Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Saturday, March 31, 2007

LOGIKA KEJUJURAN DALAM AKTING DI FILM IKLAN



Seorang guru acting Sanford Meisner pernah mengatakan di depan murid muridnya, untuk mencoba sebuah karakter sekitar satu menit berdiri di pinggir jalan raya. Kemudian ia bertanya, “ Apa kalian mendengarkan karakter atau mendengarkan diri sendiri ? “. Ternyata dengar mendengarkan karakter akan menambah ‘ elemen of strain ‘ sementara dengan mendengarkan diri sendiri dengan menggunakan telinga kita sendiri – is relaxing, centering. Akan membuat aktor tidak berakting dengan huruf A besar. Berbeda dengan apa yang dipercaya pada umumnya bahwa sebuah acting adalah pura pura. Justru sebenarnya sebuah acting tidak boleh berpura pura dan harus jujur. Seorang aktor harus memulai dengan dirinya, mendengarkan dengan telinganya, melihat dengan matanya, menyentuh dengan kulitnya dan merasakan dengan perasaannya. Dengan mempelajari dari skrip ia membentuk sebuah pemahaman dari dalam dirinya sendiri. Lalu ia membentuk karakter dalam dirinya.

Kejujuran ini yang membuat diskusi penat dengan pemilik sebuah produk consumer goods untuk pembuatan film iklannya belum lama ini. Bagaimana bisa menyampaikan sebuah gagasan kepada calon pembeli dengan sebuah acting pemain yang jujur, walau kita tahu tidak ada yang jujur dalam sebuah bentuk apapun film itu. Tentunya kita tahu bahwa Tamara Blezinsky atau Dian Sastro tidak memakai sabun lux sehari hari. Tetapi bagaimana membuat orang percaya bahwa sabun itu bisa membuat orang cantik. Secantik bintang bintang film itu yang seolah olah memakai sabun itu setiap hari. Pola pikir masyarakat kita yang masih ‘ tradisional ‘ percaya pada sebuah persepsi itulah yang akan dimasuki,membuat mereka percaya pada pesan sebuah film iklan. Masyarakat kita yang percaya sabun yang bagus adalah yang memiliki busa melimpah, walau tidak ada hubungannya antara busa dan kandungan sabun itu sendiri. Sehingga sewaktu syuting kita tambahkan dengan busa busa. Siapa yang tahu olesan mentega di roti dalam iklan Blue Band, ternyata menggunakan margarin jenis tertentu yang ditambahkan elemen lain, sehingga terlihat ‘ smooth ‘ , mengkilap dan menggiurkan. Kenapa tidak mencoba membuat iklan shampoo dengan model rambut ikal dan keriting seperti orang Indonesia timur, karena memang aspirasi masyarakat kita tentang rambut yang bagus adalah rambut lurus dan panjang.


Akting dalam sebuah film, sangat simple, sebuah acting sangat beresiko karena dengan menjadi jujur,pemain harus menggunakan dirinya sendiri menjadikan personal work. Seorang aktor yang baik akan tahu ketika si sutradara memintanya untuk ‘ lebih ‘, lebih marah, lebih sedih, lebih mesum, lebih humor, apa saja yang berarti ia harus membuatnya berakting lebih simple, more elemental, dan berhenti berakting dengan huruf A besar. Dengan kata lain jika sutradara meminta ‘ do more ‘ , ia harus memberi ‘ do less ‘. Sebuah pengalaman hidup akan sangat membantu memasuki karakter akkting yang diinginkan. Bagaimana seseorang yang tidak pernah mengalami rasa jatuh cinta, bisa meyakinkan penonton dengan dialog ‘ I love you ‘ kepada lawan mainnya. Jadi kalau Desy Ratnasari memang tidak pernah memakai sebuah produk tersebut, bagaimana ia bisa menghayati perannya dengan jujur dalam film iklannya. Tapi ini memang pada akhirnya menjadi tidak penting, karena dalam logika film iklan yang durasinya sangat pendek, hanya bermain di ruang aspirasi dan apa yang masyarakat percayai. Yang paling penting adalah bagaimana pesan ini bisa sampai di benak pemirsa, yang ujung ujungnya ke angka volume penjualan produknya. Jujur saja, saya juga menikmati pekerjaan ini, apalagi malam malam di studio yang dingin mendengarkan celoteh dan curhat Desy Ratnasari. Tentu saja yang ini rahasia.

read more ...

Wednesday, March 21, 2007

BEAUTY FOR SALE

BEAUTY FOR SALE
( resensi yang dimuat di majalah periklanan Ad-diction )

“ Apa yang sesungguhnya menjadi pencaharian jiwa bagi manusia manusia modern saat ini ? karier, kekayaan, wajah cantik dan ganteng, gemerlap pergaulan kelas atas atau bisa keliling dunia ?. Jawabannya bukan semua itu, ternyata ada sisi terdalam dari manusia manusia sibuk untuk mencari dan menemukan pasangan jiwanya..”



Sepertinya itu yang coba disampaikan oleh Fradhyt Fahrenheit atau Adit dalam bukunya, “ Beauty for Sale “, Ini cerita tentang lima orang sahabat, sosok sosok yang cantik dan ganteng ini berasal dari keluarga kaya raya , mereka juga sukses dalam karier pekerjaannya. Semuanya memiliki hobby yang sama belanja barang barang branded, jalan jalan keliling dunia, larut dalam sosialisasi kehidupan glamour kelas atas dan yang paling utama semua tokoh memiliki kenangan pengalaman percintaan yang pahit dan kekosongan jiwa, alias jomblo. Debby , yang bekerja sebagai Marketing Director perusahaan beverage. Kiyara, seorang produser film iklan sekaligus menjadi fashion stylist di berbagai majalah Jakarta dan Singapore. Kemudian, Venitta,cenderung lesbian, anak seorang keluarga konglomerat terpandang yang bekerja sebagai Creative group head di sebuah advertising agency. Cantika, berasal dari keluarga Jawa berdarah biru juga seorang creative director di perusahaan advertising milik Jepang. Terakhir Brando, satu satunya pria yang memiliki kelainan orientasi seksual, sebagai gay, bekerja di sebuah bank swasta terbesar di Indonesia.

