Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Monday, January 29, 2007

BLOOD DIAMOND



Komposisi adalah pengetahuan dasar bagi sebagai seorang sutradara. Dari situ ia melihat bagaimana sebuah sudut angle dibentuk. Bagaimana elemen elemen yang ada dalam frame tersebut merupakan komposisi antara berbagai objek yang seimbang, dan yang lebih penting memberi makna tentang gagasan yang hendak disampaikan, Sehingga tanpa sebuah dialog, sebuah komposisi gambar bisa menjelaskan seribu kata kata tentang suasana yang tercipta. Komposisi sepasang kekasih sedang berjalan sambil bergandengan tangan di sebuah padang rumput bisa menceritakan romantisme gambar itu. Wajah close up seorang anak yang menangis tak akan berarti apa apa, tetapi dengan sebuah komposisi angle yang lebih lebar yang menampilkan background rumah gubug dan tandus, akan membuat derita hidupnya sangat terasa. Tugas seorang sutradara adalah telling a story. Ia harus sensitive dan memiliki hubungan emosi dengan komposisi gambar yang diciptakan. Ia bisa tersenyum, tertawa bahkan menangis melihat pengadeganan yang dibuat. Tapi apakah dalam kehidupan sehari hari kita bisa membentuk sebuah komposisi hidup yang ideal ? yang dapat dengan mudah diatur sesuai selera kita ?


Apa yang kita lihat dalam komposisi sebuah realita kehidupan bisa merupakan bisa merupakan rangkaian cuplikan kepedihan, ketidakberdayaan dan air mata. Tanpa harus berpretensi film tetap harus menyuarakan apa yang dilihatnya, seburuk apapun. Dalam film ‘ Blood Diamond ‘ sebuah cermin budaya kekerasan dan kemiskinan di Afrika telah memberi kita pertanyaan mengenai komposisi hidup itu sendiri. Apakah hidup itu masih begitu layak dipertahankan jika nyawa manusia hanya bagian sebuah permainan yang diciptakan mereka yang berkuasa . Peran Leonardo Di Caprio ( selain dalam film The Departed ) telah membebaskan dirinya dari karakter cowok ganteng idola gadis gadis. Ia menjelma menjadi penyelundup berlian yang serakah, egois tetapi pada akhirnya bisa menampilkan sisi kemanusiaannya yang paling dalam menjelang kematiannya. Melihat tragedi dalam film itu serasa melihat cermin tragedi di negeri tercinta, Indonesia. Bahwa ketidakadilan, kemiskinan, bencana dan budaya kekerasan akan selalu ada dan merusak keseimbangan komposisi hidup ini. Memang tak salah kalau disebut negeri kita adalah tanah bencana, bukan arti harafiah bencana alam saja, tetapi bencana dalam semua aspek yang bisa diartikan.


Film itu juga menyadarkan kita akan bahwa exploatasi manusia oleh manusia juga bisa dengan mudah terjadi di negeri ini. Tidak usah jauh jauh, dalam pembuatan film dokumenter bersama NHK Jepang tentang kehidupan anak anak jermal sungguh merobek robek nilai kemanusiaan. Mereka anak anak yang mestinya masih SD atau SMP, tidak bersekolah dan ditaruh oleh majikannya di jermal gubug gubug keramba di tengah laut. Pekerjaannya hanya memanen ikan ikan teri yang dijaring dibawah jermalnya. Setiap dua minggu sekali sang majikan datang mengambil panenan, sambil mengedrop bahan makanan, beras, ikan asin, poster gadis telanjang serta majalah porno. Mereka berbulan bulan tidak pernah pulang ke darat, sehingga terjadi penyimpangan seksual. Berkat referensi pornografi dari sang majikan, praktek homoseksual dan budaya menyetubuhi ikan pari tercipta disana. Saat itu saya baru mengetahui kalau ikan pari ternyata memiliki semacam alat kelamin seperti wanita. Dengan hanya 150 ribu rupiah anak jermal rela mempertontonkan bagaimana ia menyetubuhi ikan pari yang tertangkap di jaringnya. Ikan pari berukuran besar yang masih hidup, direntangkan disebuah meja dan dipaku agar tidak bergerak. Proses pengambilan gambar itu menimbulkan kegelisahan yang luar biasa ketika rasa kemanusiaan hilang dan tak ada yang peduli. Kegelisahaan yang sama pula sewaktu melihat komposisi gambar ' Blood Diamond ' sewaktu si petualang Danny Archer berkata pada jurnalis Amerika, Maddy Bowen,..” Aku selalu berpikir apakah Tuhan pernah memaafkan manusia manusia seperti itu, tapi tiba tiba aku sadar bahwa sudah sejak lama Tuhan meninggalkan tanah ini..”
Memang tidak mudah mewujudkan sebuah komposisi gambar hidup yang ideal di negeri ini, dan saya masih perlu bersabar. Tak tahu sampai kapan.

