Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Friday, November 17, 2006

FILM & HAMBATAN BIROKRASI




Film James Bond terbaru “ Casino Royale “ baru saja beredar , dengan pendekatan yang berbeda dengan film film bond sebelumnya. Karakter Daniel Craig si pemeran baru 007, berwajah keras, berdarah dingin dan gemar berkelahi ala Jet Li. Lain dengan Pierce Brosnan yang flamboyant dan cenderung ‘ bermain ‘ halus, dan banyak mengandalkan teknologi pemberian M. Mungkin film James Bond, adalah salah satu jenis film yang pasti laku dan ditonton. Orang menonton karena ‘ heritage ‘ warisan nama 007 yang sudah melegenda dari jaman dahulu. Ceritanya ya begitu begitu saja, tapi yang lebih penting siapa pemerannya, siapa gadis bondnya, siapa tokoh penjahatnya dan satu hal, di negara mana film ini dibuat. Karena salah satu daya tarik film ini adalah lokasi lokasi di belahan dunia yang menjadi backdrop lokasi.

Saya jadi teringat kira kira tahun 1996, waktu itu saya sering berhubungan dengan Nigel Goldsack, seorang produser film asal London yang sering melakukan shooting dokumenter dan corporate di Indonesia. Kebetulan ia sangat terkesan dengan alam geografi negeri ini, sehingga ia merekomendasikan kepada EON Productions, perusahaan yang memproduksi film film Bond, untuk memakai Indonesia sebagai salah satu tempat lokasi buat pembuatan film James Bond , kalau tidak salah “ Tomorrow Never Dies “. Akhir kata ia dan Michael Wilson, si executive produser datang ke Indonesia, dan meminta saya dan Lance ( sekarang sutradara film layar lebar ) untuk menemani melakukan ‘ recce’ atau location scout berminggu minggu di seluruh penjuru Indonesia. Dari Krakatau, Jawa, Bali sampai Toraja semua area dijelajahi dan sudah diplot untuk sesuai dengan skenarionya. Misalnya kapal perang Kerajaan Inggris akan bersandar di selat sunda dengan background Gunung Krakatau, lalu situasi sarang penjahat si raja Media di bawah Pura Besakih ,Candi candi sekitar Jawa Tengah atau gunung gunung di Tanah Toraja. Wisma BNI akan dijadikan head office imperium bisnis si penjahat. Bahkan adegan James Bond meluncur dengan sebuah banner raksasa dirancang dari puncak gedung ini. Kejar kejaran ( Bond dengan mobil BMW ) akan dilakukan di daerah pecinan kota tua Glodok dan sekitarnya. Pertemuan dengan Mabes TNI dilakukan untuk menjajaki peminjaman ( baca : menyewa ) salah satu kapal fregatnya atau pesawat tempur HS Hawk untuk di cat ulang menjadi warna identitas Kerajaan Inggris. Juga bertemu para pejabat, terutama Gubernur dan Departemen Pariwisata untuk mendapat dukungan pembuatan film di Indonesia.



Yang menyedihkan, bahwa aparat dan pihak berwenang ( baca : Pemerintah ) sama sekali tidak tertarik atau memberikan dukungan yang nyata, malah terkesan ogah ogahan dan tak peduli. Mereka sama sekali tidak membayangkan impact yang di dapat Indonesia, jika produksi di lakukan di Indonesia, terutama dari segi promosi pariwisata, disamping pemasukan devisa sebesar 70 juta US ( sebagaimana yang dikatakan Michael Wilson waktu itu ) untuk biaya produksi, pembuatan infrastruktur set konstruksi, akomodasi, pekerja film / crew di Indonesia, perijinan dsb. Bahkan saya selalu mengingat apa yang diucapkan Dirjen Pariwisata waktu itu,Bp Mapasameng sewaktu menerima kita, “ I don’t like James Bond movies…ceritanya tidak masuk akal bla bla bla.. “. Tentu saja saya tercengang dan tidak percaya ucapan itu bisa keluar dari mulut seorang pejabat teras yang seharusnya berbasa basi, serta menjanjikan kemudahan prosedur perijinan di sini. Walhasil EON Productions akhirnya memilih Thailand sebagai lokasi produksi mereka, dan hilang sudah kesempatan nama saya berada dalam credit title produksi film James Bond. Jadi memang film dan birokrasi agak susah untuk bisa seiring sejalan di negeri ini.

read more ...

