Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Wednesday, November 28, 2007

Pindah Ke Rumah Baru


Setelah sekian lama saya tumbuh dan besar di rumah ini. Saya memutuskan pindah ke rumah baru saya , diseberang jalan sana. Tidak ada yang patut disesali. Justru rasa syukur karena rumah ini telah memberi segalanya, menjadikan tempat persinggahan yang nyaman bagi siapa saja.
Selamat tinggal rumah lama.
Mari ! Menuju rumah baru

read more ...

Monday, November 26, 2007

DRUPADI



Di lokasi syuting, Ahmad Sukenti alias Kenti mengeluh betapa sulit hidupnya sekarang, setelah mempunyai istri dua. Selain dua dapur yang harus dibiayai, ada persoalan yangmembuatnya senewen, yakni keadilan. Bagaimana ia mengukur rasa keadilan yang sama di antara kedua istrinya. Tanpa ditanya, saya bisa membaca jalan pikirannya. Daripada melihat istri tuanya yang gemuk memakai daster, lusuh karena mengurus anak seharian. Lebih baik ia menghabiskan harinya di rumah istri mudanya yang muda dan mulus. Bagaimanapun barometer keadilannya selalu berat sebelah. Namun ada yang jauh menarik di surat kabar yang saya baca baru baru ini. Bahwa akhirnya Mahkamah Konstitusi ( MK ) menolak uji materil atas UU Perkawinan No1 tahun 1974. Dalam Undang Undang itu disebutkan , bahwa seorang lelaki ingin beristri lebih dari satu ia harus mengajukan permohonan dari pengadilan. Untuk mengajukan permohonan ke pengadilan ia harus mendapat persetujuan dari istri, memiliki jaminan memenuhi kebutuhan istri dan anaknya serta bersikap adil. Bagi sekelompok orang yang meminta uji materil perundang undangan tersebut , menilai peraturan itu mengurangi hak warga untuk berpoligami yang dianggap ibadah. Mengurangi hak prerogatif untuk berumah tangga serta hak asasi yang dijamin oleh UUD 1945. Namun pada akhirnya Mahkamah Konstitusi (MK) menolak uji materi tersebut. Suatu keputusan yang melegakan hati.

Syahdan Drupadi adalah istri dari seluruh lima orang Pandawa. Seorang wanita yang melakukan poliandri. Begitulah hikayat hindu asli Mahabarata. Namun karena pengaruh agama Islam, budaya kita tidak bisa mengadopsi cerita ini seutuhnya. Jadilah di tanah Jawa, Drupadi hanya menjadi istri Yudhistira sendiri. Tapi siapa yang tahu, kalau Drupadi turun dari swargaloka dan menghampiri Gedung Mahkamah Konstitusi yang megah dan baru itu. Berhari hari ia memperhatikan hakim hakim Konstitusi membolak balik lembaran perundang undangan, dan yang lebih penting diam diam ia menggugah hati nurani para hakim. Tentu saja Drupadi tidak ingin memamerkan betapa justru dirinya bisa menguasai lima orang suami sekaligus. Ia hanya tertawa melihat ada saja orang yang hendak melakukan uji materi terhadap UU Perkawinan No 1 tahun 1974, bahwa perundang undangan itu menghalangi hak berpoligami para suami.


Damayanti Buchori, Direktur Eksekutif Kehati, mencatat tiga hal atas kasus diatas.
Pertama, bagaimana bisa ditengah banyaknya persoalan kehidupan bangsa,kemiskinan, ketidakadilan. Lelaki justru memikirkan poligami, apakah tidak ada issue lain yang lebih berguna.
Kedua, masyarakat terlalu mudah membela poligami dengan alasan menghindari perzinahan. Tidakkah poligami dilihat melegalkan pengkhianatan ? Meniadakan fakta bahwa sebelumnya ada perselingkuhan. Ketika perselingkuhan dikukuhkan kedalam lembaga perkawinan melalui mekanisme poligami, maka perselingkuhan dianggap hilang, tetapi sebenarnya pengkhianatan tetap ada. Dan perempuan telah dididik menerima itu.
Ketiga, dalam Islam poligami memang diperbolehkan dengan syarat berlaku adil. Pertanyaan sederhana,apakah lelaki bisa bersikap adil dari setiap waktu dari detik ke detik ?Adil lahir bathin. Bila lelaki mengatakan ‘ ya ‘, alangkah sombongnya dia.