read more ...

Sunday, January 21, 2007


KERJA DI FILM DAN PILIHAN KARIR

Cerita sepuluh tahun lalu ketika saya pindah ke sebuah pemukiman , yang rata rata penghuninya bekerja di kantoran. Mereka berangkat pagi pagi dengan iring iringan mobil keluar gerbang kompleks, dan menjelang malam iring iringan mobil kembali memasuki rumah masing masing. Mirip adegan kehidupan sebuah pemukiman dalam film “ Edward Scissorhand “. Rutin dan monoton. Sementara mereka bertanya tanya tentang saya, apa pekerjaan orang baru ini. Rambut gondrong memakai anting ( waktu itu ), keluar dari rumah siang dan pulang pagi pagi subuh. Bisa juga lepas subuh sudah dijemput oleh sebuah mobil dan berhari hari tidak pernah pulang. Atau kadang tidak kemana mana, hanya kelihatan duduk duduk di teras sambil merokok. Kebetulan waktu itu salah satu video clip Kris Dayanti besutan saya mendapat award dari MTV South East Asia. Sehingga mereka melihat wawancara di TV dan segalanya, barulah ibu ibu komplek yang tadinya mengira saya bandar narkoba mulai tersenyum ramah jika lewat depan rumah. “ oh..orang film ‘ katanya.


Memang jaman dahulu kerja di film memang sering dianalogikan dengan kerja serabutan, sehingga orang tua kita cenderung menyuruh anaknya masuk sekolah kedokteran, ekonomi atau apa saja yang menjamin nanti bisa bekerja di kantoran. Tetapi dengan berubahnya jaman menjadi era globalisasi dan multimedia, dengan banyaknya stasiun TV, TV kabel juga maraknya dunia perfilman. Bidang film khususnya menawarkan berbagai pilihan profesi yang bisa ditekuni dan tentu saja dengan penghasilan yang lumayan. Rincian crew film mulai dari sutradara, produser, Director of Photography, Art Director, Casting Dircetor, Set Builder, Special Effect, Lightingman, Sound recordist, Musician, Editor sampai penata rias. Bahkan kalau di film iklan lebih spesifik lagi , ada food stylish yang mendressing makanan, ada hair stylish khusus untuk iklan shampoo, sampai story board artist yang menggambar visualisasi setiap rancangan adegan. Bagi yang expert dalam disain pakaian bisa menjadi wardrobe stylish, atau yang berkemampuan dalam komputer, grafis bisa menjadi digital effect artist untuk pekerjaan paska produksi. Kalau kita lihat credit tittle di layar lebar bisa sampai puluhan atau ratusan nama yang terlibat. Ini menunjukan banyaknya departemen dengan segala spesifikasi dan orang orang pendukungnya, termasuk para asistan sutadara, asistan produser, asistan kameramen dan sebagainya.