Wednesday, November 15, 2006

SISI LAIN SEBUAH PERSEPSI



Cerpen Umar Kayam yang berjudul “ Musim Gugur di Connecticut “ adalah salah satu cerpen yang saya sukai. Sebagaimana karya karya Umar Kayam lainnya yang mengambil setting era G 30 S PKI, cerita ini menyentuh sisi hati kita yang paling dalam tentang arti sebuah tragedi kemanusiaan. Ada yang menarik bahwa sepanjang cerita, secara tidak langsung ia membentangkan sebuah situasi melalui persepsi Tono, si tokoh Lembaga Kebudayaan Rakyat yang menjadi ‘onderbouw’ organisasi PKI. Persepsi mengenai realisme sosialisme yang ia bela, dan juga persepsi dia akan cintanya terhadap istrinya yang sedang hamil. Gambaran yang ada juga membentuk persepsi pembaca bahwa rezim militer sangat kejam dan betapa teraniayanya mereka mereka yang kalah. Betapa mengharukan penyerahan diri si tokoh ketika di jemput tentara di rumahnya, saat ia sedang berkumpul dengan istrinya. Padahal kita belum tentu tahu gambaran situasi yang sesungguhnya terjadi dalam masa prahara itu. Pada akhirnya Tono mempersepsikan kebun karet tempat ia akan dieksekusi sebagai deretan pohon pohon maple di musim gugur di Connecticut. Sendiri, dingin dan tak berdaya di sapu angin.



Persepsi dari pikiran kita kadang dapat membelokan sebuah fakta menjadi ketidakpercayaan dan ketidakberdayaan. Gara gara video klip Kris Dayanti yang saya garap cukup kondang tahun 1998, saya diminta seorang creative director untuk mengerjakan sebuah produk kosmetik. Waktu itu saya masih menjadi pemula, yang belum pernah mengerjakan ‘thematic tvc “, jadi masuk akal agak grogi. Beruntung PH yang menghire saya, sangat support terhadap pekerjaan ini. Director of Photography atau kameramennya didatangkan dari Bangkok, lalu pengerjaan paska produksi juga dilakukan disana. Sehingga pada akhirnya kalau ‘ look ‘ hampir menyerupai gaya gaya iklan iklan Bangkok memang tidak salah. Namun ketika tayang di sini, ada saja orang yang tidak percaya kalau iklan itu hasil karya sutradara lokal. Menyedihkan sebuah persepsi telah mengalahkan realita.

Sementara di bidang kehidupan yang lain, orang film juga sering dipersepsikan sebagai seniman, free lance yang hidupnya nomaden. Apalagi kalau urusan kredit dengan Perbankan. Dian Bahtiar, seorang sutradara iklan yang saleh, rajin sholat , berzikir memuliakan asma Allah ( jadi siapa bilang orang film itu sekuler dan rusak moralnya) dan Rei Supriadi, kameramen film layar lebar ‘ Eifel Im in Love ‘ dan ‘ Apa artinya Cinta “ pernah mengalami hal ini. Mereka berdua datang ke sebuah bank untuk mengajukan permohonan kredit pemilikan rumah. Masing masing diterima oleh customer service yang berbeda meja. Segala kelayakan administrasi seperti rekening koran dan tabungan tidak bisa meloloskan untuk mendapatkan sebuah KPR. Alasannya karena ya orang film, freelancer yang tidak punya kantor yang menanggungnya. Disamping itu mungkin kesan penampilannya, rambut agak gondrong berantakan, memakai anting dan bercelana kargo tiga perempat, sehingga costumer servicenya agak ragu ragu menilai sosok yang duduk terpekur putus asa di depannya. Persepsi customer service ini yang akhirnya menolak permohonan kredit teman teman saya. Akhirnya dengan hati masgul mereka berdua meninggalkan gedung bank itu, sambil masing masing mengendarai mobil Jaguar seri XJ dan BMW seri 5.

read more ...

