Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Tuesday, December 19, 2006

SELEB BLOG




Menarik, ada sisi perilaku dari blogger blogger di sini ternyata membudayakan sebuah komunitas seperti di dunia film. Ini bisa dilihat setelah saya browsing kemana mana menemukan topik tentang Selebritis Blog. Rumah mereka selalu menjadi rujukan dan tempat persinggahan bagi para penjelajah dunia maya. Sehingga ada kebanggaan jika kita mendapat komen atau dimasukan kedalam link mereka, sama dengan kebanggaan yang diperoleh bagi seseorang ( tidak semua ) jika disapa oleh seorang Luna Maya di sebuah restaurant misalnya. Semua orang akan melihat dan menimbulkan sebuah pengakuan eksistensi. Wah bergaulnya dengan artis. Sementara di dunia blog ini. Sebagian blogger akan mendapat nilai tambah untuk eksistensi mereka jika bisa masuk ke dalam “ inner circle “ para selebriti blog. Sama dengan dunia artis, ada sikap pemujaan dari para fans fans mereka. Bedanya , jika di dunia seleb artis , para fansnya tidak marah marah jika si artis tidak membalas lambaiannya, atau menolak di photo bersama. Sementara para blogger menjadi sensitive jika selama ini sering kali memberi komen atau menyinggahi rumah para seleb blog, tetapi tidak pernah dibalas mengunjungi atau memberi komentar di rumah mereka.


Mungkin saking kesalnya, sehingga memunculkan gerakan perlawanan anti seleb blog yang justru menimbulkan pro dan kontra untuk urusan sepele ini. Ya, saya katakan sepele karena memang tidak penting menghabiskan energi marah marah tidak karuan, hanya karena blognya tidak dikunjungi para seleb blog. Ketika saya membuat blog ini, yang ada dibenak saya hanya sebuah buku catatan harian yang menampung gagasan dan hal hal yang saya lihat ,rasakan dan perlu disuarakan. Masalah ada yang membaca, atau sakit hati karena tulisan saya adalah nomer sekian. Demikian pula ketika saya melongok ke rumah rumah orang ( termasuk mereka yang katanya seleb blog ), saya juga memposisikan sama dengan siapapun yang saya kunjungi. Jika saya membaca, bertukar gagasan atau memberi komen, memang karena saya rasa topik yang ditulis memang menarik bagi saya. Semakin lama saya menekuni dunia blog, semakin jelas bahwa jumlah komen tidak otomatis mencerminkan kualitas isi blognya. Ada topik yang ditulis seorang seleb blog mengenai kemacetan pulang kampung sekeluarga waktu lebaran, bisa mendapat komen ratusan. Padahal topiknya mungkin biasa biasa saja dan tidak penting. Sementara saya menemukan topik dari blogger antah berantah yang jarang dikunjungi tetapi sarat dengan sisi humanisme yang dalam, sebuah topik yang penuh pencerahan.

Juga tidak pada tempatnya membuat gerakan menyerang seleb blog ini. Rasa rasanya seperti jaman orde baru ketika melarang membaca buku buku Pramudya. Kita tidak perlu inferior dengan para seleb blog yang lebih dahulu bereksistensi di dunia ini. Sudah selayaknya mereka menuai hasil yang mereka tanam dahulu. Juga tidak perlu ikutan latah mencantumkan mereka dalam link kita, jika kita memandang tidak perlu. Buat apa kalau kita tidak paham dengan isi gagasan mereka. Kebetulan hanya satu seleb blog yang saya link karena memang topiknya menarik dan isi blognya dekat dengan dunia saya, Itu saja. Masalah dia mau mampir atau memberi komen adalah urusan lain. Di sisi lain, kita mestinya bangga dengan komunitas yang sudah kita miliki, terus terang dunia kecil saya dengan teman teman yang rajin mengunjungi adalah sesuatu yang mesti kita pelihara. Kita mestinya PeDe percaya diri dengan blog kita, bukankah kita juga selebritis diantara keluarga kita, dan juga teman teman dekat kita.

read more ...

