Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Sunday, January 21, 2007


KERJA DI FILM DAN PILIHAN KARIR

Cerita sepuluh tahun lalu ketika saya pindah ke sebuah pemukiman , yang rata rata penghuninya bekerja di kantoran. Mereka berangkat pagi pagi dengan iring iringan mobil keluar gerbang kompleks, dan menjelang malam iring iringan mobil kembali memasuki rumah masing masing. Mirip adegan kehidupan sebuah pemukiman dalam film “ Edward Scissorhand “. Rutin dan monoton. Sementara mereka bertanya tanya tentang saya, apa pekerjaan orang baru ini. Rambut gondrong memakai anting ( waktu itu ), keluar dari rumah siang dan pulang pagi pagi subuh. Bisa juga lepas subuh sudah dijemput oleh sebuah mobil dan berhari hari tidak pernah pulang. Atau kadang tidak kemana mana, hanya kelihatan duduk duduk di teras sambil merokok. Kebetulan waktu itu salah satu video clip Kris Dayanti besutan saya mendapat award dari MTV South East Asia. Sehingga mereka melihat wawancara di TV dan segalanya, barulah ibu ibu komplek yang tadinya mengira saya bandar narkoba mulai tersenyum ramah jika lewat depan rumah. “ oh..orang film ‘ katanya.


Memang jaman dahulu kerja di film memang sering dianalogikan dengan kerja serabutan, sehingga orang tua kita cenderung menyuruh anaknya masuk sekolah kedokteran, ekonomi atau apa saja yang menjamin nanti bisa bekerja di kantoran. Tetapi dengan berubahnya jaman menjadi era globalisasi dan multimedia, dengan banyaknya stasiun TV, TV kabel juga maraknya dunia perfilman. Bidang film khususnya menawarkan berbagai pilihan profesi yang bisa ditekuni dan tentu saja dengan penghasilan yang lumayan. Rincian crew film mulai dari sutradara, produser, Director of Photography, Art Director, Casting Dircetor, Set Builder, Special Effect, Lightingman, Sound recordist, Musician, Editor sampai penata rias. Bahkan kalau di film iklan lebih spesifik lagi , ada food stylish yang mendressing makanan, ada hair stylish khusus untuk iklan shampoo, sampai story board artist yang menggambar visualisasi setiap rancangan adegan. Bagi yang expert dalam disain pakaian bisa menjadi wardrobe stylish, atau yang berkemampuan dalam komputer, grafis bisa menjadi digital effect artist untuk pekerjaan paska produksi. Kalau kita lihat credit tittle di layar lebar bisa sampai puluhan atau ratusan nama yang terlibat. Ini menunjukan banyaknya departemen dengan segala spesifikasi dan orang orang pendukungnya, termasuk para asistan sutadara, asistan produser, asistan kameramen dan sebagainya.


Institut Kesenian Jakarta yang jaman dulu identik dengan sekolah buangan, kini menjadi incaran anak anak yang baru lulus SMA. Demikian di tempat lain jurusan broadcats, sekolah desain serta komunitas film bertebaran di seluruh negeri. Ini menunjukan adanya pola pemikiran baru di generasi muda tentang pilihan karir masa depannya. Jangan dianggap remeh, ada seorang anak muda berusia masih berusia 26 tahun bekerja sebagai ‘ colourist ‘ sebagai tehnisi operator yang mentransfer film negative menjadi data digital atau pita video, bisa bergaji sama dengan seorang direktur bank. Penulis skenario layar lebar papan atas, rata rata dibanderol minimal 50 - 75 juta untuk per skenario. Untuk bidang teknis seperti Director of Photography, Camera operator, Gaffer, Art Director dll umumnya dibayar per hari syuting ( untuk film iklan ) atau kontrak per judul ( untuk layar lebar ). Honor Director of Photograpy atau kameramen untuk film iklan bisa 7 – 12 juta per hari. Untuk pekerja crew lainnya seperti lighting, loader, focus puller, dollyman, grip, unit dll berkisar 500 ribu – 2 juta juta perhari. Sementara seorang PU atau Pembantu umum yang biasa menyiapkan kopi, teh, makanan kecil minimal mengantongi Rp 250,000,- per hari. Lalu bagaimana dengan sutradara ? posisi ini biasanya diikat per project dan honornya relatif, dengan kisaran antara 10 juta sampai 200 juta. Bahkan saya yakin untuk iklan iklan rokok yang banyak memakai sutradara bule, total honornya bisa mencapai 300 – 500 juta. Juga sebagai gambaran untuk sutradara sinetron papan atas bisa berkisar 20 – 25 juta per episode. Sutradara memang hampir seperti pelukis, tidak ada patokan yang resmi. Bisa saja dia memberikan lukisannya dengan gratis, ada juga yang harga lukisannya sejuta bahkan sampai ratusan juta.


