Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Wednesday, October 31, 2007

SUARA BARU INDONESIA




Sewaktu blog ini tiba tiba mendapat kehormatan masuk ke dalam nominasi 5 besar blog dalam ‘ current issues ‘ di Pesta Blogger , sebelum akhirnya tereliminasi karena kalah bersaing dengan blog blog mumpuni seperti Priyadi , Perspektif dan Ndoro Kakung . Saya sempat mempunyai prasangka, “ Wah ini berkompetisi dengan orang dalam sendiri “. Karena nama nama diatas adalah panitia atau orang orang yang menyelenggarakan hajatan ini. Tentu saja saya berasumsi sebuah adagium yang berlaku di sebuah perlombaan. yakni karyawan, juri dan anggota keluarga di larang ikut serta. Namun akhirnya saya harus membuang syak wasangka ini. Karena pertama – walau masih bertanya tanya apakah di belahan dunia lain ada perlombaan blog seperti disini - namun dalam alam demokrasi semua mendapat hak yang sama. Kedua, ketika hendak mengisi votting, saya melihat salah satu nominator dalam kategori pendatang baru, berdiri di sebelah meja komputer sambil meminta saya memilih blognya. Cilakanya saya tak bisa menolak bola matanya yang kelap kelip memohon, mengingatkan anak saya kalau meminta buku komik di Gramedia. Saat itu saya yakin bahwa blog mempunyai sesuatu yang dapat dipersandingkan, sekaligus menjadi ruang pameran diri kita. Ia tidak seperti media mainstream lainnya yang kita kenal.

Blog adalah adalah rumah kita. Sebuah halaman remah remah keseharian, jendela gagasan, dan pintu informasi. Ini menjadi sangat personal dimana kita wajib merawatnya dengan passion dan mempercantik agar orang betah mampir ke rumah kita. Mungkin ini yang dinamakan Suara Baru Indonesia. Konsistensi Wimar, Integritas Priyadi atau keunikan Ndoro Kakung menjadikan saya sadar bahwa blog mereka adalah suara suara yang semestinya mendapat reward, agar supaya memacu blogger blogger lain bisa membuat suara yang jauh lebih hebat. Namun tragisnya bahwa suara suara baru itu hanya berkutat di lubang yang sama. Kita seolah menjadi katak yang merasa besar dalam lubangnya sendiri. Lihat saja, minimnya pemberitaan di media konvensional tentang Pesta Blogger, karena dianggap tidak ada added valuenya. Konon suara blog bisa merubah dunia, tetapi bagaimana menyampaikan ke luar sana ? Masa kita hanya berteriak teriak dalam dunia sendiri, di dalam komunitas melek internet yang hanya 9 % dari jumlah populasi. Dari jumlah itu hanya sekitar 100.000 – 130.000 orang memiliki blog. Idealnya siapapun yang melihat blog kita, akan melihat rumah Indonesia kita, yang begitu rumit permasalahannya. Begitu kaya negeri ini dan sekaligus begitu berat bebannya.


Juga sama rumitnya bagaimana kita berargumentasi dengan orang Papua, sewaktu anjing atau babinya mati tertabrak mobil yang kita kendarai. Pasalnya, mereka akan menghitung kerugian dengan menghitung jumlah putting susunya. Jika harga seekor babi ditakar Rp 200,000,- dan babi mati itu mempunyai putting susu 6, tinggal dikalikan saja. Walhasil kita membayar Rp 1,200,000,-. Alasannya bahwa dari satu susu bisa menghidupi satu babi lagi. Sehingga seorang tetua di sana pernah – entah serius, entah becanda - mengatakan pada saya,
“ Lebih baik bapa menabrak perempuan saja, sebab susunya hanya dua…”
Inilah salah satu sisi Indonesia yang kita lupakan, atau kita tak pernah peduli.
Besok subuh saya harus sudah berada di airport untuk penerbangan ke tanah Papua. Ini adalah kesaksian kesekian kalinya atas tanah yang rakyatnya miskin dan terbelakang karena eksploatasi habis habisan korporasi multinasional maupun keserakahan bangsa sendiri. Saya tidak yakin ada sinyal internet dari Indosat IM2 di pedalaman papua sana. Jadilah selama seminggu ini pastinya menghilang dari peredaran. Namun siapa tahu keterasingan ini akan membuat saya lebih peka.. Siapa tahu juga dalam perjalanan ini saya bisa mendengar ‘ suara baru ‘ yang begitu sulit menyadarkan kita. Suara dari mereka yang tertinggal di halaman belakang rumah kita . Rumah Indonesia kita sendiri.

read more ...