Institut Kesenian Jakarta yang jaman dulu identik dengan sekolah buangan, kini menjadi incaran anak anak yang baru lulus SMA. Demikian di tempat lain jurusan broadcats, sekolah desain serta komunitas film bertebaran di seluruh negeri. Ini menunjukan adanya pola pemikiran baru di generasi muda tentang pilihan karir masa depannya. Jangan dianggap remeh, ada seorang anak muda berusia masih berusia 26 tahun bekerja sebagai ‘ colourist ‘ sebagai tehnisi operator yang mentransfer film negative menjadi data digital atau pita video, bisa bergaji sama dengan seorang direktur bank. Penulis skenario layar lebar papan atas, rata rata dibanderol minimal 50 - 75 juta untuk per skenario. Untuk bidang teknis seperti Director of Photography, Camera operator, Gaffer, Art Director dll umumnya dibayar per hari syuting ( untuk film iklan ) atau kontrak per judul ( untuk layar lebar ). Honor Director of Photograpy atau kameramen untuk film iklan bisa 7 – 12 juta per hari. Untuk pekerja crew lainnya seperti lighting, loader, focus puller, dollyman, grip, unit dll berkisar 500 ribu – 2 juta juta perhari. Sementara seorang PU atau Pembantu umum yang biasa menyiapkan kopi, teh, makanan kecil minimal mengantongi Rp 250,000,- per hari. Lalu bagaimana dengan sutradara ? posisi ini biasanya diikat per project dan honornya relatif, dengan kisaran antara 10 juta sampai 200 juta. Bahkan saya yakin untuk iklan iklan rokok yang banyak memakai sutradara bule, total honornya bisa mencapai 300 – 500 juta. Juga sebagai gambaran untuk sutradara sinetron papan atas bisa berkisar 20 – 25 juta per episode. Sutradara memang hampir seperti pelukis, tidak ada patokan yang resmi. Bisa saja dia memberikan lukisannya dengan gratis, ada juga yang harga lukisannya sejuta bahkan sampai ratusan juta.


Enaknya juga, pekerjaan kita tidak pernah monoton, selalu bertemu orang yang berbeda beda, lokasi berbeda beda, serta ide yang berbeda pula. Bahkan kita bisa melihat suatu tempat yang mustahil kita datangi kalau bukan karena pekerjaan ini. Kita bisa syuting di pelosok papua, danau toba sampai disebuah gunung bersalju, di utara Vancouver – Canada. Mengenai busana kerja, orang film tidak direpotkan dengan baju rapi berdasi, blus, celana atau rok bahan. Cukup jeans, kaos T shirt dan sepatu kets. Kadang saya bekerja atau meeting dengan klien memakai celana pendek saja. Walau suatu waktu juga merepotkan kalau harus menghadiri acara resmi, karena tidak banyak pilihan pakaian resmi yang dimiliki. Dari tahun 1993 saya hanya memiliki 2 steel pakaian batik yang dipakai berganti ganti untuk undangan perkawinan, sunatan keponakan sampai audiensi dengan pejabat. Kembali ke ruang lingkup pekerjaan di film, dengan munculnya generasi baru, memiliki budaya yang lebih ‘ gaul’ , lebih akrab dengan teknologi bahkan memiliki background pendidikan yang kuat, akan menyuntikan darah segar perfilman nasional. Jelas berbeda dengan generasi film lama warisan film film jaman baheula yang lebih ke otodidak dan sangat ‘ gaptek ‘ internet dan komputer. Ada riset dari majalah Fortune di Amerika sana, justru sekolah sekolah bisnis mengalami penurunan peminat, berbanding terbalik dengan sekolah film yang mengalami peningkatan murid. Jadi wahai bapak bapak dan ibu ibu, sudah bukan saatnya lagi memasang wajah galak kepada calon menantu orang film. Mari !

read more ...

