LOGIKA KEJUJURAN DALAM AKTING DI FILM IKLAN

Seorang guru acting Sanford Meisner pernah mengatakan di depan murid muridnya, untuk mencoba sebuah karakter sekitar satu menit berdiri di pinggir jalan raya. Kemudian ia bertanya, “ Apa kalian mendengarkan karakter atau mendengarkan diri sendiri ? “. Ternyata dengar mendengarkan karakter akan menambah ‘ elemen of strain ‘ sementara dengan mendengarkan diri sendiri dengan menggunakan telinga kita sendiri – is relaxing, centering. Akan membuat aktor tidak berakting dengan huruf A besar. Berbeda dengan apa yang dipercaya pada umumnya bahwa sebuah acting adalah pura pura. Justru sebenarnya sebuah acting tidak boleh berpura pura dan harus jujur. Seorang aktor harus memulai dengan dirinya, mendengarkan dengan telinganya, melihat dengan matanya, menyentuh dengan kulitnya dan merasakan dengan perasaannya. Dengan mempelajari dari skrip ia membentuk sebuah pemahaman dari dalam dirinya sendiri. Lalu ia membentuk karakter dalam dirinya.
Kejujuran ini yang membuat diskusi penat dengan pemilik sebuah produk consumer goods untuk pembuatan film iklannya belum lama ini. Bagaimana bisa menyampaikan sebuah gagasan kepada calon pembeli dengan sebuah acting pemain yang jujur, walau kita tahu tidak ada yang jujur dalam sebuah bentuk apapun film itu. Tentunya kita tahu bahwa Tamara Blezinsky atau Dian Sastro tidak memakai sabun lux sehari hari. Tetapi bagaimana membuat orang percaya bahwa sabun itu bisa membuat orang cantik. Secantik bintang bintang film itu yang seolah olah memakai sabun itu setiap hari. Pola pikir masyarakat kita yang masih ‘ tradisional ‘ percaya pada sebuah persepsi itulah yang akan dimasuki,membuat mereka percaya pada pesan sebuah film iklan. Masyarakat kita yang percaya sabun yang bagus adalah yang memiliki busa melimpah, walau tidak ada hubungannya antara busa dan kandungan sabun itu sendiri. Sehingga sewaktu syuting kita tambahkan dengan busa busa. Siapa yang tahu olesan mentega di roti dalam iklan Blue Band, ternyata menggunakan margarin jenis tertentu yang ditambahkan elemen lain, sehingga terlihat ‘ smooth ‘ , mengkilap dan menggiurkan. Kenapa tidak mencoba membuat iklan shampoo dengan model rambut ikal dan keriting seperti orang Indonesia timur, karena memang aspirasi masyarakat kita tentang rambut yang bagus adalah rambut lurus dan panjang. 
Akting dalam sebuah film, sangat simple, sebuah acting sangat beresiko karena dengan menjadi jujur,pemain harus menggunakan dirinya sendiri menjadikan personal work. Seorang aktor yang baik akan tahu ketika si sutradara memintanya untuk ‘ lebih ‘, lebih marah, lebih sedih, lebih mesum, lebih humor, apa saja yang berarti ia harus membuatnya berakting lebih simple, more elemental, dan berhenti berakting dengan huruf A besar. Dengan kata lain jika sutradara meminta ‘ do more ‘ , ia harus memberi ‘ do less ‘. Sebuah pengalaman hidup akan sangat membantu memasuki karakter akkting yang diinginkan. Bagaimana seseorang yang tidak pernah mengalami rasa jatuh cinta, bisa meyakinkan penonton dengan dialog ‘ I love you ‘ kepada lawan mainnya. Jadi kalau Desy Ratnasari memang tidak pernah memakai sebuah produk tersebut, bagaimana ia bisa menghayati perannya dengan jujur dalam film iklannya. Tapi ini memang pada akhirnya menjadi tidak penting, karena dalam logika film iklan yang durasinya sangat pendek, hanya bermain di ruang aspirasi dan apa yang masyarakat percayai. Yang paling penting adalah bagaimana pesan ini bisa sampai di benak pemirsa, yang ujung ujungnya ke angka volume penjualan produknya. Jujur saja, saya juga menikmati pekerjaan ini, apalagi malam malam di studio yang dingin mendengarkan celoteh dan curhat Desy Ratnasari. Tentu saja yang ini rahasia.