Thursday, December 14, 2006

JAKARTA UNDER COVER



Memenuhi undangan premier filmnya Lance, “ Jakarta Under Cover “ yang diambil dari insight bukunya Moamar Emka, saya rasa anda anda peminat dunia gemerlap malam harus siap siap kecewa. Karena anda tidak akan menemui detail detail apa yang ditulis Emka dalam bukunya, seperti prostitusi, mandi kucing, pesta orgy, streaptease atau gadis gadis penghibur dari Usbekistan. Ya percuma juga karena bagaimana cara menvisualkan, yang ujung ujungnya pasti akan dibabat Lembaga Sensor. Lihat saja semalam saya dipaksa menikmati gambar gambar blur / out focus untuk adegan gadis gadis meliuk liku erotis. Terbukti betapa noraknya jalan pikiran Lembaga Sensor Film ini yang menganalogikan dengan asumsi sempit bukan melihat content jalan ceritanya. Mungkin ini juga apa yang dibayangkan oleh pembuat film ini, mensiasati bagaimana film ini bisa tayang, termasuk memakai judul yang sama dari buku laris tersebut. Karena kalau mau jujur sama sekali tidak ada hubungannya antara Jakarta Under Cover bukunya Emka dengan JUC filmnya Lance. Ini bisa dikatakan bagian dari strategi pemasaran, coba memakai judul lain, “ Gadis Malam “ atau “ Malam tak berujung “ misalnya, bisa bisa gemuruh film ini tidak akan seheboh dibanding memakai judul JUC.


Jadi apa yang dibayangkan sisi gelap Jakarta dalam dunia malamnya itu hanya dilihat dari opening title, dengan cuplikan cameo cameo selebritis seperti Fauzi Badilaa, Mario Lawalata sampai sutradara Hanung Bramantyo diantara para penari streapper. Kemudian awal cerita di sebuah club hiburan ketika Haryo ( Lukman Sardi ) bersama 2 orang kawannya sedang menikmati malam panjangnya di club yang ceritanya dimiliki Christian Sugiono. Salah satu penari streaptease , Viki ( Luna Maya ) terpaksa bekerja disana untuk membiayai hidup bersama Ara adiknya yang masih kecil ,seorang penderita autis. Selama bekerja ia selalu membawa adiknya yang disembunyikan di lemari di sebuah ruang meeting manajemen klub itu. Cerita dimulai ketika Viki menolak digerayangi Haryo sehingga lelaki yang putra pejabat di negeri ini marah marah tidak keruan. Si pemilik club mencoba meredakan amarah pelanggan nomor satunya dengan memanggil mereka ke ruang meeting dimana telah disiapkan seorang penari lainnya. Problem dimulai ketika Haryo yang kesetanan menyetubuhi si penari itu hingga mati tercekik. Ara yang berada di dalam lemari bolong bolong adalah saksi mata perbuatan mereka. Dari situ cerita mengalir menjadi suspense perburuan malam sampai pagi dari tiga sekawan terhadap Viki dan Ara,


Disini saya tidak mengomentari logika sebuah film, walaupun ada pertanyaan kenapa Viki dan adiknya terus berlarian dan bersembunyi sepanjang malam di tempat yang mudah dipergoki gerombolan pemuda itu. Sebagaimana tidak perlu mengomentari film film Holywood sana, begitu mudahnya pintu didobrak, atau mobil yang terbalik selalu otomatis meledak terbakar. Karena film selain untuk menyampaikan gagasan juga sebagai media hiburan, jadi yang penting penonton terhibur dan get carried away dengan jalan cerita. Joko Anwar sekali lagi membuktikan sebagai penulis scenario yang cerdas, dan ditambah pendekatan pengambilan gambar dan editing dari Lance, membuat film ini hidup dan terasa suspensenya. Kerja penyutradaraan Lance, mencapai lompatan jauh dibanding film pertamanya ‘ Cinta Silver ‘ .Bagaimanapun juga permainan Luna Maya dan Lukman Sardi sangat luar biasa. Lihat saja ketakutan dan kegelisahan Viki sangat terasa dekat, kemudian kebejatan Haryo yang terekspos dengan sempurna. Hanya peran pemilik klub malam oleh Christian Sugiono terasa tidak pas dengan karakternya yang lembut, dan manis manis Indo. Yang jelas ia belum bisa membebaskan karakter dari remaja idola dalam sebagian besar film dan sinetronnya, menjadi sebuah sosok kejam dan kasar dalam dunia industri hiburan malam.



