Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Sunday, July 29, 2007

LAGI LAGI SIDE JOB



Lengkap sudah penderitaan saya, berbekal Tolak Angin Flu, Actived dan Nelco obat batuk hitam yang menemani hari hari di ruangan editing. Sungguh sengsara kala diserang flu sekaligus harus mempresentasikan hasil pekerjaan. Bukan karena suara saya menjadi bindeng, tetapi karena klien menjadi takut takut ketularan virus ini, sehingga kelihatan tidak nyaman. Ini merupakan akumulasi pekerjaan yang semakin padat akhir akhir ini, terutama setelah saya menerima pekerjaan side job yang tambah lama justru tambah mengambil waktu. Sudah beberapa lama saya menjadi creative director untuk beberapa produk yang akan beriklan di TV. Umumnya seorang sutradara film iklan menjadi eksekutor dari sebuah konsep iklan yang dirancang oleh biro iklan atau creative director. Sekarang saya diberi tugas oleh klien untuk membuat sebuah konsep iklan dan sekaligus mengeksekusinya sekaligus. Mulai dari produk perbankan, minuman, sabun sampai sekarang minyak goreng. Jadilah saya harus menyikapi lebih luas lagi, tidak hanya menjadi bagian dari rumah produksi tetapi juga bagian dari sebuah biro iklan yang harus memahami rangkaian promosi sebuah produk, mulai dari konsep, FGD ( Focus Group Discussion ) sampai eksekusi. Ujung ujungnya saya menjadi kurang istirahat dan akhirnya harus ambruk. Walhasil saya harus mereposisikan definisi side job sebagai creative director.

Terus terang pilihan mengambil side job ini bukan menjadi pilihan ideal ditengah pekerjaan utama sebagai sutradara iklan. Pertama karena memang pekerjaan kreatif ini benar menyita waktu saya, kedua sebenarnya saya juga tidak merasa kurang pemasukan sehingga harus mencari side job. Walau ide sebuah job sampingan memang karena awalnya kita membutuhkan pemasukan tambahan,selain memenuhi tantangan dari klien klien untuk membuat sebuah konsep kreatif sebuah produk. Yang jelas saya salah, karena pekerjaan ini tidak bisa dikategorikan sebagai side job. Karena lama kelamaan malah menyita pekerjaan utama saya. Untuk menentukan jenis job sampingan yang paling cocok bagi kita, sesuatu bidang yang tidak terlalu jauh dengan bidang pekerjaan utama kita atau bahkan hobbi yang kita suka. Bagi seorang sutradara, menjadi creative director juga tidak jauh jauh amat, modalnya juga kreativitas. Karena saya juga suka photography, tentu saja menerima job sampingan memotret lebih menyenangkan daripada misalnya menjadi seorang penjual multi level pemasaran.


Paling enak sebenarnya mendapatkan side job yang tidak terlalu menyita waktu tetapi memberi pemasukan yang lumayan. Kalau sudah begini saya menjadi iri dengan artis teman saya, CW yang bisa mematok harga 20 juta hanya untuk menemani makan malam dengan seorang pelaku bisnis bersama seorang Menteri kabinet. Tentu saja saya tidak membayangkan lebih jauh, sampai sejauh mana side jobnya ? Tapi setidaknya ini gambaran sisi manusia yang tidak pernah puas. Saya, sang artis ataupun pegawai yang menjadi tukang ojek paruh waktupun mempunyai tujuan yang sama pada akhirnya, yakni mencari tambahan penghasilan, apapun caranya itu. Halal atau nyerempet haram. Urusan side job tidak sesimple jika memang kita tidak memiliki passion terhadap jenis pekerjaan ini. Perlahan lahan saya sudah kehilangan passion terhadap side job ini. Ternyata ada hal yang lebih penting lagi, yakni waktu beristirahat, kesempatan bersama keluarga, atau mengerjakan hal hal yang bersifat rekreasional. Uang memang bukan segala galanya, mestinya saya sudah cukup puas dengan pencapaian saya selama ini. Semoga saja.

read more ...