Enaknya juga, pekerjaan kita tidak pernah monoton, selalu bertemu orang yang berbeda beda, lokasi berbeda beda, serta ide yang berbeda pula. Bahkan kita bisa melihat suatu tempat yang mustahil kita datangi kalau bukan karena pekerjaan ini. Kita bisa syuting di pelosok papua, danau toba sampai disebuah gunung bersalju, di utara Vancouver – Canada. Mengenai busana kerja, orang film tidak direpotkan dengan baju rapi berdasi, blus, celana atau rok bahan. Cukup jeans, kaos T shirt dan sepatu kets. Kadang saya bekerja atau meeting dengan klien memakai celana pendek saja. Walau suatu waktu juga merepotkan kalau harus menghadiri acara resmi, karena tidak banyak pilihan pakaian resmi yang dimiliki. Dari tahun 1993 saya hanya memiliki 2 steel pakaian batik yang dipakai berganti ganti untuk undangan perkawinan, sunatan keponakan sampai audiensi dengan pejabat. Kembali ke ruang lingkup pekerjaan di film, dengan munculnya generasi baru, memiliki budaya yang lebih ‘ gaul’ , lebih akrab dengan teknologi bahkan memiliki background pendidikan yang kuat, akan menyuntikan darah segar perfilman nasional. Jelas berbeda dengan generasi film lama warisan film film jaman baheula yang lebih ke otodidak dan sangat ‘ gaptek ‘ internet dan komputer. Ada riset dari majalah Fortune di Amerika sana, justru sekolah sekolah bisnis mengalami penurunan peminat, berbanding terbalik dengan sekolah film yang mengalami peningkatan murid. Jadi wahai bapak bapak dan ibu ibu, sudah bukan saatnya lagi memasang wajah galak kepada calon menantu orang film. Mari !

44 comments:

hErY said...

Wah enak juga Om, nanti juga pengen belajar deh, tapi aku kesindir diparagrap pertamanya, karena masih kantoran hehehe

max said...

karena ada pembedaan pekerja film, antara generasi baru yang lebih ‘gaul’ dengan generasi film lama warisan jaman baheula, pantesan ada kasus pemulangan Piala Citra. Habis Piala Citra-nya blom digital sih :))

Alex Ramses said...

Wah baru tahu kalau dulu bapak2 suka pasang wajah galak sama calon menantu orang film hehehe, maklum dianggap orang gak bermasa depan, kerja cuma serabutan, penampilan preman acak2an model seniman gitulah kali.

Untuk film Indonesia, saya selalu mendukung, kalau lagi di Indonesia dan ada film Indo diputar di bioskop, saya dan kawan2 pasti datang buat nonton, meskipun kadang di dalam tidur karena kecewa filmnya buruk. Tapi kami selalu support dengan cara datang ke bioskop dan menontonnya, meskipun kadang gak pantes diliat orang; Kami rata2 berambut panjang, tampang preman biasa main musik heavy metal dan death metal, tapi kok nonton film remaja atau percintaan,, Malu juga sih kadang.

Tapi kalau gak kita kasih kesempatan film2 Indo, ya gak maju2 nanti, makanya perlu diapresiasi dan didukung, dikasih kesempatan, lama2 kan nanti semakin pinter orang2 filmnya jadi bisa bikin film yang bagus dan gak malu2in.

Oh ya, terima kasih koment-nya di blog saya om. Soal FFI gimana menurut anda? cerita dong di Blog sini.

kenny said...

dpt orang film malah sering ditinggal tinggal dunk, blm lagi klo kena cinlok :D

dian mercury said...

kenapa iklan rokok selalu makai sutradara bule, mas ?

irwan said...

hihihi... nyidir calon mertua nih?

pingin jadi bintang pelm said...

Ceritanya, Mas Imam terperosok ke tempat yg menyenangkan, ngono Mas?

Viving said...

wahhh nyindir kiy, aku kan orang kantoran juga mas. Berpedoman 7P (pergi pagi pulang petang pendapatan pas pasan). Tapi apapun profesi kita disyukuri saja, yg penting halal, iyha to? Bukannya segala sesuatu itu ada enaknya dan ada tidak enaknya ?

