadi bagian konstruksi sejarah menurut selera rezim penguasa negeri. Para jenderal jenderal yang apes karena dijemput tengah malam, untuk kemudian dibunuh PKI, mendadak sontak menjadi pahlawan revolusi. Padahal issue sosial saat itu, adalah jendral kabir – kapitalis birokrat – yang hidup mewah sementara prajurit di pelosok harus antri beras. Bahkan ada salah seorang dari mereka baru pulang dari pesta, sebelum dijemput pasukan cakrabirawa. Bisakah sejarah menjadi jujur tanpa terjebak dalam pemikiran sempit mitos kepahlawan ?


Umumnya orang mengetahui, pahlawan pers Indonesia adalah Adinegoro, padahal Tirto Adhi Surjo, jauh jauh sebelumnya sudah menerbitkan Koran Indonesia pertama. Hanya saja karena dia aktif di Sarekat Dagang Islam ‘ merah ‘ yang merupakan cikal bakal komunisme, sehingga namanya sengaja dihapus dari sejarah pers nasional. Beranikah kita menyebut pahlawan tanpa harus melihat ideologi dan sikap politik seseorang. Ribuan orang komunis mati dalam pembuangan oleh penjajah Belanda di digul, papua karena aktivitas politik yang menuntut kemerdekaan bangsanya. Kompas hari ini menyebutkan Presiden SBY menganugrahkan gelar pahlawan nasional kepada Adnan Kapau Gani, padahal jaman orde baru, sosok yang dahulu dekat dengan Bung Karno ini, diasosiasikan sebagai orang yang korup dan dicurigai bersimpati pada komunis. Tokoh Tuanku Imam Bonjol kini menjadi kontroversi yang digugat kepahlawanannya, dicurigai justru dia dan pasukan paderinya yang melakukan pembantaian terhadap keluarga Kerajaan Paguruyung di Minangkabau dan jutaan etnis Batak , sewaktu melakukan invasi ke mandailing.


Pertanyaannya apakah masih relevan mitos pahlawan dengan kondisi bangsa ini yang semakin membutuhkan terapi untuk kesejahteraan rakyatnya. Bahwa mitos perjuangan masa kini berbeda dengan perjuangan masa lalu, ketika masih ada puluhan juta penduduk bangsa ini yang terpinggirkan dan berjuang untuk bertahan hidup. Lepas dari kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Dahulu semasa kecil saya bertetangga dengan keluarga Ayu Ashari. Waktu itu namanya masih Khadijah, sebelum diganti karena dianggap kurang menjual di dunia film. Hidup keluarganya benar benar susah, dan sebagian besar pencurian atau keonaran di lingkungan kami pasti ulah dari kakak atau adiknya, entah itu Salim, Abbas atau Irba. Namun perjalanan hidupnya memang seperti tergambar dalam cerita cerita film, bahwa kemudian hari dengan perjuangannya, Khadijah bisa menjadi bintang film. Ia membebaskan keluarganya dari kesusahan, menyekolahkan adik adiknya, dan yang paling penting membuka jalan bagi adik adiknya untuk memasuki dunia film.

Terlepas dari kontroversi apapun sosoknya, bagi saya Khadijah atau Ayu Ashari adalah pahlawan bagi keluarganya, yang berjuang keras untuk penghidupan yang lebih baik. Kita bisa menjadi pahlawan sendiri bagi orang terdekat kita, keluarga, atau bahkan orang lain dan lingkungan kita. Ketika saya berada di lokasi syuting, secara tidak sadar saya dianggap pahlawan bagi 50 sampai 100 orang pekerja lepas, yang menggantungkan hidupnya di film. Bagi anak anak dusun Bangsari, sesungguhnya pahlawan mereka adalah bloger bloger yang membantu biaya pendidikan sekolahnya , bukan Patimura atau Diponegoro. Bagi saya juga, Iwan Esjepe adalah pahlawan yang memberikan kesadaran melalui situsnya bagaimana untuk lebih mencintai negerinya sendiri, Indonesia. Juga tak dilupakan guru guru kita. Ah, tiba tiba saja saya ingin besimpuh di pusara ayah saya, dia adalah pahlawan besar yang memberikan kesempatan luas untuk menjadi diri saya sekarang.
Selamat Hari Pahlawan !

read more ...

Thursday, November 08, 2007

KITORANG INGIN MERDEKA ?



Ketika Bung Karno pertama kali berpidato di papua, setelah penyerahan dari Belanda ke UNTEA tahun 1962. Ia mencoba mengambil hati penduduk asli papua dengan membawa ajudannya, Kolonel Bambang Wijanarko yang beragama Katolik. Sambil menunjuk kepada sang ajudan yang berdiri tegak disisinya, Bung Karno mengatakan bahwa Indonesia tidak melulu beragama Islam, bahkan ada yang beragama Kristen dan menjadi perwira TNI. Selanjutnya, sejarah Papua adalah potret buram kekerasan Pemerintah pusat terhadap penduduknya. Pemerintahan orde baru selanjutnya tidak berusaha mengambil hati penduduk asli papua. Sebagian besar penduduk mengganggap Pepera ( Penentuan Pendapat Rakyat ) tahun 1969 hanya merupakan manipulasi pihak Indonesia. Amerika Serikat tentu saja menutup mata - karena sudah mencium aroma milyaran dollar dari perut pegunungan Jayawijaya - begitu UU Penanaman Modal Asing dikeluarkan tahun 1967.

