Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Saturday, September 29, 2007

MIMPI BLOGGER



Menurut rujukan ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, Pesta adalah sebuah acara sosial yang dimaksudkan terutama sebagai perayaan dan rekreasi. "Pesta" dapat bersifat keagamaan atau berkaitan dengan musim, atau, pada tingkat yang lebih terbatas, berkaitan dengan acara-acara pribadi dan keluarga untuk memperingati atau merayakan suatu peristiwa khusus dalam kehidupan yang bersangkutan. Pesta merupakan kesempatan untuk berbagai interaksi sosial, tergantung pada pesertanya dan pemahaman mereka tentang perilaku yang dianggap layak untuk acara tersebut. Akibatnya, pesta cenderung memperkuat standar budaya dan/atau kontra-budaya. Lebih jauh ‘ pesta ‘ sering diartikan sebagai kegiatan hura hura yang berlebihan, sehingga kadang ditambahi kata ‘ pora ‘, menjadi pesta pora. Ini sedikit banyak berhubungan dengan “ Pesta Blogger 2007 “ yang akan di adakan di Jakarta tanggal 27 Oktober 2007 mendatang. Konon ‘ the happy selected few blogger ‘ akan berkumpul dan mendeklarasikan suara blogger Indonesia. Tema Pesta Blogger 2007 tahun ini adalah “Suara Baru Indonesia”—di mana ‘pesta’ ini juga akan menjadi wadah pertemuan dan diskusi bagi para blogger untuk bersama-sama menciptakan iklim nge-blog yang positif di Indonesia; sehingga blog dapat menjadi media ekspresi baru yang mampu menyuarakan pikiran, pendapat, dan perasaan para blogger Indonesia.

Apakah kita harus membandingkan semangat kebangkitan blogger ini, katakanlah dengan semangat Sumpah pemuda tahun 1928 atau dalam skala lebih kecil, sebuah deklarasi yang dapat menyuarakan kesetaraan blog sebagai media gagasan baru atau jurnalistik independen ? Media ini memang tidak melulu bicara tentang teknologi atau alternatif media cyber , tetapi apa yang bisa ditawarkan dan disumbangkan kepada bangsa yang notabene angka melek internetnya masih sangat rendah. Tentu saja tanpa meremehkan mereka yang sudah sedemikian bekerja keras mewujudkan pertemuan akbar ini, saya memiliki impian perhelatan yang jauh melewati batas batas pemikiran itu sendiri.

Pertama, mengganti kalimat Pesta Blogger 2007 dengan Jamboree Nasional Blogger 2007. Ini memang masalah selera, tapi rasa rasanya istilah ‘ pesta ‘ tidak cocok dengan situasi negeri yang penuh dengan kemiskinan dan bencana alam dimana mana. Lalu tentu saja saya tidak memilih sebuah klub elite sebagai tempat perhelatan, tetapi memilih Istora Senayan atau bahkan Gelora Bung Karno. Ini juga selain karena romantisme simbol bangsa yang besar, juga karena bisa menampung ribuan blogger yang datang tanpa harus membayar.


Kedua, saya mengontak Menteri BUMN Sofyan Djalil yang saat beliau menjadi Menkominfo, pernah membantu saya membidani kelahiran peraturan menteri mengenai proteksi tenaga kerja film nasional. Saya berharap kali ini ia bisa meminta perusahaan perusahaan negara menyumbangkan sedikit keuntungan mereka bagi pembiayaan perhelatan nasional ini. Sehingga ribuan blogger dari seluruh Indonesia bisa ditampung di Asrama Haji, Hotel Atlit dan balai balai pendidikan milik BUMN. Disamping itu, saya meminta klien klien yang pernah bekerja dengan saya untuk juga berpartisipasi menyumbang acara ini, tentu saja klien klien yang saya tahu memiliki semangat kebangsaan yang tinggi. Saya mendatangi teman teman di Hotline Advertising yang pernah bersama sama dahulu membuat kampanye pemilu untuk SBY – Kalla,untuk mensosialisasikan gerakan nasional ini. Tentu saja saya akan menggandeng teman, Helmi Yahya yang dengan event organizernya sukses menyelenggarakan PON di Sumatera Selatan tahun lalu. Tentunya kita tidak boleh setengah setengah dalam menyelenggarakan hajatan nasional sepenting ini. Tak lupa saya membuatkan gratis film iklan layanan masyarakat untuk acara ini dan melakukan pendekatan dengan Asosiasi Televisi Indonesia untuk membantu pemasangan spot spot iklan secara gratis pula, tanpa harus pada acara acara ‘ prime time ‘.