Sunday, October 28, 2007

TERNYATA MEMANG HANYA PESTA




Apa yang saya kuatirkan, ternyata benar. Pesta Blogger kemarin memang hanya sebuah ‘ pesta ‘ , kumpul kumpul dan kopi darat secara massal. Plus dengan embel embel dibuka seorang Menteri yang dengan gempita mencanangkan 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional. Mau berharap lebih ? seperti deklarasi blogger Indonesia , nanti dulu. Dalam forum talk show, ketika ditanya strategi tujuan oleh seorang peserta, Chairman Pesta Blogger sendiri tidak mempunyai bayangan arah tujuan Blogger Indonesia. Bahkan moderator Wimar Witoelar sendiri tak bisa merumuskan dari seluruh peserta tentang definisi Suara Baru Indonesia, jawaban yang ada lebih ke tataran utopia. Jadi Memang tidak usah berpikir keras, bahwa Blogger Indonesia akan memberikan kontribusi pada bangsanya. Sabar, belakangan saja. Jika mengutip komentar Maya , “ ..setelah begitu seringnya melihat sesuatu yang cikal bakalnya bagus tergerus menjadi sekadar pop icon, saya takut Pesta Blog akan tertitik beratkan pada ‘ pesta ‘ dan ‘ pergaulan ‘. Jadilah memang kita bersilahturahmi, makan makan dan berkenalan dengan teman teman baru. Tidak ada yang salah , bahkan menyenangkan memang bertemu dengan mereka yang selama ini kita kenal lewat blognya, Tika , Mas Mbilung , Rina mpok Venus , Iqbal dan komunitas BHI , Totok , Rizka , juga tentu saja Enda sang empunya hajatan, yang mengguncang keras tangan saya, “ Oh yang ini namanya pak Iman “ serta lain lain yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Yang lebih mengharukan, saya tidak menyadari bahwa begitu banyak orang yang mengenal diri saya melalui blog abal abal saya. Ini bukan main main, selalu ada yang menegur atau mengajak photo bareng ketika melihat name tag tergantung di dada saya.


Banyak harapan teman teman bahwa ajang ini akan menjadi momentum kebangkitan blogger. Jika melihat sponsor yang ada tadinya saya berharap Nokia meluncurkan sebuah platform baru buat kemudahan bloging lewat handphone, atau Microsoft menyatakan bahwa seri tertentu Windowsnya akan dibagikan gratis ke seluruh rakyat Indonesia. Dan yang lebih menggelikan adalah justru Menteri Infokom menantang para blogger untuk menciptakan lagu kebangsaan blogger. Lagu ini harus tercipta tahun 2008 dan ada hadiahnya ! apakah ini ada hubungannya dengan kesukaan Presiden RI yang pandai menciptakan lagu lagu. Mestinya dia menantang blogger Indonesia untuk membuat web hosting asli Indonesia, atau mengajak bekerja sama para pakar IT , blogger untuk menciptakan teknologi tepat guna internet murah. Ketika bubaran acara, Pakde disebelah saya nyeletuk, “ Beginilah kalau Menterinya nggak tahu blog, paling baru tadi pagi dia nanya ke anaknya . “

Terus terang, saya jadi pesimis dengan masa depan komunitas blogger Indonesia dalam pengertian memberikan sumbangsih terhadap bangsanya, jika masih asyik saja terhadap dirinya sendiri. Justru penggalangan dana dari komunitas blogger untuk anak anak yang tak mampu bersekolah di dusun bangsari, Jawa Tengah lebih terasa bermakna. Jelas dan kongkrit. Namun secara keseluruhan saya angkat topi buat panitia yang telah bekerja keras mewujudkan acara ini. Hal hal kecil seperti kurang terkoordinasinya acara break out seassion, seperti Ndoro Kakung dan Ndobos yang harus teriak teriak agar tidak kalah dengan suara speaker di lantai bawah. Joko Anwar yang bengong karena tidak ada peminat yang datang ke acaranya, sehingga saya harus menemani ngobrol ngobrol mengenai dunia film. Semua itu tetap menunjukan Pesta Blogger sukses sebagai acara berskala nasional. Ketika duet MC berteriak..” Sampai jumpa di Pesta Blogger 2008 ! “ . Jangan jangan nanti kita disambut oleh Mars Blogger , karena bloger sudah menjadi bagian birokrat, seperti ABRI atau artis artis SAFARI jaman 80an.
“..Angkatan muda blogger Republik Indonesia,
siap sedia, mempertahankan, menyelamatkan,
Negara Republik Indonesia…”

read more ...