Sekali lagi karena saya bukan kritikus film,maka saya hanya melihat dari segi teknisnya saja. Satu hal mengganggu yakni lighting dan setting lokasi film ini. Rasa rasanya lighting Yadi Sugandhi sangat datar terutama di area dance floor, dan sebagian scene scene malam. Saya membayangkan suasana lighting dramatis dengan lampu sorot yang menembus asap asap rokok yang pekat. Sementara lighting di area diskotiknya sampai di kamar kos Viki sangat flat dan biasa saja, sehingga saya langsung tahu bahwa adegan itu dibuat disebuah set studio, bukan di real location. Padahal umumnya di sebuah club malam, lighting cenderung gelap terutama di bagian pengunjung dan gradasi terang di area penari penarinya. Sangat disayangkan jiwa Chinatown ( daerah kota ) sebagai pusat industri esek esek tidak terekspos dengan pas. Sama sekali tidak ada establishing situasi atau backdrop gang gang kumuh dengan keramaian pengunjung, pedagang asongan, tukang parkir, billboard neon sign yang berkelap kelip, dan gadis gadis belia lalu lalang di jalanan. Ada satu referensi mengenai nyawa dunia malam dan china town yang tata pencahayaannya sangat luar biasa, yakni film “ Replacement Killer “ Antoni Fuqua ( dibintangi Chou Yun Fat dan Mira Sovirno ) ,lalu untuk adegan kejar kejaran malamnya bisa melihat referensi dalam film “ Missipi Burning “ nya Alan Parker, yang mendapat Oscar Award awal 90 an untuk sinematographynya


Namun bagaimanapun juga Lance telah membuat langkah besar yang mana justru saya belum memulainya juga. Ini sebuah pencapaian dan pembelajaraan yang berharga dalam karier sebagai sutradara. Semakin lama saya menonton membuat semakin ingin cepat pulang menyelesaikan kerja skrip yang tertunda tunda terus. Bagaimanapun juga sisi potret kehidupan malam di Jakarta adalah realita sebuah industri yang berkaitan dengan hajat hidup dan hajat syahwat orang banyak. Seorang relasi bisnis dari luar negeri pernah geleng geleng kepala melihat fenomena industri esek esek di sebuah negeri yang penduduknya beragama Islam terbesar di dunia. Saya bilang, itulah Indonesia, teroris dan prostitusi bisa akur sejalan. Ketika saya keluar dari gedung bioskop, pundak saya di colek oleh salah satu pemeran dalam film ini. Ia hanya cengar cengir seperti kucing angora minta kawin. Dan saya teringat masa silam, menjadi saksi mata bersamanya dan teman lain menyusuri malam di pojok pecinan kota ini. Apakah ini berarti ada sisi sisi manusia yang membutuhkan ' cover ' nya ? apalagi disaat ketika banyak orang dan ulama mengatakan lebih baik berpoligami daripada zinah. So what next ?

read more ...

Saturday, December 09, 2006

NASIONALISME PERFILMAN




Bulan Desember ini memang sepertinya jadi hajatan orang orang film. Dari hiruk pikuk Jiffest sampai menjelang Festival Film Indonesia yang konon akan dibuka oleh Presiden SBY sendiri. Seorang teman yang suka nonton film sudah kasak kusuk untuk mencari tiket undangan buat pembukaan Jiffest. Mungkin menurutnya ada gengsi tersendiri bisa berada dalam antrian penonton yang merupakan undangan saja, untuk menonton filmnya Alejandro Gonzales Innaritu, “ Babel “ sebagai film pembukaan Jakarta Internasional Film Festival 2006 di Djakarta Theater. Sementara kolega saya, produser senior yang sudah banyak makan asam garang di film layar lebar maupun iklan, sudah sejak sore buru buru meninggalkan kantor. “…ntar mau ke undangan Jiffest “. Perasaan saya sih dia ke Salon dahulu, bersolek agar malam ini terlihat pantas bersama insan insan perfilman nasional. Dari cerita di atas menunjukan dunia film selalu menjadi magnet yang tidak ada habis habisnya bagi siapa saja yang memujanya, entah itu teman saya yang hanya suka menonton atau partner saya yang memang hidup matinya bekerja di dunia film.