Iman Brotoseno said...

hery/viving..sama saja kok dimana kita bekerja, tulisan sama hanya menggambarkan betapa dulu orang film suka dicemoohkan karena persepsi yang digambarkan alex ramses...
Dian,..Memang masih mentalitas indonesia, kalau pakai bule selalu dianggap TOP
Kenny,...wah kebanyakan baca Cek Ricek nih ( Cinlok ? ha ha nanti aku posting cerita gituan deh ).
Irwan...mertua tambah sayang sekarang

diditjogja said...

asek....kapan jadi orang pelm ya?! mau juga tuh!!
script writer kayaknya menerik deh...
¤ salam kenal ¤

snydez said...

hehe :P
mertua nya galak ya pak ? ;)

wueh fans arsenal? :o.
sial, ngedobelin MU .. :(

ekowanz said...

lha terus dulu buat ngeyakinin mertua gimana caranya pak? :D

bebek said...

emang mas iman ini orang film?? sebagai apa mas?? kalo bener orang film, berarti posting ini bisa aja masalah pribadi yang diobyektifkan? :D
good luck aja deh dengan calon mertua-nya.... :D

muthe said...

tetep aja Mas, pandangan ortu saya thdp pekerja film adalah 'rusak'. gitu2lah..heran saya juga. Padahal kan asyik tuh kayaknya. Hah..(cuma bisa mendesah... dan bikin 'film' sendiri lewat novel. enak tokohnya bisa diapa2in..hehehe sadis)
Suksess ya!! hohoho

venus said...

hehehe...iya ya? suamiku seniman. bukan 9 to 5 people. kadang tetangga masiiihh aja ada yg nanya, 'heh? jam segini baru berangkat? pulangnya jam berapa?'
udah dijelasin kalo jam kerjanya emang tergantung job, besok2 masiiiih aja nanya lagi.

cape deeeehhh :D

Kristin said...

Kayaknya asyek bangets jadi orang pilem... bisa ktm dengan banyak org dan berbagai karakter org... kl isa tularin dungss (halah apaan seh kok minta tularin *LoL*)

wku said...

ini dia postingan yg saya tunggu2, bisa diprint dan dikasi ke calon mertua... sayangnya saya belum jadi orang pelm neh... gimana caranya mas???

Arif Kurnaiwan said...

Apa tantangan terberat... selama menggeluti dunia film?

elly.s said...

dear mas imam: seneng banget bisa "terbawa arus" kesini.
Seneng baca crt yg lain dari yg lain...
kapan buat film/ iklan ditempat say mas. Unik2 lho disini semuanya....

kw said...

asyik juga. jadi pengen belajar nulis skenario yang keren.

landy said...

bengong.. lagi ngitungin gajinya mas iman..: ) ( accounting mood on )

Hani said...

siap mas! kali2 saya ntar punya menantu orang film...hehehe

nico wijaya said...

ya itulah, kita harus merubah paradigma ya ada... bner ga mas iman?

unsecure said...

kayaknya nya neh cerita di ambil dari kisah nyata kesalnya orang perfiliman ketika di pandang sebelah mata oleh calon mertua hehehe

senja said...

mas, butuh kru buat bikin kopi g? :p

Syah said...

wa... saya pengen jadi script writer juga.. dimana belajarnya yah?

mei said...

hihi penglaman dulu waktu mau melamar nyonya di galakin ma camer ya mas???

hmm menarik, karena bekerja tidak monoton dan bertemu banyak orang, apalagi dari segi financial sangat menjanjikan...

NiLA Obsidian said...

tapi om iman....
meski seneng juga kerja di film,
kayaknya teuteup hati belon ngasih ya...seandainya aurel kelak....dapetin jodo org film huahahahaha......

tapi kalo anak2 ku minta sekolah di film, aku dukung....
hehe....

Fany said...

saya juga gak suka kerja kantoran, makanya gak kantoran skrg kerjanya :D

kayaknya memang orang2 tua dulu banyak gak sukanya bukan ke para pekerja film aja deh, tapi lebih luas, ke seniman. Pelukis, pematung, fotografer, dan orang2 di balik layar gitu.

tapi kalo seniman yang ngetop, yang udah kaya raya, pasti mereka ngasi restu juga lah. hmm jadi intinya 'UUD' buat masa depan.
wajar aja sih, pasti mereka kawatir kalo2 dikemudian hari anaknya 'gak bisa makan'.

eh pekerja film honornya perhari? wah bisa dilama-lamain donk kerjaannya biar honornya gedhe hehehe..

joni said...

kerja di film ada KKN-nya gak???

and ngelamarnya kemana???
perasaan kalo baca lowongan di koran2 gak ada yang buka lowongan untuk crew film???

Atau hanya untuk orang dalem aja???

sorry mas iman belum tahu jalurnya. :)

Siapa tahu nanti anak saya berminat terjun ke dunia perfilman.