Pemerintah pusat mulai mendatangkan transmigrasi dari Jawa, pedagang pedagang dari buton, tukang becak dari Indramayu sampai gadis prostitusi, sesuai dengan tuntutan kemajuan jaman. Waktu itu orang orang papua dipaksa untuk menanam padi bersaing dengan para transmigran, padahal sudah sejak jaman nenek moyang mereka memakan sagu. Akibatnya, karena tidak memiliki pemahaman bercocok tanam ala orang jawa, mereka selalu gagal panen. Masyarakat semakin bodoh, karena pendatang menguasai perekonomian, dan birokrasi, sehingga penduduk asli bertambah terpinggirkan. Kini Papua adalah salah satu daerah yang terinfeksi HIV tertinggi di Indonesia. Namun ketika semuanya terlambat, pemerintah pusat mulai berbaik hati dengan memberikan porsi putra daerah. Bahkan paket otonomi serta pembagian keuntungan dari penambangan dan hasil bumi yang semakin membesar ternyata tidak memuaskan mereka. Bagi mereka kekerasan aparat yang telah membunuh orang papua sebesar seratus ribu orang – data Amnesty Internasional – sejak tahun 1969, kemudian kecemburuan sosial terhadap pendatang, membawa impian impian sebuah negara merdeka yang berkuasa atas pengelolaan kekayaan alamnya. Jika sekarang diadakan referendum di Papua, hampir dipastikan mayoritas akan memilih berdiri sendiri. Mereka selalu menggugat terhadap sejarah resmi bahwa rakyat papua memilih masuk Indonesia.


Konon, mantan Presiden Soeharto pernah marah ketika Obahorok, salah satu kepala suku terkemuka dari lembah Baliem mengawini seorang peneliti bule asal Amerika. Semua orang tahu bahwa wanita itu hanya ingin mendapatkan bahan disertasinya mengenai budaya suku suku pedalaman di Papua. Kemudian Obahorok dihadapkan kepada Presiden Soeharto di Bina Graha. Berdua sambil menikmati cerutu kuba, Presiden Soeharto mengajari pentingnya perlindungan asset budaya, padahal sesungguhnya, penguasa orde baru sangat kuatir jika ‘ borok = borok ‘ pendudukan Indonesia di Papua akan terbongkar. Memang benar, setelah setahun mendapatkan data data yang dibutuhkan, wanita itu pergi meninggalkan kepala suku. Menarik bahwa, ditulis salah satu kebiasaan lokal yang disebut ‘ bungkus ‘. Sejenis ramuan lokal dari daun daunan yang membungkus alat kelamin pria selama beberapa hari sebelum akhirnya menjelma menjadi ‘monster ‘ yang besar. Permanen, tanpa pantangan makan pisang mas seperti brosur brosur Mak Erot di Jawa Barat. Penasaran, saya ingin melihat ‘ hasil karya ‘ seseorang crew kami asli papua. Astagafirullah, saya seperti melihat seorang kucing yang sedang tidur di bawah perutnya. Jangan jangan Obahorok sendiri bilang kepada Presiden Soeharto, bahwa justru wanita Amerika itu yang menjadi bahan penelitian atas ramuan tradisional papua !


Memahami mereka, dan memberikan hak hak secara egaliter adalah kunci yang sebenar nya kita lupa. Bahkan kita selalu mengganggap mereka sebagai budaya jaman batu yang terbelakang, dengan jumlah suku sebesar 230 buah, sekaligus etnis dan bahasa yang berbeda. Kebetulan saja kita memperoleh kesempatan maju lebih dulu. Perbedaan pola pikir ini membuat mereka sendiri tidak mengganggap bagian dari bangsa Indonesia, tetapi sebagai sub bangsa Melanesia yang berbeda. Apa yang mereka lihat di TV sehari hari adalah wajah wajah melayu, oriental, indo yang jauh dari wajah keseharian mereka. Padahal mungkin tidak ada salahnya mencoba model rambut keriting seperti mereka untuk iklan shampoo. Ketika kami berpisah di bandara Domine Eduard Osok, Sorong sambil menunggu pesawat Merpati yang akan membawa ke tanah jawa. Tadeus, guide putra daerah asal kepulauan Raja Ampat berbisik,.” Bapa tidak menyesal, tidak mencoba ‘ bungkus ‘ ? .
Jadi merdeka memang tidak semudah itu, lebih mudah berjualan resep ‘ bungkus ‘ !
Apakah ada blogger asal Papua yang bisa memberikan pencerahan ini kepada saya ?

read more ...