Wednesday, October 24, 2007

CERITA BLOGGER




Hujan rintik rintik masih membasahi jalanan di luar pagi ini, dan auditorium gedungMegaFlash masih terasa lengang. Jam masih menunjukan jam 9 pagi, namun suasana sebuah hajatan besar sudah tergambar di area itu. Bangku dan meja meja tersusun rapi, beberapa petugas sedang mengecek sound sistem dan screen projection, serta beberapa karangan bunga berjejer rapi di teras. “ Congratulations Blogger Gathering 2007 “. Seseorang gadis dari event organizer sibuk memberi perintah dan sesekali berbicara di telepon genggamnya. Memastikan semua berfungsi dan correct.
Nding, lelaki separuh baya, seorang petugas cleaning service gedung itu perlahan menggeser ember yang berisi cairan pembersih lantai gedung mewah itu. Ia sudah selesai mengepel lantai agar mengkilap untuk menyambut tamu tamu. Sesekali ia melirik ke spanduk dan poster di dinding. Pikirannya berpikir keras, apa gerangan mahluk Blogger itu. Belum selesai ia menebak nebak, bahunya di tepuk dengan keras. Seorang lelaki muda parlente sambil membawa tas laptop menyapanya.
“ Wah kepagian saya, benar acaranya disini pak ? “
“ hm..iya cuma saya nggak tahu mulai jam berapa ..”
“ memang mas juga tamu undangan ? “ selidik Nding.
“ Lha iya, saya jauh jauh datang untuk mensukseskan acara ini, pertama kali blogger Indonesia berkumpul untuk menyuarakan sebuah iklim ngeblog yang positif “


Nding bertambah pusing tidak mengerti arah pembicaraan.
“ blog saya jari-jariampuh dot com, adalah salahsatu barometer blog nasional “ Si mas ini melanjutkan dengan percaya diri.
“ Blogger itu apa sih mas “ tanya Nding hati hati.
“ Wah bapak ketinggalan jaman nih, internet..internet, alternative media masa kini“
“ kornet,..apa net ? “ Nding semakin tidak mengerti.
Tiba tiba si mas, berbisik sambil menunjuk ke seseorang.
“ Wah itu Dinda Napitupulu, blogger kondang yang tinggal di Vietnam..”
“ Maaf pak, permisi dulu....saya harus menyapanya “
Rupanya Dinda sedang asyik berbicara dengan Fatah Soleh seorang blogger yang cuti dari sekolahnya di University of Rawalpiddi, Pakistan untuk ikut menyelenggarakan acara ini. Setelah memperkenalkan dirinya si Mas ikut terlibat dalam pembicaraan mereka. Si Mas menjadi tambah bangga, hidungnya kembang kempis menyadari bahwa eksistensinya cukup diakui di kalangan blogger. Belum ada semenit, seorang lelaki berkaca mata datang bergabung.
“ Mas Wibisono khan, alias kanjeng simbah di dunia blog ..” si Mas menyapa keras.
Mas Wibisono mendadak rikuh karena tangannya disalami keras keras. Tapi ia buru buru permisi karena hendak ke balik panggung untuk menyiapkan talk show seassion bersama seorang bloger lainnya, mas balung pemilik ngegaspol dot com.

Audoturium bertambah ramai dan dipenuhi orang orang. Salam salaman memperkenalkan diri, dan secara resmi acara dibuka. Si Mas semakin semangat berkenalan dan terus berbicara tentang blog. Ketika melihat Om Cetiau, seorang blogger kawakan. Si Mas langsung menghampiri dengan seketika.
“ Wah Om Cetiau.. apa kabar..kok nggak pernah ngebales comment saya sih, padahal saya aktif lho ngisi coment postingannya Om “
Om Cetiau yang asli Singkawang menjadi gelagapan disergah pertanyaan ini, dan batal menyeruput kopi susu yang disediakan panitia.
“ Betul betul saya nggak menyangka begitu hebat pertumbuhan blog di Indonesia “.
Om Cetiau dengan alasan kesopanan pura pura ikut menemani si Mas, bersama sama memperhatikan acara di panggung.
Si Mas manggut manggut dengan serius ketika Priyono blogger terkemuka lainnya berbicara di atas panggung, bahwa menurut Majalah Bussines Week memasukan Jakarta, Beijing, Mumbay dan Singapore sebagai 4 kota besar di Asia dalam “ blog belt “ dengan lalu lintas postingan dan komentar terbesar di antara 30 kota di dunia.


