KARTINI

Jepara, October 1903
Modertje, my moedertje,say something to me, I am so utterly, utterly unhappy. Physically, spiritually broken, I have energy no more. For days already it is as if there is a fire in my head, as my heart is a burning bullet. I am assumed to be still alive, Is this living ? There are worse things then death. And when I am dead, what will that have achieved ? Nothing ! other than that I have obstructed some people, tripped them up in their egotism. …Oh my poor, poor dreams, my poor sisters.
The house is as though deserted, the bird no longer chrips, it is lying with broken wing, a broken heart, oh and a heart full of terrible, evil thoughts.
Do you despise me,yes ? -it is hard,but still bearable, but that I cannot respect myself, that I cannot bear.
My God have mercy, show me the way !
So wrote Raden Ajeng Kartini two month prior her wedding with the regent of Rembang which almost 30 years older than her. More than 100 letter which Kartini wrote to her mentor, Rosa Abendanon, a wife of the director of education of the Dutch East Indies between 1900 – 1904. In these letter she expressed her belief in her right to the freedom of personal self determination as a woman and a javanesse. She describes her quest for further education and for release from restrictions traditional life imposed on woman, especially the tyranny of an arranged polygamous marriage. But the decision has been made by his father, and she never lived to see that freedom.
I have read some people questioning her struggle against the feodalism is just a peanut compare to other women’s national hero such as Cut Nyak Dhien or even Dewi Sartika. Those two mentioned national heroes were imprisoned by dutch colonialism. And Kartini still locked up by her marriage . Im just wondering what would be in her mind after watching TV show called Infotainment. Is she happy to see how easily a woman now asking for a life separation or even she becomes more depressed in understanding how Teh Ninih way’s of life. She must be very familiar with her personal struggle, that tragically is a reavealing picture of Indonesian culture and society as she quoted ‘ the freeing of women is inevitable, it will come, only we cannot hasten its coming. The freedom of women will be the fruit of our suffering and pain ‘. Maybe she just doesn’t care after having a chit chat with Tamara Blezinsky. Who knows ?








31 comments:
lain jaman lain pemikiran.....
intisari pemikiran kartini juga harus banyak di improve utk jaman kekinian....
kadang penerapannya juga udah ngasal....
masih bnyk yg memperingati hari kartini dengan menyuruh pake kebaya ke kantor ato kerja di pom bensin (kyk cerita koeniel-http://my-musings.blogdrive.com)
duh....maksudnya dah ga jelas gitu ya?
hihi, yang chit chat with tamara...alah mas iman ki ono2 wae, enten2 mawon alias..hm bahasa inggrise opo yo..hihi, mboh!!!
selamat hari kartini, say no to poligami!!!
Ibu kita Kartini pasti bangga sekaligus menangis liat kartini2 masa kini..
Kayaknya harus ada Bapak kita Kartono yg bisa bikin pria2 'melek' soal perasaan para kartini :P
kalo diliat2 wanita sekarang emang harga dirinya makin tinggi.. Dengan mengatasnamakan emansipasi wanita yang di cetuskan RA Kartini.. Mereka ngerasa bisa hidup tanpa bantuan laki2.. jadi kadang mending cerai daripada di poligami..
waduh sampai ke masalah poligami nih :) btw semakin tinggi emansipasi dan tingkat kecerdasan kita, terkadang hal yg dibolehkan menjadi area abu-abu, contoh kasus poligami, yg jelas2 tidak dilarang, tapi kenyataannya menjadi 'terlarang' akibat dampak opini yg terbentuk di masyarakat kita. Yang boleh sudah pasti tetap dibolehkan (dgn syarat tertentu) dan yg dilarang pastilah dari awal sudah ada vonis haram. Saya merasa miris dgn pola pikir dan pandangan yg memutarbalikkan hukum Tuhan.