Dikisahkan mereka semua sepakat untuk tidak bertemu beberapa bulan untuk mencari pasangan jiwa masing masing. Setelah melewati berapa pengalaman hidup, pada hari yang ditentukan mereka bertemu. Namun apa yang terjadi ? ternyata kekasih yang dibawa Kiyara pada pertemuan itu adalah orang yang sama yang juga menjadi kekasih Debby, Venitta, Cantika dan Brando.

Membaca novel ini memang serasa melihat lihat katalog merk merk kelas atas , kamus bahasa Debby Sahertian dan majalah selebritis dunia yang digabung menjadi satu, dengan gaya chic literature yang enak. Kehidupan manusia pemuja fashion dan dunia kosmopolitan ini sebenarnya masih menjadi issue yang menarik dalam novel ini, kalau saja Adit tidak terjebak terus menerus dalam rujukan rujukan merk dan nama nama selebritis dalam mendeskripsikan karakter tokoh. Karena membuat novel ini menjadi sangat ‘ market segmented ‘ dan hanya bisa dimengerti oleh kalangan tertentu. Namun bagaimanapun juga Adit berhasil dalam menuturkan vignyet vignyet kehidupan sambil memberikan mimpi mimpi mengenai kota besar, yang mungkin masih menjadi aspirasi manusia Indonesia.

read more ...

Saturday, March 10, 2007

PASSION YANG HILANG




Dalam catatan hariannya,Soe Hok Gie, seorang aktivis mahasiswa tahun 60 an selalu tak melupakan lembah suryakencana di puncak gunung Pangrango, Jawa Barat. Di tempat itulah ia sering merenung, mencari kedamaian hati dan lari dari situasi kehidupan yang ruwet di Jakarta. Saya memang bisa membayangkan di puncak gunung sana. Sepi, dingin dan rasa jiwa yang membahana melihat kabut kabut di ujung horizon. Sewaktu saya SMA dan kuliah, mendaki puncak puncak gunung Pangrango atau Gede sepertinya menjadi ritual dinamika kehidupan saat itu. Betapa tidak, minggu minggu terakhir ini, berbagai persoalan hidup dan pribadi membawa saya kepada situasi kehilangan rasa atau passion pada kehidupan sekitar saya . Dan yang lebih penting menguapnya daya kreatif sebagai seniman atau penggagas ide. Tentu saja ini sangat berbahaya bagi kelangsungan pekerjaan saya.


Tanpa harus berpikir panjang ,saya pesan tiket pesawat ke Jogja serta memutuskan untuk menghabiskan beberapa hari disana. Saya memang tak pernah bosan bosan untuk menikmati pesona kota ini. Jalan jalan di Malioboro, memotret situs situs kuno,makan gudeg yu Jum di belakang kampus UGM, menikmati malam malam dengan kopi arang yang terkenal, serta menonton pasar Malam Sekaten di alun alun Keraton. Hari hari terakhir, saya meluncur menuju Losari,sebuah kawasan perkebunan kopi didaerah Temanggung yang telah saya liat dari brosur di biro perjalanan. Tentu saja, semua ini saya mengharapkan pengalaman pengalaman ini mampu membalikan kegelisahan yang menggerus hari hari saya di Jakarta. Namun apakah ini bisa ? Apakah sebuah proses penumbuhan passion itu bisa digerakan dengan menemukan tempat tempat baru yang menyejukan jiwa kita.

Pagi belum sepenuhnya terang,masih gelap dan angin menusuk membuat saya merapatkan erat erat jaket, saat berjalan menyusuri lembah lembah di sekitar losari untuk memotret munculnya sang mentari dari balik gunung merbabu. Terseok seok melintas rumput yang masih basah, mencari jawaban yang sesungguhnya dari penampakan matahari pagi ini. Dan tetap saja saya tidak menemukan jawaban itu. Termenung duduk diatas batu dan putus asa.



Kembali ke Jakarta,memang tidak membuat perubahan yang berarti. Saya juga percaya Soe Hoek Gie mungkin tidak akan pernah menemukan jawabannya, pertanyaan pertanyaan yang terus dibawannya sampai ia meninggal. Lembah Suryakencana dan kabut Mandalawangi hanya menawarkan kesejukan hati sesaat, memuaskan rasa dahaga yang sebentar. Saya mencoba memahami bahwa kegelisahan, amarah dan rasa ketidakpercayaan yang hilang itu membuat hidup ini semakin tidak menarik jika kita melihat dari perspektif emosional saja. Sebuah kiriman post card yang datang tiba tiba dari Africa Barat, dari seorang teman di blog ini, sungguh mencerahkan hari hari yang menggelisahkan saya. Bahwa masih ada bentuk persahabatan yang ditawarkan seorang teman baru. Demikian pula perkenalan dengan para pencari kayu bakar yang saya temui di lembah perbukitan kebun kopi di Losari. Semuanya membukakan mata hati saya, bahwa hidup bagaikan sebuah bendera perang. Kadang ia terjatuh, kotor dan sobek. Namun dengan gagah beraninya tetap dipertahankan, sampai ke tangan Tuhan.

read more ...