Monday, November 13, 2006

KORUPSI DI DUNIA FILM IKLAN


( Hubungan PH dan Biro Iklan )

Minggu lalu seharian bersama Arswendo Atmowiloto menjadi juri buat Iklan iklan layanan masyarakat yang diselenggarakan KPK ( Komisi Pemberantasan Korupsi ). Benar benar miris setelah berbicara dengan teman teman di KPK mengenai tingkat korupsi di Indonesia. Betapa menyedihkan kalau bangsa ini termasuk dalam sepuluh besar bangsa yang tingkat korupsinya terbesar di dunia, bersama Myanmar serta negara negara Afrika seperti Nigeria, Burgundi. Ada yang bilang, ah itu khan biasanya terjadi di departemen , proyek proyek pemerintah atau Bapenas. Jangan salah, justru di kalangan dunia advertising, korupsi ini terjadi dengan bentuk bentuk kolusi antara PH dan biro iklan. Saya berani bertaruh setidaknya lebih dari separuh dari PH PH yang ada di Jakarta melakukan praktek praktek KKN termasuk didalamnya uang sogokan dan under table money demi untuk mendapatkan job. Hal ini memang issue yang sensitive dan sudah sekian lama dibiarkan menjadi pola pola kerja sama yang lama kelamaan akan menghancurkan industri ini sendiri. Pada awalnya saya menduga, bahwa praktek ini dimulai dengan kesalahkaprahan PH PH ketika menempatkan dirinya sebagai supplier dan bukan sebagai partner dalam produksi..

Dimulai dari keinginan PH untuk membina hubungan yang langgeng dengan suatu biro iklan atau orang orang kunci di dalamnya, baik dalam bentuk services makan, entertainment atau uang perdiems sewaktu melakukan post di luar negeri. Saya pribadi melihat ini masih dalam bentuk koridor yang wajar wajar saja, toh memang hal hal ini bisa dilakukan sepanjang dengan kemampuan PH dan tidak ada paksaan. Saya atau teman teman produser dari PH sering clubbing bersama teman teman biro iklan, dan kami menikmati saat saat ini bersama sebagai bagian dari sosialisasi pertemanan, Sebagai sutradara juga kadang saya di jamu makan ke luar oleh post production sebagai bagian dari proses pemasaran mereka. Bahkan pernah dibayari dan ditanggung akomodasi bersama para sutradara lain untuk menghadiri Pameran Broadcast Asia di Singapore. Yang penting saya tidak pernah meminta uang atau bagian dari quotation PH jika saya membawa pekerjaan post ke tempat mereka. Buat di kalangan PH ini diawali dengan service PH yang berlebihan dan terkesan royal. Seorang creative director bule dalam sebuah post di Singapore pernah mengeluh kenapa kamarnya hanya standar sementara produsernya bisa menempati junior suite. Ini membuka peluang peluang yang diawali mungkin dengan pembayaran tagihan telpon, kiriman parcel ( ..eh parcelnya di kirim ke rumah aja ya, jangan ke kantor.,padahal parcelnya buat seluruh team di kantor ), lalu akhirnya yang paling parah berapa persentase yang bisa diberikan pada oknum oknum tersebut.



