Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Saturday, November 10, 2007

SIAPAKAH PAHLAWAN ITU



Ketika saya masih kecil, bayangan pahlawan bangsa itu adalah mereka yang bertempur melawan penjajahan Belanda. Dengan selempang peluru di badannya, bambu runcing atau menghunus pedang. Gagah berani, walau pada akhirnya kalah dan gugur. Tentu saja karena saya besar dalam masa pendidikan orde baru yang militeristik, membuat kesan sisi heroik pertempuran saja yang dikupas sebagai mitos kepahlawanan. Mungkin Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang memiliki banyak pahlawan. Selain pahlawan kemerdekaan, ada pahlawan nasional yang tidak melulu bertempur tapi dilihat dari perjuangan diplomasi, kontribusi pendidikan sampai kesetaraan gender. Ironis bahwa pahlawan menjadi bagian konstruksi sejarah menurut selera rezim penguasa negeri. Para jenderal jenderal yang apes karena dijemput tengah malam, untuk kemudian dibunuh PKI, mendadak sontak menjadi pahlawan revolusi. Padahal issue sosial saat itu, adalah jendral kabir – kapitalis birokrat – yang hidup mewah sementara prajurit di pelosok harus antri beras. Bahkan ada salah seorang dari mereka baru pulang dari pesta, sebelum dijemput pasukan cakrabirawa. Bisakah sejarah menjadi jujur tanpa terjebak dalam pemikiran sempit mitos kepahlawan ?


Umumnya orang mengetahui, pahlawan pers Indonesia adalah Adinegoro, padahal Tirto Adhi Surjo, jauh jauh sebelumnya sudah menerbitkan Koran Indonesia pertama. Hanya saja karena dia aktif di Sarekat Dagang Islam ‘ merah ‘ yang merupakan cikal bakal komunisme, sehingga namanya sengaja dihapus dari sejarah pers nasional. Beranikah kita menyebut pahlawan tanpa harus melihat ideologi dan sikap politik seseorang. Ribuan orang komunis mati dalam pembuangan oleh penjajah Belanda di digul, papua karena aktivitas politik yang menuntut kemerdekaan bangsanya. Kompas hari ini menyebutkan Presiden SBY menganugrahkan gelar pahlawan nasional kepada Adnan Kapau Gani, padahal jaman orde baru, sosok yang dahulu dekat dengan Bung Karno ini, diasosiasikan sebagai orang yang korup dan dicurigai bersimpati pada komunis. Tokoh Tuanku Imam Bonjol kini menjadi kontroversi yang digugat kepahlawanannya, dicurigai justru dia dan pasukan paderinya yang melakukan pembantaian terhadap keluarga Kerajaan Paguruyung di Minangkabau dan jutaan etnis Batak , sewaktu melakukan invasi ke mandailing.


Pertanyaannya apakah masih relevan mitos pahlawan dengan kondisi bangsa ini yang semakin membutuhkan terapi untuk kesejahteraan rakyatnya. Bahwa mitos perjuangan masa kini berbeda dengan perjuangan masa lalu, ketika masih ada puluhan juta penduduk bangsa ini yang terpinggirkan dan berjuang untuk bertahan hidup. Lepas dari kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Dahulu semasa kecil saya bertetangga dengan keluarga Ayu Ashari. Waktu itu namanya masih Khadijah, sebelum diganti karena dianggap kurang menjual di dunia film. Hidup keluarganya benar benar susah, dan sebagian besar pencurian atau keonaran di lingkungan kami pasti ulah dari kakak atau adiknya, entah itu Salim, Abbas atau Irba. Namun perjalanan hidupnya memang seperti tergambar dalam cerita cerita film, bahwa kemudian hari dengan perjuangannya, Khadijah bisa menjadi bintang film. Ia membebaskan keluarganya dari kesusahan, menyekolahkan adik adiknya, dan yang paling penting membuka jalan bagi adik adiknya untuk memasuki dunia film.