Film sudah menjadi globalisasi industri hiburan di seluruh dunia. Khusus di Indonesia sejak film bioskop pertama “ Loetoeng Kasaroeng “ dibuat tahun 1938, mungkin tak ada yang mengira bahwa perkembangannya demikian pesat. Definisi film sudah tidak hanya layar lebar saja, sudah melebar ke video klip, iklan, televisi dan dokumenter. Mungkin nantinya merambah ke multimedia internet juga. Pembuat film sudah melewati lintas batas Negara. Film film Holywood bisa dengan mudahnya masuk sampai ke pelosok pelosok negeri. Dibidang pertelevisian , banyak pekerja film dari India, Malaysia dan Hongkong lalu lalang disini. Apa lagi bidang film iklan, banyak sutradara, produser dan juru kamera dari Australia, Singapore, Malaysia, Thailand, Hongkong, Cina sampai Eropa yang mencari nafkah di sini. Namun tidak ada yang tahu bahwa rambu koridor kegiatan perfilman Indonesia sebenarnya sangat nasionalistik. Lihat saja UU No 8 Tahun 1992 mengenai Perfilman Nasional dan PP tahun 6 tahun 1994 tentang penyelenggaraan usaha perfilman Disana jelas jelas tertulis industri film nasional tertutup bagi orang asing atau badan hukum asing. Para pembuat undang undang dan peraturan ini menganggap film sebagai budaya bukan industri. Karena sebagai budaya maka sudah sewajibnya di lindungi dari pengaruh asing. Masuk akal, karena film bisa secara tidak langsung mempengaruhi sikap perilaku masyarakat atau bisa sebagai alat ‘ brain wash ‘ propaganda sebuah gagasan. Lihat saja model rambut Demi Moore dalam film “ Ghost “ diikuti oleh para gadis gadis seluruh dunia pada era awal 90an. Atau mendadak sontak banyak remaja ikut ikutan suka puisi gara gara tokoh Rangga yang doyan puisi dalam film “ Ada Apa dengan Cinta “. Ini pula yang menyebabkan tiba tiba saja banyak artis artis Indonesia menjadi caleg, walau otaknya kosong tapi popularitasnya bisa mendulang suara suara para pemujanya.


Lalu apa yang sebenarnya salah dengan memproteksi seperti ini ? Dengan globalisasi dunia saat ini serta era perdagangan bebas 2010, kita sudah tidak bisa membendung arus globalisasi industri film. Ironisnya Malaysia justru menjipak UU perfilman kita dan mengimplikasikan dalam kebijakan “ Made in Malaysia “, atau popular dengan MIM. Suatu kebijakan untuk melindungi industri film nasionalnya dan menumbuhkan pekerja pekerja film bumiputera, untuk suatu saat nanti bisa bersaing sewaktu arus kran perdagangan bebas dibuka. Bedanya dengan kita, yang tak peduli dengan penerapan sebuah undang undang. Malaysia justru sangat ketat dan benar benar diawasi, sehingga film iklan Marlboro yang mendunia dengan koboi koboinya tidak bisa tayang di televisi Malaysia. Alhasil pihak produsen rokokpun harus membuat film iklan di Malaysia dengan konten dan isinya yang mencerminkan budaya Malaysia. Memang salah satu isi dari program MIM adalah film iklan yang bisa tayang di Malaysia harus dikerjakan di Malaysia, dengan tenaga warganegara Malaysia pula. Khusus untuk film iklan di Indonesia memang paling banyak menyerap expat expat yang umumnya illegal. Rasa kebangsaan kita bisa terusik melihat tidak hanya porsi sutradara, juru kamera dan produser yang banyak diduduki pekerja film asing, tapi untuk posisi seperti art director, penata busana sampai make up artis. Demikian pula kasus beberapa sutradara asal India yang tidak bisa berbahasa Indonesia tetapi mengerjakan sinetron sinetron di Indonesia.