Tentu saja saya tidak hendak mempertentangkan antara hukum syariat dengan issue kesetaraan gender. Persoalan poligami justru semakin memperjelas egoisme laki laki dengan pembenaran dalil agama. Apapun alasannya, hak berpoligami memang dijamin dalam hukum positif negara ini. Disatu sisi laki laki juga mendorong terciptanya persamaan hak antara wanita dan laki laki, tapi di sisi lain ia juga terlalu sombong untuk membelenggu wanita dengan sebuah rantai kewajiban bernama poligami. Anda bisa melakukan semua itu asal mendapat ijin dari istri tua. Persoalannya apakah kriteria ijin itu berarti ikhlas ? Mengijinkan dan mengikhaskan adalah dua hal yang berbeda. Seharusnya justru kaum wanita meminta uji materil perubahan isi Undang Undang itu dengan tambahan persyaratan ‘ ikhlas ‘ dan ‘ tanpa paksaan ‘. Cinta memang tidak bisa memilih, karena bisa datang kapan saja, tetapi lelaki harus tetap memilih siapa yang akan memiliki cintanya. Jika lelaki terlalu takut untuk kehilangan semua wanita wanita yang dimiliki,ia juga harus berani melepaskan dan memilih satu saja. Tetapi lelaki memang pengecut untuk bisa memilih. Saya hanya berharap Drupadi mempunyai blog,dimana ia bisa menuliskan perspektifnya. Siapa tahu ?

read more ...

Thursday, November 22, 2007

VIVINK



Vivink . Begitu namanya. Saya juga tidak mengetahui namanya lengkapnya, kecuali Pinkina nama yahoo messenger IDnya. Saya belum pernah bertemu, dan ia biasa mengunjungi blog saya sekaligus berbincang bincang di cetingan. boso jowo terus. Kalau melihat profilenya - ibu muda berkerudung asli Bojonegero - yang baru menikah ini sepertinya manis dan ayu.
“ Mas, sampeyan kenal Hanung Bramantyo ? “
“ Mas, kalau kerja piye…? “
“ Lho orang film kok sepertinya foya foya terus "
" Orang film suka kawin cerai to mas "
Saya buru buru meralatnya.
" Iya tapi lebih banyak ulama yang poligami daripada orang film "
Banyak sekali pertanyaannya. Curious dan polos. Saya jelaskan kalau tidak semua orang film bejat, ada yang alim juga. Ada juga yang berasal dari keluarga soleh.
“ Ponakan Gus Dur, anaknya Gus Solahuddin Wahid juga sutradara film , sembahyang jengking terus, walau banyak Tank top dan G string berseliweran “. Demikian saya menambahkan.
“ Trus kalau sampeyan yang mana ? “
Ciloko. Ini YM atau interogasi polisi.
“ Wah, ben Gusti Allah yang menilai saja deh..” demikian saya ngelesnya.

Vivink memang selalu rajin menyapa saya di dunia maya. Baginya, komunitas film adalah sebuah jurang yang sangat jauh untuk dibayangkan. Sekaligus bertanya mengenai sebuah pemahaman tentang dunia yang sulit di mengerti. Sebuah dunia Film. Ini memang tidak mudah merubah stereotype komunitas yang biasa dilihat di Infotainment, majalah dan tabloid gossip. Tapi Vivink selalu meminta jawaban. Ia bisa ngambek kalau saya lama menjawabnya di YM.
“ Mas main ke BHI dong “
“ Mas no Hp mu piro ? “
Sampai sore kemarin saya menerima sms dari Vivink, meminta saya datang ke Bunderan Hotel Indonesia, tempat dia akan berkumpul dengan teman temannya. Komunitas BHI yang legendaris. Tentu saja saya janjikan setelah acara bersama Ida Arimurti di Delta FM selesai. Tetapi bukan Vivink kalau tidak posesive. Sehingga saya harus mematikan hp saya, takut frekwensi sms bisa mengganggu acara siaran.
“ Vink..Aku mau siaran dulu “.


Akhirnya saya bertemu Vivink, di depan teras fountain air mancur Grand Hyatt Hotel, di pinggir jalan protokol. Sebuah tempat yang begitu familiar hampir sepuluh tahun yang lalu. Pada masa periode Mei – November 1998, ketika tempat ini bersama gerbang lobby hotel Mandarin, Indonesia dan Grand Hyatt menjadi titik titik pangkalan tukang ojek . Menjadi armada transportasi bagi jurnalis, kameramen dari seluruh penjuru dunia yang melaporkan kerusuhan dan pergolakan dasyat di negeri ini. Karena transportasi lumpuh, maka ojek digunakan untuk menembus gang gang pojokan kota menuju daerah konflik. Saya teringat begadang bersama rekan jurnalis dan kameramen TV dari Inggris, di tempat ini. Dan sekarang ditempat yang sama, saya duduk bersalaman dengan gadis mungil yang bola matanya melompat lompat meminta jawaban. Tentu saja, saya berterima kasih dengan Vivink, kalau bukan karena dia, tentu saya tidak sempat berkenalan dengan teman teman baru Hadik , Endik , Bambang , Mita , Pitoh disamping Iqbal dan Ipul yang sudah saya kenal lebih dahulu. Pertemuan ini memang menyegarkan, dan saya menikmati teh manis, dan sate kikil pinggiran jalan. Melihat perjuangan sisi lain manusia manusia yang membangun kesempatan di kota besar ini. Dan saya percaya bahwa kita bisa eksis dan bernafas karena perjuangan hidup ini. Sesulit apapun. Juga jauh lebih penting, bahwa orang orang seperti Vivink bisa melihat bahwa manusia film seperti saya adalah biasa biasa saja, sama seperti manusia manusia yang dilihat di setiap tikungan kehidupannya. Tak perlu menduga duga mengenai akhlak ataupun sisi kehidupan yang berbeda.