Ketiga, saya juga mempertajam isi acara, tidak sekadar diskusi blogging secara ‘ an sich ‘ atau pemilihan blogger selebritis. Tetapi juga bagaimana acara ini bisa menghasilkan pemikiran atau sebuah gerakan aksi bagi negara dan masyarakat, misalnya apa yang bisa dilakukan oleh komunitas ini terhadap bencana gempa di Sumatera baru baru ini. Lihat saja apa dilakukan para volunter IT ketika membangun infrastruktur jaringan internet dan komunikasi yang rusak akibat bencana tsunami di Aceh. Bahkan kalau perlu saya akan mengadakan Jamboree Blogger ini bulan Desember 2007, dimana saat itu Indonesia menjadi tuan rumah dari puncak acara ‘ Global Warming ‘ yang akan dihadiri seluruh pimpinan dan kepala negara di dunia. Ini penting untuk mengaitkan kontribusi media blogging terhadap issue issue sosial di sekitar kita. Saya juga menganjurkan melakukan road show ke seluruh negeri, untuk mengadakan workshop serta pemahaman mengenai dunia blog dan teknologi internet terhadap pelajar dan mahasiswa.
Keempat, dan yang paling penting adalah bagaimana media blog bisa duduk sejajar sebagai penyampaian gagasan yang kebebasan berekspresinya harus dihormati dan dilindungi sebagaimana media jurnalistik lainnya. Sehingga dalam acara ini juga mengundang ahli hukum, kepolisian, pakar jurnalistik atau dewan pers. Ini memang tidak mudah karena masalah cyber crime sendiri masih menjadi merupakan wilayah abu abu dalam delik kejahatan di negara ini.


Tiba tiba saja mimpi ini menjadi buyar, karena mbok Jumiasih mengetuk pintu kamar saya untuk membangunkan saat sahur. Gelagapan, dan sambil terkantuk kantuk saya melihat di televisi yang masih menyala, banyolan Komeng, Adul dan Olga memberikan kuis ramadhan yang isinya sama sekali tidak ada hubungan dengan bulan suci ini. Ini memang bukan masalah kebangsaan semata, tapi Jika kita tidak bisa merumuskan hal ini, apa yang saya kuatirkan bahwa ‘ pesta ‘ di Hard Rock Café hanya seperti acara acara TV menjelang sahur, berbumbu Ramadhan namun terasa kering. Lalu apa bedanya dengan pesta pesta seremonial seperti Indonesia Idol, atau pesta penggemar musik Queen yang kadang kala juga diadakan di Hard Rock Café. Pada akhirnya blogging harus bisa memberikan kontribusi pada bangsa dan rakyatnya, sedikit apapun. Jika tidak ia akan menjadi menara gading di tengah masyarakatnya sendiri. Walhasil silahkan memilih, dunia besar interaktif blogging dengan aneka ragam gagasan, yang dihargai serta menjadi sumber pencerahan bagi peradaban sekitarnya, atau sebuah dunia kecil mirip gurun pasir, terasing, kering dan monoton. Ah, saya tak bisa berandai andai lagi, jangan jangan Komeng nanti yang akan menjadi MC di perhelatan ini. Semoga saja tidak.

read more ...