Sudah sepatutnya pemerintah memperhatikan masalah ini, bukan hanya terpesona dengan glamournya festival festival film. Perdagangan bebas AFTA sebentar lagi akan dibuka, dan pekerja film Indonesia akan tergilas dengan sendirinya, kalau sejak dini tidak dilindungi. Jangan jangan nanti sequelnya “ Ada apa dengan Cinta Jilid 2 “ akan dibesut oleh Ang Lee, who knows ? Lagi pula siapa yang peduli, toh orang lebih suka melihat prestisenya daripada urusan urusan teknis belakang layar ini. Sampai sore itu teman sayapun masih tetap menelpon kalau ada kelebihan undangan Jiffest.

read more ...

Tuesday, December 05, 2006

SEBUAH PILIHAN



Akhir akhir ini saya dihadapkan dengan sebuah persimpangan pilihan karier, Tidak tahu kenapa , seolah saya kehilangan ‘passion’ di dunia film iklan, dunia yang telah memberikan asam garam karier kehidupan selama lebih dari sepuluh tahun. Ini sebenarnya berbahaya bagi proses kreativitas saya dalam menjalani eksekusi sebuah pekerjaan. Mungkin ini ada kaitan dengan kejenuhan menghadapi pola pola pekerjaan film iklan yang itu itu saja. Dalam Film “ When Harry Met Sally “, salah satu karya masterpiece Rob Reiner, ada scene yang menunjukkan betapa sengsaranya hidup dalam jebakan routinitas sehari hari yakni pekerjaan. Selesai bekerja, nonton TV, aktivitas di gym, bengong bengong main kartu, tetap tak bisa membuat hidup ini menjadi lebih ‘ berwarna ‘. Pacar pacar merekapun ternyata juga bukan pilihan yang tepat. Sehingga hidup hanya untuk karier, gaji, apartemen yang bagus serta ‘ social life ‘ yang membosankan.


Memang ada beberapa project ke depan yang semestinya menjadi prioritas untuk keluar dari kebosanan film iklan. Menyelesaikan ‘ coffe table book ‘ untuk buku foto foto bawah laut yang terus tertunda tunda dan yang paling mendebarkan, menyutradari 2 proyek layar lebar yang dua duanya harus dibesut tahun depan. Terus terang saya iri dengan teman saya Prima Rusdi yang akhirnya bisa menemukan dunianya di penulisan scenario film, setelah lama berkutat sebagai creative di biro iklan. Kagum dengan Lance yang bersama sama saya merintis karir di film iklan, telah membuat 2 buah layar lebar ( Cinta Silver dan Jakarta Under Cover ). Bahkan bekas asisten asisten saya yang sekarangsudah membuat layar lebar. Sementara saya masih saja berkutat dengan film film iklan yang monoton dan begitu begitu saja. Tak heran sewaktu bertemu Mira Lesmana dan Riri Reza di Bakul Cofee, mereka terus saja menyindir keragu raguan saya untuk memasuki dunia layar lebar.


Tentu saja pilihan ini bukan tanpa pertimbangan yang matang, karena ada konsekuensi yang tentunya tidak sebanding jika melihat penghasilan yang bakal diterima. Membuat layar lebar mewajibkan kita memberikan tenaga, waktu dan bahkan jiwa kita yang mungkin tidak sebanding dengan apa ( baca : honor ) yang kita dapat. This is art work, we put our soul that probably we gain as not as much like tv commercials. Saya juga tidak tahu mengapa saya menulis ini,mungkin cuaca di Jakarta yang akhir akhir ini hujan, membuat saya agak melankolis. Namun betapa beratnya sebuah pilihan, harus dimulai dari sisi orang yang terdekat dengan saya. Saya harus memulai dengan pilihan untuk lebih memperhatikan Abel, buah hati saya yang hari ini berulang tahun. Pilihan untuk menyisakan sedikit waktu dari pekerjaan saya, untuk setidaknya bisa bercengkerama bersama dia. Harry dan Sally memang pada akhirnya menemukan pilihan hatinya, setelah melalui pembelajaran hidup yang berbeda. Saya harap saya bisa menemukan pilihan itu. Ya, saya telah berjanji dengan Abel melalui telpon tadi, untuk datang ke pesta ulang tahun bersama teman temannya. Lagu ‘All by Myself ‘ dari Delta FM sayup sayup mengantar saya menembus kemacetan menuju ulang tahun Abel.

read more ...