Inilah yang membuat rusak, kalau sudah ada deal deal sejumlah uang , atau komisi dari nilai quotation sebuah PH kepada agency. Nggak fair ! ini khan pekerjaan seluruh lini departemen dari traffic, client service, producer sampai creative. Lebih baik ngetreat party bareng dengan seluruh team di biro iklan. Ini akhirnya jadi serba salah, kalau tidak ada uang under table ke seorang oknum , job bisa bisa melayang. Mau dibiarkan, rasa rasa hati ini tidak rela, walaupun ini sebenarnya urusan produser, tetapi sebagai sutradara akan lebih bermanfaat jika uang tadi dialokasikan pada tambahan equipment, shooting days sehingga film iklan yang dibuat bisa lebih maksimal. Praktek ini sudah berlangsung lama dan tentu saja tidak ada yang mau melaporkan pada pimpinan biro iklan yang bersangkutan. Ya karena sudah dianggap biasa atau karena takut kehilangan job lagi. Pernah suatu malam saya mendapati seorang produser dari sebuah biro iklan yang pimpinannya adalah teman saya, sedang mengambil sebuah handphone PDA seri terbaru di kantor PH tempat saya bekerja. Goblognya si producer gaptek itu bukannya langsung pulang, tapi malah meminta producer saya mengajari cara pengoperasiannya. Si produser PH hanya cengar cengir kepada saya, ..” biasa man “. Lalu saya pernah ditelpon oleh seorang creative director dari biro iklan nasional, yang menanyakan apakah PH tempat saya pernah memberi uang kepada si produser biro iklan , tentu saja saya bilang tidak ( apakah ini bentuk kesetiaan ? ) walau saya tahu si produser itu gemar meminta bagian dengan alasan tactical fund untuk seluruh team. Akhirnya ada juga PH lain yang berani membuka suara sehingga si produser itu dipecat. Tidak hanya produser, ada juga Account Director yang meminta bagian 5 % dari total nilai job, dengan meminta jangan ditransfer ( mungkin ia takut bukti transfer bisa sebagai barang bukti ). Lalu bagaimana dengan orang kreatifnya, sami mawon. Ada teman kreatif yang meminta bagian dengan memintanya mentransfer ke rekening kakaknya ( mungkin dia tak mempunyai rekening tabungan sendiri ). Saya pernah ditelpon oleh seorang Creative Director, yang mengatakan bahwa akan ada job buat saya . Tentu saja saya berterima kasih. Tak lama kemudian datang sms dari dia,..” minta paket berapa saja buat gue..” tentu saja saya bingung, lho kok bukan produser yang mengurusi hal hal begituan. Mungkin dia malu berbicara dengan produser PH dan merasa lebih dekat dengan saya. Sampai sekarang saya masih menyimpan bukti transfer via ATM BCA itu, tentu bukan untuk dipublikasi, hanya disimpan buat collector items saja. Yang lebih parah kalau praktek ini dilakukan bersama sama secara team . Tidak percaya, ada creative director dan account manager ( atau account director ? ) yang sama sama mengambil uang jatah ke kantor PH. Kontan, masing masing 10 juta, mengantri di bagian keuangan, bersama sama supllier lainnya. Yang paling menyebalkan jika jatah bagian untuk oknum biro iklan itu hampir sama atau bahkan lebih tinggi dari production fee atau keuntungan si PH.

Memang tidak semua orang di biro iklan seperti ini, saya banyak mempunyai teman teman teman di kreatif, produser, dan client service yang memiliki integritas tinggi, jujur dan production result oriented. Namun gejala ini setidaknya menjadi pemikiran saya, betapa korupsi sudah berakar urat di segala system pekerjaan di Indonesia. Walau saya merasa seperti Don Qixot, saya juga bukan sok menjadi pahlawan dengan mengangkat topik ini, pasti ada yang terusik dan mungkin marah marah dalam hati. Bahkan kapok memberi saya job. Saya memang sudah mempertimbangkan semuanya, dan akhirnya dapat memahami apa yang pernah dialami Soe Hoe Gie, ketika ia merasa sendiri dan terasing dengan keterusterangannya.

read more ...