Terlepas dari kontroversi apapun sosoknya, bagi saya Khadijah atau Ayu Ashari adalah pahlawan bagi keluarganya, yang berjuang keras untuk penghidupan yang lebih baik. Kita bisa menjadi pahlawan sendiri bagi orang terdekat kita, keluarga, atau bahkan orang lain dan lingkungan kita. Ketika saya berada di lokasi syuting, secara tidak sadar saya dianggap pahlawan bagi 50 sampai 100 orang pekerja lepas, yang menggantungkan hidupnya di film. Bagi anak anak dusun Bangsari, sesungguhnya pahlawan mereka adalah bloger bloger yang membantu biaya pendidikan sekolahnya , bukan Patimura atau Diponegoro. Bagi saya juga, Iwan Esjepe adalah pahlawan yang memberikan kesadaran melalui situsnya bagaimana untuk lebih mencintai negerinya sendiri, Indonesia. Juga tak dilupakan guru guru kita. Ah, tiba tiba saja saya ingin besimpuh di pusara ayah saya, dia adalah pahlawan besar yang memberikan kesempatan luas untuk menjadi diri saya sekarang.
Selamat Hari Pahlawan !

25 comments:

annots said...

Selamat hari pahlawan juga pak. Anda juga pahlawan bagi keluarga anda :)

Anang said...

Selamat hari pahlawan...

phillips said...

Pahlawan juga manusia, sekali waktu dia jadi pahlawan lain waktu dia bisa jadi pengkhianat. Mengenai dr AK Ghani, beliau memang pejuang sejak jaman revolusi dan dia bukan PKI tapi PNI.

Iman Brotoseno said...

phillips,
saya memang tidak mengatakan dia PKI, tetapi simpatisan, atau dicurigai dekat dengan kiri. Sebagaimana rezim orde baru, yang mencurigai Chaerul Saleh, tokoh tokoh Murba, Partai Sosialis, Tan Malaka ( komunis nasionalis ). Demikian pula PNI ada kelompok Ali Sastroamijoyo dan Surahman yang disebut PNI kiri karena bersimpati dengan komunis, yang pada akhirnya bersiteru dengan PNI kanan, Osa Maliki - Usep Ranuwiharjo. Apapun ideologinya, bahwa mereka semua adalah pejuang kemerdekaan yang menunggu pengakuan dari rezim penguasa. Sehingga menjadi ironism bahwa sejarah ditulis oleh si pemenang kekuasaan.

triadi said...

kalo Osama dianggap teroris oleh Pak bush, maka buat seluruh pendukungnya dia adalah pahlawan. Keduanya mungkin "jadi pahlawan" juga buat penjual buku2, kaos2, dll yang berisi mereka berdua.

Mitos tentang pahlawan seperti halnya nasionalisme menurut saya adalah keniscayaan saja...pasti akan tetep ada. Hanya sekarang ini konstruksi media memberikan alternatif yang bermacam-macam tentang siapa yang pantas jadi pahlawan...

bahkan kita pun boleh mengklaim diri kita pahlawan kok, minimal di media (blog) kita sendiri hehe..

salam

-tikabanget- ™ said...

boleh ndak ya, kalo sayah anggep diri sayah ituh pahlawan untuk sayah sendiri ituh...

NN said...

Mas Iman selamat hari pahlawan, oh suka rumi juga toh ;)

siska said...

pahlawan, jadi seperti 2 sisi mata uang saja. ya kan? well, habis baca KOMPAS, ternyata pak Iman juga ngebahas ttg pahlawan.
selamat hari pahlawan!!

nieznaniez said...

lihat saja buku sejarah 100 tahun mendatang. akan ada namaku di dalamnya. ahahhahaaa...amien...

-ian- said...

aduh, kalo ga baca tulisan mas iman, saya bener2 lupa kalo hari ini hari pahlawan. Thanks

Aris said...