Hari bertambah siang, Nding sesekali membantu membereskan piring piring kotor sambil sesekali melihat diskusi tanya jawab di panggung sana. Ia semakin tidak mengerti ketika Adi Patra, seorang mantan wartawan tabloid Masa berbicara tentang era informasi media cyber. Nding sama sekali berada diluar jangkauan pemikiran tentang hak hak bloger, tentang bagaimana bloger menyampaikan gagasan terhadap umat manusia, hak asasi, lingkungan hidup, tentang multi level marketing dan bisnis online. Nding juga semakin sulit memahami bahwa kenapa tamu tamu ini bisa terlibat begitu antusias dan bersemangat memilih blogger selebritis.
“ Saya pikir selebritis cuma di infotainment aja mas “ Nding berbisik kepada si Mas yang kebetulan didekatnya.
“ Lho tentu saja ada Pak “
“ makanya buat blog aja pak, gampang tinggal ke warnet kalau nggak punya komputer “
“ ini era informasi “
“ ini juga sebagai kontribusi blogger terhadap peradaban bangsa kita “
Si Mas nyerocos terus sambil mengunyah paha ayam kedua yang telah dicomotnya.
Nding hanya bisa melihatnya dengan iri, tiba tiba saja ia teringat kedua anak anaknya yang begitu gembira dibawakan ayam bakar pinggiran jalan. Bagi Nding, lebih penting bagaimana ia bisa menyekolahkan anaknya, membayar kontrakan rumahnya, dan bisa hidup tenang tanpa harus kuatir akan terkena PHK.

Dalam bis yang membawanya ke rumah petaknya di pinggiran kota, Nding menghela nafas betapa semakin sulitnya kehidupan ini. Perlahan, ia melirik sub headline koran yang sedang dibaca seorang penumpang mahasiswa ‘ Kemiskinan semakin bertambah, 35 juta orang pada tahun 2005 dan tahun 2007 meningkat menjadi 39 juta orang ‘.
Jalanan bertambah macet. Nding semakin erat erat menggenggam bungkusan ayam bakar untuk anak anaknya.

Catatan Penulis : Semoga Blogger Indonesia tidak menjadi menara gading yang terasing ditengah bangsanya sendiri. Semoga Pesta Blogger, Muktamar Blogger atau bentuk apapun di berbagai penjuru negeri menjadi momentum suara Blogger. Maju, Blogger Indonesia

read more ...

Friday, October 19, 2007

MALAYSIA




Beruntung saya menemukan sebuah kaset jadul yang berisi Pidato Bung Karno pada peringatan Maulud Nabi tahun 1964 di mesjid Istana. Dengan bersusah payah membersihkan jamur di pitanya, akhirnya bisa saya pindahkan ke audio file di hard disk saya. Walau acara keagamaan, tapi Bung Karno masih sempat sempatnya menyelipkan pidato politiknya yang berapi api. Saat itu Bung Karno menyampaikan kemarahan yang luar biasa dalam acara Maulid saat itu, setelah dilaporkan para demonstran di Kuala Lumpur merobek bendera merah putih dan menginjak injak lambang Burung Garuda. Sampai saat ini, beberapa kali Indonesia yang mengklaim sebagai saudara tua harus mengalah kepada adik kecilnya di utara. Sebenarnya sejarah hubungan love and hate kedua negara sudah dimulai lebih dari empat puluh tahun yang lalu.

Ketika menerima kemerdekaan dari Inggris pada tanggal 31 Agustus 1957, negeri itu bahkan tidak mempunyai lagu kebangsaan. Dengan gagah berani dan percaya dirinya, mereka mencomot lagu keroncong Indonesia yang berjudul “ Stamboel Terang Boelan “, sebagai lagu kebangsaan dan mengganti liriknya. Presiden Soekarno dengan kesantunan seorang pemimpin besar negara tetangga, segera mengumumkan lagu idola buaya keroncong itu tidak boleh lagi dinyanyikan sembarangan di seantero Nusantara ( Tempo Edisi 15-21 Oktober 2007 ).