Tuesday, September 18, 2007

BALADA TANAH PRIANGAN



Dessy Ratnasari mungkin tidak akan menduga nasibnya kelak kemudian hari jika saat itu tidak bertemu dengan seorang pekerja film dalam sebuah angkutan umum di kota Sukabumi, lebih dua puluh tahun yang lalu. Memang tidak ada yang bisa menebak nasib orang, namun semua bisa saja terjadi termasuk menjadi artis besar jika lingkungannya dekat dengan produksi produksi film. Itulah sebabnya dari dahulu banyak produksi film cerita selalu mengambil lokasi di sekitar Jawa Barat, untuk mendapatkan setting apa saja dari hutan, desa, sawah, gunung, laut sampai kota. Selain karena dekat dengan ibu kota, juga jika membutuhkan pemain tambahan, terutama ‘ extra talent ‘ yang cantik, bisa dengan mudah mendapatkan di lingkungan sekitarnya. Konon hanya gadis gadis tanah Minahasa Sulawesi Utara yang bisa menandingi kemolekan gadis gadis priangan. Seorang budayawan dan rohaniwan asal Belanda yang telah menjadi warga negara Indonesia, MAW Brouwer pernah menulis kutipan,.” Tuhan tersenyum ketika menciptakan tanah Priangan..”. Ini memang tidak salah, karena alam dan segala isi tanah sunda begitu mempesona dan sekaligus membentuk komposisi gambar yang indah dalam viewfinder kamera. Namun ini menjadi tidak sesederhana ini, ketika sebuah komunitas ( film ) ternyata membawa gegar budaya terhadap perilaku peradaban masyarakat sekitarnya. Terlepas baik atau buruknya nilai nilai peradaban itu.


Sampai suatu hari saya bertemu dengan Widia, gadis yang masih duduk di bangku SMA yang yang muncul di lokasi syuting film iklan minuman selama 3 hari di daerah Ciampea, Bogor. Ini mungkin yang disebut pemerataan, karena di daerah desa terpencil yang jalannya rusak, bisa ada gadis cantik yang wajahnya mirip Revalina S Temat tinggal disana. Tapi ini juga kemahiran location manager saya yang bernama Sukenti, biasa dipanggil Kenti dalam menemukan lokasi sungai berbatuan yang masih jernih sesuai dengan kebutuhan syuting saya. Kenti sudah lebih dari sepuluh tahun ikut dengan saya, sehingga ia sangat mengenal gaya shoot shoot saya, termasuk memahami bahwa saya sangat mengagumi kemolekan panorama alam dan juga manusianya. Sehingga dalam pencarian lokasinya ia bisa menemukan alam yang indah sekaligus sumber daya pemain yang melimpah didekatnya. Walhasil ada saja akal akalan crew saya untuk berusaha lewat atau mampir di rumah Widia, baik pura pura berteduh atau meminta segelas air, walaupun sebenarnya dalam produksi kami selalu ada persediaan konsumsi yang melimpah. Widia adalah anak bungsu yang tinggal bersama ibu, kakak kakaknya serta keponakan keponakannya . Ayahnya sudah lama meninggalkan rumahnya, entah kemana. Sehingga ibunya melihat film adalah satu satunya jalan keluar untuk kehidupan yang lebih baik, agar tidak terpuruk seperti kakak kakaknya yang sudah kawin dan menjanda pada usia muda.