- Ajie-
# sikapi perbedaan dgn damai#
waduhhh berat mas nih postingannya..pake dua kali mikir...hehe..
kalo ingin disamakan, selalu mengatasnamakan : emansipasi.
tapi pas giliran bayar membayar : elo khan laki2x...
eh itu temanku sih kekkekek
walah ra ngerti boso enggres. Katro!!! he..he..
wah,boso inglis trs....mumet mbacanya...hehhehe...
selamotttt hr kartini aja....
met hari kartini aja deh saya baru inget malah
aku ra ngerti boso linggis, versi indonesia nya please *halahh
selamat hari kartini. tapi, mas...banyak juga yg mergukan keaslian surat2 beliau lho...
lah itu akibat dari emansipasi...pemberontakan utk tidak dipoligami, hidup tamara...eh salah....Kartini ding.
ada yang nanya, penting banget yah memperingati hari kartini? kartini toh tidak memperjuangkan hak kaum perempuan secara general. well, tetapi mungkin salah satu alasan adanya hari kartini adalah untuk mengingatkan kartono2 yang lupa bahwa kartini2 juga memiliki hak yang sama untuk hidup nyaman dan sejahtera dengan jalan yang telah dipilihnya
err, sory, but I dont see any relation between poligamy and women's emansipation =9
setuju ama kana haya. nggak ada hubungannya antara poligami sama emansipasi wanita. lagian..saya nggak menjunjung emansipasi tuh. kalo emang emansipasi..perempuan sono pada jadi kuli bangunan, mau nggak?!! sana ngangkut karung beras. yang bener tuh..lakukanlah apa yang memang seharusnya dilakukan perempuan, laki2 juga sama. Pkoknya, lakukan sesuai dengan Kodrat dari Tuhan. sok2 mau emansipasi, disuruh ngangkut karung beras nggak mau!!
"Is she happy to see how easily a woman now asking for a life separation or even she becomes more depressed in understanding how Teh Ninih way’s of life"
I guess it depends on how she formulated the concept of emancipation. If she defined it to make the female the master of their own life - who can choose what they want - therefore she would have no disappointment against Tamara's and Teh Ninih's decision.
But if she had a different concept.. well... ;)
*I guess we all forgot to ask her that ;)*
In fact the woman in Indonesia so lucky, they can go everywhere and they can do everything they like even they are not working,they have servant,very big different with your ages madam Kartini
bagaimana dengan Marsinah?
sayang Ibu Kartini tidak hidup cukup lama untuk bisa menjelaskan apa yg beliau maksudkan dgn emansipasi. krn skrg penafsirannya jadi begitu beragam dan cenderung digunakan untuk pembenaran dari tindakan yg kontroversial....*halah...kepanjangaaan...*
Suatu saat, di jaman ditemukannya mesin waktu, maka kru infotainment akan pergi ke masa lampau, mewawancara Kartini... *halah ngelamun*
he he he..jaman kartini kan wanita emang ga ada yg sekolah..sekarang boleh adu cerdas2 an ama co...kekeke...makanya makin berkembang cara berfikir dan gaya hidupnya kepercayaan diri jadi mantab.....halah..jadi do not mess with a woman.....lareeeee
Pak, I agree with her greatest idea but disagree with poligamy.
Terlepas dari emansipasi dan pemberdayaan gender, kadang kita harus ingat bahwa masing2 punya peran dan kodratnya masing-masing.. semoga nggak lupa akan yang satu itu.. namun demikian seiring perkembangan jaman dan pergeseran nilai plus fenomena akhir zaman, things are very much mixed-up and made to look upside-down :D
Nice posting indeed.. it surely made me think of my idung pesek a lot more often today :p
bagaimana dnegan marsinah?
itu bener2 foto ibu kartini bukan ya ?
dari bahasa Inggris ibu kartini, terlihat begitu kesedihan yang mendalam, sumbernya dari mana Bung ?
Makasih mas dah kinjung balik ke samlens. Iya pingin khursus selama ini hanya insting dan otodidak aja gak ada basic. yang setidaknya tahu tekniknya :) secara benar.
Blognya ok pemikirannya matang. cocok buat perenungan
Itu kayaknya teks bahasa belanda yang di- Inggrisin ya, mas?
disini aku rindu lomba kebaya n lomba masak nasi goreng...
Selamat hari Kartini bagi yang merayakan (khusus ibu2 kale..)
Setuju dgn Domba Garut... Masing2 harus tetep inget sama peran & kodratnya... Kalo itu dilupakan, yang ada malah salah kaprah ga keruan dech...
N' say no to polygami =))
Mother is also modern emansipation, Mother is the hero without reward expectation
Post a Comment