Tuesday, January 16, 2007

SEBUAH CATATAN



Baru baru ini saya menemukan dokumen tulisan ini di desktop layar Mac Powerbook saya, dan ternyata buah hati saya, Abel yang menulisnya. Puisi ini bukan karya ciptanya, ia hanya menyadurnya dari buku apa yang saya juga tidak tahu. Mungkin dari salah satu buku pelajarannya. Begitu sederhana pemahaman tentang dunia ini baginya. Begitu kelam sindiran ini bagi kita manusia dewasa. Ah, jangan jangan suatu hari ia minta dibuatkan blog. Tiba tiba saja saya bertambah cinta dengannya. Mari nak, masih ada sisa dunia untukmu.

" Mengail di Kali "

Di kali kecil
Keruh karena sampah dan kotoran
Ikan-ikan tinggal sedikit
Dan sulit berkembang biak
Karena beribu penyakit

Tapi kita masih mengail di sana
Kita masih ingin medapatkan ikan
Ingin memakan dan menghabiskan mereka
Hingga musnah semua

Mengapa tidak kita pikirkan :
Bersihkan kali, jangan buang sampah
Dan kotoran semaunya
Seperti sediakala

Abdul Hadi W.M

read more ...

Saturday, January 13, 2007

KEMANA HILANGNYA HUMANISME KITA ?




Syahdan pada awal tahun 1930an, seorang wanita asal Amerika menemukan sebuah poster mengenai film dokumenter mengenai Bali di Holywood Boulevard. Setelah ia melihat film itu, sekonyong konyong ia merasa telah menemukan dunia yang selama ini dicari cari, sebuah dunia baru yang menggetarkan jiwanya. Ia menjual seluruh hartanya dan rela menempuh perjalanan ribuan mil dengan kapal, menuju Batavia. Ia meneruskan dengan mengendarai mobil seorang diri menyusuri jalan di pulau Jawa yang gelap dan rawan dengan ‘begal’ atau perampokan. Beruntung ia bertemu dengan Pito, seorang anak kecil yang menjadi penunjuk jalannya menuju pulau dewata, Bali. Agaknya jalan kehidupannya sudah ditentukan oleh dewa dewa Bali ketika bahan bakar mobilnya habis, dan berhenti di sebuah pura kerajaan di sana. Ktut Tantri, demikian gadis itu mengubah namanya setelah ia diangkat menjadi salah puteri raja tersebut. Selanjutnya , sejarah mencatat Ktut Tantri banyak terlibat dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam revolusi kemerdekaan. Di udara ia dikenal sebagai ‘ Surabaya Sue ‘ yang menyiarkan diplomasi perjuangan Indonesia ke seluruh dunia melalui radio milik Bung Tomo. Bahkan ia juga menembus blokade laut Belanda menuju Singapura untuk membawa barang barang selundupan untuk dijual di sana guna membiayai revolusi kemerdekaan sebuah negara yang begitu dicintai.


Dari cerita diatas, kita melihat betapa aspek kemanusian telah menembus lintas agama, budaya dan bangsa tanpa harus adanya prasangka. Seperti dokter dokter Kuba yang mengabdikan di Jogja dengan mendirikan rumah sakit darurat dengan biaya seluruhnya dari Pemerintah Cuba. Mereka datang ribuan mil menuju negara yang tak pernah dikunjungi sebelumnya, memberikan pelayanan kesehatan gratis. Menyedihkan, mereka hanya diberi ijin oleh Pemerintah kita selama 3 bulan dari rencana 6 bulan, karena ‘ konon ‘ banyak desakan dari rumah sakit dan dokter dokter Indonesia yang tiba tiba billing pemasukannya menurun drastis karena banyak masyarakat Jogja dan Jawa Tengah lebih suka datang ke rumah sakit darurat milik dokter Cuba. Seperti cerita seorang penduduk di perbatasan Klaten – Jogja, yang tak bisa membayangkan bagaimana bisa mengumpulkan uang 7 juta buat operasi hernianya. Namun dokter dokter ‘ sosialis ‘ ini mengoperasi penyakinya tanpa memungut biaya sepeserpun. Film dalam hal ini bisa menjadi aspek penyampaian sebuah gagasan mengenai humanisme, mulai persahabatan, keadilan bahkan sampai kesetaraan gender misalnya. Namun apakah ini bisa diterjemahkan bahwa film seperti ini bisa laku, kalau masyarakat kita katanya lebih suka pada film film remaja cinta anak sekolah dan horror ? Budaya televisi dan film secara tidak langsung mencekoki pola pikir masyarakat sehingga budaya kekerasan, individualistis, dan mimpi mimpi kota besar telah menghilangkan sisi humanisme manusia Indonesia.