Sebagai pemimpin besar, jangankan sebuah lagu. Pesawat MIG saja dipinjamkan ke Pakistan, atau mengirim senjata satu kapal selam penuh ke Aljasair, untuk membantu kemerdekaan negara negara Asia Afrika. Sejak awal sesuai semangat politik Bung Karno, ia selalu mendukung dekolonisasi negara yang hendak merdeka, sehingga ia tidak menentang gagasan Malaysia. Bahkan dalam Manila Accord antara Tungku Abdul Rahman dari Malaysia, Presiden Macapagal dari Philipina dan Bung Karno, disepakati bahwa status daerah Kalimantan Utara akan dibicarakan lebih lanjut melalui referendum rakyatnya. Namun secara fait accompli pada tanggal 29 Agustus 1964 Tungku Abdul Rahman dan Inggris mengumumkan penggabungan Kalimantan Utara sebagai bagian dari federasi Malaysia . Bung Karno tentu saja marah, dan sejarah selanjutnya mencatat Sejarah mencatat politik konfrontasi terhadap Malaysia telah menimbulkan korban jiwa yang tak sedikit. Ribuan sukarelawan disusupkan lewat laut dan udara melalui Johor, Singapura, Sabah dan Sarawak. Pasukan Marinir, maupun reguler bertempur di hutan hutan Kalimantan dengan pasukan gurkha dan tentara Inggris, sebagai perang yang tak pernah diumumkan antara Inggris dan Indonesia. Perang selama 3 tahun yang karena sifat kerahasiaan dan tidak hadirnya wartawan dalam pertempuran, menyebabkan tidak banyak orang luar memahami, betapa dahsyat pertempuran yang terjadi. ( Thomas Geraghty, Who dares wins, the story SAS 1950 -1980 )


Setelah orde lama tumbang, kedua negara itu memulai hubungan baru. Awal 70-an Indonesia mengirim dosen, guru untuk membangun infrastruktur pendidikan di Malaysia yang saat itu baru memiliki satu universitas. Karya sastrawan Indonesia menjadi buku bacaan wajib di sekolah sana. UU Penanaman Modal Asing tahun 1967 menjadi blue print pembangunan investasi mereka juga. Mereka belajar industri perminyakan melalui Pertamina, Undang Undang Migas menjadi model yang ditiru plek ketiplek oleh Petronas. Mereka juga mengirim orang untuk belajar kedokteran, teknik di UI, ITB, UGM, Unpad, Airlangga, bahkan juga mengirim ke sekolah film di IKJ, serta menjiplak UU Perfilman Nasional kita. Coba lihat sekarang, gantian mahasiswa kita yang belajar di perguruan tinggi Malaysia. Pertamina sudah ngos ngosan mengejar Petronas menjadi pemain kelas dunia. Mereka juga memasuki perbankan dan industri telekomunikasi kita. Di dunia film, banyak orang film Malaysia yang mencari nafkah di Indonesia dan kita sekarang yang belajar film dengan mereka. Sekarang si saudara muda sudah menuai hasilnya, membuat mereka maju sebagai bangsa yang mandiri sehingga melahirkan perubahan pola pikir. Generasi baru Malaysia sekarang hanya melihat Indonesia sebagi pengekspor pembantu, buruh, TKI serta biang kerok kebakaran hutan saja. Ini membuat secara mental mereka lebih superior dan menjadi dengan gampangnya menyepelekan hubungan ras serumpun antar bangsa ini. Terus terang rasa kebangsaan saya terusik dengan masalah masalah ini. Mulai pencaplokan pulau Sipadan – Ligitan, kasus Ambalat, TKI yang dianiaya dan diperkosa wasit karate kita yang di gebukin, istri diplomat yang ditahan , batik yang dipatenkan oleh mereka, sampai terakhir pemakaian lagu Rasa Sayange hanya menjadi excuse dari sebuah bangsa yang merasa besar dengan huruf b kecil. Aroma emosi terlihat pada komentar masyarakat Malaysia pada sebuah postingan seorang blogger kondang di Kuala lumpur . Ada yang bilang Indonesia tak tahu terima kasih sudah dibantu sewaktu bencana tsunami, ada yang bilang silahkan ambil lagu itu lagi asal 2 juta TKI di Malaysia disuruh pulang lagi. Lihat juga komentar komentar dua bangsa ini , sehingga pemakaian alasan sebagai saudara serumpunpun sudah tidak tepat lagi. Rumpun yang mana ? Masing masing kita adalah entity yang berbeda, dengan budaya yang berbeda pula, hanya sebagian kecil persamaan budaya melayu di Sumatera atau dayak di Kalimantan.