Budaya televisi dan hiburan memang seperti lampu petromak yang dikelilingi laron laron yang datang berhamburan. Ada saja yang menemukan kehangatan , namun lebih banyak lagi yang mati karena terpanggang menabrak lampu panas tersebut. Menjadi Dessy Dessy baru adalah jalan pintas impian gadis gadis seperti Widia, sehingga ia berterus terang kepada saya..” mau menjadi artis “ ketika ditanya cita citanya. Kemana cita cita menjadi seorang dokter atau insinyur sebagaimana anak anak sebayanya tempo dulu ? Ini memang bukan perkara mudah, karena mentalitas ini berbanding terbalik dengan harapan hidup yang lebih baik dan gaya hidup konsumerisme yang merebak kemana mana. Ada yang menarik, dalam percakapan dengan Garin Nugroho, ketika bersama sama hendak memberikan workshop perfilman di Denpasar beberapa waktu yang lalu. Diceritakan ketika memproduksi sebuah film iklan layanan masyarakat di Manado, ia hampir tak menemukan gadis gadis lokal Minahasa yang selalu digembar gemborkan kecantikannya. Ternyata ada pameo disana yang mengatakan bahwa seluruh gadis gadis cantik Minahasa sudah pergi merantau ke Jakarta ! Widia memang tidak pernah melihat bahwa ada ribuan gadis gadis sepertinya yang melihat sisi pencerahan yang salah. Sejarah selalu mengajarkan bahwa kesuksesan karena dua hal yakni kerja keras dan satu hal lagi adalah factor keberuntungan. “ Luck “nya Dessy Ratnasari adalah hari itu ia memilih jam dan angkutan umum yang bersamaan yang ditumpangi seorang pencari bakat.


Cerita ini memang belum selesai disini sampai suatu hari istri Kenti datang sambil menangis ke saya. Karena sudah lama sekali menjadi bagian dari team saya, tentu saja keluarga saya sangat mengenal istri dan anak anak Kenti. Ternyata sudah hampir 3 minggu sejak syuting akhir bulan Agustus lalu di Ciampea, si Kenti tidak pernah pulang lagi ke rumahnya. Selidik punya selidik, ternyata ia telah menikah dengan janda kembang dari Ciampea alias kakak dari Widia. Sejarah memang kembali berulang ketika manusia dengan beragam kepentingannya untuk saling memanfaatkan. Tak ada yang tahu siapa yang menjadi korban. Mudah mudahan kelak Widia tidak menjadi laron yang mati terpanggang. Sia sia dan tak berdaya. Yang jelas setelah mendengar cerita ini, Mamanya Abel semakin was was kalau saya syuting di daerah Priangan lagi.

Sayup sayup saya mendengar sebuah lagu,..
“..Bimbi nama seorang gadis, sederhana tapi manis
pergi dari kampungnya tujuannya ke kota, ingin hidup coba coba… “

read more ...

Sunday, September 09, 2007

MANUSIA MANUSIA DI SEKELILING KITA




Bulan ramadhan sudah dekat, dan seperti biasa Jakarta kembali mematut dirinya, mencuci fitrahnya agar menjadi suci dan bersih. Jumat dan Sabtu ini adalah weekend terakhir sebelum memasuki bulan puasa, juga seperti ritual tahun tahun sebelumnya, club malam, diskotik, berlomba lomba menyelenggarakan ‘ the ultimate party prior to holly ramadhan ‘. Seolah ini adalah hari terakhir sebelum kiamat, ketika Tuhan akan memilah milah siapa yang layak masuk surga dan siapa yang terbakar di api neraka. Semua orang tahu bahwa pada bulan puasa dugem akan dibatasi, razia FPI dimana mana, club malam tutup sampai jam 12 dan mendadak sontak orang akan ramai ramai sholat, serta memuji nama Allah setinggi langit. Ini memang gejala alam biasa setiap tahun menjelang Ramadhan bagi manusia manusia metropolitan. Sehingga seorang sahabat selebritis saya juga harus sibuk membongkar kerudung di sisi paling bawah lemarinya, karena baru saja menandatangani kontrak acara harian Ramadhan di sebuah stasiun TV.