Tapi siapakah yang harus disalahkan ? pasar , produsen atau Pemerintah. Seperti diketahui peran pemerintah saat ini terhadap pengembangan film nasional adalah hampir tidak ada. Tak jelas kemana larinya dana pajak tontonan, pajak impor ( yang mestinya dikembalikan sebagai subsidi perkembangan film nasional ). Belum lagi setiap komponen dalam produksi film masih tetap dipajaki. Sewa alat dipajaki,bahan baku dipajaki, prosesing laboratorium dipajaki, dan komponen komponen lainnya, padahal film itu belum jadi. Padahal idealnya film dikenakan pajak setelah menjadi barang jadi. Dengan besarnya komponen biaya yang dikeluarkan, pasti produser lebih baik membuat film yang pasti laku saja. Jadi mungkin tak salah kalau mereka enggan berspekulasi terhadap hasil produknya terutama membuat film film humanisme, kalau ujung ujungnya hanya melihat untung rugi sebuah tontonan. Semuanya tambah menjadi tak menarik melihat kekisruhan orang orang film saat ini ketika sisi humanisme mereka hilang oleh polemik, tidak mau mengalah, penjiplakan karya cipta dan kebencian. Generasi tua, Masyarakat Perfilman Indonesia ( yang rame rame mengembalikan piala citra ), Pemerintah ( Juri, BP2N , LSF ), kelompok film India kini berada dalam titik nadir perjalanan film nasional. Ada pernyataan menggugah dari Sophan Sophian yang saya dengar di sebuah TV, katanya mengapa sekarang seolah olah kemenangan film di festival menjadi berhala baru, sehingga harus dikejar sampai ke ujung dunia. Bagi saya sungguh menyayangkan jika Riri Reza atau Hanung Bramantyo lebih sibuk memikirkan gerakan perlawanan secara terstruktur terhadap ‘ the old establishment generation ‘ daripada bagaimana membuat film film selanjutnya.



Festival sebuah film bukan merupakan puncak pencapaian. Biarlah masyarakat yang menilai film ini baik atau buruk, jujur atau menjiplak . Kita seharusnya jangan membiarkan sisi humanisme sebagai pencipta seni tergerus dengan emosi. Kalau ini dibiarkan berlarut larut akan mempengaruhi daya cipta kita. Tumpul, kering dan menjadi tidak peduli. Sehingga kita akan menjadi apatis seperti yang dialami Ktut Tantri, ketika paradise itu telah berubah menjadi ladang pembantaian, kakak ‘ angkatnya ‘ di puri kerajaan yang dibunuh bangsanya sendiri, tentara tentara yang mencuri uang hasil penjualan gula republik, sampai konspirasi untuk menjual bangsanya. Hampir saja dia tidak percaya lagi dengan sisi humanisme seorang manusia, sampai ketika ia tiba kembali di pelabuhan Boston, setelah hampir 20 tahun meninggalkan Amerika. Dalam malam Natal yang dingin dan sepi itu, ia hampir menangis karena tidak memiliki uang sepeserpun untuk kembali ke rumah orangtuanya. Dan tiba tiba saja ada seorang pemuda Indonesia keturunan tionghoa yang hendak belajar di Amerika, datang memberikan uang secukupnya. Dan ternyata humanisme itu masih ada. Mudah mudahan kitapun masih percaya. Semoga saja !

read more ...