Saya bertaruh pihak Malaysia tidak akan serta merta mencopot lagu itu, walaupun perusahaan rekaman Lokananta, di Solo sudah mengeluarkan bukti bahwa mereka pernah merekam lagu Rasa Sajange tahun 1962 sebagai bagian dari souvenir selama Asian Games 1962 di Jakarta. Ini masalah pride dan kebanggaan yang harus dipertahankan oleh mereka juga. Mana mungkin mereka mau mengakui lagu itu milik bangsa lain. Tentu saja haram bagi bangsa yang merasa superior. Tinggal kepada kita sendiri, bisakah kita merefleksikan diri sebagai bangsa yang besar dengan huruf B besar ? Perang secara fisik sudah memang sudah bukan jamannya , tetapi bukankah ada cara lain. Bisakah dunia blogger menjadi pemicu semangat kebangsaan kita ? mestinya bisa karena sudah ada momentum komunitas blogger Indonesia untuk melahirkan issue issue ini. Jika komunitas blogger di luar sana bisa melahirkan Blog Action Day mengenai issue lingkungan hidup, mengapa kita tidak memulai untuk issue kebangsaan kita sendiri. Ini juga bisa merupakan proses pembelajaran dari kasus ini untuk mulai mendata kekayaan budaya sendiri. Tetapi diam diam saya juga mengimpikan pemimpin kita memiliki sepersepuluh saja semangat dan amarah yang dimiliki Bung Karno.
Sambil membalas email untuk konfirmasi kehadiran ke chairman Pesta Blogger , bulu kuduk saya merinding mendengar suara Bung Karno,..” dilaporkan oleh radio Kuala Lumpur, woh Republik Indonesia,,.. Presiden Soekarno sudah tak di dengar lagi,..apa benar demikian saudara saudara ? Saya baru pulang dari Africa,..saya bisa berkata kepada saudara saudara,..belum pernah ! nama Republik Indonesia begitu tinggi seperti mercu suar bagi negara negara new emerging forces. Indonesia memberikan konsepsi, Panca Sila, berdikari…Justru di Afrika ide berdikari, woodohh dikagumi saudara saudara..Perkataan presiden Soekarno bahwa the crowning of independence is not membership of united nations, but the ability to stand on our own feet, mereka rakyat Africa dan orang mesir berkata..its rang through Africa..artinya menggelegar seperti beledek mangampar ampar..!, saya tantang Kuala Lumpur, mana suaramu !..Kalau boleh saya katakan Malaysia adalah negara tanpa konsepsi ! dalam hal pertahanan berulang kali , Hei Inggris tolonglah kami, Hei Australi tolonglah kami, Hei New Zealand kalau kau betul betul anggota Commonwealth, tolonglah kepada kami..tolong, tolong, mana berdikarinya saudara saudara ? sama sekali tidak !

read more ...

Monday, October 15, 2007

OUR TROPICAL RAINFOREST



These are more than 17,500 islands in Indonesia, strechted out along the equator like green, ruby and bronze beads of an exquisite necklace. These islands are endowed with vast biological diversity, and approximately one third of the huge number of spieces found on them are endemic. Indonesia stil has one of the largets remaining tropical rainforest in the world, many of which are managed as conservation area. Unfotunately these gifts from nature have been greatly damaged by three decades of exploitation.Indonesia's forests are being degraded and destroyed by logging, mining operations and large-scale agricultural plantations, and from time to time the regime of government always blame the indigenous and local people for shifting agriculture and cutting for fuelwood. I don’t believe that colonization, and subsistence activities cause a major problem of this issue. Their culture is to maintain close links between nature and life as they believe nature will protect them.


Logging for tropical timbers and pulpwood is the best-known cause of forest loss and degradation in the country. Indonesia is the world's largest exporter of tropical timber, generating upwards of US$5 billion annually, and more than 48 million hectares (55 percent of the country's remaining forests) are concessioned for logging. Logging in Indonesia has opened some of the most remote, forbidding places on earth to development. But do you know that 75 % of logging in Indonesia is illegal. Despite an official ban on the export of raw logs from Indonesia, timber is regularly smuggled to Malaysia, Singapore, and other Asian countries. This crime to our forest cause terrible damage, according to World bank data in 2002, every 12 seconds we lost 5000 meter square of tropical rain forest. Indonesia has a biggest contributor in the world as a forest destroyer by erasing 2 percent of its tropical rainforest. Between 1990 and 2005 the country lost more than 28 million hectares of forest, including 21.7 hectares of virgin forest. Its loss of biologically rich primary forest was second only to Brazil during that period, and since the close of the 1990s, deforestation rates of primary forest cover have climbed 26 percent. Today Indonesia's forests are some of the most threatened on the planet. Rainforest cover has steadily declined since the 1960s when 82 percent of the country was covered with forest, to 68 percent in 1982, to 53 percent in 1995, and 49 percent today. Much of this remaining cover consists of logged-over and degraded forest.