Sunday, July 01, 2007

CINTA LOKASI



Selalu saja banyak orang yang bertanya tanya tentang isi dunia film, dan yang paling sering ditanyakan adalah hal remah remah sepele, misalnya mengenai cinta lokasi. Saya katakan hal sepele karena memang tidak begitu penting, dibanding pencapaian pekerja film dalam menghasilkan karya. Sementara mereka yang diluar tadi, melihat hal sepele itu sebagai magma informasi yang tak habis habisnya mengenai kisah cinta orang orang film. Keluarga bahkan dulu mertuapun sering bisik bisik separuh bertanya separuh menyindir dengan pergaulan orang film ini. Apakah saya juga terlibat dengan cinta lokasi? Seperti biasa saya hanya bisa senyum senyum tidak memberikan konklusi. Silahkan tebak sendiri.. Lalu kenapa cinta lokasi atau cinlok hanya identik dengan dunia film ?

Mungkin juga, karena proses produksi film itu memakan waktu yang cukup lama, seperti layar lebar atau sinetron, membuat pertemuan para pemain atau pekerjanya semakin intens. Pagi pagi sudah di lokasi syuting dan malam baru selesai, sementara benih benih asmara sudah dimulai dengan TTS ‘ tatap tatapan sayang ‘ dan kalau meminjam pepatah jawa ‘ witing tresno jalarani seko kulino ‘ yang artinya cinta dimulai karena biasa. Sehingga dahulupun sutradara Wim Umboh juga tak akan mengira kalau ‘ biasa bekerja bareng ‘ , ‘ biasa makan bareng ‘ antara Widyawati dan Sophan Sophian di produksi film Cinta Remaja akan membuahkan sebuah kisah lainnya. Namun juga tidak dapat dianggap enteng kalau awalan TTS di sebuah lokasi syuting kerap mengundang intrik seperti perselingkuhan. Seorang sahabat saya juru kamera ( director of photography ) merasa duduk dalam posisi serba salah, karena secara tidak sengaja memergoki pacar si sutradara kondang sedang ‘ bergumul ‘ dengan pemain bintangnya di sebuah pojok rumah lokasi syuting. Pun sewaktu saya mengerjakan serial FTV, ketika hari hari terasa begitu lama, saya melihat betapa rapuhnya manusia dengan godaan godaan cinta lokasi. Pemain pemain baru yang berharap besar dengan impian popularitas dengan cepat belajar dari seniornya dalam urusan ini.



Tapi memang tidak mudah mengungkap percintaan baik itu TTM, perselingkuhan atau cinta serius dalam dunia orang film. Ada rasa solidaritas yang tidak membawa urusan internal ini menjadi konsumsi dunia luar. Paling paling hanya sedikit yang bocor ke area publik untuk menjadi konsumsi infotainment. Dahulu pernah seorang bintang film terkenal yang tertangkap karena di laci mobilnya tersimpan narkoba., padahal sosoknya sangat lembut dan jauh dari hal hal seperti itu. Walhasil tak ada yang tahu, bahwa barang itu milik kekasihnya, sutradara yang sedang menggarap serial sinetron bersama bintang besar itu. Namun bukan berarti semua orang film bejad dan tidak bermoral. Lebih banyak mereka bertemu dalam cinta lokasi, kini bahagia ‘ happily ever after ‘ dalam perkawinannya atau hubungan pasangannya . Cinta lokasi sampai perselingkuhan bukan hanya monopoli orang film. Bisa saja terjadi dalam segala hal aspek kehidupan apapun itu bentuk dan resikonya. Sebenarnya ini tidak ada urusan dengan dunia film. Cinta adalah cinta, dan itu bisa saja muncul secara tiba tiba di lokasi jalanan, rumah sakit atau dimana saja.

Bagaimanapun kita harus setuju dengan yang menganggap bahwa cinta membawa semangat hidup. Dari sebuah lokasi syuting pun cinta bisa dianggap pedang bermata dua sekaligus, yang memberikan jawaban atas kegelisahan dan sekaligus memporak porandakan sebuah tatanan kehidupan sosial. Tidak ada yang salah dengan film. Juga tidak ada yang salah dengan cinta. Hanya manusia yang salah, karena menyederhanakan permasalahan atas nama cinta lokasi. Selain itu, biarlah cinta lokasi menjadi rahasia saya sendiri.

read more ...