Sayang sekali Vivink harus pulang lebih cepat. Padahal saya tahu ia masih ingin menikmati di sini, sebagaimana saya ingin dia lebih lama di sini. Tapi sebagai istri yang sakinah, ia memang tak bisa membiarkan suaminya menunggu di rumah. Ia juga tak sempat bertemu dengan buanadara – selebriti blogger baru – yang tiba tiba muncul menyusul kopdar ini. Namun Vivink, tetaplah Vivink. Sebelum pulang ia masih saja posessive.
“ Anakmu piro mas “
“ Mas, lahir tahun berapa “
“ Mas, lho itu HP mu yang lain ya,..piro nomere mas “
I love u Vivink.

read more ...

Wednesday, November 21, 2007

BLOG SAYA YANG SAYA CINTAI



Beberapa hari terakhir saya mendapat kiriman pesan melalui Yahoo Messenger, baik orang yang saya kenal dan ada juga yang memang tidak mau memperkenalkan dirinya,..
” saya bukan siapa siapa, hanya pembaca setia blog mas Iman “.
Intinya, bahwa – ini yang tidak saya duga – mereka mempertanyakan mengapa saya merubah gaya menulis saya akhir akhir ini, dengan hanya menulis ‘ remahan ‘ ringan ringan. Dengan kata lain mereka protes karena tulisan saya yang cenderung ‘cair’. Terus terang ini juga mengagetkan saya, pertama , karena saya tidak menyangka bahwa di luar sana ada mereka mereka yang begitu memperhatikan rumah sederhana milik saya dan menjadikan isi tulisan saya sebagai tautan yang patut dibaca. Kedua, saya juga tidak berpretensi bahwa gaya tulisan ini memiliki benang merah emosi dengan orang orang yang tidak saya kenal di luar sana. Ini jelas menyejukan, memberikan pesan bahwa saya selayaknya merawat rumah ini sebaik baiknya, sepenuh hati. Ketiga, bagi saya menulis bukan ritual yang harus memiliki pola dan struktur yang sama. Menulis, bisa menjadi cair, sederhana, apa adanya dan di sisi lain bisa juga menjadi bentuk penyampaian sebuah gagasan apapun. Sehingga, sampai sekarangpun saya tidak tahu apakah tulisan tulisan ini memang sedemikian bisa dinilai dengan mudahnya.

Terus terang menulis adalah passion. Tinggal seberapa jauh kita memelihara passion ini, terlebih dengan adanya loyalitas pembaca, membuat saya berpikir untuk tidak menganggap remeh hal ini. “ Our blog is a brand eventually “ . Blog kita adalah sebuah produk atau merek. Salah satu unsur untuk memelihara sebuah brand dari philosophy pemasaran adalah menjaga loyalitas pembeli atau pemakai. Jangan salah, ini juga bisa menjadi resiprokal, ketika saya juga menjadi loyalis pada blog blog lain yang begitu menarik dan sekaligus memberikan pencerahan. Setidaknya ada hampir 200 nama dalam feed reader bloglines saya yang secara rutin patut dikunjungi.


Keanekaragaman tulisan semestinya membuat pilihan yang menarik bagi blog, dan saya percaya bahwa mood, suasana kehidupan mempengaruhi apa yang akan saya tulis. Tentu saja, saya tidak begitu percaya diri untuk menampilkan semuanya. Diam diam saya juga mempunyai sebuah blog khusus puisi puisi saya yang selama ini tersembunyi. Sepi , sendirian di pojok sana, Kadang saya berpikir ingin menulis olahraga seperti mas pencinta bola ini , atau bahkan resep masakan, karena salah satu hobby saya memasak. Tanyakan pada Om Ong yang pernah mencicipi kepiting saus tiram dan udang saos padang racikan saya. Begitu banyak catatan ruang waktu, ruang kehidupan yang ingin saya tawarkan dalam dunia blog ini. Tentu saja saya berharap bisa memberikan sebuah rumah persinggahan yang membuat orang betah. Karena pada mereka di luar sana, baik yang saya kenal atau tidak, adalah tujuan sesungguhnya rumah ini dibuat. Menjadikan tempat berteduh yang rindang, serta memuaskan rasa dahaga dengan oase kehidupan. Karena hidup menjadi jauh lebih menarik jika kita bisa memberikan sedikit saja bagian kita kepada orang lain.