The effects from forest loss have been widespread, off course it will affect the global climate as tropical rainforest is actually a world’ s lung. Forest management in Indonesia has long been plagued by corruption. Underpaid government officials combined with the prevalence of disreputable businessmen and shifty politicians, mean logging bans go unenforced, trafficking in endangered species is overlooked, environmental regulations are ignored, parks are used as timber farms, and fines and prison sentences never come to pass. Even the campaigns was launched to raise the awareness, I strongly feel this more to lips service of our government as I believe in NATO ( Not action talk only ) policy. We Indonesia's forests face a discouragingly grim future. And as I write this issues for more than 5 minutes, we loss again 125,000 meter square of our tropical rainforest. So how do you help our mother nature ?

read more ...

Wednesday, October 10, 2007

HITUNG HITUNGAN DENGAN TUHAN



“ Orang orang Barat sudah pergi ke bulan, tapi kita masih bertengkar mengenai mengintip bulan “ – KH Hasyim Muzadi

Bulan puasa hampir selesai tetapi masih saja orang ribut ribut bertengkar tentang kesepakatan 1 syawal 1428 Hijriah. Sementara di pojok negeri para pembela syariat , sibuk melakukan razia orang orang berpuasa dan penggerebakan warung dan restaurant yang buka di siang hari. Puasa juga membuat seolah kita memiliki privilege untuk dihormati dan lebih penting lagi menentukan ‘hitam putihnya’ sebuah konsep kehidupan dalam masyarakat yang pluralistik. Karena puasa ribuan orang pegawai pijat bersih, spa dan refleksi ,harus kehilangan uang tambahan berlebaran karena tempat kerjanya kena imbas harus tutup. Karena puasa juga orang orang kecil pemilik warung makan dan jamu hanya bisa menangis melihat usahanya diobrak abrik laskar . Bisakah bulan puasa berjalan tanpa mengganggu hajat hidup orang banyak ? Padahal kalau keimanan saya berpuasa terganggu, itu karena diri saya sendiri yang gemblung, bukan karena orang orang yang asyik mengunyah makanan di pinggir jalan. Akhirnya dengan puasa kita menjadi polisi fiqih yang bertindak atas nama Tuhan, padahal mungkin Tuhan sendiri tidak pernah repot repot memikirkan ini. Karena Allah bukanlah tipe oppressed yang perlu dibela.


Bulan puasa beberapa tahun yang lalu saya sempat bertemu dengan Pak Yoesoef, seorang editor dan penerbit buku dari Hasta Mitra, sebuah lembaga yang pertama tama menerbitkan buku buku Pramudya Ananta Toer. Ia juga ikut mendekam di pulau Buru bersama tahanan politik lainnya. Waktu itu saya setengah menyindir setengah bertanya mengapa dia tidak berpuasa hari itu.
Ia hanya tersemyum dan menjawab, “ Nak, janganlah kau mengajarkan aku hakekat puasa, jika kau bangga dengan ritual selama 30 hari dalam setahun sekali..Saya telah berpuasa setiap hari selama 15 tahun, dalam ketakutan karena nyawa kami yang bisa setiap saat diambil tentara, ketika kami harus memakan apa saja, tikus, belalang untuk memperpanjang hidup..”
Ternyata saya baru tahu karena Pak Yoeseof sudah tua,maka banyak penyakit yang menggerogoti sehingga tidak bisa berpuasa. Kalau Pak Yoesoef tidak puasa, kita tidak berhak memarahi atau membencinya dengan landasan kita sedang membela hukum Allah. Pak Yoesoef sudah cukup tua untuk mengkalkulasikan pertimbangan hitungan hitungan pribadinya dengan Allah dan Allah sendiri sudah menyediakan lembaga peradilan atas dosa pahala manusia, sehingga tidak perlu diambil oleh peradilan budaya keagamaan manusia atau organisasi bentukan manusia.