Iman Brotoseno said...

mas joni,
memang nggak pernah buka lowongan di koran sih..tapi jalurnya kebuka kok misalnya sudah masuk sekolah film, atau bergaul dengan komunitas film, tinggal mengarahkan interestnya kemana.
Memang eksklusivitas orang film sangat tinggi, hanya sekadar seleksi lingkungan saja, karena pada dasarnya mereka bekerja dengan chesmistry yang sudah cocok..

ewepe said...

Mas Iman, sorry kalo dah ada yg pernah nanya.

Why teman2 di pelem kok "menjustifikasi" diri sebagai orang kreatif dg rambut gondrong dan merokok? pdahal mereka2 jutawan yaa...(based on gaji per karya mereka)

arman said...

Jadi ingat si Aming, yang dulu jadi penata busananya Rachel Maryam di STRAWBERRY.
Modal pertemanan di dunia perfilman memang memegang peranan penting, ya Mas!
Mas...ngomong-ngomong kalo butuh pengantar ransum artis, panggil saya, ya? :-)

bunglon_imut said...

2 tahun gue kerja di tipi, abis itu kerja di legal, kuliah lagi.. jadi penulis lepas, dan skrg jd pekerja kantoran...

asli nyesel bgt.. i wish i can work again in the broadcasting world...

gue suka bgt environment kerja di TV. santai dan kekeluargaan banget.

Setelah keluar dari stasiun tv pertama di indonesia, gue sempat ditarik ke tv lain...

tapi sebelum masuk.. si kampret brengsek.. cewe ga jelas alias dru bertumor semangat bgt ngancurin idup gue.

mulai dari nelp ke semua orang tipi, bilang2 berita bohong mengenai gue, sampe akhirnya berhasil ngembat cowo gue yg tnyata gampang bgt kehasut.

asli nyesek gue... segala cara yang gue usahain untuk balik ke tv ga manjur.. akhirnya gue nyerah, beralih ke media lain... sekarang malah bener2 banting stir ke bidang lain..

someday... gue akan balik ke dunia ini...

BTW, mas Iman Brotoseno.. bukan paska yang benar pasca, dibacanya pun tetap pasca bukan paska.. silahkan buka kamus besar bahasa indonesia..

he he he...

Barry said...

wah, penjelesannya sudah seperti orang pasang reklame :) kalau udah pasang harga segala makin yakin aja deh orang mau ganti karir.

rievees said...

Emang enak kerja di bidang entertainment...
Dulu sempet jadi penyiar radio..
Even duitnya ga gede, tapi asyik aja bawaannya...
Tapi baca postingan ini, boleh juga nech kayanya pengen terjun ke dunia film...
Jadi yang nyiapin kopi juga boleh dech ;p

ira said...

boleh juga tuh ide untuk cari mantu orang pelem... mmm..sapa tau ntar bisa bujuk2 si mantu biar sang mertuanya jadi figuran...*dalam acara wild animal* xixixi..

-may- said...

Lho, Mas, udah punya mertua kan? Kok masih menghimbau "cari mantu orang film"? Mau poligami ya.. HAHAHAHA...

Hmm.. dulu kelbes suami saya heboh waktu salah satu sepupunya masuk Art School di San Francisco. Mau ngapain di periklanan? Turns out sekarang dia menjadi salah satu yg tersukses di kelbes ;).

BTW, moga2 ntar suatu hari IKIP mengikuti jejak IKJ: gak jadi sekolah buangan lagi. Biar mutu pendidikan (dasar) Indonesia lebih baik ;)

Iman Brotoseno said...

may,...waduhhh
teman yang lain, postingan ini memang hanya membuka wacana mengenai job dan karir di dunia film yang selama ini agak dipersepsikan oleh sebagian orang di Indonesia sebagai pekerjaan tidak jelas,serabutan, dan madesu ( masa depan suram )..dan sebagaimana bidang pekerjaan di tempat lain, profesionalisme adalah nomor satu di dunia filmi yang seimbang dengan penghasilan yang diterima..

crushdew said...

kerja di pilem? pastinya menarik..sayang aku ga sreg di situ, jadi penikmat ajalah...

MaIDeN said...

ada yang bilang kerja didunia filem dekat dengan dunia glamour, pesta pesti, dansa dansi ...

Benar nggak ya ?

Endang said...

wah..harap2 cemas nih masuk komen yg kesekian puluh, kebaca gak ya? Hehehe...kalo jadi dokter semua, gak ada yg mbikin film, lha kalo dokternya mumet gimana menghiburnya ya?
btw, kenal agusti tanjung dong....

Septian said...

ternyata film ini masuk nominasi oscar ya, terima kasih revisinya,,,,baru tahu loh saya

bebex said...

crita pahit mengenang IKJ...
tidaaaaaaaaaak!!!!