Ketika saya memberi alasan kepada teman tersebut, “ ah itu khan hanya ngecek ngecek ombak, lihat respons jika saya menulis dengan gaya lain..”. Sesungguhnya saya berbohong, karena memang saat itu saya tak bisa menahan passion menulis hal hal ringan saja. Tentu saja saya bukan sekadar ngecek ngecek ombak juga, dengan menerima tawaran Ida Arimurti untuk bincang bincang mengenai dunia blog, Rabu malam ini jam tujuh di Delta FM. Mewartakan blog yang saya cintai, sebagaimana saya mencintai teman teman blogsphere di luar sana.

read more ...

Sunday, November 18, 2007

BEAUTIFUL HOTEL FOR BEAUTIFUL PEOPLE




Jangan dikira ini adalah judul lagu. Ini adalah moto atau slogan hotel, di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Beautiful Hotel For Beautiful People – Ada yang bisa kami Bantu ? begitulah secara lengkap kita baca. Agak bingung, maksudnya apa. Mestinya konsultasi dulu dengan pakar branding seperti Hermawan Kartajaya atau ke Totot . Yang jelas hotel ini tidak bisa dikatakan cantik. Lorong yang gelap remang remang, kasur yang apek, semua bantal di kamar saya berbordir huruf HUC - nggak jelas maknanya - lalu pegawai, roomboy yang loyo loyo dan penuh selidik. Suatu penggambaran yang kita lihat dalam film film sewaktu di tokoh utama terdampar di kota kecil. Tapi saya juga tidak peduli, yang jelas hotel pilihan dari location manager saya - Kenti - layak ditempati. Tentu sebagian pembaca sudah mengenal Kenti lewat postingan saya sebelumnya .

But, the story continues, yang menjengkelkan waktu tidur saya selalu terganggu. Ada saja, dari orang yang mengedor gedor kamar. Sambil sempoyongan karena kaget dari tidur, saya membuka pintu.
“ Oh maaf pak saya kira kamar 304 “ . berdiri seorang bapak tak dikenal tanpa ekspresi.
Belum sempat mimpi, telepon jaman baheula yang masih memakai putaran jari jari berdering dering.
“ Bapak tadi pesan kopi susu ? “ tanya wanita diseberang sana.
Lalu terbangun lagi dengan suara gedebak gedebuk di atas plafon kamar mandi.
Cilaka, bagaimana saya bisa istirahat, padahal besok call time jam 6 pagi di lokasi.


Tapi saya mencoba tidak menyesal. Bukankah ini pilihan saya sendiri, untuk lebih dekat ke lokasi syuting. Bisa menghemat waktu satu jam perjalanan, jika saya tidak bermalam di Semarang. Padahal ada pilihan tinggal di Santika atau Novotel yang jauh lebih beradab. Selalu ada hikmah dari sebuah kejadian terburuk sekalipun yang menimpa kita. Saya pernah mengalami hal yang jauh lebih buruk dari kamar hotel ini. Saya pernah tidur di gorong gorong parit kebun tembakau di Wonosobo sambil menunggu matahari terbit, atau berhari hari tidak mandi di atas rumah laut suku Bajau. Perjalanan di pelosok negeri ini selalu memberikan warna warna mengenai potret keanekaragaman dan cermin peradaban. Sebuah canda senyuman, dan juga tangisan. Sebuah Indonesiana yang membuat rindu.

Malam semakin dingin, dan perut keroncongan membuat saya turun ke lobby untuk meminta petugas hotel membelikan bebek goreng pinggiran jalan. Di gang koridor saya curiga karena melewati gadis gadis yang cekikan melihat saya. Bingung karena tadi siang sepertinya hotel ini sepi sepi saja. Saya menoleh ke belakang, satu satu masuk ke kamar crew saya. Hm..I got the picture, tapi masih penasaran. Setibanya di lobby saya lihat Kenti - cengar cengir seperti anaconda minta kawin - sedang duduk duduk dengan gadis menor lainnya. Seketika rasa penasaran saya terjawab.
Makdirodok, kata orang Betawi, gue terjebak di hotel cabul ! Jadi inilah yang dimaksud beautiful hotel for beautiful people.
Apakah ini penyesalan juga atau justru hikmah ?

read more ...