Mochtar Lubis pernah menulis buku berjudul “ MANUSIA INDONESIA “ dengan ilustrasi gambar oleh GM Sudharta yang memakai ikon Om Pasikom . Saat itu cukup popular karena menyengat dan membongkar issue issue manusia Indonesia. Salah satu ciri manusia Indonesia yang cukup menonjol adalah Hipokrit atau Munafik. Berpura pura, lain di muka, lain di belakang, merupakan sebuah ciri utama manusia Indonesia sejak lama. Sejak mereka dipaksa oleh kekuatan kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya di rasakan, dipikirkannya ataupun sebenarnya dikehendakinya. Lebih lanjut ia menulis, “ ..Hal ini dapat kita lihat umpamanya kini dalam hipokrisi kita mengenai seks. Didepan umum kita sangat mengecam penghidupan seks yang terbuka. Namun kita juga membuka mandi uap, tempat pijit,prostitusi, serta menjamin keamanan sang prostitut maupun pelanggannya dengan cara resmi atau setengah resmi..” Bagaimanapun juga malam itu saya harus menjadi sebuah obyek percontohan apa yang ditulis olehnya


Ketika hari semakin larut, dan jalanan semakin macet dengan antrian mobil di depan pusat pusat hiburan malam dimana mana. Malam itu juga saya harus menemui seorang investor film yang juga juga pemilik sebuah tempat hiburan malam di bilangan Permata Hijau. Sebuah private club yang hanya bisa dimasuki oleh tamu yang memiliki membership keanggotaan. Walau sempat tersasar kemana mana, akhirnya saya bisa menemukan tempat itu dan setelah menyebutkan nama orang yang mengundang saya, mereka mempersilahkan masuk dengan terlebih dulu meminjami sebuah jas, karena saya hanya memakai kaos tanpa kerah saat itu. Dalam ruangan luas berinterior mewah, degum musik bercampur dengan botol botol alcohol, dan nafsu syahwat para pengunjung. Selebritis dan tamu tamu pilihan menyaksikan parade gadis gadis memakai bikini yang sangat cantik, dan meloloskan penutup auratnya sehingga telanjang bulat. Seorang anggota DPR yang terkenal tampak masyuk mendekap seorang gadis bugil tersebut. Dipojok sana seorang pengacara yang gemar memperjuangkan hak asasi tampak duduk santai sambil memangku gadis yang meliuk liuk di pahanya. Beberapa teman sutradara film, serta artis selebritis bersorak sorai menyambut kemunculan saya, dan meminta salah seorang gadis ABG telanjang yang wajahnya seperti Tia Ivanka untuk menari erotis di depan saya. Lalu ada gadis model yang fotonya baru baru ini disaksikan di majalah pria, berbisik mesra meminta diajak main film iklan. Semua serba transparan, vulgar dan menggairahkan. Pantas saja manusia tidak memperdulikan surga yang dijanjikan Tuhan jika mereka merasa sudah menemukan surga surga yang bertebaran di sekitarnya. Tentu saja saya tidak munafik untuk tidak menyembunyikan kekaguman terhadap kecantikan si ‘ tia ivanka ‘ dan tubuh moleknya yang hanya 10 cm dari wajah saya. Tapi ada hal yang lebih penting yang memaksa saya untuk meninggalkan tempat itu secara diam diam. Biarlah itu menjadi rahasia saya sendiri.


Mohtar Lubis memang tidak salah. Indonesia yang berteriak teriak sebagai negara religius sesungguhnya adalah negara sekuler, dengan segala kemunafikannya. Bulan puasa diambang pintu, dan manusia hanya takut oleh kesucian selama satu bulan ini saja. Sehingga Tuhan dipandang sebagai sosok dengan pecut api di tangan kananNya dan neraka di tangan kiriNya, bagi mereka yang tidak menghornati bulan suci ini. Sementara saya mendiamkan telpon genggam yang berdering dering, panggilan dari teman teman yang mencari cari saya. Apakah saya berharap Tuhan mau memaafkan kemunafikan ini ? Malam menjelang pagi, hujan rintik rintik membuat Jakarta semakin sepi dengan kemegahannya. Lampu jalanan terasa temaram dan notkah titik air mengalir pelan di jendela kaca. Kosong, sunyi dan melankolis.

Selamat menunaikan ibadah puasa. Insya Allah ibadah kita diterima oleh Allah swt.

read more ...