Saturday, December 02, 2006

ANTARA KEPASRAHAN , JATUH CINTA DAN POLIGAMI




Ceuceu, seorang ibu tetangga yang tadinya gemar mengirim brosur dan kaset kaset ceramah AA Gym pada saya tiba tiba jadi sewot tidak keruan. Setelah saya tanya dengan suaminya, ternyata ia kesal karena da’i junjungannya tiba tiba menikah lagi. Rupa rupanya ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa pada akhirnya ulama kondang itu harus mengambil istri baru. Padahal saya ingat sejak dahulu ia kerap mengajak saya ke ceramah ceramah dan pengajiannya si Aa ( mungkin ia khawatir dengan predikat orang film yang katanya sekuler sehingga butuh pencerahan dari segi agama ). Yang jelas saya tidak akan membahas masalah poligami dari segi agama, karena memang pengetahuan saya tidak kompeten tentang hal itu. Setahu saya dahulu Nabi mengawini janda miskin yang suaminya meninggal karena perang, sementara fenomena di Indonesia, para golongan priyayi ( celeb, ulama, politikus, pejabat dsb ) justru mengawini gadis gadis mulus binti perawan. Waduh !!



Film “ Berbagi Suaminya “ Nia Dinata benar benar melukiskan potret manusia Indonesia mengenai urusan syahwat ini. Saya memakai istilah ini, karena banyak dalil dalil agama yang dipakai untuk pembenaran mengambil istri muda, yang sebenarnya ujung ujungnya ke urusan syahwat. Masih ingat beberapa tahun silam, seorang ulama NU yang memiliki pondok pesantren besar di kawasan Kebon Jeruk, mengawini janda almarhum Amir Biki ( tokoh peristiwa Tanjung Priuk ) hanya semalam di sebuah hotel lalu paginya diceraikan lagi. Sebenarnya ini tidak ada urusannya dengan masalah agama ( baca : Islam ), kalau dilihat sejarah bangsa ini, memang kerap lelaki Indonesia yang dekat dengan kekuasaan dan ketenaran doyan perempuan. Lihat saja sejarah raja raja Jawa, selirmya bisa sampai puluhan orang. Kolam Taman Sari di Yogjakarta, dahulu juga dibangun Sultan Jogja untuk leyeh leyeh sambil memandangi selir selirnya yang sedang berendam. Bahkan dalam catatan Thomas Bent, seorang utusan kerajaan Inggris tahun 1602 yang datang mengunjungi Kerajaan Aceh. Si penguasa Sultan Iskandar Muda mengajukan permintaan ‘ nyeleneh ‘, yakni meminta dikirim 2 ( dua ) wanita kulit putih asli dari Inggris yang nanti akan dikawini. Untung saja pengiriman tenaga kerja wanita Inggris ini tidak jadi, bisa dibayangkan pejuang pejuang GAM nantinya Indo Indo. Belum lagi kalau kekerasan dipakai untuk memaksa wanita yang ingin dikawini. Puteri Prabu Siliwangi , dibunuh beserta rombongannya di gresik ketika ia menolak dijadikan selir oleh Brawijaya penguasa Majapahit. Lalu Sunan Amangkurat dari dinasti Mataram bisa membunuh si bawahannya, hanya untuk mengambil istri si bawahan untuk dijadikan selir.




Saya tidak bisa membayangkan jalan pikiran si istri tua. Kenapa dia tidak memilih bercerai dan memelihara anaknya, daripada mengorbankan perasaannya, tetapi mungkin juga ada pertimbangan lain yang jauh lebih penting. Disatu sisi ada ketidakberdayaan dari wanita Indonesia untuk dipaksa menerima hal ini, seperti RA Kartini menerima lamaran Bupati Joyo Adhiningrat, sehingga Pramudya Ananta Toer harus menggambarkan kegeramannya dalam Roman “ Gadis Pantai “ …” Mengerikan bapak,..mengerikan kehidupan priyayi ini..Ah tidak, aku tidak suka pada priyayi. Gedung gedungnya yang berdinding batu itu neraka. Neraka tanpa perasaan..”demikian si mas nganten melihat si tuan mas Bendoro yang gemar kawin. Sementara di sisi lain, ada keterpesonaan wanita pada sosok sosok tertentu seorang laki laki sehingga rela jika dimadu. Sebagaimana keterpesonaan Utari, Inggit, Fatmawati, Hartini, Haryati, Ratna Sari Dewi, Yurike Sanger pada Bung Karno. Lalu penyair WS Rendra yang pernah serumah rukun dengan 2 istrinya ( waktu itu ) Sunarti dan Sitoresmi. Angel Lelga dengan Haji Rhoma Irama, si pengusaha restaurant Wong Solo , bahkan sampai istri istrinya si supir produksi film dalam ceritanya Nia Dinata. Kesimpulannya apakah keterpesonaan, dan kepasrahan diri ini suatu kebodohan ? Yang jelas si ceuceu tetangga saya menjadi bertambah bingung karena puteri sulungnya yang baru lulus SMA memaksa untuk masuk ke sekolah film di IKJ ( “..mau jadi kayak om Iman, katanya …” ). Padahal bayangan si ceuceu, orang film doyan kawin cerai, sementara ulama panutannya baru saja mengambil istri muda. Saya hanya berharap mudah mudahan ceuceu masih mau mengirimkan saya kaset kaset ceramah agama lagi. Isinya memang menyejukkan, sungguh !.