Monday, January 01, 2007


MELIHAT KEABSAHAN FESTIVAL FILM INDONESIA

Bahtiar Siagian, salah satu bapak perfilman Indonesia, disamping Usmar Ismail, pasti tak akan habis habisnya menyesali di alam kubur, karena seluruh jejak jejak karyanya sudah dimusnahkan oleh Pemerintah orde baru. Sungguh menyedihkan, bahwa kita tidak lagi memiliki dokumentasi perfilman era orde lama, terutama sutradara sutradara yang dicap penganut paham komunis seperti Bahtiar Siagian. Itulah sebabnya film tak pernah lepas dari kepentingan berbagai pihak, terutama pihak yang berkuasa ( baca : pemerintah ). Sampai ketika orde baru rontok, masih ada pertanyaan apakah Pemerintah masih berkepentingan untuk mengatur perfilman ini. Termasuk penyelenggaraan Festival Film Indonesia yang telah digelar sejak tahun 1973. Khrisna Sen dalam bukunya “ Indonesia Cinema - Framing new order “, mengatakan FFI adalah bagian dari proses pengawasan dan pengarahan film nasional selain badan badan film yang dibentuknya. Sampai akhirnya Jum’at kemarin, saya mendapat sms dari Joko Anwar untuk datang ke pertemuan pekerja film untuk berkumpul di bilangan kemang. Topik utama dalam pertemuan ini adalah membahas langkah langkah yang perlu disuarakan mengenai penyelenggaraan Festival Film Indonesia, yang baru baru ini menimbulkan sejumlah kontroversi.

Pemilihan Film “ Ekskul “ sebagai film terbaik disamping sutradaranya, Nayato Fio Nuola sebagi sutradara terbaik, menjadi salah satu pemicu kontroversi mengenai standarisasi dan penilaian sebuah Festival Film Indonesia . Banyak kekecewaan disuarakan mengapa filmnya Nia, ‘ Berbagi Suami’ atau filmnya John De Rantau’ Denias ‘ atau film film yang dianggap bermutu bisa kalah dengan film berkualitas seperti ‘ Eskul ‘. Saya sendiri akhirnya tidak menghadiri undangan itu, namun dari teman teman yang hadir saya mendapat kesan pertemuan itu selain menyiapkan rancangan petisi keprihatinan pekerja film, juga secara tidak langsung menjadi pengadilan terhadap karya Nayato. Memang sutradara ini cukup unik, dia kerap berganti ganti nama dalam menggarap film filmnya, seperti memakai nama Koya Pagayo dalam filmnya ‘ Panggil namaku 3 X’ dan ‘ 12.00 am ‘, lalu ada Chiska Doppert dalam film ‘ Missing ‘, memakai nama Pinkan Utari dalam film ‘ Gotcha ‘. Dia hanya memakai nama aslinya Nayato Fio Nuola dalam film ‘ Soul ‘ dan ‘ Ekskul ‘ sekarang. Apakah ini karena dia tidak PeDe sehingga memakai nama palsu, saya juga tidak tahu. Mau bertanya secara langsung juga tidak bisa karena saya sudah tidak memiliki nomor telponnya. Terakhir bertemu dengan dia mungkin sekitar 6 - 7 tahun lalu ketika ia masih menjadi sutradara iklan.