Wednesday, November 01, 2006

KUNTILANAK



Habis nonton filmnya Rizal Mantovani, “ Kuntilanak “, seru juga dan sangat entertaint banget. Kok menghibur ? lihat yang datang, banyak anak anak kecil bersama orang tuanya dan tentu saja remaja ABG. Berarti tidak ada seram seramnya, dan memang saya tidak merasa ketakutan. Saya lebih takut mungkin nonton yang versinya Suzanna jaman dahulu, seperti ‘ Beranak Dalam Kubur “, “ Sundel Bolong “, atau jamannya Farida Pasha dan Muni Cader. Lebih terasa dekatnya dengan alam budaya Indonesia. Tentu saja saya tidak mengomentari atau memberi analisa tentang film itu,pertama sebagai teman dan sesama sutradara, tidak elok kalau saling mengkritik. Biarlah para kritikus film yang memberi kritik kritik terhadap karya karya sutradara. Kedua memang pendekatan yang dipilih Rizal benar benar pas dengan target audiensnya, generasi budaya hip hop MTV anak jaman sekarang. Dan itu tidak sia sia , hampir seluruh kursi bioskop dipenuhi penonton,jadi secara komersial film itu laku. Ia membuat pakem berbeda dengan stereotip film film horror Indonesia yang mana kuntilanak selalu digambarkan dengan wajah pucat penuh bedak perempuan berambut hitam panjang, dengan baju putih long dress serta punggung bolong yang berisi ulat ulat belatung dan darah. Gambaran kuntilanak di film ini dibuat seperti film Hollywood , ala ‘ Fear dot com “, setannya seperti orang tua keriput,berkuku panjang, rambut putih, berkaki kuda dan tidak jelas memakai baju atau tidak karena terus bergerak cepat dengan efek efek speed ramping maupun efek stop motion.

Selain itu namanya Pak Haji atau ulama yang biasanya muncul di adegan penutup sebagai alat pamungkas dengan ayat ayat sucinya sudah tidak ditampilkan ( hare gene Pak haji masih mengusir setan ? – demikian logika berpikir fans fansnya Julia Estelle ). Jadi sampai cerita berakhir, si Kuntilanaknya tetap hidup ‘ happily ever after ‘. Satu hal pasti si Rizal sudah melakukan survey terlebih dahulu mengenai sosok kuntilanak yang akan digambarkan. Basi kalau masih menggambarkan kuntilanak tradisional berkostum long dress putih yang jalannya melayang . Tapi itu khan versi filmnya Rizal, sementara saya punya versi sendiri.



Begini ceritanya, Pasti semua tahu rumah tua bekas peninggalan administratur Belanda di tengah tengah Kebon Raya Cibodas. Suatu saat kami syuting iklan minuman ‘ Caprison ‘ di area cibodas, sehingga demi efisiensi kami dan sebagian crew tinggal menginap di rumah itu. Benar benar rumah kosong yang jendelanyapun tidak ada gordennya,jadi bisa melihat ke halaman luar secara langsung. Malam itu sehabis usai syuting, si loader camera melaporkan seperti ada yang memanggil manggil namanya ketika ia mandi di kamar mandi belakang. Tak lama kemudian kami yang berkumpul di lantai dua, sambil bercengkerama tiba tiba mendengar suara seperti kepakan sayap . ‘ pak pak pak ‘ di kejauhan. Lalu berganti seperti ci cit anak ayam. Tentu saja kami berpikir paling paling burung hantu, karena banyak pohon pohon tinggi mengelilingi rumah itu. Tiba tiba angin seperti berhenti, sekonyong konyong sekilas kami melihat di luar jendela , seorang perempuan bermuka pucat, berambut panjang dan berjubah putih berjalan melewati jendela menuju ke arah sisi rumah. Tadinya kami berpikir,pasti ibu pembantu di rumah itu, tetapi setelah itu mendadak kami sadar, bukankah kita semua berada di lantai dua. Lalu bagaimana si ibu itu bisa berjalan ? melayangkah …? Tentu saja tanpa pikir panjang, kami langsung kabur berbondong bondong ke lantai dasar. Yang saya ingat malam itu terasa sangat panjang untuk menunggu pagi. Astagafirullah .

read more ...