Budayawan Emha Ainun Najib menjabarkan ilustrasi menarik mengenai pembagian kesadaran rohani yakni ana insan, ana abdulah dan khalifatullah . Saya mungkin masih ana insan atau ‘ aku manusia ‘ yang terlalu disibukan dengan eksistensi sebagai seseorang. Sehingga dengan mudah membatalkan puasa dengan segelas es teh manis,saat matahari terik teriknya di lokasi syuting gunung kapur Cibinong. Hanya dengan alasan kepala kleyengan. Sementara ada juga orang orang dalam tahap ana’abdullah atau ‘aku hamba Allah’. Sehingga hanya kepatuhan kepada Allah yang dibela. Dua kesadaran ini membuat Islam hanya terbelenggu oleh tata krama, sembayang sunnah, serta yang dibicarakan masalah halal haram. Tetapi diam diam Pak Yoesof juga menyumbangkan sebagian besar pendapatannya dari penerbitan buku buku Pram untuk anak yatim, fakir miskin. Berarti ia manjadi khalifatullah, bersikap demokratis terhadap seluruh anggota alam, seluruh hamba Allah dan segenap isi bumi. Orang orang beriman kini makin diuji apakah mereka lebih memilih ‘pahala pribadi’atau ‘ menyumbangkan diri ‘ bagi proses proses sosial, demokrasi, keadilan dan hak asasi manusia. Kalau sewaktu berangkat ke Mesjid untuk salat jum’at tiba tiba anda melihat orang tertabrak mobil – padahal suara ikamah sudah terdengar di corong mesjid – apa yang anda lakukan ? Jika Pak Yoesoef tahu bahwa seluruh pemasukan dari penerbitannya tidak seluruhnya merupakan hak miliknya, sehingga sebagian diserahkan kepada kaum miskin yang menghakinya. Pasti bukan jaminan kemiskinan akan lenyap dari muka bumi. Tetapi ia telah menjalankan kerangka duniawi-ukhrawi hitung hitungan dengan Allah.
Ia telah lebih dari tingkatan insan dan abdullah,ia Khalifatullah.
Mudah mudahan juga Kyai Hasyim dan Kyai Din tak perlu buang buang energi bertarung siapa yang benar, toh menurut Al Qur'an patuhi ulil amri yakni Pemerintah. Menurut para ahli fiqih, keputusan waliyyul amri, atau hakim syari'i atau sulthan atau pemerintah bisa menyelesaikan permasalahan.
Selamat Idul Fitri, Minal aidin wal faidzin.

read more ...

Saturday, October 06, 2007

MIMPI BLOGGER




Akhirnya pesta itu pindah tempat juga. Beberapa hari setelah postingan saya sebelumnya, saya ditelpon seorang, teman lama, yang juga kebetulan menjadi salah satu “ the founding fathers pesta Blogger 2007 “. Ia mengatakan saran dari saya menjadi bahan pertimbangan untuk akhirnya memindahkan acara ini. Tentu saja saya merasa tidak enak, apalah artinya saya seorang blogger bau kencur bisa bisanya merubah acara yang tentunya sudah dipersiapkan matang matang. Tapi ada hal yang lebih penting,bahwa panitia juga mendengarkan aspirasi ‘ grass root ‘ yang menyayangkan moment penting kebangkitan blogger Indonesia harus disuarakan dari sebuah tempat minum minum. Dalam korespondensi dengan Ketua Panitia, saya sempat menyinggung penting memunculkan issue issue yang penting dan hak hak apa yang menjadi kesetaraan media blogging ini. Entah kebetulan apa tidak, hati saya tersenyum gembira,melihat milis resmi pesta blogger mengangkat ancaman issue somasi, yang menimpa salah satu rekan kita.

Lebih jauh lagi, apapun bentuk acara ini, memang harus didukung sepanjang nantinya bisa memberikan nilai tambah pada sebuah alternative media gagasan baru. Ini tidak mudah, membangun kebiasaan baru di negeri yang minat bacanya sangat rendah. Saya katakan Media ini memang tidak melulu bicara tentang teknologi atau alternatif media cyber , tetapi apa yang bisa ditawarkan dan disumbangkan kepada bangsa yang notabene angka melek internetnya masih sangat rendah. Tradisi bangsa kita adalah budaya literal dan lisan. Budaya pantun, bertutur, nembang sampai gossip semuanya lahir karena pola hidup masyarakat kita yang terbiasa mendengar atau melihat bukan membaca. Ini juga tidak ada hubungan dengan tingkat kemakmuran hidup. Banyak orang orang mapan di Indonesia yang justru bodoh karena malas membaca.


Internet adalah masa depan. Kita memang ketinggalan dengan bangsa bangsa lain, tetapi as we race for the future, media blogging semestinya menjadi salah satu elemen mencerdaskan bangsa. Jika tidak kita akan tergilas dan tetap bodoh. Ini bukan hanya mimpi saya tetapi mimpi bangsa kita sendiri. Mudah mudahan saja saya bisa menjadi saksi mata kebangkitan suara blogger Indonesia, itu kalau saya mendapat undangan dari panitia. Jika tidak, setidaknya saya menyambangi Muktamar Blogger di meja sebelah, atau mudah mudahan saya bisa bertemu dengan bloger bloger dalam perjamuan rakyat yang membahana. Sebuah mimpi yang terus menggoda, terus memanggil. Ya, Jamboree Blogger !

read more ...