Sosok pahlawan memang tergantung pd bagaimana kita melihatnya dan tentu saja siapa yang melihat. CNN dan Panitia Nobel misalnya, mereka punya kriteria sendiri utk menilai sosok pahlawan. CNN bahkan memvotingkan kepada pembacanya utk menilai pahlawan yg diinginkan.

btw Belgia lagi butuh pahlawan nih, yg bisa menyatukan perbedaan antara Utara dan Selatan.

leksa said...

sinergis dengan quote :
"Sejarah adalah milik Penguasa.."

keritiKentang™ said...

Kita bukan saksi sejarah.
Jd kita jg sulit utk mencari kebenaran siapa pahlawan dan siapa lawan.
Yg bisa kita tau pasti adalah siapa saja yg menjadi pahlawan dlm hidup kita yg skrg... ;)

Yuki Tobing said...

mas iwan, selamat hari pahlawan..
buat saya sendiri definisi pahlawan adalah orang yang melakukan "apa yang di luar tugasnya" demi membela warga negara..
dalam rangka hari pahlawan, saya juga nulis tentang itu di blog saya, dengan fokus ke apresiasi terhadap mereka, kalau minat bisa baca di http://goresanngawur.blogspot.com/2007/11/sekilas-tentang-hari-pahlawan.html

oh ya, kmren makasih komennya di tempat saya mas..

TaTa said...

sayang yah mas saat2 ini gaung hari pahlawan gk sesanter waktu jaman sekolah saya dulu, kayaknya orang santai2 aja malah mungkin lupa kalau tanggal 10 nopember adalah hari pahlawan

CempLuk said...

selamat hari pahlawan..

Totok Sugianto said...

jangan lupa para TKI yg bekerja di luar negeri juga bisa disebut sebagai Pahlawan Devisa meskipun perlakuan yg diterimanya terkadang kurang manusiawi, jadi selamat hari Pahlawan :D

amethys said...

selamat mengenang "pahlawan2"....
bukankah pahlawan itu adalah "seseorang" yg berjasa...entah untuk bangsa, negara, keluarga, kehidupan dan diri sendiri?

thx mas imam...saya jadi mengingat hari pahlawan

lance said...

pahlawan dengan huruf P besar...itu yang kita mau..

agus said...

merenung

Wibi said...

Tulisan yang menarik.
Pembicaraan tentang pahlawan memang bisa luas sekali.
Kalau kita mau persempit dalam wilayah pahlawan kemerdekaanpun belum menjamin kesamaan visi.

Selain Iman Bonjol ada juga pahlawan yang baru diangkat yaitu AA Gde Agung yang pada masa perjuangan 45-49 memihak Belanda tapi diangkat sebagai pahlawan nasional.

-Fitri Mohan- said...

ati2 di papuanya ya mas. selamat hari pahlawan!

Pinkina said...

Selamat hari pahlawan mas

endikz said...

pahlawan dan penjahat setipis kertas perbedaannya. dilihat dari sudut pandang mana dulu. sukarno pun menjadi penjahat atau pemberontak bagi belanda. macam robin hood sajalah.. yang penting kita berpikir dan bertindak dengan baik dan benar untuk negara kecil kita, untuk masyarakat kecil kita.. supaya mereka bisa sekolah atau belajar, beli jajan, tertawa dan tertidur pulas malam ini.
bener gak om..??

Dony said...

Ngomongin Pahlawan memang bisa luas sekali konteksnya, dan nggak melulu yang disebut di buku sejarah saja, masing2 orang khan punya sosok pahlawan sendiri, pahlawan yang personal dan sangat berarti dalam kehidupan kita.

Saya ada bocoran soal untuk ujian pelajaran sejarah SD nih; Sebutkan nama-nama Pahlawan yang kamu ketahui.
Kalo saya jadi anak SD, saya akan menjawab: Ultraman, Gaban, Voltus, Satria baja hitam, Power Rangers, Batman!