Terlepas dari kualitas filmnya yang dianggap biasa biasa saja, saya mengharapkan bahwa ini bukan kampanye secara sistematis terhadap jenis film lain, seperti ketika golongan realisme sosialis menggayang film film manikebu ‘ dari seni untuk seni ‘ jaman orde lama.. Saya lebih melihat bagaimana sistem dan prosedur penjurian ini dilakukan. Pola yang ada sekarang dimana dewan juri yang dipilih sangat rentan terhadap penyelewangan dan bentuk intervensi dari pihak luar, bukan saja Pemerintah tapi mungkin para pebisnis yang sangat berkepentingan terhadap industri ini. Saya sama sekali tidak meragukan integritas anggota dewan juri Rima Melati, Noorca M Massardi, Chaerul Umam, Eddy D Iskandar, Embi C Noer, Remy Silado dan WS Rendra dalam kompetensi bidangnya masing masing. Namun apakah mereka memiliki ‘ mata ‘ yang cukup up to date untuk mengikuti trend pergaulan , budaya, teknologi, serta memiliki pemahaman mengenai bagaimana menilai film yang baik dan buruk. Lihat saja, ada beberapa musik dalam film “ Ekskul ‘ yang jelas jelas menjiplak plak ketiplek soundtrack film Gladiator karya Hans Zimmerman. Ini memang kebodohan dewan juri mengapa sampai kecolongan ? atau memang tidak ada yang tahu siapa music composer kondang itu ? terutama Embi C Noer sebagai wakil dari musisi ( terakhir ia membuat musik filmnya ‘ Pengkhianatan G 30 S PKI ‘). Mudah mudahan Yato, demikian nama panggilannya kelak mau menjelaskan pertanggungjawaban etika penciptaan karya film. Kalau melihat contoh bagaimana Academy Oscar Award dilakukan, yang mana penjurian dilakukan oleh Academy of Motion Picture Art & Science sebuah lembaga non profit yang sangat independen dan memiliki integritas tinggi. Lembaga ini memiliki anggota sekitar 6500 orang yang mewakili 14 cabang interest – actor, animator and short film makers, art director and costume designers, cinematographers, composer and song writers, documentary film makers, directors,executive, producers, film editors, public relations specialist, sound technicians, visual effects expert and writer. Untuk tahap pertama, anggota harus memilih calon yang bidangnya sama, seperti misalnya sutradara yang anggota AMPAS hanya memilih sutradara. Kemudian setelah masuk nominasi baru seluruh 6500 anggota memilih calon calon pilihannya. Seluruh proses ini diawasi dan dilaksanakan melalui PriceWaterhouse & Cooper sebuah lembaga audit independen, dan sampai amplop itu dibuka di depan panggung, hanya dua orang partner PriceWaterhouse & Cooper yang tahu siapa pemenangnya.


Anggap saja dewan juri FFI telah melakukan tugas dengan sebaik baik dengan segala pertimbangan dan standarisasi yang dipakai. Bagaimana jika betul film film tipe horror, remaja, cinta anak sekolah ternyata memang menjadi potret film nasional kita ? Jumlah penonton kita justru menunjukan banyaknya angka penggemar jenis film film tersebut. Apakah kita harus malu dan tetap bersikeras bahwa potret film Indonesia yang sesungguhnya yang berkelas film film festival luar negeri dan penuh philosphy. Lihat India saja tidak pernah merasa rendah diri dengan gaya film menari, dan menyanyi diantara tiang tiang dan tetap memproduksi jumlah film yang terbanyak di dunia. Akhirnya ini memang potret masyarakat kita yang sakit, lebih percaya pada dukun dan tahayul sehingga suka film horror. Masyarakat yang terbiasa dengan poligami, tentang mimpi mimpi kota besar, sehingga film cinta memble lebih digemari, daripada film yang berseting di hutan Papua. Namun bagaimanapun juga kita mesti setuju bahwa film harus memberi kesaksian atas cermin peradaban suatu budaya, sekalipun betapa buruknya peradaban itu. WS Rendra tentu masih ingat sajaknya berjudul Kesaksian ( Aku mendengar suara, jerit hewan terluka/ Ada orang memanah rembulan / ada anak burung terjatuh dari sarangnya/ orang orang harus dibangunkan / kesaksian harus diberikan / Agar kehidupan bisa terjaga ).

Selamat Tahun baru 2007 !

read more ...