read more ...

Friday, December 01, 2006

TOGEAN



( sebuah sisi di teluk Tomini, Sulawesi )

Perjalanan ini memang terasa sangat melelahkan, bayangkan dari kota Gorontalo, saya harus menempuh 4 jam perjalanan darat, melalui gunung gunung serta menyusuri tepi teluk Tomini untuk mencapai desa pelabuhan Marisa. Wajah wajah penduduk desa nelayan itu, kelihatan tak peduli dengan kehadiran manusia manusia seperti kami yang membawa tas ransel, koper kamera besar besar. Beberapa anak anak kecil berteriak teriak dan sambil berenang di sisi sampan kecil yang membawa kami menuju perahu nelayan dengan tenaga mesin truk diesel menunggu di ujung sana. Ya, saat itu air surut sehingga perahu itu tidak bisa merapat di tepi pantai . Dari sini kami masih harus menempuh perjalanan menyeberangi teluk Tomini, menuju kepulauan Toegan selama kurang lebih 6 jam. Jadi total adalah sepuluh jam perjalanan menuju pulau kadiri sebagai salah satu bagian dari kepulauan Togean, Sulwesi Tengah.



Kalau ada yang pernah melihat film ‘ The Beach “ yang dibintangi Leonardo di Caprio pasti tak asing dengan landscape serta kontur alam di pulau Kadiri. Ya, film itu dibesut di Thailand. Hanya saja togean merupakan sebuah titik di teluk Tomini, Sulawesi yang jauh dan terabaikan. Pasir putih lembut, batu batu karang mencuat diantara perairan teluk yang tenang, serta sunset yang menyejukan mata dan hati. Luar biasa ! Jadi teringat MAW Brouwer, seorang budayawan dan penulis kelahiran Belanda , saking jatuh cintanya dengan tanah pasundan pernah menulis di awal tahun 70an, “ Tuhan pasti sambil tersenyum ketika ia menciptakan tanah priangan “. Saya berani bertaruh ia pasti akan menarik kembali kata katanya jika melihat keindahan alam yang ditawarkan di togean. Apalagi kalau ia tahu betapa baunya kota Bandung dengan sampah menumpuk, serta semrawutnya kawasan puncak dengan banner banner spanduk, kaki lima dan kemacetan.

Menarik, persis seperti film The Beach, saya menemukan orang orang bule yang dari antah berantah datang menuju pulau ini. Ada yang menempuh 22 jam perjalanan dari kota kota kecil di Sulawesi Tengah, naik bus antar kota lalu dilanjutkan dengan perahu perahu kecil Mereka tinggal semaunya dan hidup menikmati alam di kepulauan ini. Ada yang berpacaran dengan local guide setempat, ada yang yang tak peduli dengan bangun siang dan bermalas malasan seharian. Nelayan nelayan setempat datang menawarkan ikan segar dan kepiting sebesar butir kelapa dengan harga murah. Tiba tiba saja saya tersadar betapa indahnya alam Indonesia ini. Mata saya tak berani beranjak dari viewfinder kamera, untuk menelanjangi keindahan yang tak bisa saya lihat di tanah jawa . Sebuah sisi dunia lain, yang tak tahu sampai kapan mampu bertahan.

read more ...